. ZEIN HASSAN Lc. Lt. - DIPLOMASI REVOLUSI DI LUAR NEGERI
Diplomasi
Revolusi Indonesia
di
Luar Negeri
M. Zein Hassan Lc. Lt.
DIPLOMASI REVOLUSI INDONESIA
DI LUAR NEGERI
i
KARANGAN dan TERJEMAHAN M. ZEIN HASSAN, Lc.Lt
Yang diterbitkan oleh Penerbit ”BULAN BINTANG
1. Diplomasi Revolusi Indonesia Di Luar Negeri (Kr.)
2. Syari’at Islam dan Hukum Internasional Umum (judul aslinya: Asy-
Syari’atul Islamiyyatu wal Qanunud Dauliyyu Al-’Am), oleh Prof Dr.
Ali Ali Mansur. (Terj.)
... ■ -
3. Hubungan-hubungan Internasional Dalam Islam (judul aslinya: Al-
’Alaqatud Dauliyyah fil Islam), oleh Prof. Dr. M. Abu Zahrah. (Terj.)
M. ZEIN HASSAN, Lc. Lt.
DIPLOMASI
REVOLUSI INDONESIA
DI LUAR NEGERI
( PERJOANGAN PEMUDA/MAHASISWA INDONESIA
DI TIMUR TENGAH )
YASMVAKtf*
WEL.M m. ArAbPt«KW|WU*t
Ttmmmmmam mtrtm m* w##
umm» +*«$
pLi i rww**
PENERBIT &
JAKARTA
Kiamat Kwitang 1/8 Tdp. 342883-346247
1
1
Cetakan pertama - 1980
♦ -,f 'i #
I#^ v -•»'* .jf 1 !**
-*.•**£ .j** 1 *** 1
*»'• • j *'*» 1
J*. «w- KarnW&
DAFTAR ISI
Halaman
PRAKATA . 7
SAMBUTAN MOHAMMAD HATTA . 11
SAMBUTAN MOHAMMAD NATSIR . 13
SAMBUTAN ADAM MALIK . 16
SAMBUTAN A.H. NASUTION . 17
* DIPLOMASI REVOLUSI DI LUAR NEGERI. 19
PRA PROKLAMASI . 22
PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945 49
CAMPUR TANGAN INGGRIS . 72
SOAL INDONESIA DI DEWAN KEAMANAN . 94
PENGAKUAN DE FACTO KEDAULATAN REPUBLIK
INDONESIA . 114
DELEGASI R.I. PERTAMA KE LUAR NEGERI DI KAI¬
RO .. 130
17-8-1946 ULANG TAHUN PERTAMA KEMERDEKAAN
INDONESIA . 147
LIGA ARAB DAN SOAL INDONESIA . 161
DELEGASI R.I. DI TIMUR TENGAH .. 197
TIMUR TENGAH DAN AKSI MILITER BELANDA .226
BULAN MERAH MESIR dan BULAN MERAH INDO¬
NESIA . 251
SAUDI ARABIA dan PROKLAMASI . 258
PERKEMBANGAN PERWAKILAN R.I. DI TIMUR TE¬
NGAH .:.266
SERBA-SERBI DIPLOMASI REVOLUSI .273
PENUTUP
HASIL-HASIL TERPENTING DIPLOMASI REVOLUSI
DI LUAR NEGERI .. 290
Memori:
Buku ini terbit bertepatan dengan usia 70 tahun
penulisnya. (Th. 1910 - 1980).
PRAKATA
Buku yang saya persembahkan ini kepada penggemar se¬
jarah, terutama yang bertalian dengan revolusi besar Indonesia
yang berpangkal pada Proklamasi 17 Agustus 1945,
sesuai dengan namanya ”DIPLOMASI REVOLUSI INDONESIA
DI LUAR NEGERI,” merupakan sikap, langkah, tindakan dan
hubungan-hubungan serta usaha-usaha di luar negeri selama re¬
volusi fisik di Indonesia, tanpa terikat oleh basa-basi diplomasi
konvensionil Tujuannya ialah membela dan mempertahankan
kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia yang diumumkan itu,
menghancurkan rantai kepungan diplomatik yang dibentangkan
Belanda dan sekutu-sekutunya sekeliling Republik Indonesia
yang masih muda belia itu. Demikian, dengan memobilisasi pen¬
dapat umum dunia supaya mendesak Belanda dan Sekutu-se¬
kutunya menarik tentara mereka dari bumi Indonesia, dan men¬
desak negara-negara yang telah merdeka dan menjadi anggota
Perserikatan Bangsa Bangsa supaya mengakui Republik Indonesia
sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh.
Saya berusaha sejauh mungkin dan sepanjang dokumen-
dokumen yang ada pada saya, menyusun buku ini sedemikian
rupa sehingga merupakan suatu gambaran lengkap dari rangkaian
sikap, langkah, tindakan dan hubungan-hubungan serta usaha-
usaha di atas itu, yang telah memungkinkan PANITIA (KOMITE)
PEMBELA KEMERDEKAAN INDONESIA di Timur Tengah
mencapai puncak kemenangan perjoangannya menjelang ulang
tahun kedua Proklamasi tahun 1947. Demikian, dengan penga¬
kuan negara-negara Arab dan Afghanistan terhadap Republik
Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh,
penyapuan ranjau-ranjau kepungan diplomasi Belanda dan Se¬
kutu-sekutunya dan pembukaan pintu seluas-luasnya bagi wakil
Indonesia resmi untuk memasuki gedung Perserikatan Bangsa
Bangsa.
Hasrat hendak menulis buku ini telah lahir ketika saya
kembali ke Indonesia pada tahun 1954, dan saya rasakan bahwa
sedikit sekali masyarakat umum Indonesia mengetahui perjoangan
pemuda/mahasiswa dan warga Indonesia umumnya di luar negeri
selama revolusi fisik. Meskipun bahan-bahan dokumen berke¬
kurangan, tetapi rangkaian kejadian-kejadian masih hidup waktu
itu dalam ingatan. Dalam pada pengolahan ingatan itu, seorang
teman seperjoangan di luar negeri memberitahukan bahwa Ko¬
lonel (Jenderal) A. Haris Nasution yang pada masa itu diistirahat¬
kan sedang mengumpulkan bahan-bahan dari teman-teman yang
sudah kembali ke Indonesia untuk dibukukan. Saya sendiri
akhirnya dihubunginya.
Ketika saya kembali lagi ke Jakarta pada tahun 1961 sesudah
bertugas di luar negeri. Jenderal Nasution telah aktif kembali
dalam tentara dan bahan-bahan yang dikumpulkannya itu belum
pula dibukukan. Teman-teman mendesak saya supaya menulis
sendiri, akan tetapi suasana umum waktu itu ditandai oleh segala
’ terpimpin’ dan kemudian ’nasakomisasi,’ bahkan juga dalam
menulis sejarah harus disesuaikan dengan ’selera’ pimpinan.
Suasana ini telah mematahkan hati untuk menulis.
Ketika perkembangan baru terjadi di Indonesia, sebagai
akibat pengkhianatan komunis pada bulan September 1965,
saya sedang berada di Rabat, Maroko, sebagai Duta Kuasa Usaha
R.I. Hasrat di atas kembali hidup dalam ingatan. Kesempatan
pertemuan para kepala perwakilan R.I. di Afrika dan Timur
Tengah yang diadakan di Kairo pada bulan Maret 1967 saya
pergunakan untuk mengumpulkan bahan-ba/ian dari teman-
teman yang masih ada di sana dan dokumen-dokumen yang
masih terselip-selip pada sekretariat perhimpunan mahasiswa
yang telah sundut-bersundut itu ,
Menghadapi genap seperempat abad Kementerian Luar Ne¬
geri pada tahun 1970, pada Departemen tersebut terbentuk
satu panitia guna membukukan kegiatan diplomasi luar negeri
Indonesia semenjak Proklamasi. Dari teman-teman yang dekat
dengan panitia itu saya ketahui bahwa perjoangan warga Indo¬
nesia di luar negeri selama revolusi fisik tidak termasuk dalam
pemikiran panitia tersebut. Semenjak itu saya merasa berkewa¬
jiban memperlengkap sejarah revolusi besar Indonesia itu. Sebagai
langkah pertama saya menulis dalam majallah Departemen Luar
Negeri sendiri berturut-turut ”Suara Baru” dengan judul ”.Empat
lima di Luar Negeri,” sebelum panitia resmi itu memulai tugas¬
nya.
Diplomat-diplomat muda yang menghafal ’Vppenheim’s
Internasional Law” atau ”Satow’s Guide to Diplomatic Practice”
dan sebagainya, mungkin akan tersenyum melihat pemakaian
istilah-istilah diplomatik yang terdapat dalam buku ini. Tetapi
demikianlah sifat ”gerilya politik” di luar negeri waktu itu,
yang hanya berpedoman pada pencak nasionalnya : bertahan
sambil menyerang, berharap sambil mendesak, dan kalau perlu
menyerbu tanpa memikirkan akibat. Dalam revolusi kadang-
kadang tujuan menghalalkan cara . dengan kesadaran, dan
bukan seperti diplomasi gedungan (dengan e bukan a), yang
menyesuaikan hafalan dengan tindakan.
Kekurangan dalam penyempurnaan dokumen-dokumen ada¬
lah disebabkan oleh kehilangan sebagian dokumen-dokumen itu
(1945—1946), yaitu masa yang terpenting dalam diplomasi
revolusi Panitia-panitia di luar negeri, terutama surat-surat ma¬
suk dan guntingan surat-surat-kabar, ketika kantor Panitia Pu¬
sat di Kairo digeledah polisi Mesir, karena difitnah berhaluan
komunis. Apalagi potongan nama panitia adalah pula ”P.K.I.”
suatu hal yang memudahkan bagi Kedutaan Belanda disana
untuk memfitnah.
Terkadang-kadang terdapat dalam buku ini kata-kata ter¬
kurung seperti (alm), (Dr.) dan sebagainya di pangkal nama-
nama. Kata-kata terkurung itu menunjukkan status atau gelar
yang bersangkutan sesudah perjoangan selesai.
Kepada semua pihak yang turut menyempurnakan buku
ini, terutama H.M. Jaafar Zainuddin, Ketua Panitia cabang
Saudi Arabia, yang telah menyerahkan sebagian dokumen-do¬
kumen yang masih ada. Haji M. Mastur Jahri, (M.A.) seorang
anggota Panitia yang aktif, yang telah bermurah hati mengirim¬
kan dari Banjarmasin guntingan-guntingan surat-kabar surat-kabar
(1947-1949) beserta foto-foto bersejarah yang aiperlukan dan
Ahmad Hasyim Amak, Sekretaris Panitia Pusat, dan lain-lain
bekas pejoang di Timur Tengah yang telah membantu mengingat¬
kan dengan lisan kejadian-kejadian yang telah lama berlalu itu
serta meminjamkan foto-foto pelengkap. Kepada mereka saya
mengucapkan terima kasih banyak.
Demikian pula saya berterima kasih kepada yang mulia
pemimpin-pemimpin revolusi Indonesia yang telah bermurah hati
menyumbangkan sepatah dua kata pengantar bagi buku ini .
Harapan terakhir, mudah-mudahan buku yang sederhana
ini akan dapat ikut menyumbang bagi penyempurnaan sejarah
revolusi besar Indonesia.
Muhammad Zein Hassan
Jakarta, 17 Agustus 1970. 1J
1). Oleh karena sesuatu hal, buku ini terlambat terbitnya dari maksud semula.
SBPATAH KATA SAMBUTAN-,
Setelah Iclta membaca buka Saudara Mohaaad Bondan
"Genderang Proklamasi di luar negeri”, yang menguraikan
hal-hal yang mengenai perjuangan bangsa Indonesia di
Australia setelah mendengar berita Proklamasi Indonesia
Merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, baik pula kita
baca buku kenang-kenangan Saudara Muhammad -Zein Hassan
yang menceritakan perjuangan pemuda Indonesia di Timur
Tengah.
Apabila yang berjuang di Australia adalah bekas
orang buangan yang di-internir Pemerintah Kolonial Be¬
landa di So-ren Digul dan kemudian setelah Jepang me¬
nyerbu ke Indonesia dipindahkan ke AUstralai, yang
berjuang di Timor Tengah asalnya mahasiswa Indonesia
yang kebanyakan belajar di Kairo.
Buku Saudara Muhammad Zein Hassan ini memaparkan
berturut-turut kisah perjuangan mereka sebelum Perang
Dunia II, kesulitan yang mereka hadapi selama Perang
Dunia II dalam berhadapan dengan perwakilan Belanda,
perjuangan mereka sesudah Proklamasi Indonesia Merdeka
dengan melepaskan diri mereka dari Perwakilan Belanda
dinegara-negara Arab. Kemudian mereka berusaha supaya
berturut-turut negara-negara Arab mengakui Indonesia
Merdeka de facto dan de jure. Waktu kemudian Menteri
Luar Negeri Republik Indonesia, almarhum Haji Agus Salin
mengunjungi dunia Arab dalam tahun 1947 untuk memperoleh
pengakuan itu secara resmi, jalan beliau kesana sudah
diratakan oleh gerakan mereka, yang bersatu dalam ikatan
Panitia Pusat Pembela Kemerdekaan Indonesia di Timur
Tengah.
2
Sejak pertengahan tahun 1947, sebelum Indonesia
diakui oleh dunia internasional sebagai Negara yang
merdeka dan berdaulat Saudara Muhammad Zein Hassan sudah
menyerahkan tenaganya kepada Kementerian dan Departe¬
men Luar Negeri, ditempatkan diluar negeri dan dalam
Departemen. Sejak beberapa waktu ia sudah menjadi orang
pensiunan. Catatan dan pengalamannya dilukiskannya dalam
buku menggambarkan kembali dimuka kita sebagian yang
penting dalam sejarah kita.
Mohammad Hatta.
MOHAMMAD NATSIR
JALAN H.O.S. COKROAMINOTO NO. 46
JAKARTA - TELP. 43282
Jakarta,
SAMBUTAH
1. Pada bulan Agustus 1972, di Menteng Raya 31, yaitu
dalan gedung yang sudah dikenal penuh dengan kenangan -2
mengenai peristiwa-2 zaman Revolusi Kemerdekaan kita te¬
lah diadakan satu pameran oleh suatu Panitya, untuk me¬
nyegarkan ingatan kita kembali kepada perlstlwa2 penting
baik dalam tehun2 Revolusi itu sendiri ataupun sebelumnya.
Usaha menyelenggarakan pameran semacam itu patut se¬
kali kita hargakan.
Hanya, «aktu itu yang menarik perhatian banyak dian-
tara pengunjung, ialah Justru baglan2 yang tidak ke¬
lihatan dalam pameran itu sendiri» Utltu i tidak adanya be¬
kas 2 atau dokumentasi dari partisipasi fihak uamat Islam
Indonesia dalam Revolusi Kemerdekaan yang berkecamuk sela¬
ma S tahun itu, baik dimedaa perang fisik, ataupun dlbl -
dang perang propaganda dan dipapan catur diplomasi.
Dengan rasa terharu lantaran "melihat" apa yang tak-
tampak itu - kabarnya - Saudara Muaaffa Basjir, Sekjen PHI
Pimpinan Majallah KIBLAT, sa'at itu lekas2 pulang kerumah¬
nya mengambil sebuah buku tulisan A. Ehsjay , yang berjudul:
"Aceh Modal Revolusi", diantarkannya sendiri kepada Panitya
penyelenggara Pameran, dengan maksud agar buku tersebut da¬
pat kiranya dislslp-kan dlantara kenangan2 yang dipamerkan
itu. Hanya satu naskah buku Itulah yang dapat dlkejarfcan
waktu itu untuk disumbangkan.
Bukan maksud kita hendak mengecam atau menyesali Pa¬
nitya penyelenggara tersebut semata-mata. Kita ingin ber -
balk-sangka, bahwa waktu persiapannya terlalu pendek, se -
hingga kollekslnya tidaklah dapat dikatakan lengkap.
- 2 -
2. Dai «u» pada itu. Benang haru» kita akui, bahwa kita,
sebagai bangsa Indonesia pada umumnya, khususnya Unaat Islam
anat lemah dihidang apa yang disebut dokumentasi. Banyak se¬
kali bahan2 peringatan kepada peristiwa2 penting yang menen¬
tukan dalam sejarah Revolusi Kemerdekaan kita dibiarkan hi¬
lang, atau dilupakan. Dan kalau masih ada, masih berserakan
dimana2.
Kelalaian ini tidak syak lagi merupakan kelemahan kita
selama ini dan bisa merugikan. Antara lain, dalam kekosongan
dokumentasi itu mudah sekali timbul apa yang disebut pemal¬
suan sejarah, disengaja atau tidak, akan tetapi tetap bera¬
kibat negatif.
3. Dalam rangka inilah maka, buku «Diplomasi Revolusi»,
karya Saudara Mohd. Zein Hassan kita harus nilai sebagai
satu sumbangan yang amat berharga untuk mengisi satu keko¬
songan yang kita rasakan selama ini. Baik untuk generasi ki¬
ta yang akan datang ataupun untuk generasi kita sekarang ini
yang biasanya lekas "pelupa".
Saya percaya bahwa dengan mengungkapkan kissah perjuang¬
an para pelajar dan mukimin Indonesia di Timur Tengah sebelum
dan sesudah revolusi Kemerdekaan itu dimana penulis sendiri
tidak kurang memainkan peranan-nya sebagai mahasiswa dan se¬
lanjutnya sebagai petugas R.I. di Timur Tengah - tidaklah di¬
maksud sebagai menepuk dada atau yang semacam itu. Akan teta¬
pi ibarat kata orang, "agar genderang bertingkah,dandang ber -
sahut".Agar kita sama2 merasakan bahwa benar2 kemerdekaan
Tanah Air kita ini adalah sebagaimana yang di*egaskan oleh
M ukaddimah OCD 1645 kita s adalah kumia Ilahy.
- 3 -
.Satu kurnia Ilahy yang pada lahirnya berlandaskan
perpaduan keku*tan2 moril dan materil dari selurub bangsa
dan nusantara didalam dan diluar negeri tanpa diskriminasi.
Masing2 telah menyumbangkan apa yang mereka dapat sumbang¬
kan menurut keadaan dan waktu dimana mereka berada.
Khususnya kepada generasi muda kita saya ingin mengan¬
jurkan agar jangan tidak membaca karya Saudara Mhd.Zein
Hassan ini. sekurang-kurangnya untuk penyegaran jiwa dari
rasa tak berdaya, bahkan untuk pendorong melanjutkan esta¬
fet perjuangan membangun bangsa dan negara kita menuju ke-
ridlaan Ilahy.
Kita mengharapkan pula agar Sdr2 pejuang kemerdekaan
lainnya yang masih hidup akan menyusuli menuliskan apa-2
yang diketahui dan dialami mereka selama Sewolusi kita
itu, beserta prolog ataupun epilognya guna memperlengkapi
T4SV-SYAKU*
KEt-Hj». **■#. AtmsfCffmiMM
TewOA «i HV» WMTAWO
******* '<o, -«j* m-mst r etm
MENTERI LUAR NEGERI
REPUBLIK INDONESIA
"SJHIiH-IAIi"
Assalanru'alaikum w.w.
Sungguh merupakan suatu kehormatan dan kegembiraan
bagi saya yang telah mendapat kesempatan untuk menyampai¬
kan sepatah dua patah kata dalam menyambut diterbitkannya
buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri ( Perju¬
angan Pemuda Indonesia di Timur-Tengah ).
Kegembiraan tersebut bukan saja oleh karena setiap
pen-dokumentasian detik2 bersejarah revolusi kita memang
patut disambut dengan hangat, akan tetapi bagi saya priba¬
di kegembiraan tersebut bersumber pada kenyataan bahwa sa¬
ya berkesempatan dapat mengikuti perjuangan Pemuda2 Indo¬
nesia yang pada waktu itu sedang berada diluar negeri,
khususnya di Timur Tengah. Sumbangan yang sangat berharga
telah mereka berikan terhadap suksesnya perjuangan bangsa
Indonesia.
Harapan saya semoga dengan terbitnya buku ini para
rekan lainnya tergugah hatinya untuk juga menyumbangkan
karyanya guna lebih memperkaya perbendaharaan dokumentasi
perjuangan bangsa Indonesia baik yang terjadi didalam ma¬
upun diluar negeri, agar dengan demikian semangat perjua¬
ngan mereka dapat diwariskan pada generasi2 yang akan da¬
tang dalam rangka membangun negara dan mengisi kemerdekaan
yang tflbh^l&t&'perjuangkan bersama.
mKHWlMMMF -K* 4."* „-Jr
Wassalamu'alaikum w.w, .
DJENDERAL ABDUL HABIS NASUTION
KETUA MADJEL1S PERMUSJAWABATAN RAKJAT SEMENTARA
REPUBLIK INDONESIA
S A M B U m
Karja Saudara Jf. Zein Hasan, buku "Diplomasi Hevolusi", sebagai
uraian perdjuangan "45" di luar negeri, chususnja di Timur Tengah,
merupakan suatu sumbangan jang berharga bagi generasi mendatang dalam
mengenali perdjuangan kemerdekaan.
Setjara pribadi saja lanjak berdialoog dengan pedjuang-2 "45" kita
di luar negeri dalam usaha saja menjusun sedjarah perang kemerdekaan.
Pemuda-2/peladjar-2 Indonesia telah membela Proklamasi 17 Agustus
1945 di negara-2 Arab terhadap politik Inggris - Belanda dewasa itu de¬
ngan amat giat : dengan membentuk perwukilan-2 El, dengan menggerakkan
pemerintah-2 dan tokoh-2 Arab, dan dengan mengorbankan berbagai kepen¬
tingan pribadi.
Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu
mengakui El dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan
jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di
luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori penga¬
kuan de jure El bersama Afghanistan dan Iran beserta Turki mendukung El.
Fukta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita.
Dan simpati terhadap El jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah meru¬
pakan modal, perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk
perdjuangan jang ditentukan oleh UUD '45 i "ikut melaksanakan ketertiban
dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial"
Karena itulah pula sewadjamja dimasa 50-an dan awal 60-an BI, dan
terutama TNI memberikan dukungin-2 dan bantuan-2 kepada perdjuangan na¬
sional/kemerdekaan di Timur Teng.th, walaupun Indonesia sendiri sedang
menghadapi berbagai operasi militer.
Insja Allah buku ini dapat ikut mengsedjurahkun perdjuangan kemer¬
dekaan Indonesia sebaik-baiknja,-
Djakarta, 10 Agustus 1972.- Wassalam,
A.H. NASUTION
HALAMAN-HALAMAN BERGAMBAR
Halaman
1. Anggota Pimpinan Perhimpunan Indonesia Raya . 28
2. Janan Tayib bersama Perhimpunan Indonesia Raya di Holland. . 29
3. Pimpinan Panitia Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia. 55
4. Pimpinan Panitia Cabang Irak . 59
5. Panitia Pembela Indonesia di Timur Tengah . 67
6. Mufti Besar Palestina Syekh Amin Husaini. 68
7. Panitia Pembela Indonesia bergambar bersama Mr. Ibrahim Ma,
Konsul Cina Nasionalis yang pro RI .. 69
8. Panitia Pembela Indonesia bergambar dengari PM Suria dan
Habib Borgouba dari Tunis . 70
9. M. Zein Hassan sedang menyampaikan pidato . 128
10. Misi Suwandi di Kairo .:. 140
11. Misi Suwandi bergambar bersama Prof. Lutfi Sayid Pasya .... 141
12. Bergambar bersama Mustafa Nahas Pasya .. 143
13. Bergambar bersama A.M. Badar Bey. 144
14. Bersama anggota Delegasi Vietnam . 145
15. Pferingatan HUT Proklamasi di Baghdad . 156
16. Resepsi pengakuan Mesir atas kemerdekaan dan kedaulatan RI .. 157
17. Resepsi HUT Proklamasi Pertama . 158
18. Daftar Menu Makanan dalam resepsi .'... 159
19. Misi Haji Revolusi RI Pertama . 174
20. Misi Haji Revolusi RI Kedua . 175
21. Bung Syahrir bersama dengan Duta Besar Afganistan . 190
22. Delegasi RI ke Timur Tengah . 198
23. Penandatanganan Perjanjian Persahabatan antara RI dan Mesir
Tahun 1947 .'.... 200
24. H. Agus Salim bersama pimpinan cabang Panitia di Baghdad . . . 201
25. Teks Perjanjian Persahabatan antara RI dan Mesir -dalam bahasa
Perands ..216,217
26. Surat PM Mesir kepada H. Agus Salim dalam Bahasa Peran cis . 218
27. Pertemuan Pertama antara Delegasi RI dengan PM Mesir .... 219
28. H. Agus Salim bersama Syekh Hasan Banna . .. 220
29. Bung Syahrir lolos dari kepungan Belanda . 228
30. Misi Kesehatan Mesir ke Indonesia . 256
31. Bung Syahrir singgah di Kairo sekembali dari New York . 276
32. Bung Syahrir bersama Hasan Banna .. 277
33. Muso dalam satu pertemuan dengan para mahasiswa .. 282
34. Bung Hatta bersama pembesar-pembesar Liga Arab. 286
35. Bung Hatta bersama pimpinan-pimpinan Arab . 287
36. Bung Hatta bercakap-cakap dengan PM Suria . 288
37. Penulis sedang menyaksikan penandatanganan Perjanjian Kebu¬
dayaan Pertama antara RI dengan Mesir . 295
DIPLOMASI REVOLUSI DI LUAR NEGERI
Kenapa ”Diplomasi Revolusi ?”
Duta Besar Letnan Jenderal G.P.H. Jatikusumo pernah
mengatakan kepada saya : ”Pak Zein ’kan pernah menjalankan
diplomasi revolusi.” Kemudian dalam satu surat resmi kepada
Menteri Luar Negeri R.I. mengenai diri saya, beliau mengatakan
pula : "Semasa revolusi fisik, semenjak hari-hari pertama Prokla¬
masi, ia telah berhasil menjalankan diplomasi revolusi di luar ne-
geri.”(No. 53/R/KAN/66 tgl. 3/12/1966).
Ketika saya memikirkan judul apa yang akan saya berikan
kepada sejarah perjoangan pemuda/mahasiswa di luar negeri,
terutama di Timur Tengah, selama revolusi fisik yang sedang
saya tulis ini, saya teringat kepada perkataan 'diplomasi
revolusi’ yang dilekatkan Duta Besar Jatikusumo kepada
saya pada dua kejadian di atas itu.
Maka sesuai dengan b e n t u k ’ yang diberikan kepada
perjoangan itu oleh seorang diplomat penilainya sebagai Duta
Besar R.I. itu, saya berikanlah kepada buku saya ini judul ”D i -
plomasi Revolusi di Luar Negeri (Ti¬
mur— Tengah).”
”D iplomasi Revolusi”
Yang dimaksud dengan rangkaian dua perkataan di atas ini
(diplomasi revolusi), ialah usaha-usaha dan hubungan-hubungan
19
dengan pihak-pihak dan negara-negara yang telah merdeka, yang
sekiranya dilakukan pada masa damai dapat bersifat "diplomatik,”
tetapi selama revolusi fisik di Indonesia itu dijalankan oleh warga
Indonesia yang waktu itu berada di luar negeri "secara" revolusi.
Perkataan "diplomasi” berasal dari bahasa asing diplomacy
(Inggris) atau "diplomatie” (Perancis). Demikian pula perkataan
"revolusi” berasal dari "revolution” (Inggris dan Perancis). Dalam
buku "Pedoman Tertib Diplomatik dan Tertib Protokol" jilid I
hal. 138 yang diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri R.I.,
perkataan ’diplomacy’ diartikan menurut Encyclopeadia Bri-
tanica, yaitu : 'Pembinaan urusan-urusan luar negeri atau Pelak¬
sanaan politik luar negeri.’ Sementara itu kamus Perancis ’Nou-
veau Petit Larousse’ mengartikan ’revolution’ dengan ’change-
ment brusque et violent dans la structure economique, sodale
ou politik d’un etat,’ yang berarti perobahan cepat dan keras
pada bentuk ekonomi, sosial atau politik dari suatu negara. 'Me¬
ngenai fungsi perwakilan diplomatik,’ buku Pedoman itu, yang
katanya ’dipungut dari perkembangan sejarah politik luar negeri
kita sendiri,’ mengatakan : ’Di masa perjoangan kemerdekaan
politik, tugas (functioning) perwakilan-perwakilan diplomatik
kita merupakan usaha integral dari pada perjoangan kemerdekaan.
Tugas perwakilan R.I. pada masa itu berusaha untuk memperoleh
pengakuan-pengakuan de facto ataupun de jure dari negara-negara
lain’ (hal. 139).
Akan tetapi untuk mengusahakan pengakuan-pengakuan
de facto atau de jure dari negara-negara lain itu, Republik Indone¬
sia selama hampir dua tahun (Agustus 1945 — April 1947) belum
mempunyai perwakilan di luar negerh Yang berjoang untuk
itu selama masa itu adalah Panitia-panitia yang lahir dan terbentuk
langsung sesudah Proklamasi secara spontan dan simultan oleh
warga Indonesia yang kebetulan pada masa itu berada di luar
negeri. Panitia-panitia itu dapat diumpamakan dengan kelompok-
kelompok bersenjata yang lahir dan dibentuk oleh rakyat Indo¬
nesia di seluruh kepulauan kita ini sesudah pengumuman kemer-
20
dekaan (Proklamasi), dengan tujuan merebut de facto kekuasaan
di wilayah ini dari tentara pendudukan Jepang dan kemudian
untuk mengusir tentara Sekutu yang dibuntuti tentara Belanda
yang berusaha mengembalikan penjajahan ke tanah-air kita ini.
Maka dari pengertian di atas itu, dapat dikatakan bahwa
’diplomasi revolusi’ yang dijalankan Panitia-panitia di luar itu,
termasuk Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia di Timur
Tengah yang merupakan de facto perwakilan R.I. di luar negeri
selama dua tahun itu, adalah: ”usaha untuk memperoleh pengaku¬
an-pengakuan de facto ataupun de jure dari negeri lain terhadap
Republik Indonesia, dengan cepat dan mendesak, dan dengan
menempuh semua jalan dan cara yang akan menghasilkan usaha
itu, tanpa menghiraukan prosedur-prosedur diplomatik biasa atau
konvensionil.” Itulah kiranya yang dimaksud Duta Besar Jati-
kusumo, ketika memberi nama ’diplomasi, revolusi’ kepada kegiat¬
an-kegiatan dan usaha-usaha Panitia-panitia di luar negeri itu.
21
PRA PROKLAMASI
Gema peijoangan dalam Negeri
Perjoangan di luar negeri adalah gema dari perjoangan dalam
negeri. Maka bila ’revolusi fisik’ dalam negeri mfeledak setelah
melalui beberapa tahap (phase), demikian juga, 'diplomasi revo¬
lusi’ lahir setelah warga Indonesia di luar negeri berjoang untuk
kemerdekaan tanah air mereka dengan melalui beberapa tahap
peijoangan pula.
Jauh semenjak permulaan abad ke 19, pemuda Indonesia
telah mulai menuju ke Timur Tengah untuk menuntut ilmu.
Pertama sekali ke Mekkah, Saudi Arabia dan kemudian pada
permulaan abad ke 20 mereka mulai menyusup ke Kairo, Mesir,
Baghdad, dan Irak. Semenjak mereka meninggalkan tanah air,
mereka tidak pernah melupakannya.
Meskipun perjoangan di luar negeri merupakan gema dari
pergerakan dalam negeri, tetapi perkembangannya menunjukkan
bahwa ia itu mempunyai sedikitnya dua ciri-ciri khas, yaitu :
a- berpegang teguh pada dasar tak-kerjasama (non-ko-
operasi) dengan penjajah, dan
b — kesadaran keserumpunan bangsa antara Indonesia dan
Malaya.
Ciri pertama (a) itu disebabkan kenyataan bahwa mereka yang
belajar di Timur Tengah - demikian juga di India - semuanya
beragama Islam. Agama ini melarang dan menentang dengan keras
22
dan tegas mewalikan orang kapir (Belanda dan Inggris) atas orang
Muslimin. Maka ketika di Indonesia pernah mundur dari tuntutan
"Indonesia merdeka sekarang" kepada "Indonesia ber-Parlemen,”
mahasiswa di Timur Tengah tetap menuntut kemerdekaan penuh
bagi Indonesia. Demikian juga ketika ada suara minta "milisi”
bagi rakyat Indonesia, di Timur Tengah diperdengarkan "tidak ada
milisi tanpa kemerdekaan.” Suara-suara ini tidak saja mengeru-
tu di lingkungan perhimpunan-perhimpunan mereka, tetapi di¬
umumkan di surat-surat kabar dan disampaikan kepada
perwakilan asing setempat. Adapun ciri-ciri kedua (b), terbukti
dari nama-nama organisasi mereka. Di Mesir dengan nama Per-
pindom (Persatuan Pemuda Indonesia-Malaya), di Saudi Arabia
Pertindom (Persatuan Talabah Indonesia-Malaya), dan di Irak
Makindom (Majlis Kebangsaan Indonesia-Malaya). Demikian
pula di India bernama Persindom (Persatuan Indonesia-Malaya)
dan di Ceylon Keris (Kesatuan Rakyat Indonesia-Semenanjung),
Tahap-tahap perjoangan pemuda/mahasiswa Indonesia di
Timur Tengah pra-Proklamasi dapat dibagi atas tiga masa :
a — sebelum perang dunia pertama,
b — sesudah perang dunia pertama dan
c — selama perang dunia kedua.
Sebelum Perang Dunia Pertama
Dari permulaan abad ke XIX sampai belasan pertama abad
ke XX, pemuda/mahasiswa Indonesia baru terkumpul di Saudi
Arabia (Mekkah). Pada tahap ini perjoangan bangsa Indonesia
ditandai oleh perlawanan bersenjata terhadap penjajahan Belanda
yang telah menyusup ke kepulauan khattulistiwa ini, dan kemudi¬
an oleh penyusunan kekuatan nasional melalui partai politik. Ma¬
ka perhatian pemuda/mahasiswa kita di Saudi Arabia (Hejaz) wak¬
tu itu ditandai pula oleh dua perkembangan di atas. Misalnya keti¬
ka berkobar gerakan Padri di Minangkabau melawan penyusupan
penjajahan Belanda, terdapat dalam pimpinannya nama tiga
panglima yang tadinya belajar di Mekkah dan kemudian pulang
23
untuk memimpin bersama Imam Bonjol peperangan fisabilillah
melawan Belanda. Mereka itu adalah Haji Miskin, Haji Piabang
dan Haji Sumanik.
Ketika rakyat Indonesia buat pertama kali menyusun satu
partai politik dalam usaha membebaskan Indonesia dari penjaja¬
han dengan nama Serikat Islam, Belanda mempergunakan seorang
Arab dari Jatipetamburan, Jakarta, guna menulis satu buku yang
bertujuan melarang Ummat Islam memasuki partai itu dengan
nama ” Kafful Awwam ’An Syarikatil Islam" (Melarang Rakyat
Umum memasuki Serikat Islam). Untuk menentang buku yang
beracun itu, pada tahun 1912 seorang guru besar berasal dan
Bukit Tinggi, Sumatera Barat, bernama Syeikh Ahmad Khatib,
yang oleh karena keahliannya dalam Agama Islam diangkat oleh
Syarif Mekkah menjadi Imam dan Khatib Masjidil Haram -
menulis sebuah buku dengan judul ” Hassul ’Awwam Alad Du-
khuli fi Syarikatil Islam’’ (Menghasung Rakyat Umum Memasuki
Serikat Islam). Buku yang ditulisnya dalam bahasa Melayu itu
sangat besar pengaruhnya di Indonesia waktu itu, mengingat
kedudukan pengarangnya di Indonesia dan Alam Islami, sehingga
dalam waktu pendek, partai tersebut berkembang dengan pesatnya
dan menjadi partai politik nasional pertama yang meliputi seluruh
kepulauan Indonesia. Pengaruhnya menakutkan Belanda, sehing¬
ga terpaksa dalam masa perang dunia pertama itu memberi janji
akan memenuhi hasrat nasional Indonesia sesudah perang itu.
Tetapi janji itu dimungkirinya sesudah Sekutu menang. Sementara
itu murid-muridnya yang berdatangan dari Indonesia (ke Tanah
Suci itu dipupuknya dengan) semangat Islam yang berjiwa mer¬
deka, sehingga sekembali mereka ke tanah air banyak yang
meninggalkan jasa-jasa besar dalam perkembangan kesadaran
nasional, seperti alm. Kiyai H. Ahmad Dahlan dengan gerakan
Muhammadiyahnya dan Dr. Abdulkarim Amrullah (ayah Prof
Dr. Hamka) dengan gerakan Sumatera Thawalibnya, yang sebelum
perang dunia kedua oleh pengadilan kolonial Belanda dijatuhi
hukuman buangan ke Boven Digul dan oleh protesan rakyat di-
robah ke Sukabumi, Jawa Barat. Demikian pula ketika berkobar
24
peperangan jihad melawan Belanda di Aceh, seorang ulama besar
lainnya yang mengajar di Masjidil Haram, yaitu Teuku Abdul
Wahab Aceh, menyerukan kepada murid-muridnya : Wahai murid-
muridku yang setia, mati syahid melawan kapir di negerimu
lebih baik dari pada bermukim dan menuntut ilmu di Mekkah
ini ! Dalam menghadapi ’Kapir’ ini, Syeikh Ahmad Khatib
menulis satu buku lagi dengan judul Assuyufu wal Khanajiru
'Ala Riqabi man Yad’u lil Kafiri” (Pedang dan Parang pemenggal
Kuduk Orang Yang Memihak Kepada Orang Kafir). Semangat ke-
bangsaan yang berjiwa Islam yang dihembus-hembuskan Ulama-
ulama besar dari Mekkah itu telah mempengaruhi Haji Agus Salim
yang waktu itu ditempatkan Belanda di Mekkah sebagai Konsul
Muda. Beliau demikian tertarik sehingga mempelajari bahasa Arab
dan Agama Islam dengan mendalam dan meninggalkan jabatannya.
Sekembali ke Indonesia beliau langsung memasuki partai Serikat
Islam dan akhirnya menjadi pemimpin terkemuka dan diplomat
ulung yang telah mengikuti perjoangan bangsanya dari semula
sampai kepada kemenangan.
Kegiatan ulama Islam di Mekkah yang telah memberi hasil-
hasil positif pada pergerakan kemerdekaan yang dipimpin Serikat
Islam itu mengkhawatirkan pemerintah kolonial Belanda. Maka
diusahakannya memecah ummat Islam dari Mekkah pula. Demi¬
kian dengan mengirim orientalis Belanda terkenal Christian
Snouck Horgronje ke Mekkah dengan menyamar sebagai muslim.
Dengan pengetahuan yang mendalam dalam Agama Islam dan
bahasa Arab, ia mengetahui soal-soal khilafiah yang terdapat
dalam fiqih Islam. Melalui soal-soal khilafiah yang sebenarnya
tidak mengenai dasar dan pokok Islam itu, ia dapat mempenga¬
ruhi ulama-ulama tanggung dan mengadu domba mereka dengan
ulama-ulama besar itu dan mendapatkan fatwa-fatwa dari mereka
yang sampai mengkafirkan ulama-ulama besar merdeka di Indo¬
nesia, seperti Dr. Abdulkarim Amrullah dan kawan-kawan. Akibat
tipu daya orientalis itu yang diteruskan oleh murid-muridnya
sampai kepada Van der Pias, pada akhir hayat penjajahan Belanda
di Indonesia, masih dirasakan pahitnya oleh ummat Islam sampai
25
sekarang. Kiranya itulah sebabnya maka Syeikh Ahmad Khatib
menulis kitabnya yang kedua itu.
Sesudah Perang Dunia Pertama
Dengan kekalahan Turki di Timur Tengah, negara Sekutu
termasuk Belanda — mendapat kedudukan istimewa (privileges)
di sana. Belanda yang mendapat angin di Saudi Arabia mulai
menekan warga Indonesia di sana, seperti terbukti dengan penang¬
kapan 11 haii Indonesia di Mekkah disebabkan fitnahan Kedu¬
taan Belanda yang menuduh mereka komunis. Demikian pula
larangan kegiatan politik bagi warga Indonesia. Sementara itu
pemuka-pemuka Indonesia mulai menyusup ke Mesir. Pada 14
September 1923 organisasi mereka pertama berdiri dengan nama
”A1-Jamiyatul Khairiyatul Jawiyah” (Perhimpunan Kebaktian Ja¬
wa) di bawah pimpinan (alm) Janan Thaib. Nama Indonesia waktu
itu belum dikenal orang dan nama ’Jawa’ meliputi seluruh wilayah
Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaya, Siam dan Pilipina.
Perhimpunan ini meskipun dalam surat izin berdirinya no. 323
hanya bagi kegiatan-kegiatan sosial, tetapi ia tidak pernah mem¬
batasi dirinya pada kegiatan itu saja. Mereka tidak saja mulai
memperkenalkan tanah air dan tuntutan-tuntutan nasionalnya,
tetapi juga ikut mendorong rakyat Indonesia untuk memenangkan
tuntutan-tuntutan itu seperti mereka kumandangkan pada majal-
lah-majallah mereka ”Seruan Al-Azhar,” "Pilihan Timur,” ”Mer-
deka” dan "Usaha Pemuda.” Majallah-majallah ini terbit silih ber¬
ganti, setiap kali peredarannya dilarang di Indonesia dan Malaya
oleh kekuasaan Belanda dan Inggris. Pada permulaan tiga puluh¬
an lahir di Mesir organisasi yang semata-mata guna kegiatan po¬
litik dengan nama "Perhimpunan Indonesia Raya” di bawah
pimpinan (Prof.) Abdulkahar Muzakkir. Sebenarnya nama 'In¬
donesia’ telah mulai dikenal di Timur Tengah pada pertengahan
tahun dua puluhan, seperti terbukti dari nama ”Madrasah Indo¬
nesia” yang didirikan Janan Thaib di Mekkah, sekembalinya dari
melawat ke Eropa, dan menetap di Tanah Suci itu. Adapun
”A1-Jamiyatul Khairiyatul Jawiyah” telah ditukar namanya men-
26
jadi ”Perpindom” (Persatuan Pemuda Indonesia-Malaya) pada
pertengahan tahun tiga-puluhan.
Hubungan-hubungan dengan pemuda Indonesia di bagian
dunia lainnya, seperti Eropa dan India, telah dimulai semenjak
tahun dua puluhan. Pada tahun 1926 Ketua Al-Jamiyatul Khai-
riyatul Jawiyah, Janan Thaib, telah diutus ke negeri Belanda
menemui (Dr.) Muhammad Hatta, Ketua Perhimpunan Indonesia,
dalam rangka koordinasi peijoangan Indonesia di luar negeri. De¬
mikian pula hubungan-hubungan dalam lapangan internasional. De¬
ngan usaha mereka, pada tahun 1926 Indonesia diundang ke Kon¬
ferensi Islam di Kairo, yang diwakili oleh Dr. H. Abdul Karim Am-
rullah dan Dr. Abdullah Ahmad. Pada tahun 1929 Indonesia diwa¬
kili pada Konferensi Buraq (Islam) di Palestina oleh Abdulkahar
Muzakkir (Indonesia) dan Abubakar Asy’ari (Malaya). Dalam
konferensi-konferensi Islam dan lain-lainnya itu diutamakan
memperkenalkan bangsa dan aspirasi-aspirasi nasional Indonesia.
Madrasah Indonesia di Mekkah telah banyak menolong me¬
ngembangkan rasa kesadaran berbangsa pada ribuan waiga Indo¬
nesia—Malaya yang bermukim di sana. Mereka yang tadinya di¬
pecah-pecah oleh soal-soal khilaflah dan perbedaan suku yang
dihembus-hembuskan agen-agen kedutaan-kedutaan Belanda dan
Inggris di Jedah, sedikit demi sedikit telah dapat disadarkan
akan bahaya fitnahan-fitnahan agen-agen kolonial itu, sehingga
pada pertengahan tahun tiga-puluhan mereka telah dapat dihim¬
pun dalam satu ikatan dengan nama ”Pertindom” (Persatuan
Talabah Indonesia-Malaya).
Semenjak pertengahan tahun tiga-puluhan pemuda Indonesia
Malaya mulai berdatangan ke Baghdad, Irak. Semenjak itu pusat
kegiatan pemuda Indonesia-Malaya bertambah lagi — sesudah
Mekkah dan Kairo — di Baghdad dengan nama ”Makindom”
(Majlis Kebangsaan Indonesia-Malaya). Perkataan ’kebangsaan’
pada nama ini dan perkataan ’Indonesia Raya’ pada nama teman¬
nya di Kairo, memberi gambaran yang jelas akan perkembangan
kesadaran berbangsa dan berserumpunan bangsa di kalangan pemu¬
da Indonesia-Malaya di Timur Tengah.
27
Anggota Pimpinan "Perhimpunan Indonesia Raya” bergambar pada bulan
Agustus 1933. Duduk dari kiri ke kanan: Darwis Amini, A. Kahar Muzakkir,
Farid Maaruf, Hussein Yahya, A. Jalil Hassan. Berdiri dari kiri ke kanan:
Taher, Ilyas Moh. Ali, Maani Salih, Ali Nahrawi, Dasuki.
29
Janan Tayib (duduk) bersama-sama pimpinan "Perhimpunan Indonesia” di
Holland, dari kiri Mr. Sunaryo, Mr. Sartono, Dr. Muhammad Hatta, Mr. Wir-
Maka sebelum perang dunia kedua, peijoangan pemuda
Indonesia di Timur Tengah telah membuahkan hasil-hasil posi¬
tif, antara lain :
a — dikenalnya pergerakan kemerdekaan dan aspirasi nasio¬
nal Indonesia di Timur Tengah,
b — m,eratanya kesadaran nasional di kalangan mereka,
c — terwujudnya persatuan nasional yang tadinya terpecah-
pecah — terutama di Saudi Arabia — oleh kedaerahan
dan soal-soal khilafiah.
Selama Perang Dunia Ke dua atau Perlawanan dibawah tanah
Tahap ini yang juga dinamakan tahap ’perlawanan di bawah
tanah,’ karena kegiatan-kegiatan kami waktu itu terpaksa dija¬
lankan dengan diam-diam di bawah hukum militer Inggris yang
menguasai Timur Tengah, dapat dibagi dalam dua bagian :
a — perlawanan pasif, dan
b — perlawanan aktif di bawah tanah.
Pembagian ini ditentukan oleh perkembangan perang sendiri,
yaitu masa yang dimulai oleh pengumuman perang pada Septem¬
ber 1939 dan putusannya hubungan Indonesia — Timur Tengah
serta jatuhnya Holland ke bawah pendudukan Jerman, dan masa
pendudukan Indonesia oleh Jepang tahun 1942 sampai pengu¬
muman kemerdekaan atau Proklamasi pada 17 Agustus 1945.
Pada masa pertama itu kami menghadapi tekanan hidup
yang pahit sekali, karena perhubungan dengan keluarga di Indo¬
nesia telah terputus dan Kedutaan Belanda tidak mau memberi
bantuan. Untuk menarik perhatian umum, di Mesir warga Indo¬
nesia menduduki Kedutaan Belanda di Kairo. Tujuan itu berhasil,
karena dengan campur tangan polisi Mesir — atas permintaan
Kedutaan Belanda sendiri —, beritanya tersiar dan pendapat
umum mencela Belanda yang tidak membantu itu. Ia terpaksa
memberi bantuan, tetapi disesuaikannya pula dengan siasatnya
30
di Indonesia, yang mentarafkan penghidupan rakyat Indonesia
dengan sebenggol sehari, yaitu dengan memberi bantuan keuang¬
an 3 (tiga) piaster sehari D. Bantuan Belanda yang demikian kecil
itu kami gunakan buat mengungkapkan politik Belanda di tanah
air yang mentarafkan penghidupan bangsa Indonesia sebenggol
sehari itu. Dengan keputusan rapat umum, kami menolak bantuan
itu berupa 'pemberian’ tetapi menerimanya sebagai ’hutang’
dengan meneken kwitansi. Dasar pertimbangan ialah bahwa 'pem¬
berian’ akan memberi ’kedudukan’ bagi Kedutaan Belanda, sedang
’hutang’ akan memberi ’kebebasan’ bagi kami buat bertindak.
Pertimbangan ini ternyata tepatnya ketika kami menjalankan
diplomasi revolusi sesudah Proklamasi. Kesulitan hidup ini tidak
menyebabkan kami menghentikan sama sekali kegiatan-kegiatan
penerangan mengenai perkembangan situasi politik di tanah air,
seperti telah saya katakan di atas mengenai soal ’Indonesia. ber-
Parlemen,’ ’milisi’ dan lain-lain.
Dengan kejatuhan Belanda ke bawah telapak Jerman dan
pendudukan Indonesia oleh Jepang, timbul pertanyaan apakaih
Belanda akan kembali lagi ke Indonesia. Belanda dan kaki-tangan-
nya sudah tentu menjawab ’ya,’ tetapi kami di Timur Tengah
dengan tegas mengatakan ’tidak.’
Mulanya ’tidak’ kami itu berupa penolakan pasif saja,
yaitu tidak mau mendengar rayuan-rayuan agen-agen Belanda,
seperti (Duta) Mr. Musa — masyarakat Indonesia di Timur Tengah
membacanya Musang -, Tarbidin, Abdurrahman Al Musawa -
dibaca pula Masawi, artinya tumpukan kejahatan —, dan lain-
lain yang sudah mulai merayap ke sana-sini di Saudi Arabia, Kai¬
ro dan Irak, di mana terdapat ribuan warga Indonesia dan Malaya.
Misalnya, ketika Mr. Musa datang ke Kairo dan mengundang
para mahasiswa ke jamuan makan dengan maksud tertentu,
kami menerima, tetapi diputuskan pula tidak akan memberi ke¬
sempatan kepadanya buat berbicara politik. Demikianlah, ketika
ia mulai menyinggung hubungan Indonesia—Belanda, ketua
1). Satu found sterling = 97,5 piaster Mesir.
31
rapat mengetok meja, memperingatkannya tidak boleh berbicara
politik. Ini mungkin pertama kali seorang Indonesia mengetok¬
kan palu melarang seorang Belanda atau alat Belanda berbicara
politik. Karena yang terjadi selama ini di Indonesia ialah sebalik¬
nya. Tetapi setelah Belanda meningkatkan usahanya dengan men¬
datangkan Pangeran Bernard, suami (Ratu) Juliana ke Timur
Tengah, tibalah saatnya bagi kami untuk meng-aktifkan ’tidak
kami itu. Terutama setelah harian Kairo berbahasa Perancis,
Le Journal d’ Egypte, yang rapat hubungannya dengan pihak
Sekutu, menyiarkan bahwa rakyat Indonesia di luar negeri telah
menyatakan tekad akan sama-sama rakyat Belanda ’membebaskan
Indonesia dari pendudukan Jepang.
Hampir seluruh warga Indonesia di Timur Tengah menolak
kerjasama dengan Belanda dan menentang usaha mereka hendak
kembali ke Indonesia. Janji Ratu Wilhelmina pada tahun 1942,
yang menjanjikan akan memberikan kemerdekaan kepada In¬
donesia, di saat Belanda sendiri telah kehilangan tanah-airnya,
bagi kami lebih rendah nilainya dari pada janjinya pada akhir
perang dunia pertama yang tidak pernah dipenuhinya itu. Tetapi
agen-agen dan trompet-trompet Belanda itu tidak dapat dibiar¬
kan tanpa tantangan.
Berita dan gambar yang disiarkan Le Journal d Egypte
itu saya gunting dan perlihatkan kepada (alm. Kuasa Usaha) Ismail
Banda yang waktu itu menjadi Ketua Perpindom. Setelah ber¬
bicara kira-kira dua jam lamanya, di dapat kesepakatan untuk
tidak membiarkan kegiatan-kegiatan Belanda itu tanpa tantangan
yang aktif dan mengumpulkan beberapa orang yang kiranya akan
lebih mudah bertukar fikiran buat maksud itu. Enam orang
dapat dikumpulkan, yaitu Ismail Banda (M.A.) dari Sumatera
Timur, Ahmad Hasyim Amak (M.A.) dari Sumatera Selatan, Ab-
dulrahman Ismail (M.A.) dari Kalimantan, (Tan Sri) Abduljalii
Hasan dari Malaya, Muhammad Dawam dari Sumatera Selatan,
dan saya sendiri dari Minangkabau. Kami merasakan beratnya tugas
menantang itu, apalagi seluruh Timur' Tengah di bawah hukum
32
militer Sekutu - termasuk Belanda - dan sekiranya secara
terbuka tentu mudah digilas kekuasaan militer itu. Kami
memutuskan orang enam itu menjadi satu badan kabur (invisible),
tidak bernama dan tidak berbentuk organis (tanpa ketua dan
sebagainya). Dalam buku ini akan saya sebut saja Panitia Enam.
Kerahasiaannya dapat diamankan sampai Proklamasi, meskipun
kegiatannya dipikul oleh seluruh masyarakat Indonesia-Malaya
di Mesir.
Oleh karena kegiatan agen-agen Belanda meliputi seluruh
Timur Tengah, maka dirasa perlu menggiatkan perlawanan di
seluruh wilayah itu pula. Maka untuk Saudi Arabia kami hubungi
(anggota MPRS) Jaafar Zainuddin dan untuk Irak (anggota MPRS)
Imron Rosyadi (S.H.), karena kedua teman itu memang dikenal
aktif dalam masyarakat setempat masing-masing dan dapat di¬
andalkan kewibawaan mereka. Untuk melancarkan hubungan-hu¬
bungan antara ketiga pusat perlawanan itu (Kairo, Mekkah dan
Baghdad), Kedutaan Irak di tempat masing-masing telah bermurah
hati mempergunakan kantong diplomatiknya untuk hubungan-hu¬
bungan surat-menyurat kami. Dengan demikian terjamin pula
kerahasiaannya. Terima kasih tetap diucapkan kepada (alm)
Jenderal Tahsin Askari, Duta Irak di Kairo, seorang pejoang
kemerdekaan Irak yang menaruh simpati kepada perjoangan
ummat Islam, termasuk Indonesia, yang telah membukakan
fasilitas-fasilitas itu bagi kami.
Tugas Panitia Enam hanya merencanakan dan mengko-
ordinasi kegiatan-kegiatan perlawanan itu, sedang pelakunya
adalah seluruh warga Indonesia-Malaya setempat yang sama tinggi
suhu semangat kebangsaannya. Cara kami bekerja adalah membagi
masyarakat Indonesia-Malaya dan masyarakat negara setempat
beserta partai-partai politik, organisasi-organisasi massa dan mass-
medianya kepada enam bagian dan masing-masing keenam kami
bertugas mendekati terus-menerus tiap-tiap bagian itu dalam
menyalurkan rencana dan tindakan yang akan diambil. Dalam
tugas ini masing-masing kami mencari pembantunya dari teman-
teman sehari-hari terdekat, tanpa ia mengetahui bahwa kegiatan-
33
kegiatannya dipimpin oleh badan kabur itu. Di Mesir umpamanya,
kepada saya ditugaskan mendekati 32 mahasiswa Indonesia yang
selama ini memang mempunyai hubungan pribadi dan penger¬
tian yang baik dengan saya. Demikian pula dalam masyarakat
Mesir, kepada saya diwajibkan mendekati terus Partai Al-Wafd,
organisasi massa Jam’iyah Syubban Muslimin dan mass-media
harian Al-Ahram. Dalam masyarakat Indonesia—Malaya diusaha¬
kan menguasai langsung organisasinya yang bersifat sosial atau
oleh teman-teman sepengertian. Adapun yang bersifat politik,
adalah mutlak keharusan menguasainya. Cara demikian ternyata
sangat effektif dan hasil-hasil hubungan-hubungan demikian de¬
ngan masyarakat Arab setempat ternyata pula sangat berfaedah
sesudah Proklamasi. Terutama Proklamasi itu sendiri sesuai dengan
apa yang selalu kami sampaikan kepada mereka selama perlawa¬
nan di bawah tanah itu mengenai pergerakan kemerdekaan In¬
donesia dan aspirasi-aspirasi nasionalnya.
Tujuan perjoangan di bawah tanah itu adalah :
a — menggagalkan usaha Belanda mengumpulkan warga
Indonesia di luar negeri guna sama-sama 'membebaskan’
Indonesia dari pendudukan Jepang, atas dasar pidato/
janji Ratu Wilhelmina tahun 1942, dan
b — memengertikan dunia Arab khususnya dan dunia inter¬
nasional umumnya bahwa perjoangan bangsa Indone¬
sia semenjak puluhan tahun itu adalah buat membe¬
baskan bumi Indonesia dari penjajahan Belanda.
Adapun usaha-usaha untuk mencapai tujuan-tujuan itu, ada¬
lah antara lain dengan :
a — mengembangkan pendirian non-kooperasi dengan Be¬
landa dan sekutu-sekutunya, dalam masyarakat Indo¬
nesia—Malaya.
b - mendekati mereka yang sudah terlanjur supaya jangan
turut melaksanakan tindakan-tindakan yang akan me¬
rugikan perjoangan bangsa Indonesia di dalam negeri.
34
dan menganjurkan supaya menggabungkan diri kepada
bangsa sendiri di saat-saat yang menentukan.
c — mendekati klasi-klasi dan pelayan-pelayan Indonesia—
Malaya yang bekerja pada kapal-kapal Sekutu yang ber¬
labuh di pelabuhan-pelabuhan Timur Tengah baik
secara langsung atau dengan siaran-siaran, supaya sadar
akan siasat Belanda yang sebenarnya terhadap Indone¬
sia.
d — menerbitkan brosur-brosur dan majallah stensilan ”Sua-
ra Perpindom ” guna menentang majallah Belanda ber¬
bahasa Indonesia, yaitu ”Bintang Timur” dari London
dengan pimpinan (Duta Besar) T.Maimun Habsyah dan
”Penyuluh” dari Australia dengan pimpinan ex-Di-
gulis P.N.I. Burhanuddin, dan
c — mengungkapkan tabir kepalsuan janji-janji Belanda dan
menerangkan kepada masyarakat setempat sepak-
terjang pergerakan kemerdekaan Indonesia dengan
brosur-brosur, ceramah-ceramah dan siaran-siaran di
harian-harian dan majallah setempat.
Pimpinan majallah ”Suara Perpindom” diserahkan kepada saya
dan pekerjaan saya sebetulnya hanya menulis tajuk rencananya,
sebagai reaksi-terhadap tajuk-tajuk rencana majallah Belanda di
atas itu. Selainnya diisi dengan tulisan-tulisan yang dikutip dari
tulisan-tulisan yang tersiar dalam majallah-majallah Indonesia
yang kami terima sebelum perang, berupa sejarah, politik, ke¬
budayaan dan lain-lain, sehingga dengan demikian para pemba¬
canya kami bawa kembali ke alam tanah air mereka yang jauh
itu.
- Hasil usaha-usaha kami itu adalah memuaskan. Meskipun
menghadapi tekanan dan ancaman dari Kedutaan Belanda, di
Saudi Arabia umpamanya, dari 4000 lebih warga Indonesia, hanya
— 200 orang yang tertipu. Itupun mereka menyesal setelah diberi
penerangan. Orang-orang terkemukanya, seperti (Duta Besar)
Iskandar Ishak dan lain-lain berjanji akan memberi pengertian
35
kepada kawan-kawannya, sehingga di saat-saat yang menentukan
mereka akan memihak kepada bangsanya. Dari Mesir hanya dua
orang yang diam-diam mengikuti Belanda, yaitu (Duta Besar)
T. Maimun Habsyah dan. Fudail Abdulhamid. Dari Irak seorang-
pun tidak ada. (Duta Besar) Alfian Yusuf Helmi, menolak men¬
diskusikan pendiriannya, ketika singgah di Kairo dalam perjala¬
nannya dari Turki ke Australia. Mansur Abu Makarim yang bekerja
pada Kedutaan Belanda di Kairo, dapat kami jadikan kawan dan
informan, sehingga kami dapat mengetahui gerak-gerik Belanda
di Timur Tengah dan maksud-maksudnya. Sesudah Proklamasi
ia langsung masuk staf Sekretariat Komite Kairo. Demikian juga
kami mempunyai informan pada kedutaan Belanda di Jeddah
dan pada kantor-kantor pos Jeddah dan Mekkah untuk mensen-
sur surat-menyurat Kedutaan tersebut. Dalam satu kawat kepada
Kedutaan itu disebutkan bahwa lada hitam tidak ada didatangkan
lagi ke Saudi Arabia. Sebelum kawat itu sampai kepada alamatnya,
pihak kita (Saleh Ibrahim Padang) telah membeli semua lada
hitam yang ada di pasar dan kemudian menjualnya dengan harga
tinggi dan labanya sebagiannya digunakan buat kegiatan-kegiatan
perlawanan. Para klasi dan pelayan Indonesia pada kapal-kapal
Sekutu yang berlibur di pelabuhan-pelabuhan Iskandariyah,
Port Said dan Suez, kami dekati. Selain memberi penerangan
kepada mereka, juga membagikan ”Suara Perpindom, dengan
ketentuan sesudah dibaca akan dibagi-bagikan mereka pula
kepada teman-temannya, di Inggris, Australia, Colombo, Bombay
dan lain-lainnya berganti-ganti. Masih hidup dalam ingatan saya
pertemuan yang kami adakan di sebuah hotel murah di Iskandari¬
yah dengan empat puluh pekerja kapal itu, pada bulan Juli 1945,
yaitu hanya sebulan sebelum Proklamasi. Pertemuan yang menge¬
sankan itu berlangsung dari jam 22 sampai jam 1 dini hari dan di¬
akhiri dengan mengangkat sumpah dengan nama Allah bahwa me¬
reka tidak akan memihak atau membantu Belanda sekiranya jihad
fi sabilillah yang kami katakan akan dilakukan rakyat Indonesia
itu memang terjadi. Mereka juga beijanji akan menarik teman-te¬
man mereka di mana saja berada supaya berpendirian yang sama
Kepada mereka juga kami nasehatkan supaya menabung, karena di
saat terjadinya jihad itu, mereka harus meninggalkan kapal-kapal
mereka supaya jangan dimakan sumpah atau dikutuk Tuhan.
Mereka yang pada hidupnya sehari-hari tidak demikian menuruti
tuntunan-tuntunan Agama, dan tidak memperhatikan soal tanah
air, tetapi ternyata pada saat-saat yang sungguh, mempunyai
kegairahan Agama dan tanah air yang tinggi. Ini terbukti dari
kenyataan bahwa besoknya pagi-pagi buta, tiga orang perutusan
mereka datang menemui kami. Mereka menanyakan bila jihad
di Indonesia sudah dimulai selagi mereka dalam pelayaran, apakah
pekerjaan di atas kapal — sebelum mendapat kesempatan mening¬
galkannya - seperti memasak, menyapu dan sebagainya termasuk
pekerjaan menolong kapir (Belanda) yang menyebabkan mereka
melanggar sumpah atau terkutuk. Dapat saya ceritakan bahwa
dua bulan sesudah Proklamasi, dua orang klasi Indonesia sampai
di Kairo dengan berjalan kaki dari Tunisia. Ketika kami tanyakan
kenapa mereka berjalan kaki sejauh itu, dijawab bahwa mereka
menerima fatwa yang dibawa teman-teman mereka bahwa haram
bekerja dengan orang kapir yang memerangi kaum Muslimin,
bangsa mereka di Indonesia. Berita Proklamasi mereka ketahui
ketika kapal mereka berlabuh di Tunis. Meskipun tidak mempu¬
nyai uang cukup, mereka memutuskan meninggalkan kapal itu
dan berjalan kaki menuju Mesir, karena di sanalah berada warga
Indonesia terdekat.
Sebagai contoh kegiatan majallah ”Suara Perpindom,”
saya kutip di sini satu tajuk rencana sebagai balasan kepada sa¬
lah satu tajuk rencana majallah-majallah yang dikendalikan Belan¬
da itu dan sanggahan terhadap pernyataan Mr. Musa di ’Tacific
Conference” tahun 1944 sebagai diriwayatkan kepada kami
oleh (alm) Abdulrahman Siddiqi, pemimpin harian ”Morning
News” di Bombay, yang hadir pada Konferensi itu sebagai
wakil Muslim League, bahwa bangsa Indonesia belum matang
untuk merdeka dan masih harus mendapat bimbingan dari Belan¬
da. Dengan judul "Indonesia Cakap Mengurus Diri Sendiri,”
’Suara Perpindom’ No. Juni 1945 tahun ke II, yaitu tiga bulan
sebelum Proklamasi, antara lain menegaskan (menurut ejaan baru):
37
”Sedari waktu itu banyak kita dengar dan kita baca perka¬
taan dan tulisan yang semuanya itu berlawanan dengan kemauan
dan cita-cita bangsa Indonesia sendiri. Sebagai contoh, kita mende¬
ngar seorang yang mengakui dirinya 'wakil’ Indonesia di "Pa¬
cific Conference” di U.S.A., berkata . . . t bangsa Indonesia tidak
hendak bercerai dengan penjajahnya yang lama, tidak hendak
merdeka dan kalau ada pergerakan yang bertujuan kemerdekaan,
itu hanya pergerakan sebagiart kecil dari kaum atasan. Di samping
itu kita baca pula dalam satu 'majallah' yang menjadi trompet
boneka-boneka yang tidak berjiwa itu, yang mengatakan bahwa
bangsa Indonesia belum sanggup merdeka, belum matang, masih
berkehendak kepada 'asuhan dan pimpinan’ penjajahnya yang
lama yang mempunyai kwaliteit dan capaciteit (ketinggian dan
kecakapan).”
"Kedua ’dongengan’ ini sebenarnya tidak baru lagi bagi
telinga bangsa Indonesia, karena ia itu sudah lama didengung-
dengungkan oleh kaum penjajah sendiri di Indonesia. Hanya
yang baru adalah keluarnya dari lidah yang mengakui dirinya
’manusia’ dari Indonesia dan mengaku pula sebagai suara dari
Indonesia. Kedustaan pertama yang keluar dari lidah boneka
yang tidak bertulang itu tidak perlu kita perdulikan lagi, karena
sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia yang sudah hampir
setengah abad lamanya itu cukup untuk menggunting lidah yang
terkutuk itu, cukup membuktikan berkobarnya jiwa kemerde¬
kaan dalam tubuh bangsa Indonesia dan cukup menyatakan
bahwa partai-partai yang silih berganti telah dapat mempenga¬
ruhi rakyat umum, seperti S.I., P.K.I., P.N.I., P.I.I. dan Parindra
serta lain-lainnya adalah tersusun dari segala lapisan rakyat.”
"Adapun kedustaan kedua, meskipun ia itu tidak lebih dari
satu ’dongengan’ yang sekarang dicoba mendendangkannya oleh
orang yang merasa dirinya bangsa Indonesia, padahal Indonesia
berlepas diri dari mereka, baik kita nyatakan di sini bahwa ke¬
tinggalan Indonesia dalam soal kemiliteran, perekonomian dan
diplomasi, tidak sama sekali satu alasan benar untuk mengatakan
38
bahwa Indonesia belum bisa merdeka dan masih berhajat kepada
pimpinan orang lain. Karena soal ini adalah soal ’hak’ yang tak
dapat ditawar-tawar. Tetapi pula kalau alasan boneka ini, sebagai
iseng-iseng saja kita terima, tentu akan kita dapati satu atau
dua negeri saja yang baru berhak merdeka. Peperangan dunia
sekarang cukup memberi bukti bahwa negeri-negeri Belanda,
Perancis, Belgia, Grik, Yogoslavia, Poland, dan lain-lain, artinya
hampir semua bangsa di Eropa belum bisa mempertahankan
kemerdekaannya dengan kekuatan militer sendiri. Apakah boneka
itu akan turut berkata yang bangsa-bangsa itu jangankan akan
mendakwa berhak ’memimpin’ lain bangsa malah masih berke¬
hendak kepada pimpinan ?? Akan urusan ekonomi, boneka-
boneka itu mengerti bahwa yang melemahkan perekonomian
Indonesia adalah kaum 'pemimpin ’ (baca penjajah) sendiri. Politik
pintu terbuka, pelarangan perniagaan export dan import bagi
rakyat Indonesia, aturan monopoli (ihtikar), pajak-pajak yang
lebih dari penghasilan rakyat dan ratusan aturan-aturan lagi,
tidakkah semuanya itu racun yang mematikan perekonomian
rakyat ??? Tentang urusan politik (diplomasi), hendaklah boneka-
boneka yang disuapi mulutnya itu mengerti pula bahwa hak bang¬
sa Indonesia dan batas-batas tanah airnya terang benderang laksa¬
na sang surya di tengah hari tepat. Selain itu harus diketahuinya
pula bahwa negeri Indonesia tidak sekali-sekali berniat hendak
merampas hak orang lain. Maka kecakapan dan keimanan pe¬
mimpin-pemimpin Indonesia sekarang sampai cukup untuk menja¬
ga dan mempertahankan hak-hak dan batas-batas Tanah Air
yang terang bersuluh matahari itu.’ 7
”Soal yang pertama bagi kita ialah soal hak kita atas Tanah
Air kita. Adapun soal kecakapan, bangsa Indonesia tidak berke¬
hendak kepada pimpinan siapapun. Masa tigaratus tahun yang lalu
telah menyatakan kepalsuan ’kwaliteit dan capaciteit’ kaum
penjajah dan membuktikan pula bahwa 'pimpinan’ itu hanyalah
suatu belenggu yang erat sekali mengikat tangan kecakapan bangsa
Indonesia.”
39
'1
"Kemerdekaan penuh hanya satu-satunya peluang dan ke¬
sempatan untuk menyatakan kecakapan itu sebagai ternyata
di zaman Sriwijaya dan Majapahit, ketika kaum-kaum penjajah
masih tidur nyenyak dalam selimut kebodohan dan kemunduran.”
Dalam laporan Panitia Pusat pertama kepada Pemerintah
R.I. Agustus 1946 antara lain dikatakan :
"Pada tiap-tiap terjadi kongres atau konferensi-konferensi
dari Negara-negara Sekutu di Teheran (Iran), di Kairo (Egypt),
di Yalta (Rusia), di San-Fransisco (Amerika) yang terjadi selama
perang terjadi, pergerakan kita di luar negeri mengambil kesem¬
patan-kesempatan penting ini untuk mengemukakan soal tanah-
air.Teristimewa di Timur Dekat, di mana negeri-
negeri Arab dan Islam; maka ditiap-tiap terjadi konferensi-konfe¬
rensi dari negeri-negeri itu, kita senantiasa mengemukakan masalah
Indonesia agar menjadi perhatian mereka bahwa di sana di Timur
jauh ada 70 juta Kaum Muslimin Indonesia sebagai saudara mereka
yang terikat dalam agama dan ketimuran sedang berjoang menun¬
tut kembali kedudiikan mereka di antara negeri-negeri yang hidup
merdeka.”
"Sebagai contoh, pada 6 September 1944, Radio Berlin ber¬
bahasa Arab menyiarkan 'ucapan selamat’ mufti Besar Palestina
Amin Al-Husaini (melarikan diri ke Jerman pada permulaan
perang dunia kedua) kepada Alam Islami, bertepatan 'pengakuan
Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio
tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan
harian "Al Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.
Harian ini yang memang tugas saya selama ini menggarapnya,
kebetulan dipimpin (alm) Abdul Hamid Al-Ghamrawi, wartawan
Mesir yang selalu berbaju hitam dan berdasi hitam, alamat ber¬
kabung disebabkan pendudukan Inggris di Mesir, sangat simpati
terhadap gerakan kami, sehingga dari saat itu kami tidak lagi
bergiat sembuni-sembuni. Kedutaan Belanda di Kairo memban¬
tah berita itu di harian ”Le Journal d’ Egypte,” dengan menga¬
takan baru berupa ’janji’ dari Jepang, tetapi harian besar seperti
”A1-Ahram” itu berdiri di samping kami, bantahan itu tidak di-
40
perhatikan rakyat Timur Tengah yang memang anti-Sekutu,
termasuk Belanda
”Suatu kebetulan yang sangat berharga, bahwa pada saat
berita itu tersiar, Kongres Pan Arab yang kemudian menjelma
menjadi Liga Arab mengadakan kongresnya yang pertama di
Iskandariyah. Rapat umum Perpindom memutuskan mengutus
Ismail Banda dan saya untuk menghubungi para peserta yang
terdiri dari para Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Nega¬
ra-negara itu untuk menyampaikan nota menuntut :
a - pengakuan atas kemerdekaan Indonesia,
b — jaminan kesatuan Indonesia seperti sebelum pendudu¬
kan asing dengan tidak dibagi-bagi, dan
c - ikut serta wakil-wakil Indonesia yang sebenarnya dalam
menentukan soal-soal perdamaian sesudah perang.
Nota yang kami majukan atas nama ”Perhimpunan Indone¬
sia Raya” itu mendapat perhatian para peserta. Perdana Menteri
Irak J.M. Hamdi Al Bahjahji Pasya mengizinkan menyiarkan
pernyataannya seperti berikut ini :
”Indonesia harus merdeka. Karenanya ia itu satu bangsa,
beragama satu dan mempunyai hak buat merdeka menurut At¬
lantic Charter dan tidak boleh dikembalikan kepada Belanda.
Harapan besar bahwa negara-negara Sekutu akan membantu
bangsa Indonesia mengkenyataankan aspirasi-aspirasi mereka. Ada¬
pun negara-negara Arab, kewajiban mereka ialah menyokong
Indonesia guna mencapai kemerdekaannya.”
Nota panjang yang memaparkan juga sejarah pergerakan kemerde¬
kaan itu, telah kami siarkan pada majallah ”Suara Perpindom”
No. April 1945 untuk diketahui seluruh warga Indonesia yang
berada di luar negeri. Pada mukaddimahnya kami katakan (de¬
ngan merobah ejaan) antara lain :
”Diketika tuan-tuan berkumpul untuk memperbincangkan
soal ’Pan Arabia’ dan di waktu kami bermohon kepada Tuhan
Yang Maha Kuasa agar segala usaha tuan-tuan itu mendapat tau-
41
fik untuk keselamatan bangsa Arab terutama dan Kaum Muslimin
seanteronya, diketika saat yang berbahagia ini, kami pemuda
Indonesia yang berlindung di bawah "Perhimpunan Indonesia
Raya” mengambil kesempatan untuk menyampaikan kepada
tuan-tuan satu 'memorandum’ yang bersangkut dengan ’soal
Indonesia’ yang didiami oleh 70 milyun diantara mana 90%
tersusun dari Kaum Muslimin, dengan maksud agar tuan-tuan
mengetahui aliran soal negeri Islam Timur ini semenjak ditimpa
malapetaka penjajahan - sebagaimana juga negeri-negeri Timur
lain — dan usaha-usaha perjoangan Bangsa Indonesia yang telah
sadar akan hak-hak dan keadilan tuntutan-tuntutan negerinya
dalam melepaskan dirinya dari malapetaka penjajahan ini, sehing¬
ga tercapai kemerdekaan yang penuh, dan penghargaannya yang
penuh moga-moga negeri kami ini menjadi perhatian tuan-tuan
pula.”
Dan pada penutupnya, setelah menegaskan tiga tuntutan kami
di atas itu, dikatakan :
Maka P.I.R. yang melahirkan perasaan dan cita-cita dari
70 milyun penduduk yang berpegang kuat dengan hak-haknya,
mengharap sungguh agar soal negeri Islam Timur ini akan menjadi
perhatian tuan-tuan, sehingga tuan-tuan akan bermurah hati
mempergunakan kesempatan dan pengaruh tuan-tuan di hadapan
kerajaan yang bersangkutan, sehingga pula tercapai segala tuntu¬
tan-tuntutan itu yang akhirnya Indonesia menjadi sendi yang
kuat pada gedong kemuliaan Timur Baru, terutama sekali, dan
pada gedong keamanan dunia yang kekal seanteronya.
Meskipun usaha-usaha kami dikalangan Kongres itu sebenar¬
nya — seperti ternyata kemudian — berdasarkan kepada suatu
informasi yang kurang tepat tetapi adalah sangat berfaedah bagi
perjoangan kami kemudian, ketika kami menjalankan diplomasi’
revolusi’. Karena hubungan-hubungan kami dengan Kongres Pan
Arab itu dan tiga tuntutan yang kami majukan, telah banyak
merintis jalan bagi hubungan kemudian dengan 'Liga Arab dan
tuntutan-tuntutan pengakuan de facto dan de jure sesudah Prokla¬
masi.
42
Yang berkuasa di Mesir waktu itu ialah Partai Al-Wafd yang
memang menjadi tugas saya untuk selalu mendekatinya. Di sini
kami telah dapat memanfaatkan hubungan-hubungan saya dengan
Dr. Salahuddin Pasya, tangan kanan (alm) Mustafa Nahas Pasya,
pemimpin partai tersebut , sehingga dapatlah dengan mudah kami
menghubungi para peserta Kongres itu. Demikian pula hubungan-
hubungan dengan Dr. Salahuddin Pasya itu, sebagai ahli hukum
internasional, banyak faedahnya sesudah Proklamasi ketika beliau
menerima menjadi penasehat hukum Panitya Pusat.
Contoh kesempatan penting lagi yang kami pergunakan
untuk mempertahankan hak bangsa Indonesia buat merdeka dan
membentangkan tuntutan nasionalnya yang sesungguhnya, adalah
konferensi internasional terbesar sebelum perang dunia kedua itu
berakhir, yaitu San-Fransisco Conference, April 1945, yang
menelurkan The Charter of the United Nations. Perhatian kami
kepada konferensi ini bertambah setelah mengetahui bahwaBelan-
da mengakui mewakili Indonesia dan untuk meyakinkan bahwa
ia itu betul-betul mewakili, ia membawa Mr. Musa yang memang
tidak percaya akan kesanggupan Indonesia buat hidup merdeka .
Dalam laporan kami kepada masyarakat Indonesia di luar negeri
yang disiarkan majallah ”Suara Perpindom” No. Mei-Juni 1945,
dengan judul ”Soal Indonesia di San-Franeisco” tercatat sebagai
berikut :
”Kepada Sekretariat San-Francisco Conference, kepada utus¬
an-utusan yang dirasa ada perhatian terhadap Indonesia dan
kepada surat-surat kabar di Timur dan di Barat, telah dikirim¬
kan puluhan 'Memorandumdi mana digambarkan soal
Indonesia dengan jelas dan diminta supaya dapat perhatian
sepenuhnya. Utusan-utusan yang lewat Kairo dalam perjalan¬
annya ke San-Francisco, semuanya dijumpai, diberi kete¬
rangan-keterangan, serta dipesani dengan erat-erat agar mere¬
ka turut membela Indonesia di Pertemuan Besar itu. Semua
mereka berjanji akan berbuat apa yang mungkin guna mem-
43
bela Indonesia dan negeri-negeri Timur. Supaya lebih erat
lagi, telah dihubungi Raja-raja dan Perdana-perdana Menteri
yang mempunyai utusan, agar utusan-utusan itu dipesani oleh
Raja-raja dan Perdana-perdana Menteri tadi. Ketika Con-
ference hampir bersidang, Badan Politik telah mengirim
beberapa kawat kepada utusan-utusan tersebut untuk mengu¬
atkan lagi.”
”Ini semua telah diusahakan. Tetapi B.P. (Badan Politik)
belum puas.jika utusan Indonesia sendiri belum sama
membicarakan nasib bangsa-bangsa di antaranya bangsa
Indonesia.... Tetapi jalan tertutup rapat bagi Indonesia ....
sehingga merasa perlu mengirimkan kawat kepada Sekretariat
Conference, menyatakan bahwa utusan Belanda tidak sekali-
kali mewakili bangsa Indonesia
Tidak perlu saya nukilkan bunyi memorandum yang dikirim
ke Konferensi itu, tetapi cukup penutupnya saja sebagai berikut:
”Sesudah Indonesia dan Belanda jatuh, Ratu Wilhelmina
memberi janji pula. Menurut janji itu, Inodnesia nanti akan
jadi satu bagian dari Kerajaan Belanda, dan akan sama hak¬
nya dengan Belanda ?! Tetapi bangsa Indonesia heran, ke¬
napa negerinya musti jadi satu bagian dari Kerajaan Belanda,
dan sebagai satu bangsa kenapa tidak berhak merdeka penuh
sebagaimana sediakala, sebelum datang bangsa asing ?”
”Bangsa Indonesia tidak berkeberatan buat kerja bersa¬
ma-sama dengan bangsa lain untuk kemakmuran umum,
tetapi mereka mau merdeka dahulu. Ini hak mereka asli se¬
bagai satu bangsa, hak yang tak dapat tidak musti mereka
pertahankan selama-lamanya.”
"Benar bahwa Indonesia, oleh sebab lamanya dalam
alam jajahan yang gelap gulita, belum sama dengan bangsa
dan negeri-negeri besar yang kelas satu. Tetapi tak dapat
disangkal lagi bahwa bangsa Indonesia sekarang tidak kurang
kemampuannya buat merdeka penuh dari negeri-negeri lain
yang diakui dunia kemerdekaannya. Oleh karena itu perkara
ini kita serahkan kepada sidang ramai untuk ditimbang dengan
adil. Kami percaya akan keyakinan bangsa Indonesia yang
telah kami bentangkan di atas tadi, ia akan terus berjoang
dengan sekuat tenaga untuk mencapai serta mempertahankan
kemerdekaannya, serta ia tidak akan rela menerima aturan-
aturan apa saja yang mengandung arti perhambaan dan per¬
budakan dari pihak manapun jua, dan dengan kalimat apapun
jua.”
”Kami berharap dengan penuh kepercayaan bahwa
tuan-tuan pencinta merdeka yang telah berperang guna mem¬
pertahankan kemerdekaan, akan menunjang 70 milyun jiwa
dari bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan¬
nya.”
Tuntutan Nasional Indonesia
Dari contoh-contoh di atas itu, gerakan pemuda Indonesia
di luar negeri selama perang itu telah menyusun-nyusun tuntutan-
tuntutan nasional Indonesia, 1 dan ternyata sesuai dengan tuntutan
R.I. sesudah Proklamasi. Dalam laporan kami pertama kepada
Pemerintah R.I. Agustus 1946, kami katakan :
"Segala rupa surat dan memorandum yang kita sampaikan
kepada Arab League dan United Nations Organization, selain dari
dalil-dalil tentang hak-hak bangsa Indonesia untuk hidup merdeka
yang bersandar kepada sejarah, sosial, ekonomi dan politik, adalah
mempunyai tiga tuntutan, yaitu :
a— kemerdekaan Indonesia,
b— kembali segala tanah-tanah Indonesia sebagaimana sebe¬
lum dimasuki bangsa asing dengan tidak dibagi-bagi, dan
c— turut wakil Indonesia yang sejati di Rapat Perdamaian
yang akan datang dan segala rapat yang menyangkut
Indonesia.”
45
Usaha Infiltrasi Komunis
Setelah Uni-Soviet mengadakan ’Treaty of Alliance dengan
Inggeris dan Iran (Januari 1942), ia sudah agak bebas bergerak di
Timur Tengah. Dari itu ia berusaha menyelusup ke dalam gerakan
pemuda Indonesia-Malaya di sana, dengan mengirim (Dr.) Semaun
pemimpin komunis Indonesia yang bermukim di Moskow semen¬
jak tahun dua-puluhan, dan waktu itu bertugas liaison offiser bagi
tentara Uni-Soviet di Teheran. Ia datang ke Irak dengan maksud
mengumpulkan warga Indonesia di luar negeri guna dilatih di
kamp-kamp Amerika dan kemudian dijatuhkan di wilayah Indone¬
sia bersama-sama tentara Sekutu melawan Jepang. Kami setuju,
tetapi tidak hanya untuk membebaskan Indonesia dari Jepang,
tetapi dari semua tentara asing, termasuk tentara Sekutu. Semen¬
tara surat-menyurat antara Baghdad, Kairo dan Saudi Arabia, ia
ditangkap oleh kekuasaan militer Inggris di Irak, mungkin karena
dicurigai sebagai mata-mata Uni-Soviet. Sesudah sebulan dalam bui
Baghdad, dan mungkin mengira akan dihukum mati, ia mengaku
kepada Imron Rosyadi (S.H.) bahwa namanya yang sebenarnya
bukanlah Muhammad Ali, sebagai dikatakannya semula, .tetapi
Semaun yang sudah beristeri orang Rusia dan mempunyai anak
di Akademi Angkatan Laut Rusia. Ia berpesan sekiranya ia mati,
supaya cincin dan gambarnya bersama isterinya itu dikirimkan ke
Moskow. Dengan demikian gagallah usaha infilterasi komunis ke
dalam tubuh perjoangan kami di Timur Tdngah, meskipun dicoba
lagi kemudian oleh Setiajit, ketika ia menjabat Wakil Perdana R.I.,
dalam perjalanannya pulang-pergi ke Denhaag melalui Kairo, dalam
rangka perundingan Renville.
Menyelamatkan Mana Yang Dapat Diselamatkan ?
Pada pertengahan tahun 1945 tanda-tanda kemenangan Seku¬
tu di Eropa dan Timur Jauh semakin kelihatan. Hal ini memberi
pengaruh juga ke dalam tubuh Panitia Enam. Ismail Banda merasa
sudah waktunya kami menyesuaikan diri dengan perkembangan
itu, dengan dasar menyelamatkan mana yang dapat diselamatkan.
46
Ia mengajak supaya keija-sama dengan Sekutu, sehingga jika
tentaranya nanti menduduki Indonesia, kami akan dapat berbicara
sebagai 'partner.’ Pendapatnya itu kami tentang. Setelah dua hari
diperdebatkan dan ia tetap pada pendiriannya, malah bertekad
hendak membawanya ke rapat umum, kami mempersilahkannya,
bahkan beijanji tidak akan menentangnya di muka umum, meski¬
pun secara diam-diam kami tetap mengajak supaya jangan terpe¬
ngaruh oleh perkembangan perang itu, dengan menegaskan bahwa
bangsa Indonesia sudah bersiap-siap pula buat menghadapi segala
kemungkinan. Saya sendiri menjauhkan diri ke Iskandariyah, di
mana dapat mengumpulkan 40 orang klasi kapal Indonesia seper¬
ti saya ceritakan di atas itu. Ismail Banda gagal dan reaksi masya¬
rakat demikian kerasnya, sehingga menuduhnya 'pengkhianat’
dan dijatuhkan dari kedudukannya sebagai ketua Badan Politik
Perpindom. Dua kali rapat umum memilih saya sebagai gantinya,
tetapi menolak, selama tuduhan 'pengkhianat' itu tidak dicabut.
Perpindom menekan saya, dengan mengancam akan mengangkat —
tanpa pemilihan, karena memang selama ini ketua B.P. itu ditunjuk
sebagai satu bagian dari Perpindom — sebagaimana disampaikan
kepada saya oleh Fuad Fakhruddin (Dr.) dan (alm) Abdulgani Beg
dari pimpinan Perpindom, akan mengangkat (Dr.) Kaharuddin Yu¬
nus, yang selama ini tidak pernah diikutkan dalam B.P., karena
kurang diterima oleh masyarakat. Disebabkan tuduhan di atas itu
tidak dicabut, saya tetap pula menolak dan Perpindom terpaksa
meneruskan ancamannya itu. Suasana hangat ini terjadi hanya
sebulan sebelum Proklamasi.
Hasi-hasil Perlawanan Di bawah Tanah
Meskipun peijoangan selama perang dunia kedua itu dalam
suasana tertekan, tetapi telah banyak memberi hasil-hasil yang
positif, antara lain :
a— Usaha Belanda untuk mengumpulkan warga Indonesia
di luar negeri boleh dikatakan gagal total. Mereka yang
47
tertipupun kembali memihak kepada bangsanya sesudah
Proklamasi, sebagai yang kami anjurkan.
Rakyat Arab di Timur Tengah telah dapat diberi penger¬
tian akan aspirasi-aspirasi nasional Indonesia yang sebe¬
narnya, yang tidak dapat didamaikan oleh janji Ratu
Wilhelmina th. 1942,
Berita 'pengakuan’ Jepang atas kemerdekaan Indonesia,
meskipun ternyata keliru, tetapi dengan memperguna¬
kannya sejauh mungkin, telah banyak merintis jalan
bagi usaha kami kemudian memperoleh pengakuan de
facto dan de jure R.I. oleh negara-negara Arab,
Pendekatan kepada parpol-parpol dan ormas-orm as serta
mass-media setempat, banyak sekali menolong kami bagi
menjadikannya sebagai kelompok-kelompok pendorong
(pressing groups) terhadap pemerintah-pemerintah me¬
reka untuk menyokong Indonesia sesudah Proklamasi,
Kerjasama yang telah terpusuk selama perang itu antara
masyarakat Indonesia di Mesir, Saudi Arabia dan Irak,
dan juga dengan mereka yang berada di wilayah-wilayah
lain melalui majallah "Suara Perpindom”, telah melahir¬
kan suatu sikap sama yang spontan, simultan dan merata
dari ribuan warga Indonesia yang terpancar di luar negeri
dalam menyokong Proklamasi, sebagai dibuktikan oleh
lahirnya puluhan Panitia di seluruh dunia, sesudah Pro¬
klamasi, dan beramai-ramainya klasi kapal-kapal warga
Indonesia meninggalkan kapal-kapal Sekutu sebagai
solidaritas dengan bangsa mereka.
PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945
Usaha ’black out’ Proklamasi di Timur Tengah
Ketika kemerdekaan Indonesia diumumkan, alat-alat sensor
Sekutu di Timur Tengah menutup erat supaya Proklamasi itu
tidak tersiar di daerah itu, karena diperkirakannya akan, mendapat
sambutan hangat. Rakyat Arab yang selama perang itu men¬
derita tekanan-tekanan berat dari kekuasaan militer Sekutu, akan
merasa lega sekiranya Sekutu mendapat tentangan baru. Maka
sampai akhir Agustus 1945 berita Proklamasi itu belum diketahui
umum di sana. Baru pada permulaan September Mansur Abu
Makarim membacanya dalam majallah ”Vrij Nederland” dan
segera menyampaikannya kepada kami. Tetapi penyiarannya
masih terlambat dua hari, karena pimpinan B.P. yang baru
masih ragu-ragu. Pertama disebabkan mereka tidak tahu bahwa
M.A. Makarim adalah informan kami pada Kedutaan Belanda,
dan kedua karena soal nama badan yang akan mengumumkannya.
Karena Indonesia sudah merdeka, kami berpendapat nama ”Pa-
nitia Pembela Kemerdekaan Indonesia” (Lajnatud Difa’i ’Anistiq-
lali Indonesia) akan lebih tepat, sedang mereka mempertahankan
nama "Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia,” ( Jam’iyatulstiq-
lali Indonesia), dengan keringkasan P.K.I.
Sambutan Hangat
Berita yang menggembirakan dan bersejarah itu disambut
hangat oleh mass-media. setempat. Surat-surat kabar menyiarkan-
49
nya dengan huruf-huruf besar di halaman muka, sedang pengulas-
pengulas berita dari pers dan radio menyambutnya dengan penuh
simpati. Adalah suatu kesempatan baik bagi mereka untuk me¬
lampiaskan kutukan kepada negara-negara Sekutu kolonial, yang
selama perang besar itu menginjak-injak kedaulatan negara mereka.
Pengumuman kemerdekaan Indonesia memenuhi hasrat mereka
akan timbulnya kebangkitan Timur di atas puing-puing yang di¬
akibatkan perang yang tidak mengenal kemanusiaan itu. Bukankah
harga seorang manusia Arab waktu itu hanya sepuluh pound
Mesir, jika dibunuh atau dilindas kendaraan militer Sekutu tanpa
hak mengadu atau menahan kenderaan yang melindas itu? Indo¬
nesia memenuhi hasrat mereka, karena ialah bangsa pertama se¬
sudah perang itu bangkit menyatakan kebebasan dirinya.
Naskah Proklamasi
Sebelum Delegasi R.I. yang dipimpin (alm) Haji Agus Salim
sampai di Kairo pada bulan Maret 1947, kami belum menge¬
tahui dengan pasti kissah Proklamasi dan juga belum pernah
membaca naskahnya. Untuk memberi gambar yang mengesankan
kepada rakyat Arab di Timur Tengah, kami membuat gambar
dan naskah sendiri, yang kerangkanya kami ambil dari ’ cerita-
cerita’ sana-sini yang sampai ke telinga kami. Kami mendengar
pengumuman kemerdekaan, rapat raksasa di lapangan Gambir,
pertempuran yang terjadi dengan tentara Jepang yang telah
menyerah, tetapi bertugas mempertahankan status-quo dan se-
bagainya. Dari bahan ini kami buatlah gambar yang kami nukil¬
kan pula dalam buku ’Tndonesia As-Sairah” (Indonesia Be-
Revolusi) halaman 171 yang kami terbitkan pada peringatan
ulang tahun pertama Proklamasi sebagai berikut :
”Sebuah bom atom dijatuhkan di Hirosyima dan sebuah
la gi di Nagasaki. Jepang menyerah dan Maharaja-dirajanya me¬
merintahkan kepada angkatan bersenjatanya yang berada di
daerah pendudukan supaya mengikuti perintah Komando Ter-
50
tinggi Sekutu. Komando ini memerintahkan supaya mereka jangan
menyerahkan kekuasaan di wilayah itu kepada rakyat pendu¬
duknya.” - .
"Rakyat Indonesia dikejutkan oleh penyerahan Jepang, te¬
tapi mereka sebenarnya telah bersedia-sedia untuk mencetuskan
revolusi umum. Semangat mereka meluap, sedang semangat ten¬
tara Jepang mendingin mendekati zero. Meskipun demikian,
karena tunduk kepada Komando Sekutu, mereka tidak mau
menyerahkan kekuasaan kepada rakyat Indonesia; sebaliknya
bersiap-siap untuk menumpas setiap gerakan revolusioner yang
hendak merebut kekuasaan itu.”
"Pada 17 Agustus 1945, hari Proklamasi kemerdekaan
Indonesia dan berdirinya Republik Indonesia, tentara Jepang
yang bersenjata tank-tank dan sebagainya, telah mengepung
Lapangan Gambir, lapangan terbesar di ibukota Indonesia, Ja¬
karta, karena pemuda-pemuda Indonesia bersenjata ringan telah
diperintahkan supaya berkumpul di lapangan tersebut dan menye¬
rang tentara Jepang itu sekiranya mereka berkeras melarang
mengadakan rapat umum di sana. Yang terjadi ialah bah¬
wa tentara Jepang melarang ribuan pemuda bersenjata itu me¬
masuki lapangan, sehingga bagaikan singa lepas dari kandang,
dengan pekik ’Merdeka’ mereka menyerang tentara Jepang itu.
Pertempuran berdarah berakhir dengan kemenangan bagi pemuda
yang bersenjatakan keimanan membaja pada tanah-airnya atas
kekuatan Jepang yang telah lesu."
"Maka terkumpullah ribuan pemuda bersenjata di Lapangan
Gambir, lengkap dengan bendera-bendera berwarna merah-putih.
Pada saat yang menentukan dalam sejarah Indonesia ini. di tengah
lautan manusia yang bergelora kebangsaan itu, kelihatan sebuah
mobil yang dijaga ketat oleh pemuda-pemuda bersenjata, bahkan
di atapnya kelihatan beberapa pemuda bersenjata mitrailleuse
menuju ke podium yang didirikan tergesa-gesa, di tengah-tengah
pekik ’Merdeka’ yang memecah langit, sebagai tanda kehormatan
51
bagi orang-orang yang di dalamnya. Orang-orang itu tidak lain
dari Ir. Sukarno dan Dr. Muhammad Hatta. Mereka disambut
dengan pekik kebangsaan yang gemuruh dan dentuman senapan
yang memecah telinga, sebagai penghormatan dan tanda kese¬
diaan mereka untuk membela tanah-air. Sukarno yang terkenal
ahli-pidato utama di Indonesia tidak berpidato. Beliau hanya
mengajukan dua pertanyaan : ’Apa yang saudara-saudara kehen¬
daki?’ Pertanyaan itu dijawab' mereka dengan suara serentak yang
bagaikan petir : Kemerdekaan. ’Apakah saudara-saudara bersedia
mempertahankannya?’ ’Dengan darah dan nyawa kami,’ jawaban
mereka pula. Setelah mendengar jawaban mereka yang tegas-
tangkas itu, beliau berkata :”ATAS NAMA BANGSA INDONE¬
SIA, KAMI — SAYA DAN HATTA — MENGUMUMKAN KE¬
MERDEKAAN INDONESIA.”
Demikianlah gambaran khayal kami akan Proklamasi kemer¬
dekaan Indonesia. Ketika masyarakat Arab menyaksikan ’Filem
Proklamasi’ yang dibawa Delegasi Pak Salim pada tahun 1947,
yang mempertunjukkan rapat raksasa di Lapangan Gambir, me¬
reka teringat kepada gambar khayalan yang pernah kami beri¬
kan kepada mereka, yang seolah-olah menjadi saksi atas kebe¬
naran gambara itu. Sebenarnya kami telah mendapat kesempatan
untuk mengecek kebenaran gambaran tersebut kepada Delegasi
SuWandi yang singgah di Kairo (7/4/46), tetapi keinginan untuk
memanfaatkan kunjungan yang singkat itu sejauh mungkin,
telah ’mengganggu’ ingatan kami buat menanyakan kissah Pro-
kalamasi yang menarik itu.
Perobahan Pimpinan Panitia (Komite)
Tanpa menghiraukan apakah pimpinan "Perkumpulan Ke¬
merdekaan Indonesia,” yang merupakan badan atau panitia po¬
litik dari Perpindom, disukai atau tidak, kami semua merasa
terpanggil untuk mencurahkan seluruh tenaga guna menyebar¬
luaskan berita pengumuman kemerdekaan itu dan menyiapkan
segala sesuatu yang diperlukan dalam menghadapi kemungkinan-
52
kemungkinan yang akan timbul dari pengumuman itu. Karena,
jika bangsa-bangsa yang tertekan merasa lega dan menyokong
tindakan bangsa Indonesia itu, banyak pula kekuasaan yang bu¬
kan saja tidak menyukainya, tetapi pula menentangnya. ”Black
out” berita itu selama lebih tiga minggu di Timur Tengah dan
sekitarnya, adalah bukti adanya tantangan itu.
Pimpinan Perpindom melihat ketidak-seayun antara panitia
dan para pembantu, karena kegiatan pemimpinnya lebih diarah¬
kan kepada "mengumpulkan” dokument-dokument yang disya-
ratkannya harus menjadi hak ’pribadi’-nya. Dari itu ia segera
mengambil tindakan dengan mengganti Kaharuddin Yunus de¬
ngan Fouad Fakhruddin. Keseayunan-langkah dapat diciptakan,
tetapi Fouad Fakhruddin sendiri seperti terdapat dalam surat
Perpindom kepadanya ’masih perlu meneruskan pelajarannya,’
sedang ’menurut pemandangan umum dari mahasiswa-mahasiswa
Indonesia di Kairo, di Hejaz dan Irak, bahwa yang akan menjadi
ketua Panitia hendaklah orang yang sanggup 100% menyerahkan
tenaga, pikiran dan waktunya buat peijoangan,’ maka oleh Per¬
pindom disampaikan kepada saya bahwa Rapat telah mengangkat
saudara menjadi ketua Panitia dengan syarat-syarat yang akan
diteruskan oleh utusan kami. Syarat-syarat yang disampaikan
kepada saya antara lain adalah harus menyerahkan seluruh te¬
naga, pikiran dan waktu untuk peijoangan, dengan ketentuan
pula bahwa saya tidak perlu memikirkan keperluan saya sehari-
hari, termasuk makan siang dan malam yang oleh seorang
sukarelawan telah disanggupi menyediakannya. O
Sekarang saya menerima pengangkatan itu dengan penuh
kerelaan, beserta syarat-syaratnya. Karena setelah Ismail Banda
1). Di lini saya mengucapkan terimakasih kepada (Prof.) M. Taher Abdul Muin,
sekarang Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN, yang telall bersukarela sampai ia
pulang pada akhir 1946, dan kepada (alm) Y asi n Abdul Majid, penulis (khattat)
Al Qur-an Pusaka R.I. yang menggantikannya bersukarela; semoga Tuhan mem¬
balas jasanya dengan Rahmat dan ampunan dan memasukkannya ke lannatun
Na-im. Amin!
53
turut diangkat* tidak ada alasan lagi buat menolaknya,bahkan di
saat seperti itu saya sudah merasa wajib menerimanya. Untuk
kepentingan peijoangan, saya harus mengorbankan pelajaran sama
sekali, sehingga bahan-bahan yang sudah saya kumpulkan selama
dua tahun sesudah mencapai Licence es Lettres dari Fouad I
University (sekarang Cairo University) guna menyiapkan buku
(risalah) yang telah ditetapkan Majlis Univeristas dengan judul
"Kemerdekaan Dalam Islam” (Al-Hurriatu fil Islam) di bawah
pimpinan Prof. Dr. Ali A. Wahid Al-Wafi, harus saya tinggalkan
sampai titel ilmiah (Dr.) yang tadinya diidam-idamkan. Dengan
demikian susunan baru Panitia adalah sebagai berikut :
1— Muhammad Zein Hassan,
Ketua,
2- Abduljalil Hassan (Tan Sri, Malaysia)
3- Ahmad Hasyim Amak
Wakil Ketua,
Sekretaris Urusan
Timur,
4— Salahuddin M. Nur
Sekretaris Urusan
Barat,
5- M. Nur Asyik (M,.A.)
Bendahara,
6- Ismail Banda (M.A. alm)
Anggota,
7— Fouad Fakhruddin (Dr.)
Anggota,
8— Abdulrahman Ismail (M.A. alm)
Anggota, dan
9— Abdulgani Beg (alm)
Anggota.
'Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia’ yang tadinya di
Timur Tengah dikenal oleh warga Indonesia dengan huruf besar¬
nya saja, untuk menghindarkan kekeliruan, akan saya sebut saja
’Panitia’ dan telah menjadi badan otonom, setelah meluas ker¬
janya sesudah Proklamasi. Keuangannya hanya dikumpulkan dari
tiap-tiap warga Indonesia satu pound Mesir, dipotong dari hutang
kepada Kedutaan Belanda yang telah dinaikkannya menjadi tujuh
pound, dalam usahanya menarik hati mereka. Tidak dibenarkan
minta bantuan luaran, karena pengalaman di tanah Arab menunjuk¬
kan bahwa sekali meminta bantuan, pintu pemberi telah tertutup
bagi si penerima. Padahal tugas berat Panitia memerlukan hubung-
54
an-hubungan yang terus menerus dengan seluruh masyarakat se¬
tempat. Kepada seluruh parpol dan ormas-ormas setempat kami
peringatkan supaya menyampaikan kepada kami nama-nama warga
Indonesia yang menghubungi guna minta bantuan. Karena kamilah
yang menentukan siapa sebetulnya yang perlu menerima bantuan
tambahan. Sehingga dengan demikian beberapa nama telah
tertangkap basah, karena mencoba mempergunakan simpati orang
lain untuk kepentingan sendiri.
Rencana kerja. Dalam hubungan-hubungan kami dengan
parpol-parpol selama perang besar kedua dan hubungan-hubungan
kami dengan Liga Arab, telah terjalin hubungan baik dengan Dr.
Muhammad Salahuddin Pasya, Sekretaris Jenderal Kongres Pan
Arab yang menjelma menjadi Liga Arab, tangan kanan Partai Al-
Wafi dan seorang ahli hukum internasional terkemuka di Timur
Tengah. Sesudah Proklamasi beliau menerima menjadi Penasehat
Hukum Panitia Kairo. Pada tingkat pertama peijoangan Panitia,
beliau menasehatkan supaya menekankan pada terciptanya de
facto kebebasan warga R.I. di luar negeri dari 'perwalian’ Belanda.
Beliau mengatakan :
”01eh karena di Indonesia bangsa Indonesia dengan Prokla¬
masi itu telah mewujudkan d e facto kekuasannya atas wila¬
yah Indonesia, maka kewajiban pertama warga Indonesia dimana
saja ia berada adalah mewujudkan pula d e facto kebebasan¬
nya dari 'perwalian' Belanda di luar negeri. Sekiranya de facto ke¬
bebasan itu diakui oleh pemerintah setempat, akan berarti pula pe¬
ngakuan pemerintah itu atas de facto kekuasaan Indonesia itu
atas rakyatnya di luar negeri. Ini tidak berarti bahwa usaha pe¬
ngakuan de jure diabaikan. Kedua usaha itu pada prakteknya ada¬
lah bergandengan. Tetapi tercapainya yang pertama akan memper¬
cepat berhasilnya yang kedua, sebagaimana dalam negeri juga.”
Maka berdasarkan pandangan itu, rencana kerja Panitia dapat
disimpulkan sebagai berikut :
a- menciptakan de facto kebebasan warga Indonesia di luar
negeri dari 'perwalian’ Belanda;
56
b- mendapatkan pengakuan de facto dan de jure Republik Indo¬
nesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat;
c- mendesak penarikan tentara Inggris - yang dibuntuti tenta¬
ra Belanda — yang telah mulai mendarat di Indonesia pada
bulan September 1945;
d- menuntut pembubaran N.I.C.A. (Netherlands Indies Civil
Administration) yang menjadi biang keladi ’kekacauan’ di
Indonesia, dan
e— mengusahakan ikut-serta wakil Indonesia pada tiap-tiap per¬
temuan internasional yang menyangkut Indonesia.
Koordinasi Antara Panitia-Panitia di Timur Tengah
Keijasama antara gerakan menentang Belanda di Timur Te¬
ngah (Kairo, Mekkah dan Baghdad) telah mulai semenjak perang
besar kedua dan bertambah erat sesudah Proklamasi. Tetapi masih
dirasakan perlunya koordinasi yang lebih terarah. Kebetulan Mu¬
sim Haji tahun itu jatuh pada bulan Nopember 1945. Kesempatan
itu kami pergunakan untuk pertemuan ketiga pusat perjoangan di
Timur Tengah itu. Panitia Kairo diwakili oleh Fouad Fakhruddin
dan Said Muhyidin, Baghdad oleh (Prof.) H. Syafi’i Abdulkarim
dan Mekkah oleh H.M. Jaafar Zaenuddin, Nuri Encik dan (alm)
Abdullatif Sijanten. Pertemuan yang merupakan konferensi kerja
itu terjadi pada 13 Nopember 1945 di Tanah Suci Mekkah. Kon -
ferensi memutuskan antara lain :
a— menerima Rencana Kerja Panitia Kairo di atas sebagai renca¬
na bersama, dan
b- menjadikan Panitia Kairo sebagai Panitia Pusat dan Panitia-
panitia Mekkah dan Baghdad sebagai cabang, mengingat
kedudukan Kairo sebagai pusat kegiatan Arab serta kemung¬
kinan-kemungkinan dan fasilitas-fasilitas yang ada pada
Panitia Kairo guna melaksanakan Rencana Kerja tersebut.
57
Anggota pimpinan Panitia cabang
berikut :
1— H.M. Jaafar Zaenuddin
2— Muhammad Taib Saman
3— Kgs Nuri Encik
4— Nurdin Hanafi Aceh
5— Nurhasan Palembang
6— Nawawi Khalid
7— A. Hamid Arabi
8— Abd. Latif Sijanten
9— Junaidi Sumbawa
10- Mustafa Kemal Batubara
11 - Amir Hakim Padang
Saudi Arabia adalah sebagai
Ketua
Wakil Ketua,
Sekretaris I,
Sekretaris II,
Komisaris,
Komisaris,
• Penasehat,
Penasehat,
Penasehat,
Penasehat dan
Penasehat.
Adapun susunan pimpinan Panitia cabang Irak, adalah .
1 - Imron Rosyadi (S.H.)
2- M. Rasyid Bayuni
3— Zaidan Abdul Samad
4- Muhammad Syafi’i Abdulkarim (Prof.)
5- Muhsin Ahmad (Malaya)
6— Uthman Aib
7— Hasyim Abdullah
Musim haji pertama ini sesudah Proklamasi, kami gunakan
sebaik-baiknya buat menghubungi para haji dari seluruh dunia
supaya mereka menjadi penghubung di negeri mereka masing-
masing dalam menyokong perjoangan Indonesia dan mendorong
pemerintah mereka supaya mengakui Republik Indonesia. Brosur-
brosur yang dibawa wakil-wakil Panitia Kairo dibagi-bagikan de¬
ngan meluas di kalangan jemaah haji itu yang berisi penerangan
Ketua,
Sekretaris,
Bendahara,
Pembantu,
Pembantu,
Pembantu dan
Pembantu.
58
59
Pimpinan Panitia cabang Irak :
Di tengah-tengah bersorban H. Syafii A. Karim, di belakangnya langsung
berdiri Imron Rosyadi (Ketua), di kanannya duduk, Rasyidi B ayuni Sekre¬
taris dan ( dikiri Ketua) Zaidan Abdulsamad, Bendahara.
tentang situasi yang sebenarnya di Indonesia dan bantahan bahwa
R.I. adalah ’made in Japan’ dan Sukarno—Hatta ’boneka-boneka
yang digerakkan militer Jepang. Pada penutupnya terdapat seruan
berikut:
”Apabila kaum penjajah telah bersatu-padu mempertahan¬
kan kejahatan (batil), dan keijasama dalam menindas bangsa-
bangsa Muslim dan merampas hak-hak mereka, apakah tidak
lebih patut kita Kaum Muslimin bahu-membahu guna mem¬
pertahankan hak-hak kita dan mempertahankan kemerdekaan
negara-negara kita. Maka adalah menjadi kewajiban saudara-
saudara Muslimin, di saat Indonesia Muslim menghadapi
situasi yang sesulit-sulitnya dalam sejarahnya, untuk meng
ambil langkah-langkah yang positif buat membantu negara
pejoang yang sedang berlumur darah itu, dan tindakan-tin¬
dakan yang menentukan untuk :
mendesak negara-negara Arab dan Islam supaya segera
mengakui R.I.,
menuntut semua negara di dunia supaya mengakui R.I.
dan memengertikan mereka bahwa campur tangan
mereka di Indonesia dengan maksud menyokong Belan¬
da, membangkitkan kemarahan Kaum Muslimin dan
menghilangkan kepercayaan terhadap piagam-piagam in¬
ternasional yang baru,
mengutuk segala macam bantuan yang diberikan kepa¬
da Belanda dalam agressinya yang tercela di Indonesia,
dan
d— membangkitkan semangat solidaritas sesama umat
Islam.
Langkah Pertama
Musim haji itu telah memungkinkan bagi para peserta kon -
ferensi segi-tiga itu untuk melangkah ke arah pengakuan ’de facto’
kebebasan warga Indonesia di luar negeri dari ’perwalian’ Belanda.
60
Karena di Tanah Suci itu buat pertama kali dalam sejarah hubung¬
an Indonesia — Saudi Arabia, Raja Ibnu Saud menerima audensi
para wakil masyarakat Indonesia di Mesir, Irak dan Saudi Arabia itu
langsung tanpa perantaraan Kedutaan Belanda di sana, sebagai
biasanya selama ini.
Keijasama Antar-Panitia Di seluruh Dunia
Dengan pengumuman kemerdekaan Indonesia, di seluruh
dunia telah terbentuk 25 Panitia (komite) yang terdiri dari maha¬
siswa, buruh kapal, dan ex-Digulis yang terpancar di seluruh dunia
itu. Panitia-panitia yang lahir spontan dan simultan itu bertugas
menyokong Proklamasi, mempertahankannya dan mendesak ne¬
gara-negara di dunia supaya mengakui R.I. Keijasama antar-Panitia
itu sedikit demi sedikit berjalan lancar, terutama dalam pertukar¬
an bahan-bahan dan info-info yang sangat diperlukan, terutama
sekali pada tahun-tahun 1945 dan 1946, sebelum didapat hubung¬
an langsung dengan Indonesia.
Kesulitan-kesulitan yang* dihadapi.
Kesulitan-kesulitan yang dihadapi Panitia-panitia diiuar ne¬
geri pada bulan-bulan pertama Proklamasi adalah tuduh-tuduhan
yang dilancarkan Sekutu — terutama Belanda - bahwa Sukarno-
Hatta adalah ”collaborator” dan R.I.'. adalah "made in Japan”
Bagi kami di Timur Tengah tidaklah demikian berat mengatasi¬
nya, karena selama perlawanan dibawah tanah nama-nama pe¬
mimpin-pemimpin itu telah dikenal melalui karya-karya mereka
sendiri sebagai pemimpin Indonesia. Buku-buku ”Dasar dan Tu¬
juan Pergerakan Kebangsaan Indonesia,” oleh Dr. Muhammad
Hatta dan "Mencapai Indonesia Merdeka” oleh Ir. Sukarno serta
Pembelaannya dihadapan pengadilan kolonial yang disiarkan,
"Majallah Indonesia” dan demikian pula "Masa Aksi” oleh Tan
Malaka, telah dikenal masyarakat Arab dari penerangan-penera¬
ngan yang kami berikan selama perang itUydengan mengemukakan,
nama-nama dan pandangan-pandangan nasional mereka itu.
Sementara itu dari semula propaganda kami di Timur Tengah
memang ditujukan pada pencetusan sentimen seagama yang ter¬
nyata sangat effisien dalam menarik sokongan mereka atas dasar
solidaritas Islam. Pada hari-hari pertama adalah keharusan bagi
kami setiap kali disebut nama ”Sukarno” untuk menjawab per¬
tanyaan : ”Apakah ia itu Muslim ?” Buat Bung Hatta sudah ada
tanda ”Muhammad.”Maka terkhatir dalam hati kami kenapa tidak
kami tambahkan saja ”Ahmad” pada pangkal ”Sukarno,” seba¬
gaimana kebiasaan orang Islam Indonesia yang menambahkan
'Muhammad’ atau ’Ahmad’ pada namanya yang pendek. Demi¬
kianlah pada suatu wawancara dengan seorang wartawan Mesir,
pertanyaan seperti di atas itu saya jawab dengaij seolah-olah,
tercengang : ’Kenapa tidak Muslim ? Bukankah nama lengkap -
nya ’Ahmad Sukarno’. Semenjak itu tidak ada pertanyaan seperti
itu lagi. 1)
Selain itu, seperti saya sebutkan di atas, rakyat Timur Te¬
ngah adalah anti-Inggris. Maka dengan menonjolkan kepalsu¬
an politik Inggris di Indonesia dan keganasan tenteranya me¬
nindas perlawanan gerilyawan kita, simpati mereka tertanam
dipihak kita. Kemudian dengan penunjukkan Sutan Syahrir men¬
jadi Perdana Menteri, tidak saja peijoangan di Timur Tengah men¬
jadi lebih berkurang beratnya, tetapi juga diseluruh dunia, Ter¬
utama di Australia dan Amerika Serikat, di mana wartawan-
wartawan mereka yang telah mengunjungi Indonesia langsung
sesudah Proklamasi telah banyak menulis tentang peijoangan
Bung Syahrir yang dibantu Mr. Amir Syarifuddin menentang
pendudukan Jepang. Dan keijasama antara Sukarno-Hatta dan
1), Ex. Pres. Sukarno mulanya menerima tambahan nama itu. Surat-surat Resmi
dari Timur Tengah termasuk surat-surat kepercayaan memakai nama tambahan
itu. Baru ketika Kepala Negara Uni-Soviet Voroshilov berkunjung ke Indonesia,
di Surabaya dalam satu Rapat Umum - mungkin untuk menyenangkan hati
Kepala Negara Atheist itu ia bertanya-tanya siapa yang menambah namanya de¬
ngan ”Ahmad” itu. Pada satu Rapat Staf Departemen Luar Negeri waktu itu saya
terangkan bahwa sayalah yang menambahnya, dengan maksud menarik sokongan
Umat Islam sedunia bagi perjoangan Indonesia sesudah Proklamasi;
Syahrir-Syarifuddin yang kami populerkan di Timur Tengah,
dengan roman "Audatul Firdausi” (Kembalinya Sorga) karya
sasterawan Arab-Indonesia Ali Ahmad Bakatir, banyak sekali
mempengaruhi pandangan Arab terhadap pemimpin-pemimpin,
kita itu. 2)
”Panitia Pembela Indonesia.”
Hubungan kami selama perang kedua dengan parpol-perpol,
ormas-ormas dan mass-media setempat lebih kelihatan hasilnya
sesudah Proklamasi. Karena apa yang kami sampaikan kepada me¬
reka tentang gerakan kebangsaan Indonesia, telah dikuatkan dan di¬
benarkan oleh Proklamasi itu.. Simpati mereka sedemikian rupa
sehingga atas prakarsa mereka sendiri berdiri satu badan yang
mereka namai "Lajnatud Difa’i ’-an Indonesia” (Panitia Komite
Pembela Indonesia).”
Pada 16 Oktober 1945, bertempat digedung pusat Perhim¬
punan Pemuda Islam (Jami’ah Syubban Muslimin), berlangsung
satu pertemuan bersejarah yang dipimpin oleh (alm) Jenderal
Saleh Harb Pasya, Ketua Umum perhimpunan tersebut dan ex-
Menteri Pertahanan Mesir yang dipenjarakan Inggris selama pe¬
rang dunia kedua bersama-sama Abdulrahman Azzam Pasya,
dengan tuduhan anti-Inggris. Pada pertemuan itu hadir Abdul¬
rahman Azzam Pasya, Sekjen Liga Arab Dr. Salahuddin Pasya,
Dr. Abdulwahab Azzam Pasya, Dekan pada UniveristasFouad I,
(alm) Dr. Mahmud Azmi, anggota Parlemen, Ahmad Hussein S.H.
Ketua Partai Mesir Muda, Prof. Dr. Taufik Syawi dari Ikhwanul
Muslimin, Abdulkadir Beg dari Perhimpunan Pemuda Islam, M.
Mahmud Jalai, anggaota Parlemen dari Partai Hizul Watani,
Muhammad Ali Taher, Ketua Panitia Palestina, (Presiden) Habib
2). Ketika berjumpa dengan Bung Syahrir (September 1947) di Kairo dalam perja¬
lanannya ke Dewan Keamanan P.B.B. di New York, beliau membenarkan kejadian
kerjasama itu. Ditambahkannya bahwa surat-surat keterangan yang diberikan
Bung Hatta kepada pejoang-pejoang di bawah tanah banyak menyelamatkan
nyawa mereka itu dari pembalasan Jepang.
63
Bourguiba dari Tunisia, (alm) Foudeil Wartalani, dari Al-Jazair,
Dr. M. Asad Salmanieh dari Lebanon, Mirza Miski Beg dari Iran,
Muhammad Tawaduk, Ketua Persatuan Mahasiswa Cina di Kairo,
dan beberapa anggaota corps diplomatik Arab dan Islam di Kairo
atas nama pribadi, antara lain yang diingat namanya Ezzil Din,
Duta Lebanon. Dalam pertemuan yang berupa Konferensi Arab-
Islam itulah terbentuk "Panitia Pembela Indonesia” itu diketuai
oleh Jenderal Saleh Harb Pasya, dan beranggaota hadirin.
Pada pembukaan pertemuan itu,Ismail Banda dan saya membe¬
ri penerangan, selain ’ke-Islaman’ Indonesia yang kami jadikan
pencetus sentimen mereka, sejarah Indonesia di zaman keemasan,
perlawanan bersenjata pahlawan-pahlawan Islam terhadap Portugis
dan Belanda, gerakan kemerdekaan nasional semenjak permulaan
abad ke-XX ini dan seterusnya Proklamasi dan situasi serta per¬
kembangannya yang disebabkan campur-tangan Inggris. Kemudi¬
an menyerukan supaya menyokong peijoangan bangsa Indonesia
dalam mempertahankan kemerdekaannya dan menuntut terutama
negara-negara Arab dan Islam supaya mengakui R.I. Kepada per¬
temuan itu kami sodorkan satu draft resolusi yang telah kami
sediakan. Resolusi yang diperbaiki Dr. M. Salahuddin Pasya,
sebagai ahli hukum internasional itu, berbunyi sebagai berikut :
1 — Menyambut dengan gembira pengumuman kemerdekaan
Indonesia dan menyokong Republik Indonesia,
2- Menyerukan kepada semua bangsa Arab dan Islam supa¬
ya menyokong R.I. dengan jalan dan cara yang tepat
dan menghasilkan,
3- Menuntut semua negara dan terutama negara-negara
Arab dan Islam supaya mengakui R.I.,
4- Mendesak Inggris supaya jangan menyokong Belanda
dan memperingatkannya akan kemarahan Alam Islami
atas sikapnya yang akan berakibat kehilangan keperca¬
yaan pada piagam-piagam internasional yang baru.
64
5— Berusaha supaya soal Indonesia dibicarakan di seluruh
Parlemen Arab dan Islam,
6— Menyampaikan resolusi ini kepada semua negara di
dunia dan Republik Indonesia serta menyiarkannya di
seluruh dunia,
7— Membentuk satu panitia tetap untuk mengikuti persoal¬
an Indonesia dan mengambil langkah-langkah yang perlu
buat menyokong mujahidin Indonesia.
Untuk pelaksanaan putusan (6) dari ReSolusi yang dibuat
dalam- tiga bahasa, Arab, Inggris dan Perancis itu,, Jen. Saleh Harb
Pasya sebagai ketua ”Panitia Pembela Indonesia” menyampaikan
kepada Pemerintah Mesir nota berikut :
”Yang Mulia Mahmud Fahmi Nokrasyi Pasya,
Perdana Menteri Mesir.
”Assalamualaikum Wr. Wb.
”Dengan hormat saya menyampaikan kepada Y.M. bahwa
pada malam Selasa 10 Zulhijjah 1364, bersamaan dengan 16 Okto¬
ber 1945, di Pusat Perhimpunan Pemuda Muslimin telah dilang¬
sungkan pertemuan khusus buat membicarakan apa yang perlu
dikerjakan terhadap soal kemerdekaan negara sahabat, Indonesia.
Para hadirin telah mengambil beberapa keputusan dan putusan
ke-enam adalah menyampaikan putusan-putusan itu kepada semua
pemerintah.”
”Maka untuk melaksanakan keputusan itu, dengan hormat
saya sampaikan kepada Y.M. keputusan tersebut. Seperti Y.M.
melihat sendiri, putusan-putusan itu adalah bermaksud menyokong
bangsa Indonesia yang berjoang buat kebebasan dan kemerde¬
kaannya. Tidak tersembunyi lagi bagi Y.M. bahwa bangsa-bangsa
Arab dan Islam serta pemerintah-pemerintahnya lebih berwajib
65
dari lain-lain bangsa dan negara untuk menghargai dan menyokong¬
nya, bekerja sama guna' mengatasi kesulitan-kesulitan yang diha¬
dapinya dan halangan-halangan yang menghambat kelancaran
perkembangannya. Karena bangsa-bangsa Arab dan Islam juga me¬
ngalami apa yang dialami bangsa Indonesia sekarang kerakusan
imperialisme dan kepahitan pendudukan — dan sama-sama menuju
ke alam bebas dan merdeka yang berbahagia, di samping hubung¬
an-hubungan kemanusiaan dan ukhuwah Islamiah yang memperta¬
likan mereka dengan Indonesia.”
”Maka oleh sebab itu saya tidak menaruh ragu-ragu lagi
bahwa Y.M. akan menyambut baik putusan-putusan itu dan segera
akan mengambil langkah resmi dan tindakan-tindakan di lapangan
internasional yang Y.M. anggap tepat buat menyokong Indonesia.”
”Yang Mulia terimalah hormat saya yang setinggi-tingginya.”
”Ketua Panitia Pembela Indonesia,
Kairo 20 Oktober 1945. (Muhammad Saleh Harb)
Sebagai sumbangan terhadap perjoangan Indonesia, Muham¬
mad Mahmud Jalai, yang ikut dalam pertemuan itu, telah men¬
cetak pidato-pidato yang kami ucapkan pada pertemuan berseja¬
rah itu. Pada kata pengantarnya beliau mengatakan :
”Pada hari-hari belakangan ini, surat-surat kabar penuh de
ngan berita gerakan kemerdekaan Indonesia dan perjoangan
bersenjata bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemer¬
dekaannya melawan Belanda dan Inggris. Sedikit sekali pen¬
duduk Lembah Sungai Nil yang mengetahui negeri ini dan
penderitaannya dari kerakusan penjajahan yang mengisap
bangsa ini dan kekayaannya yang raya itu. Lebih sedikit
lagi mereka yang mengetahui peijoangannya yang tak kun¬
jung padam . .. . ”
66
67
"Panitia Pembela Indonesia” yang teidiri dari pembesar-pembesar Mesir,
Arab dan Islam. Di tengah-tengah Sutan Syahrir, di kanannya Jenderal Saleh
Harb Pasya (Ketua), Hassan Al-Banna dan di kirinya Syekh A. Latif Diraz,
Dr. M. Salahuddin Pasya, Dr. A. Wahab Azzam Pasya, dan berdiri di belakang
Syahrir, Ahmad Hussein dan M. Salim serta beberapa pimpinan Panitia Pusat.
Mufti Besar Palestina M. Amin Husaini, (bersorban) dan Muhammad Ali Taher,
pemimpin Palestina (di kirinya) bersama-sama Pimpinan Panitia Pusat, setelah be¬
liau dapat lolos ke Kairo dari penangkapan Sekutu di Eropa dan mendapat perlin¬
dungan Raja Faruk.
69
Sesudah menyerahkan hadiah kepada Perdana Menteri Suria, Jamil Maidan
Bey (tengah-tengah barisan muka), bergambar di tangga Kedutaannya. Bersa¬
ma kami ikut bergambar wakil-wakil perjoangan bangsa-bangsa Arab yang
juga berpusat di Kairo. Di kiri PM Suria adalah M. Ali Taher dari Palestina
dan di baris kedua antara saya (berbaju putih) dan PM tersebut adalah Habib
Burguiba (Presiden Tunisia sekarang).
”Baru saja mendengar pidato-pidato yang diucapkan
tt. Muhammad Zein Hassan dan Ismail Banda, saya merasa
berkeyakinan bahwa mereka berdua membaca satu buku yang
semua lembarannya penuh dengan kebanggaan peijoangan
nasional. Yang satu membaca lembaran-lembaran pertamanya
dan yang kedua menamatkan lembaran-lembaran seterusnya.
”Sinar keyakinan harus memancar dari Lembah Sungai
Nil. Lembah ini harus yang pertama sekali memperhatikan
lembaran perjoangan dan menolong orang yang teraniaya.
Karena semenjak dahulu kala Lembah Nil mengerti akan
makna kemerdekaan, kebebasan dan pendudukan bangsa
asing yang sampai sekarang masih merantainya.
”Yang lebih mendorong perhatian dan lebih mewajib¬
kan sokongan dan bantuan adalah kenyataan bahwa Inggris
yang menduduki Lembah Sungai Nil semenjak tahun 1882,
mereka itulah juga yang menyokong Belanda menghadapi
bangsa Indonesia. Karena Belanda ini tidak mempunyai ke¬
kuatan darat dan udara ataupun laut yang akan dapat meng¬
hadapi pejoang-pejoang Indonesia itu.
”Maka kiranya adalah baik sebagai penghargaan pertama
dan pembuka pintu bantuan bagi bangsa Indonesia dalam
perjoangan mereka yang mulia itu, bahkan sebagai sambutan
pertama, jika kita menyebar-luaskan soal perjoangan mereka
itu dengan mencetak pidato-pidato tersebut.”
Maka dengan pembentukan "Panitia Pembela Indonesia”
itu, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tidak saja disambut
dengan gembira dan dipertahankan dengan penuh semangat
dan keyakinan di Timur Tengah oleh ribuan warga Indonesia
itu, tetapi pula oleh warga Arab dan Islam seperti tergambar
oleh pembentukan khusus itu,
71
CAMPUR TANGAN INGGRIS
1. Usaha Pembendungan Pertama
Pada akhir September 1945, tentara Inggris yang dipimpin
Let. Jen. Sir Philip Christison mendarat di ’ Batavia.’ Sebelum
berangkat, pada 26 September, kepada wartawan Reuter di
Singapura ia mengatakan : ”Tugas tentara Inggris di Indonesia
hanyalah melucuti senjata tentara Jepang dan menerima tawanan
dan tahanan rakyat Sekutu. Mereka tidak mempunyai tugas-
tugas politik di Indonesia.” Pertanyaan serupa juga diucapkan oleh
Menteri Pertahanan Inggris. Hafiz Afifi Pasya ex Duta Besar Mesir
di London dalam bukunya ’ Inggris di Negerinya’ mengatakan bah¬
wa orang-orang Inggris jujur di negerinya, tetapi curang di negeri
orang. Mengingat bahwa sejarah mereka di tanah jajahan mem¬
benarkan pendapat itu, Panitia Pusat memikirkan hendak mem¬
pergunakan pengaruh Republik Cina Nasionalis yang dipimpin
Jen. Ciang Kai Sek dan yang termasuk lima Negara Besar untuk
membendungnya. Pemikiran ini kami bicarakan dengan Ibrahim
Ma, seorang diplomat Cina Islam yang semenjak Proklamasi -
atas dasar solidaritas Islam — menunjukkan simpatinya terhadap
R.I. dan iapun mendorong. Maka melalui beliau pada 28 Septem¬
ber 1945, Panitia Pusat mengirimkan surat berikut kepada Menteri
j jia r Negerinya yang masih berkedudukan di Chungking.
”On behalf of thousands of the Indonesians in the
Middle East, the Indonesian Association for Independence
in Cairo present this letter to Your Excellency, hoping that
it will be welcomed and put into consideration.”
”On August 17, 1945, Sukamo and Hatta, two promi-
nent leadeis of the Indonesian National Movement, proclai-
med, in an addres to all the Governments in the world the
foundation of the Republicof Indonesia, thereby asking for
their share in the construction of a world of peace and justi-
ce, based on mutual respect.”
”The Republic of Indonesia is neither a gift from Japan
nor from any other foreign countries. It is the result of the
bitter struggle of the Indonesian National Movement, started
40 years ago by 5 Budi Utomo Party and contiuned up
unabatedly to the present movement.”
”It is the reward of all material and spiritual aid given
to the Allied by Indonesia before its occuption by Japan.
It is the reward of the great sacrifices in blood and material
suffered by the Indonesian National Movement before and
during the second war. It is the reward of sucrifices rendered
by thousands of Indonesian seamen, without whom the
Allied vessels can be kept going only with the most dif-
ficulty, if not with impossibility.”
”The Republic of Indonesia is the culmination of
the strenous efforts of every Indonesian, whether in occupied
Indonesia itself or abroad, for, whatever his political opi-
nion might be, deep in his heart he cherishes only one aim,
namely the complete independence of Indonesia.”
”Now the Republic of Indonesia has been proclaimed
and has thus become a faCt. This is the form of political
status, which the Indonesians themselves have chosen for
their life; it is the only form of government they can accept.
There can be no question of a puppet government ”made in
Japan” as this country haS been defeated and many Japanese
soldiers in Indonesia, who died to prevent the movement,
were killed by Indonesians.”
73
"Considering the fact that the United Nations have
declared to be fighting for freedom and in view of the re-
cognition by the Alantic Charter of the right of self-deter-
mination for each nation, we, the members of the Indonesian
Association for Independence, are fully confident that the
Chinese Government and the Chinese people — who fight
for freedom and for the Asian countries and who had been
the first of the Big four to recognize the independence of
Lebanon and either countries during the war :
a— will not hesitable to welcome and recognize the Re-
public of Indonesia, and
b— to make the necessary arrangements to prevent the
landing of the Allied forces in Indonesia in order to
avoid blood shed.
As we have great faith in the wise and able Government
of the Great China with her able and great leader Genera-
lissimo Chiang Kai Shek in his wise and far-sighted jug-
ment.”
Surat kami yang menerangkan kedudukan yang se¬
benarnya dari R.I. yang bukan ’made lapan’ sebagai dituduhkan
Sekutu dan menuntut supaya Republik Cina mengakuinya serta
berusaha menghalangi pendaratan tentara Sekutu itu di Indo¬
nesia, mendapat perhatian dari Pemerintah Cina di Chungking
itu. Jawabannya melalui ”Radio Chungking” yang disampaikan
Ibrahim Ma, Sekretaris Kedutaannya di Kairo menyatakan :
”Rakyat Cina bersimpati dan mengagumi gerakan
kemerdekaan di Indonesia. Tetapi keadaan sekarang belum
memungkinkan Pemerintah Cina untuk menyatakan posisi¬
nya secara resmi. Sementara itu Pemerintah Republik Cina
meminta kepada Pemerintah R.I. agar melindungi warga
negara Cina yang berada di wilayah Indonesia beserta harta-
benda mereka.”
Jawaban ini kami siarkan dengan judul ”Apakah Cina me-
74
ngakui Republik Indonesia ?,” dengan komentar ”Apakah dapat
dimengerti dari kalimat terakhir jawaban itu bahwa Republik
Cina telah mengakui de facto R.I. ; karena dengan jawaban demi¬
kian ia telah mengakui bahwa yang berkuasa melindungi warga
negara Cina itu dan kepentingan-kepentingan mereka adalah
R.I.” Meskipun jawaban itu sebenarnya mengecewakan, tetapi
komentar itu adalah untuk konsumsi di Timur Tengah, sebagai
penangkis propaganda Belanda dan Sekutu-sekutunya dan untuk
menarik simpati penduduknya. Adapun reaksi Ummat Islam
Cina adalah memuaskan. Karena disampaikan juga bahwa mereka
telah mengawat ke Indonesia mengucapkan selamat atas Prok¬
lamasi, menyatakan menyokong R.I. dan mendesak Pemerintah
Cina supaya mengakuinya.
2. Inggris Pelindung Kolonialisme Belanda
Dalam menghadapi perkembangan baru di Indonesia de¬
ngan campur-tangan Inggris menyokong Belanda, taktik Pani¬
tia tidak sejalan dengan Pemerintah Indonesia yang menekan¬
kan tantangannya kepada Belanda, sedang Panitia lebih menekan¬
kan kepada kecurangan Inggris yang telah banyak memberikan
janji-janji yang muluk-muluk selama perang dunia. Karena Pe¬
merintah R.I. bertolak dari kenyataan bahwa PBB di San Fran¬
cisco ’mengakui formeel kekuasaan de jure Belanda atas Indo¬
nesia’ (keterangan pemerintah tanggal 30/6/46 dengan judul:
Sekitar Usul-usul Pemerintah Kita, sedang Panitia beranggapan
bahwa Belanda tanpa Inggris tidak akan dapat berbuat apa-apa.
Sebagai contoh, ’Seruan kepada Alam Islami’ yang disiar¬
kan Radio Bandung jam 2.30 tanggal 13 Oktober 1945, yaitu
sesudah tentara Inggris mendarat di pulau Jawa, tidak menying¬
gung sama sekali nama ’lnggris’ itu, meskipun kedua cara itu ber¬
tujuan satu, yaitu memisahkan Inggris dari Belanda. Sedang
Panitia, dalam bukunya "Indonesia As-Sairah” menggambarkan
pandangannya dengan judul ” Usaha Inggris hendak mengemba¬
likan Kolonialisme Belanda,” a.l. sebagai berikut (hal. 173) :
75
”Telah berlalu satu setengah bulan semenjak Indonesia
mengumumkan kemerdekaannya. Selama itu rakyat Indone¬
sia merasa bahagia dalam kehidupan baru yang aman dan
tenteram. Tetapi keamanan dan ketenteraman berobah men¬
jadi kekacauan dengan pendaratan tentara Inggris di pulau
Jawa pada akhir September dan penyimpangannya dari
tugas-tugas kedatangannya seperti dinyatakan oleh Koman¬
dannya dan oleh yang bertanggung jawab di London ...
”Untuk menghindarkan kekacauan lebih jauh, pada
25 Oktober diadakan pertemuan antara wakil-wakil tentara
Indonesia dan tentara Inggris dan dicapai persetujuan bahwa
pelucutan senjata hanya berlaku bagi tentara Jepang dan
seorang Belandapun tidak dibolehkan mendarat di bumi
Indonesia. Tetapi belum kering lagi tinta penandatanganan
persetujuan tersebut, Inggris memberi ultimatum akan me¬
nggempur Surabaya — kota kedua di Indonesia — dari darat,
laut dan udara, jika rakyat Indonesia tidak menyerahkan
senjata mereka kepada Inggris dan membiarkan tentara
Belanda mendarat dengan bebas. Rakyat Indonesia tentu
tidak dapat menerima ancaman yang menghina itu.
Dengan demikian Surabaya menjadi ’Stalingrad Indonesia,’
yang telah memperlihatkan keberanian bangsa Indonesia yang
telah memandang enteng mati dalam mempertahankan
tanah air.”
"Demikianlah Inggris membukakan topengnya.Perdana
menterinya Mr. Atlee menyatakan di Majlis Rendah (House
of Commons) bahwa tugas tentara Inggris di Indonesia adalah
mengembalikan negeri itu ke bawah kekuasaan kolonial
Belanda.”
"Maka teijadilah tragedi kemanusiaan besar yang tidak
mengindahkan Atlantic Charter, Pernyataan Teheran, San—
Francisco dan lain-lainnya. Inggris tidak saja mempergunakan
tentaranya untuk menindas gerakan nasional demokrasi
76 '
di Indonesia, bahkan mempergunakan pula tentara Jepang
yang selama ini disebut ’musuh demokrasi’.”
3. Seruan Langsung Kepada Rakyat Inggris
Pada 8 Oktober 1945, Panitia Pusat mengirimkan seruan
langsung kepada rakyat Inggris. Setelah memuji keberanian mereka
yang telah berkorban keringat, darah dan air mata menghadapi
kekejaman Nazi Jerman dan Fascis Italia yang bermaksud meng¬
hancurkan demokrasi Barat, kami ingatkan Piagam-piagam yang
dilahirkan peijoangan yang berani itu. Kemudian kami ingatkan
pula bahwa keterlibatan Inggris dalam mempertahankan keraku¬
san kolonialisme Belanda akan melambatkan kembali ketenangan
dan kebahagiaan kepada rakyat Inggris sendiri. Dan setelah mene¬
gaskan bahwa Republik Indonesia adalah hasil perjoangan dan
pengorbanan Rakyat Indonesia sendiri, kami menyerukan su¬
paya Pemerintah Inggris dan negara-negara PBB lainnya menga¬
kui R.I. Seruan itu berbunyi antara lain:
”In this proclamation which was adressed to the whole
world, the Indonesians appeal to all democratic countries
to recognize and support this new Republic and expect
with full confidence that british nation and all other demo¬
cratic peoples will render their assistance to the Indonesians
for preservation of the independence of this young Republic
which has declared her wellingness and preparedness to
co-operate wiht the United Nations in the construction of
the world of peace and justice based on mutual respect...”
”No doubt, a retum of any Dutch rule in Indonesia
will only mean a handicap for the full development of its
people and hence will become a serious obtacle for establish-
ment of the new world. The Indonesians are full confident
that the British people will realise this menace and trust
that they will not fail to support them in preventing the
retum of the Dutch in Indonesia.”
77
”The galland Chinese people and the courageous Austra-
lians have already shown their sympathy and given their
support to the Indonesian National Movement, as have also
done the whole Muslem World headed by the hospital Egyp-
tian people. This completely refused the Dutch allegations as
though the Republic of Indonesia is a ’puppet government
made in Japan’...”
”You the British people have the decision in your
hands. If you could move your govenment to recognize the
Republic of Indonesia, we, the Indonesians are sure that
peace will be preserved in the Far East, and there will be no
need to send British and other Allied Troops to Indonesia
for the disarmement and capilutation of the Japanese forces;
for the Indonesian Republican Government has declared her
preparation to deal with the Japanese troops in the country
and hand them over to the Allied Commond ...”
”For the aboved-mentioned reason, the Indonesians
urge His Britanic Majesty’s Government and the other United
Nations for an immediate recognition of their independence.
When this is realised, another glory will be added to the
history of the great British people.”
Pada 15 Oktober 1945 Panitia Pusat mengirimkan pula
kawat protes berikut kepada Perdana Menteri Inggris, Mr. Atlee .
”On behalf of 10.000 Indonesians in the Middle East,
we vehemently protest against interverence of Britsh troops
supporting the Dutch in supressing Indonesian nationalists.
This is contradicting assurance British War Minister not to
fight Indonesians, Urge immediate ending interference.”
Menyokong kawat Presiden R.I. kepada Presiden Amerika
Truman pada 24 Oktober ”protesting against the use of American
weapons against the Indonesians” dan ”appeal to the Presiden
of the U.S.A. to act as mediator in this conflict,” serta menyata-
78
kan kepercayaan bahwa ”the Americans who have galiantly
fought and won this war for the defence of the noble human
rights freedom of every people, will see the justice of the struggle
of the Indonesian national movement for the independence,”
Panitia Pusat mengirimkan pula pada 25 Oktober 1945 kepada
Pemimpin Opposisi di Amerika Mr. Dewy kawat berikut :
”Mr. Dewy Republican Leader New York.
”Anglo—Dutch imperialism use U.S. A. weapons in sup-
pressing the Indonesian Republic. Mr. Berns Statement
24 October was not enough, Your strong support is nece-
ssary.”
4. Hubungan Dengan ’Independent Labour Party’
Dalam menghadapi perkembangan soal Indonesia, Partai
Buruh Inggris yang berkuasa terbagi dua. Satu dipimpin Mr. Cle-
ment Atlee Perdana Menteri, yang ingin melanjutkan politik pen¬
jajahan dan yang lain dipimpin Mr. Fenner Brockway, yang
progressif dan ingin tercipta hak suatu bangsa menentukan nasib¬
nya dan menantang campur tangan Inggris di Indonesia. Golongan
terakhir ini mendapat restu dari ketua Partai Buruh yang lama
Prof. Harold Laski, dan akhirnya memisahkan diri dengan nama
Partai Buruh Merdeka (Independant Labour Party). Kami merapa¬
ti partai baru dan hubungan kami demikian rapatnya sehingga da¬
lam satu surat Mr. Bockway mengusulkan supaya kami mempelo-
pori pendirian satu pusat anti-imperalisme di Timur Tengah.
Mr. Brockway dan kawan-kawan yang telah dituduh komunis di
negerinya, dengan suratnya itu, yang melalui sensor Mesir, telah
menyebabkan kami dituduh atau dicurigai berkecenderungan
komunis. Kantor Panitia Pusat sampai digeledah duakali. Untung¬
lah satu-satunya meja yang tidak diperiksa adalah tempat menyim¬
pan surat itu. Memang suatu lindungan Tuhan, karena sekiranya
meja itu diperiksa dan surat itu terdapat sebagai bukti, mungkin
sekali tidak saja kegiatan kami di Kairo buat membela R.I. ter-
kandas, mungkin juga seluruh Panitia di Timur Tengah. Karena
79
seluruh daerah itu masih dikuasai kekuasaan militer Sekutu,
yang sesudah Jerman menyerah di Eropa dan usaha Uni-Soviet
hendak menguasainya, Kekuasaan Sekutu mulai mengambil
tindakan keras terhadap gerakan komunis di Timur Tengah.
Hubungan baik dengan I.L.P. itu telah kami pergunakan
sebaik-baiknya guna berhubungan langsung dengan rakyat Inggris
dan Pemerintahnya. Halaman pers dan gedung parlemen Inggris
adalah lapangan terbaik — melalui I.L.P. — untuk menyampaikan
tuntutan-tuntutan dan protes terhadap tindakan tentara Inggris
yang menyimpang dari tugasnya semula, sebagai diumumkan oleh
pihak-pihak resminya sebelum mendarat di Indonesia. Menjawab
memorandum Panitia Pusat mengenai pertentangan antara campur-
tangan Inggris di Indonesia dengan dasar-dasar Partai Buruh serta
dasar-dasar yang menyebabkan Inggris memasuki perang dunia ke¬
dua, I.L.P. menjawab bahwa ia menentang politik campur tangan
itu dan menganggapnya suatu sikap yang tidak saja menimbulkan
amarah, bahkan memalukan rakyat Inggris. Ditambahkannya
bahwa di London telah berdiri satu ’center’ yang berjoang menen¬
tang imperialisme, dan dengan sendirinya bekerja buat Indonesia.
Pada 17 Oktober 1945, Mr. Atlee, Perdana Menteri Inggris
menyatakan di — Majlis Rendah (House Of Commons) bahwa
Pemerintahnya mempunyai kewajiban-kewajiban (obligations)
terhadap Belanda, sebagai jawaban terhadap kecaman-kecaman
yang dilancarkan sayap kiri yang dipimpin Mr. Brockway. Ter¬
hadap pernyataan itu Panitia Pusat mengeluarkan satu pernyata¬
an yang disiarkan pers setempat dan diringkaskan oleh kantor
berita Inggris ’Reuter’ sebagai berikut :
”Mr. Atlee’s statement in the House of Commons on 17th
October 1945 conceming the British policy to be adopted with
regard to Indonesia, has coused great surprise with the Indonesians
in Cairo.”
”We quite understand the sincere wish of the British to fulfill
their obligations towards their Dutch Allies”declared their spo-
man, ”but do not expect the freedom loving British People will
sucrifice 70 million Indonesians with the mere purpose to satisfy
the Dutch who are only 8 million in number. For such an act can
never be attribute to a democratic people as the British, but can
only imputed to a fascist State.”
”With regard to the difficulties in connestion with the
disarmment of the Japanese forces of Allied P. O.W. (prisoners of
war) and intemees, the spokeman said : ”The Indonesian Re-
public Government has declared its preparedness to disarm the
Japanese soldiers and hand them over to the Allied Commond
as well as to take care for the welfare of Allied P. O. W. and civilian
intemees.” He added : ”Recognize the independence of the In¬
donesians. Everybody who respect their independence is their
friend and will be treated accordingly; but everybody who tries
to trample it is their enemy and will be fought.”
” I cannot agree with Mr. Atlee’s statement according to
which the Indonesian Leaders have owed their present authority
to the Japanese,” the spokeman continued, ”1 must once again
stress that Republic of Indonesia is only the result and reward
of the bitter and prolonged struggle of the Indonesian indepen¬
dence movement, started about 40 years ago as the inevitable
consequence of nearly 350 yers’ Dutch humiliation and of three
years’ Japanese occupation.”
With regard to the Dutch promise of self-govemment to
the Indonesians,” the spokeman commented : ”What the Dutch
offering now to the Indonesians is nothing new. During the
first world war the Dutch promised them a full parliament. How-
ever, when the danger of being involved in the war had finally
vanished, this promise was forgotten. The Indonesians got Only
a ’People Council’ which in fact was no more than a advisory
body with very little legislative power, ifany. Since 1922 Indone¬
sia has - according to Article I of the Dutch Constitution which
reads : ”The Kingdom of the Netherlands embraces the ’ terri-
tory of Holland, the Netherlands Indies, Suriname and Curacao ’
81
%
ceased to be a colony any longer and has since become part of
the Kingdom. But this did not bring any change in the Dutch
policy towards Indonesia which up to now maintains its conser-
vative and colonial character. It is for this reason that the Indone-
sians now refuse to place their faith in any foreign offer except the
complete independence of Indonesia, which as a nation of over
70 millions believe them selves to be entitlled to.”
Bertepatan dengan pendaratan Inggris di Indonesia, Menteri
Luar Negeri Saudi Arabia Pangeran Feisal bin Saud (almarhum Ra¬
ja Feisal) berkunjung ke London. Dengan surat tanggal 31 Okto¬
ber 1945, Panitia Pusat meminta bantuannya supaya pembicaraan-
pembicaraannya dengan penguasa-penguasa Inggris memberi
pengertian ketidak-benaran campurtangan Inggris menyokong
penjajahan Belanda dan benarnya tindakan-tindakan nasional
bangsa Indonesia. Dalam surat itu antara lain dikatakan :
”Kami tidak ragu lagi bahwa Y.M. menentang tindakan Be¬
landa yang keji itu . . . . dan lebih mengutuk lagi sikap Inggris
yang telah segera datang membantu keserakahan dan kezaliman
itu karena Inggris selama perang kedua itu berteriak ke sana-sini
akan keharusan semua bangsa diberi hak merdeka dan bebas,
serta keharusan merdeka dibebaskan dari kezaliman dan perbuda¬
kan.Bangsa Indonesia terpaksa mempertahankan hak dan
wujudnya dengan segala kekuatan imannya dengan hak dan
wujudnya itu.Ribuan syuhada telah gugur dalam memper¬
tahankan negara Islam itu.”
”Maka atas nama 70 juta Ummat Islam yang beriman kuat
dengan Allah dan berpegang teguh dengan hak-haknya, kami
berharap supaya:
a — Saudi Arabia mengakui Republik Indonesia dan
b - menengahi konflik di Indonesia itu, dengan Inggris menghen¬
tikan sokongannya terhadap Belanda, serta menghentikan
campur-tangannya dalam soal-soal Indonesia yang telah
mempergunakan haknya yang sah guna menentukan nasib¬
nya sendiri. ”
82
Dalam rangka keijasama dengan Panitia di India untuk mem¬
bendung campur-tangan Inggris itu dan mendesak rakyat India
supaya memaksa Inggris menarik tentara India dari Indonesia,
Panitia Pusat mengirim memorandum kepada ’Muslim League’ dan
’Indian Congres.’ Muslim League menjawab bahwa kaum Musli¬
min telah mengadakan rapat-rapat umum dan mempelajari cara-
cara yang akan berhasil mendesak Inggris supaya tidak memper¬
gunakan serdadu-serdadu India memerangi Indonesia atau meng¬
hasut serdadu-serdadu itu supava memihak kepada saudara-saudara
mereka kaum Muslimin Indonesia. Partai Congress memberitahu¬
kan bahwa ia telah mengirim satu perutusan ke Indonesia guna
menyelidiki penyalah-gunaan serdadu-serdadu India itu. Dalam
kawat kami lagi kepada Partai Congress kami mengharapkan
kunjungan perutusan itu ke Indonesia akan menambah kuat hu¬
bungan India-Indonesia dan akan menghasilkan penghentian peng¬
gunaan serdadu serdadu India itu oleh Inggris.
Terhadap ancaman Serikat Buruh Pelayaran India di Bom-
bay, yang memprotes Belanda karena menekan klasi-klasi
kapal warga India yang menunjukkan solidaritasnya dengan buruh-
buruh Australia yang memboikot kapal-kapal Belanda di sana,
dan mengancam akan memboikot pula sekiranya Belanda tetap
menekan mereka itu, kami kawatkan pada 21 Nopember 1945
melalui harian ’Bombay Chronicle’ sebagai berikut :
”Please publish the following :
’Tndonesian Association for Independence in the Middle
East expresses sincerest gratitude to the Bombay Labours stri-
king in sympathy with the Indonesian nationalists fighting for
independence and hopes continious Indian support.”
Bagaimanapun kesempatan, kami pergunakan untuk mengi¬
ngatkan perjoangan bangsa Indonesia. Bertepatan dengan ulang
tahun ke XXVII revolusi Oktober, Panitia mengirimkan pada 7
Oktober ’45 kepada Marshal Stalin kawat berikut :
83
”Atas nama 10.000 warga Indonesia di Timur Tengah,
kami mengucapkan selamat bertepatan dengan perayaan ulang
tahun ke XXVII Revolusi Oktober. Kami mengambil kesempatan
yang berbahagia ini untuk menyatakan terima kasih kami yang
sungguh-sungguh atas simpati dan sokongan rakyat Russia ter¬
hadap Republik Indonesia. Kami berharap semoga hubungan baik
antara kedua rakyat Indonesia dan Russia akan menjadi kekal.”
Demikian pula kepada Presiden Ismet Inunu, bertepatan
dengan ulang tahun ke XXVI Republik Turki, kami kawatkan
sebagai berikut :
”Atas nama 70 juta rakyat Indonesia yang sedang beijoang
mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, kami me¬
nyampaikan kepada Y. M. ucapan selamat yang sungguh-sungguh
lahir dari lubuk hati yang ikhlas, bertepatan dengan perayaan
ke XXVI berdirinya Republik Turki.”
Surabaya "STALINGRAD INDONESIA.
Berita terakhir dari Indonesia sebelum Jen. Manssergh melak¬
sanakan ultimatumnya adalah :
”Reports from London and New Delhi this moming (10/11/
’45) have said that after the acknowlegement of General Mans-
ergh’s ultimatum to the Indonesians, Dr. Sukamo has made an
appeal to General Christison to cancel the ultimatum on the
ground that the perpose of the arrival of the British troops in Indo¬
nesia is only to disarm the Japanese and not the Indonesians.
Its is further reported that Sukarnb has sent telegram to President
Truman and Mr. Atlee, protesting against the ultimatum, conside-
ring this an interference favouring the Dutch. Although some
houis have elapsed now since the exipation the ultimatum, no
outbreak of violance has been reported.”
Tetapi harian-harian yang terbit sore itu telah penuh dengan
berita serangan-serangan besar-besaran angkatan darat, laut dan
udara Inggris terhadap Surabaya. Dalam kecaman-kecaman kami
terhadap kebiadaban ’Nazi’ Sekutu yang serupa dengan kekejaman
Nazi Jerman terhadap stalingrad, serta keberanian pejoang-
pejoang Indonesia, kami menamakan Surabaya ’Stalingrad Indo¬
nesia.” Seminggu kemudian setelah melihat gambar-gambar yang
disiarkan majallah Inggris bergambar seperti ’The Sphere,’ ’The
Illustrated London News’ dan sebagainya ternyata nama itu
tepat pada tempatnya.
Untuk membenarkan (to jastify) tindakan-tindakan mereka
yang kejam itu, pers negara-negara Sekutu menyebarkan berita-
berita bohong dengan maksud menimpakan tanggung-jawab
kepundak pemimpin-pemimpin dan bangsa Indonesia. Misalnya,
majallah ’The Sphere’(29/12/45) mengatakan : ”The Indonesians
extremists accepting no orders from their own ’Provisional Go¬
vernment.’ Large British reinforcements are to give General
Christison all the necessary power he needs to restore order in the
Island.” Dikatakannya pula : ”There are thousands of Europeans
throughout Java gathered in ex-Janese concentration camps :
many of them are in gravedanger from the Indonesian insurgents,
who have pait Uttle heed to the orders of the so-called ’President ,’
Dr. Sukamo.” Mereka juga menggambarkan seolah-olah rakaat
Indonesialah yang memulai penyerangan, bukan mereka seperti
teijadi di Surabaya itu. Di halaman lain”The Sphere”mengatakan
”At first, they (maksudnya kapal-kapal perang Caisar, Cavalier
dan Carron) took part in the evacuation of intemees from -the
town; but later - when the Indonesians broke into open revolt,
they bombared the coast in support of the army.” Dalam mengo-
mentar satu foto yang diambilnya di Yogyakarta, The Shpere juga
mengatakan : ” It is interesting as showing the types of men now
engaged on lawless enterprises against Britain.” Demikian juga
majallah ”The illustrated London News” (12/1/46) ”Since the
battle for Surabaya, the world has been shocked by unprovoked
attacks by Indonesians on the occupants of intemment camps.”
Majallah ”The Time” (25/1/46) dengan nada salib menakut-
nakuti dunia Barat dengan kebebasan Ummat Islam dan kebangki¬
tan nasionalisme Asia dengan mengatakan: ”lt might become the
chieft city of the first great Moslem colony to free itself from
Ruropean rule, or it might come to symbolise the first wave of
85
asiatic nationalism to break into chaos.” Mengenai Sukamo,
dengan lisan seorang Belanda dikatakannya :”This fellow Sukamo
is just a crook and a collaborator who is certainly going to tum
comminist within next five years.” Tetapi diakuinya pula bahwa
pengangkatan Bung Syahrir sebagai Perdana Menteri sebagai
’smartes’ move oleh Sukamo buat mematahkan tuduhan-tuduhan
seperti di atas, dengan mengatakan : "Because Van Mook at first
refused to treat with collaborators, Sukamo induced a rival
native leader, Shahrir, to become his Prime Minister - a move
that tumed out to be the smartest Sukamo ever made. Smoother
and brighter than Sukamo, and with a clean anti Japanese record,
Shahrir had everything except the adulation of the Indonesian
masses. ”Sebagai sebab langsung bagi pemboman Surabaya,
majallah London ”News Review (15/11/45) dengan menonjol¬
kan gambar ’Ahmad Sukamo of Indonesia’ pada kulit depannya
dan tulisan ”After the white man and the yellow man, the
brown?”mengatakan:’Meanwhile, fed up with the activities of law-
less gangs at Surabaya naval base, British Major-General E.C. Man-
sergh sent an ultimatum to Indonesian Governor Soerio that Bri¬
tish troops woult. act. RAF planes dropped leaflets on the city
(pop. 170.000) ordering Indonesian civilians to surrender their
arms. When they refused, Mansergh stmck hard by land, sea and
air.’
Untuk menghadapi arus propaganda bohong Sekutu itu, de¬
ngan segera pada hari kedua, 11/11/45, Panitia Pusat mengumum¬
kan Pernyataan yang antara lain berbunyi sebagai berikut :
"Semenjak mulai pertempuran-pertempuran berdarah di
Indonesia antara kekuatan-kekuatan rakyat pembela kemerdekaan
dan algojo-algojo kemerdekaan dari kekuatan-kekuatan Sekutu,
trompet penjajahan terus-menerus mencoba menggambarkan ge¬
rakan kemerdekaan Indonesia dengan berbagai rupa, yang sama
sekali bertentangan dengan kenyataan. Demikian setelah me¬
reka gagal menggambarkan seolah gerakan itu ’made in Japan,’
berkat kekompakan bangsa Indonesia yang menakjubkan melawan
kekuatan-kekuatan penjajahan. Propaganda penjajahan mencoba
86
lagi meragu-ragukan kepemimpinan Pemimpin Besar Sukamo,
dengan membohong bahwa dalam gerakan kemerdekaan Indonesia
terdapat golongan moderat dan golongan extrimis, dan bahwa
golongan extrimis ini tidak mempedulikan perintah-perintah
Sukamo, sehingga tali pimpinan telah lepas dari tangannya.”
Setelah membantah seluruh tuduhan-tuduhan Sekutu dan trom¬
pet-trompetnya itu, Pernyataan itu mengatakan :
"Sesungguhnya dalam tuduhan dusta moderat dan extrimis-
itu terselat maksud busuk, yaitu usaha menimpakan tanggung-
jawab kekacauan di Indonesia sekarang keatas pundak bangsa
Indonesia, dan membebaskan kaum penjajah yang melalukan
agresi dari dosa. Tetapi kenyataan-kenyataan yang tidak dapat
ditutup-tutup telah dapat mengungkapkan maksud busuk itu,
karena seluruh dunia telah menyaksikan kekompakan bangsa
Indonesia dalam sikap dan tujuan. Maka tepat sekali pernyataan
Wakil Presiden Dr. Hatta yang meletakkan tanggung-jawab per¬
tumpahan darah di Indonesia di atas kepala Inggris yang tidak
menetapi persetujuan-persetujuan yang telah dibuatnya dengan
pemimpin-pemimpin Indonesia.”
Setelah menguraikan persetujuan-persetujuan yang telah
dibuat itu, Pernyataan itu mengatakan lagi :
”Akan tetapi baru saja mereka menginjakkan kaki di Suraba¬
ya, mereka telah melanggar pokok persetujuan tersebut dan mulai
mencoba-coba hendak melucuti senjata kesatuan-kesatuan In¬
donesia. Maka terjadilah pertempuran-pertempuran yang menga¬
kibatkan terbunuhnya Brigadir Malaby.”
Sesudah menerangkan lagi kebohongan-kebohongan tentang
golongan-golongan moderat dan extrimis dan pembangkangan
terhadap kepemimpinan Sukamo, serta menyatakan bahwa semua
tindakan-tindakan pembalasan pihak Indonesia disebabkan kecu¬
rangan-kecurangan Inggris, dikatakan :
”Jika rakyat Indonesia menolak ultimatum yang mereka
anggap suatu penghinaan, bukanlah karena mereka itu’e-xtrimis;
87
yang membangkang terhadap pemerintah Presiden Sukamo,
tetapi karena mereka adalah nasionalis yang sungguh jujur kenasi-
onalannya dan tidak mau mengabaikan hak-hak tanah-air dan
kemerdekaan negaranya”.
”Dari semua itu jelaslah bahwa rakyat Indonesia semuanya
tunduk dan patuh kepada kepemimpinan Presiden Sukarno, dan
jelaslah pula bahwa semua'pertumpahan darah yang menjadi
korbannya para wanita dan anak-anak Indonesia yang tidak ber¬
dosa dan tidak bersenjata itu, seluruh tanggung-jawabnya dipikul
oleh kaum penjajah yang tidak memenuhi janji-janji dan perse-
tujuan-persetujuan serta bertekad membantu agresi Belanda
yang terkutuk itu terhadap bangsa dan kemerdekaJan Indonesia.”
Sebelum menyerang Surabaya, Sekutu membohong lagi
bahwa Indonesia telah mengumumkan perang terhadap Sekutu.
Mujurlah Pemerintah R.I. segera membantah berita yang dimak¬
sudkan untuk ’mensyahkan’ agresi mereka.
Reaksi-Reaksi
Pernyataan Panitia mendapat sambutan baik dari rakyat
Timur Tengah yang menunjukkan simpatinya dengan pernyataan-
pernyataan dan demonstrasi-demonstrasi. Demonstrasi terbesar
adalah yang diadakan mahasiswa Fouad I University, di mana
diadakan pidato-pidato sokongan dan sembahyang ghaib bagi
syuhada Indonesia. Pada akhirnya disetujui satu resolusi yang di¬
sampaikan kepada seluruh negara di dunia melalui perwakilan-
perwakilan mereka di Kairo. Resolusi itu berbunyi :
1 - Menuntut pemerintah-pemerintah di seluruh dunia, terutama
Mesir dan negara-negara Arab lainnya supaya mengakui R.I.
2 — Menentang dan mengutuk pendaratan tentara Inggris dan
Belanda di Indonesia, suatu tindakan yang bertentangan
dengan Atlantic Charter yang menjamin kemerdekaan bang¬
sa-bangsa.
3 — Menuntut supaya tentara Inggris dan Belanda yang mendarat
di Indonesia ditarik dengan segera.
88
4 — Menuntut supaya ’Nica’ yang menjadi sumber kekacauan
di Indonesia dibubarkan dengan segera.
5 - Menyampaikan resolusi ini kepada negara-negara Arab dan
negara-negara Perserikatan Bangsa-bangsa.
Bertepatan dengan perkembangan genting di Indonesia itu,
Partai Al—Wafd, partai politik terbesar di Mesir mengadakan
kongres. Dalam pidato pembukaannya Mustafa Nahas Pasya,
pemimpin Mesir terkemuka memberi tempat yang luas kepada
soal Indonesia dan hak bangsa Indonesia buat menentukan nasib¬
nya sendiri, serta sokongan rakyat Mesir terhadap peijoangannya.
Kepada beliau yang juga menjabat Perdana Menteri kami kirim¬
kan surat, selain berterima kasih atas sokongan dan perhatiannya
itu, serta menerangkan lebih lanjut - karena sebelum itu kami te¬
lah mengirimkan memorandum - perkembangan terakhir di Indo¬
nesia, karena semenjak pertengahan perang dunia II beliau erat hu¬
bungannya dengan Inggris sebagai satu-satunya pemimpin Mesir
yang sanggup kerjasama dengan Sekutu, ketika Raja Faruk meno¬
laknya, pada penentuannya kami katakan :
”01eh karena itu kami mendatangi Y.M. dengan penuh
harapan bahwa Y.M. akan mempergunakan kedudukan dan
pengaruh Y.M. dikalangan Inggris dan negara-negara Sekutu
lainnya, supaya mereka menghentikan campur - tangan dalam
soal Indonesia dan menghentikan bantuan kepada Belanda guna
mengembalikan penjajahan terkutuk ke bumi Indonesia.”
Dengan digerakkan oleh Panitia-panitia di Kairo, Mekkah
dan Baghdad, sembahyang ghaib yang serentak telah diadakan
di seluruh mesjid Timur Tengah, untuk arwah syuhada Indonesia
di Surabaya.
Di Inggris sendiri tindakan pemerintahnya itu mendapat tan¬
tangan yang meningkat. Prof. Harold Laski, Ketua Executive
Partai Buruh yang berkuasa mengecam politik Pemerintah
Buruh yang mendaratkan tentara Inggris di Indonesia guna me¬
ngembalikan penjajahan Belanda. Bertepatan dengan itu kami
mengawatkan kepadanya sebagai berikut :
89
”Thanks your support Indonesian nationalists against impe-
rialism. Hope you make Labour Government change interference
policy and recognize Indonesian independence to avoid more
bloodshed.”
Kedutaan Cina Nasionalis di Kairo menyampaikan kawat
rahasia berikut dengan harapan supaya disampaikan kepada
Pemerintah Indonesia :
”The Chinese Government received report that Chinese
national in Surabaya were being compelled to fight for the inde¬
pendence movement. The Chinese Government does not object to
chinese volonteer fighting for the Indonesian Government, but
would request that they should not be forced to enter struggle.”
Terhadap kawat itu kami jawab sebagai berikut :
”Thousand Indonesians and chinese killed by imperialists
suppressing independence movement. Strong support wanted
and Chinese recognition Indonesian independence essential.”
Pada 23 Nopember 1945 Mr. E. Bevin, Menteri Luar Negeri
Inggris, di Majlis Rendah mempertahankan campur-tangan negara¬
nya di Indonesia. Pada 27 Nopember 1945 dengan No. 134/45
Panitia Pusat mengirimkan kepadanya surat berikut sebagai
reaksi, antara lain berbunyi :
”Your Excellency’s speech in the House of Commons on
November "23rd, 1945 has greatly surprised our people as it
reflected the policy of the Labour Government, which claims to
be the defender of democracy.”
”We understood from the speech that Your Excellency con-
sidered the Indonesian people only of secondry importance
while all preference was given to the Dutch. The problem, the-
reforce,was problem between the Dutch Government and the
British Government; the Indonesians are ignored. The matter, on
which Your Excellency’s argument was based is the agreement
between the govemments only, but not such a bases like the
principles of the Atlantic Charter, Teheran Declaration and Cre-
amea Conference, for which the United Nations have fought.
”But we, Indonesians, consider, as do other nations, these
intemational agreements of which the British Government is one
of the sifnatories, as the only thingable bases of a world of peace
and justice. That was why the Praparatory Committee for Inde-
pendence, which presented all political parties in Indonesia,
proclaimed - by using the right of self - determination -, the
independence of the country and the foundation of the Repu-
blic of Indonesia after the surrender of the Japanese ....... the
Republic had adressed all govemments in the world notifying
them the construction of a new world of peace and justice based
on mutual respect.”
”So two important matters have been actually happened
in Indonesia :
1— The Indonesian people have used their natural right of
self-determination....
2— The Indonesian Government has offered its readiness for
close ccoperation with all govemment in the world, in-
cluding the British Govemment. ...
”If these two facts were taken into consideration, the un-
necessary bloudshed could be avoided. There is no need of going
in the country, because the Indonesian Govemment will disarm
the Japanese and ahnd over them to the Allied Command and
will relieve those who in intemment camps. There is also no
need of talk about constitutional matters between the Indonesians
and the Dutch, because Indonesia has achieved her indepen¬
dence and posseeses her own constitution. The so-called ’Dutch
East Indies’ do not exist any more_”
”You have said that the Nethrlands was the first one who
declared war against Japan and stood .by Britain. It is true. But
it must be remembered that those actually fighting both in the
Dutch army and navy were almost the Indonesians, who sincer-
ly believed in the noble declarations of the Great Pciwers re-
91
garding the right of freedom for all nations, but now disappo-
inted by Your Government policy of interference in Indonesia...”
”You have accused the Indonesians of being rebels, hav-
ing shot at Britain men and destroyed some British convoys
and having created troubles. Not only these matters require
confirmation, but on the other hand sef-defence is allowed by
intemational law.”
”Wy did You refuse to allow representatives of Austraha,
India and Philippines to come and to see the real situation in
our coujitry ? Why did You oppose the expedition of an inter-
national commission to Indonesia to investigate...?”
”To be frank, as You have asked in Your sf>eech, we, the
Indonesians, demand the Labour Government either to stop
any interferance and recognize the Republic of Indonesia and
her independence or to break all those intemational agreements
as the Atlantic Charter, Teheran Declaration, etc. etc.”
”To be frank again, seventy million Indonesians are de-
termined to be free or to die.”
’Therefore we sincerely believe that it is preferale recon-
sider the matter once more and to change the British policy
by adhering to the noble prindples of the right of self-deter-
mination, justice and humanity and we are sure that only such
a change will remove our suspicions and bring back peace and
order in Indonesia.”
Teijemahan bahasa Arab surat diatas disiarkan oleh pers
Kairo dan Timur Tengah pada 30 Nop. 1945 beserta komentar-
komentar yang ikut mengancam campur-tangan Inggris menyo¬
kong Belanda di Indonesia dan melupakan janji-janji Sekutu
selama perang dunia kedua itu.
Dalam hubungan-hubungan kami dengan tentara Inggris yang
progressif di Mesir, di mana kami juga mengadakan ceramah-
ceramah, diketahui bahwa dikalangan tentara Inggris dan Belanda
92
di Indonesia teijadi perselisihan dalam menghadapi rakyat In¬
donesia, yang telah mempergunakan hak-hak yang mereka (ten¬
tara Inggris) berperang karenanya selama ini di Eropah dan Asia.
Berita ini segera kami kirimkan kepada semua Panitia di luar
negeri. Naskah yang dikirimkan ke Panitia di San-Francisco
adalah sebagai berikut :
Perhimpunan Indonesia 417 Kearnystreet San-Fransisco.
"Official sources report friction in Anglo-Dutch troops
in Indonesia. British forces reject fighting for Dutch. Indian
people criticism sacrificing Indians for nothing while Indian
soldiers refuse fighting their Indonesian brothers. Please exploit
for strong propaganda urge American leaders support Indonesia.
Your pamphlet received.”
Pada 6 Desember 1945, Pimpinan Tertinggi Sekutu akan ber¬
sidang di Singapura guna membicarakan soal Indonesia dan situ¬
asi yang semakin gawat di sana sesudah pendaratan Inggris. Pada
5 Desember itu Panitia Pusat mengirimkan kawat berikut ke
konferensi Sekutu itu yang juga disiarkan oleh pers setempat :
”Allied military conference Singapore.
"British interference worsens situation Indonesia. Rec.og-
nition Indonesian independence essentiai for peace. On behalf
10.000 indonesians Middle East, Indonesian Association for
independence.”
V •
93
SOAL INDONESIA DI-DEWAN KEAMANAN
Soal Indonesia berkali-kali dibicarakan di Dewan Keamanan.
Maksud saya tidak hendak membicarakan semuanya itu, tetapi
terbatas pada waktu sebelum negara-negara Arab mengakui Repu¬
blik Indonesia. Karena dengan pengakuan itu, pintu ke-Perseri-
katan Bangsa-bangsa telah terbuka luas bagi wakil-wakil resmi
Indonesia, dan perkembangannya sesudah itu telah banyak di¬
ketahui rakyat Indonesia. Yang masih samar-samar ataupun
tidak diketahui sama sekali, adalah yang terjadi di arena inter¬
nasional itu, selagi tugas membela Proklamasi masih dipegang
seluruhnya oleh Panitia-panitia yang tersebar di luar negeri.
Buat pertama kali sesudah Proklamasi, Dewan Keamanan
Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) bersidang di London,
pada 10 Januari 1946, yaitu setelah perkembangan di Indonesia
menjadi gawat disebabkan campur-tangan Inggris menyokong
Belanda. Kesempatan ini tidak diabaikan Panitia-panitia itu.
Panitia-panitia Timur Tengah pada 6/1/45 mengirim kepada
negara-negara yang menghadirinya satu memorandum panjang
yang menerangkan perkembangan situasi di Indonesia semenjak
Belanda menyerah tanpa peperangan kepada Jepang, sampai
puncak gerakan kemerdekaan nasional dengan Proklamasi, dan
campur tangan Inggris untuk menghancurkan Prokalamasi yang
berurat-tanggal kepada hak menentukan nasib bagi tiap-tiap
bangsa yang diakui semua piagam internasional yang diumum¬
kan selama perang dan dimahkotai dengan Piagam Perserikatan
94
Bangsa-Bangsa di San-Francisco itu. Kami menolak hak Belanda
untuk kembali ke Indonesia sesudah ratusan tahun mengabaikan
pendidikan fisik dan mental bagi rakyat Indonesia, sehingga
jutaan mereka ini menjadi korban keganasan fasism Jepang.
Demikian pula tidak membenarkan suatu negara yang ikut mem¬
buat Piagam PBB itu melanggar Piagam yang menjamin hak-hak
bangsa-bangsa itu. Setelah menunjukan kekayaan Indonesia yang
dapat ikut membangun dunia baru yang damai dan makmur,
kami tegaskan bahwa kemungkinan itu hanya dapat diciptakan
jika PBB dapat menyelesaikan soal Indonesia itu dengan :
1— mengakui kemerdekaan penuh Indonesia,
2— mengakui sistem pemerintahan yang telah dipilihnya,
3— menghentikan campur-tangan Inggris di Indonesia,
4— menghentikan politik kolonial Belanda di Indonesia yang
menyebabkan kekacauan di sana dan memulangkan ten¬
tara Belanda serta administrasi Nicanya dari Indonesia,
5— memungkinkan wakil-wakil Indonesia ikut dan mewakili
bangsanya di tiap-tiap sidang yang menyangkut Indonesia,
dan
6— menerima Indonesia menjadi anggota PBB.
Surat pengantar memorandum tersebut, berbunyi sebagai
berikut :
”The present development in Indonesia (East Indies) have
proved to the world that in spite of British interference ’to re-
store peace and order’ in that part of the world, British, Indian,
Dutch and Indonesian blood is being shed and towns and villages
are still being destroyed under the nose of the Unites Nations
by weapons which are sent to bring peace to every people.”
”Therefore we feel it is our duty. to send the enclosed me¬
morandum to You as a representive of a great people who have
fought for freedeom, justice and democracy.”
”Facts have proved that the disturbances in Indonesia have
been caused by the Dutch troops and the interference of the
British.”
”So, we sincerely hope that You as a Champion of free-
dom and democracy will kindly support the Indonesians in their
struggling for full independence and will make the necessary
arrangments to make it pos^jble for the United Nations in this
flrst session to settle the problem in the following bases.”
Setelah menyebutkan keenam tuntutan di atas, surat itu ber¬
bunyi :
”We are confident that You and all Your colleagues will
leave no stone unretumed to help seventy millio'n Indonesians,
upon which depends whether or not the newly established Uni¬
ted Nations. Organization deserves to exist as a union of all
nation, big and semall.”
Adapun bunyi memorandum itu sendiri, sesudah menggam¬
barkan bagaimana Belanda menyerah (9/3/42) dan membiarkan
rakyat Indonesia jatuh ke bawah keganasan Jepang tanpa per¬
siapan fisik dan mental, dikatakan antara lain:
”The Dutch must accept the responsibility for what hap-
pened. After Centureis of so-called’training,’ on March 9, 1942
the Dutch handed over 70 million Indonesians to the Japanese
in a condition of military unpreparedness and intellectual back-
wardness .... From that moment the Indonesians were awak-
ened to the true state of affairs and there was a sudden upsurge
of the nationalism far stronger and deeper than ever before.
And that nationalism was heightened by Japanese brutal oppres-
sion.”
”Tyranical Japanese rule could neither curb nor stamp
out the growth of self-repect and patriotism among masses,
but on the contrary, it did arouse the desire to get rid of Japa¬
nese as well as all other form of foreign domination .... .”
96
”After having handed the Indonesians to the Japanese,
the Dutch have not even a shadow of moral right to take the
virtuous stand that the Indonesians co-operated with the Japa-
nese; all the more so, because generally speaking, the Japanese
obtained a greater measure of co-operation from the Dutch-
men and women in their employ than from the Indonesians.
men and women in their employ than from the Indonesians. The
Dutch wilfully the anti-Japanese aspect of Indonesian natio-
nalism Overtly and covertly the Indonesians resested the Ja¬
panese in the shape of sabotage, uprisings and other forms of
opposition.”
"The nationalists, who worked with the Japanese, never
for a minute - in spite of their enforced presence in the totali¬
tarian camp - fbrsook the nationalistic ideals which have for
years been their guiding light. This is evidened by the Consti-
tution they framed for the Republic of Indonesia and although
it worked out during the time of the Japanese occupation, the
whole document is entirely democratic in form and spirit.”
”When the Republik of Indonesia was proklaimed (on
17/8/45), it marked the cujmihation of the political desire of the
Indonesian people to attain sovereignity for their nation. Like
an irresistable tidal wave, it carried every Indonesian along with
it.... ”
”Whenever they appeared at intemational conferences
the Dutch claimed that they had never looked upon Indonesia
as a colony and that consequently the Indonesians had nothing
but love for the Dutch Government. But for four months now
World has seen how determiried the Indonesians have manifested
their desire to remain a sovereignity people. They want to rein-
pose their rule on Indonesia, and the foisting of Dutch imperialism
on the Indonesian people, will be nothing else but a delibera-
te violation of the Atlantic Charter and of the United Nations’
Charter; it will result in endless bloodshed and sacrifice of life,
for only by force and force alone can the Dutch try to puli down
the Government which the Indonesians have set up.”
”Nor have the Dutch any moral right to walk into In¬
donesia to resume their old imperialistic politicies on the as-
sumption that they bear neither blame for their past sins nor
for their surrender which resulted in 70 million Indonesians
being delivered to the tender mercies of Japanese militerism.
Justice denies the Dutch any say in the Indonesian affairs, and
any sanctioning of their imperilistic aspirations will mean viola-
tion of the, principles of justice and humanity. The San-Fran-
sisco Charter places the responcibility for the walfare of depen-
dent peoples on certain nations, but these nations them-selves
are not empowed to violate the basic principles of that Charter.
Setelan membentangkan kerugian-kerugian materi yang akan
dipikul seluruh dunia, jika kekayaan Indonesia tidak dapat di¬
manfaatkan untuk kebahagiaan selurun ummat manusia, yang
akan disebabkan agresi Belanda dan penyokong-penyokongnya
dikatakan :
”When the Republic of Indonesia is formally recognized
and when the Indonesian Government obtains conditions fa-
vouring the full contribution of its resources towards national
and secial recons'truction.. The Indonesians can and will
make their contribution to world culture; but that will only
be possible wheh they exist as a free nation on a footing of com-
plete equality with the other peoples of the world.”
Sampai 17 Januari soal Indonesia belum juga dibicarakan
di DK-PBB. Kami khawatir kalau-kalau ’lobbying’ Belanda dan
Sekutu-sekutunya berhasil memahamkan negara-negara peserta
untuk tidak mengutik-ngutik soal tersebut. Sejauh kekuatan
uang yang ada, kami mengawat kepada wakil-wakil negara yang
dirasa bersimpati kepada Indonesia, dan Sekretaris Jenderal
PBB, meminta bantuan mereka, serta mendesak- sekiranya tidak
berhasil di DK-PBB supaya dibicarakan di SU-PBB (Sidang Umum
PBB). Kawat-kawat yang dikirimkan pada 17/1/46 itu berbunyi:
”Sekretary General UNO, General Assembly London.
98
"Indonesian problem become worid affair urging be dis-
cussed in General Assembly. Reason present disturbandes Dutch
endevour encouraged by British interference reimposing colonial
rule in Indonesia. Peace cannot b p restored except by recog-
nition independence.”
CKainese Chief Delegate U* N.O. General Assembly, London.
”Congratulation your appointment important post. Indone¬
sia anticipates your strong help You only real supporter Eastren
peoples Independaence,”
"Ukraiman Chief Delegate U.N.O. Gen. Assembly, London.
”€ongratulation your appointment important post. Indone¬
sia anticipates your stronghelp. You only real supporter Socia-
list contries independence.”
"Egyptian Chief Delegate U.N.O., Gen. Assembly, London.
”Gongratulation your appointment important post. Indone¬
sia anticipates your stronghelp. Arab delegates only real suppor-
ters Moslem countries Independence.”
Seperti terlihat pada kawat-kawat itu, masing-masing negara
berkedudukan sendiri-sendiri terhadap Indonesia dan bagian
kedua dari tiap-tiap kawat itu disesuaikan dengan kedudukan itu.
Jenderal Saleh Harb, Ketua Panitia Pembela Indonesia mengirim¬
kan pula kepada Sekjen PBB pada 23/1/46 kawat berikut :
Moslem Arab worid support Indonesian independence.
British interference favouring Dutch hurts Moslem feeling and
violets UNO principles. Recognition Indonesian independence
only solution Indonesian problem.”
Pada waktu yang sama (23/1/46), sambil mengucapkan
selamat atas pemilihan Ketua Sidang Umum dkn Ketua Dewan
Keamanan Panitia Pusat mengingatkan lagi dengan kawat berikut:
”Chairman General Assembly
"Chairman Security Coundl, UNO London,
” Congratulation your appointment important post. Relying
on your fullest support Indonesian cause. By Dutch surrende?
to Japanese March 1942, by Japanese surrender to Allied Augusi
1945 and by using self-determination righ t recognizedin United
Nations’ Charter, Indonesians regain sovreignity over their country.
Peace order cannot be restored except by recognition Indonesian
independencel’
Kepada Sekjen PBB yang menyusun acara, dikirimkan pula
memorandum di atas tadi dengan surat pengantar No. 30/46/E
tanggal 17/1/46. Setelah mendesak supaya soal Indonesia dibica¬
rakan di—SU—PBB, bila tidak berhasil di-DK-PBB, dan menge¬
mukakan kenyataan-kenyataan yang termaktub dalam surat
pengantar sebelum ini, beserta enam tuntutan di atas, dikatakan
antara lain :
”.WE WOULD LIKE TO MAKE IT CLEAR THAT NO
AGREEMENT CAN BE CONSIDERED BINDING FOR THE
INDONESIAN GOVERNMENT UNLESS IT SHARES IN MA-
KING IT.”
”Bearing in mind the noble principles on which the UNO has
been founded, we are conifident that all its members will leave
no stone unturned to help 70 million Indonesians, the outcome
of which determine whether or not the UNO deserves the name
of bastian of democracy, peace and justice for all nations, big
and small, white and coloured.”
Setelah diberitakan bahwa DK—PBB memutuskan memasuk¬
an soal Indonesia dalam acaranya, yang dianggap satu langkah
kemenangan bagi perjoangan Indonesia dilapangan Internasional,
pada 27/1/46, kami men^rimkan kawat-kawat lagi berisi :
1 — terima kasih atas simpati,
2 — tuntutan ikut-serta wakil Indonesia dalam mepibicarakannya,
dan
3 — Indonesia tidak terikat oleh suatu keputusan jika ia tidak
ikut memutuskannya.
100
Kawat-kawat itu yang dikirimkan kepada para ketua delegasi-
delegasi Cina Nasionalis, Uni-Soviet, Amerika Serikat dan Mesir
di DK-PBB berbunyi :
”Thanks your sympathetic attitude. Please make Security
Coundl accept presence Indonesian Republic representatives
at discussion Indonesian problem. No agreement can be con-
sidered binding unless Indonesian Government shares in making
it ”
Pada perdebatan masuk-tidaknya soal Indonesia dalam acara
DK—PBB, Dimitri Manuilsky, Ketua Delegasi Ukaraina adalah
seorang yang sangat bersemangat menyokong. Kepadanya kami
kirimkan kawat terima kasih tersendiri beserta tuntutan-tuntutan
di atas itu.
Pada permulaan Pebruari 1946 soal Indonesia mulai dibicara¬
kan. Menlu-Menlu Inggris dan Belanda Mr. Bevin dan Mr. van
Kleffen, pembicara-pembicara pertama mulai memutar-balikkan
kenyataan dan melontarkan tuduh-tuduhan yang bukan-bukan.
Terhadap ini kami mengirimkan protes melalui Sekjen PBB dan
menegaskan perlu ikut wakil Indonesia membicarakannya, tidak
terikat Indonesia dengan keputusan ia tidak ikut membuatnya
dan keamanan tidak akan pulih di Indonesia selama tentara asing-
sumber kekacauan - tidak ditarik dari sana.
Kawat yang dikirim pada 8/2/46 itu berbunyi :
”We strongly protest Bevins Kleffens statements against
Indonesian cause contracting faets. We strongly demand presence
Indonesian representatives UNO defending our cause. We remind
You Itidonesiart Premiers statement no agreement binding unless
Indonesian Government shares making it. No world peace as long
as no peace in Indonesia. No peace there as long as foreign troops
on Indonesian soil.”
Dari pidato-pidato Mr. Manuilsky, Wakil Ukraina, ternyata
bahwa ia mempergunakan bahan-bahan yang dikirimkan Panitia-
panitia di luar negeri. Hal ini mendorong kami untuk mengirimkan
lagi dengan kawat-kawat supaya dapat sampai pada waktunya.
101
Sebagai contoh saya nukilkan kawat yang dikirimkan pada 8/2/46
selain memberikan bukti-bukti kebohongan pernyataan-pernya¬
taan wakil-wakil Inggris dan Belanda itu, juga mendesak DK-PBB
supaya mengirim suatu badan penyelidik ke Indonesia, guna
menyaksikan kebohongan-kebohongan itu. Kawat itu berbunyi
sebagai berikut :
”Comrade Dimitti'Manuilsky, Ukrainan Chief Delegate, Lnd.
”Thanks your excellent defence Indonesia. Facts landing
first British troops welcome by Indonesians, but landing Dutch
reconquest troops behind British contracting assurances and
using Japanese soldiers, comel Indonesians selfdefence. No
fascism in Indonesia but sincere patriots strongly determined
defending their democratic rights. British burnt down Tabing
village Sumatra reprisal one British Mayor killed and Bekasi
village Java with over 1000 houses burnt down reprisal four
British airmen, these British actions real fascism. Dutch lost so-
vereinity by surrender to Japanese Indonesia regains sovereignity
by using right sef-determination. Internees armed by Dutch
against Indonesian Government. British officially support Dutch
ieconquering Indonesia. No evidence Indonesian guilty murder-
ing MaUaby stated Indonesian Ministry Information. Internatio¬
nal investigating conamission essenttal. If British really behave
well Indonesia why they oppose it. Indonesian Government
declared readiness disarming Japanese and protecting internees.”
Dalam perdebatan DK-PBB itu terjadi suatu yang mengejut¬
kan. Yaitu* pernyataan wakil Mesir, Menlu Mamduh Riad yang
seirama dengan pernyataan-pernyataan wakil-wakil Inggris dan
Belanda. Ia ikut monolak usul wakil Ukraina supaya DK-PBB
mengirim suatu komisi penyelidik internasional, seperti kami usul¬
kan ke Indonesia guna menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi
di sana dan melaporkannya kepada DK-PBB itu. Ia adalah seorang
feodal yang sedikit sekali berhubungan dengan rakyat. Dari itu
ia tidak menyelami perasaan yang hidup dalam masyarakat Arab
sendiri terhadap Indonesia, sehingga ia membuat kesalahan itu.
Sikapnya itu tidak saja mengejutkan Panitia-panitia Indonesia
102
di luar negeri yang segera menghujaninya dengan protes, tetapi
juga rakyat Mesir dan Arab sendiri, sehingga ia segera merobah
sikapnya. Pada 11/2/46 Panitia mengirimkan kawat protes ser¬
ta desakan pengiriman komisi penyelidik internasional kepada
kelompok negara-negara non-Arab (Uni-Soviet, Ukraina dan Cina)
dan kepada negara-negara Arab (Mesir. Suria, Irak dan Lebanon)
sebagai berikut :
"Thanks your strong support Indonesia (hanya kepada
negara-negara yang menyokong tegas, Uni—Soviet, Ukraina dan
£ina Nasionalis). Appeal supporting Indonesia (hanya kepada
negara-negara Arab). Insiste international commission investiga-
ting British cruelties and imperialistic interference. Strongly
protest Mamduh Riad Egyptian Delegate intruding subject he
did not understand but supporting British unresonably. We appeal
UNO save Indonesia from anglo Dutch tyranny.”
Protes-protes yang dilancarkan suara umum di Mesir dan
negara Arab lainnya jauh lebih keras dari protes kami itu, se¬
hingga seorang pencinta Indonesia, seperti Muhammad Ali Taher
dari Palestina yang membaca protes kami itu disurat-surat kabar
mengecam kami karena katanya masih bersikap ’diplomatis
terhadap seorang yang hendak menghancurkan kemerdekaan
negeri kamu. ’
Mengenai keteledoran wakil Mesir di DK—PBB itu, kami
tulis dalam buku "Indonesia As—Sairah” hal. 186 a.l. sebagai-
berikut :
"Bagaimanapun juga, ’berita salah’ itu—menurut Pemerintah
Mesir—telah memberi kesempatan bagi pemerintah dan rakyat
Mesir untuk melahirkan sikapnya yang terpuji ... Semua surat
kabar dan organisasi rakyat mengeluarkan protes .. . Satu interpla-
si dimajukan di Majlis Tinggi parlemennya oleh (alm) M. Sabri
Abu Alam Pasya, Sekien Partai Al—Wafd dan ex Menteri Ke¬
hakiman. Demikian juga di Majlis Rendahnya oleh wartawan
terkenal (alm) Kamil Syinnawai. Semuanya itu memberi ke¬
sempatan baik bagi Mesir, melalui Pemerintah dan anggota-
103
anggota Palemen dari kedua majlisnya untuk mengutarakan sikap
menyokong bangsa Indonesia yang sedang berjoang.”
Y.M. Mahmud Fahmi Nokrasyi Pasya, Perdana Menteri
dan merangkap Menteri Luar Negeri, ketika menanggapi interplasi
di Majlis Tinggi mengatakan : Saya tegaskan kepada saudara-
saudara Anggota yang Terhormat bahwa saya segera memberi¬
kan pernyataan ini supaya jangan terbetik dalam ingatan bangsa A-
rab atau lainnya bahwa Wakil Mesir tidak membela dengan sung¬
guh-sungguh pendirian bangsa-bangsa yang menuntut kemerde¬
kaan dan bahwa sesungguhnya ia telah mencurahkan seluruh u-
sahanya guna mengertikan Dewan Keamanan dan mendesaknya
supaya memperhatikan nasib bangsa-bangsa itu serte jangan mem¬
biarkan bangsa pejoang, seperti Indonesia, diperlakukan Belanda
semau-maunya dengan senjata yang ada di tangannya.
Pada 12/1/46 kami menemui Abdulrahman Azzam Pasya, Se¬
kretaris Jendral liga Arab. Ketika kami memajukan protes, karena
salah satu negara Arab anggota liga tersebut menyimpang dari
suara umum Arab, beliau memberi pernyataan yang saya catat
dan diizinkannya mengumumkannya. Pernyataan ini akan saya
bicarakan kemudian ketika berbicara tentang sikap Liga Arab.
Pada 13/1/46 Panitia Pusat mengirim lagi kawat kepada
para anggota DK-PBB, setelah diberitahukan oleh Reuter bah¬
wa Komite Nasional Pusat telah menuntut supaya suatu komisi
penyelidik dikirim ke Indonesia. Kawat itu berbunyi sebagai
berikut :
”Urge your continue support. Reuter Batavia reported 12
instant ’Centeral National Committee Republic Indonesia de-
mands UNO sending immediately investigating commission first
to know extent actiyities British forces and reestablish peace
as Ukrainian Delegate proposed secondly to deal with great num-
ber Dutch nazis still active in Indonesia.’ Reuter Colombo
further reported ”Dutch vessel New Amsterdam transporting
9000 Dutch soldiers to Java.” Dutch try in present negotiation
104
imposing proposals rejected by Indonesians many times. We
believe these proposals rejected again.”
Adapun jalannya sidang DK PBB yang dipimpin Mr.Norman
Mackin, wakil Australia, dimulai dengan satu nota dari Wakil
Ukraina, Dr. Dimitri Manuilsky kepada DK PBB menyatakan bah¬
wa di Indonesia terjadi benar-benar perang disebabkan campur-
tangan Inggris dan penggunaan tentara Jepang. Tindakan perarg
itu termasuk ancaman perdamaian dunia yang dimaksud artikel
34 Piagam PBB. ”Dari memorandum-memorandum dan kawat-
kawat yang saya terima dari seluruh pelosok dunia "-katanya-”
meyakinkan akan perlunya soal lndonesia dibicarakan di DK PBB.”
Setelah soal itu berhasil dicantumkan dalam acara badan inter¬
nasional itu suatu langkah kemenangan perjuangan diplomasi di-
lapangan ini, ia mengusulkan supaya suatu komisi penyelidik
internasional ( international invertigating commission) dikirim ke
Indonesia.
Tetapi suatu permainan (maneuvre) licik dari pihak Inggris
dan Belanda telah dapat mengagalkan usul tersebut. Sementara
DK PBB mulai membicarakan soal Indonesia itu, Inggris me¬
ngumumkan pengiriman Utusan Istimewa (Special Envoy) Sir
Archibal Glerk Kerr ke Indonesia guna menolong kedua pihak
Indonesia dan Belanda mengadakan perundingan. Demikian pula
Pemerintah Belanda mengumumkan di Parlemennya "Rencana
Khusus” bagi penyelesaian soal Indonesia-Belanda,dan undangan
telah dikirimkan kepada Pemerintah Indonesia; padahal Belanda
baru saja menolak duduk semeja dengan pemimpin-pemimpin
Indonesia. Dengan taktik licik itu ketua sidang menutup perdeba¬
tan, karena tidak ada yang menolong usul Dr.Manuilky itu selain
Uni-Soviet dan Polandia.
Dalam menganalisa kegagalan itu, j»ada hal. 182-185 buku
"Indonesia As-Sairah” saya katakan bahwa kegagalan itu disebab -
kan lebih jauh oleh karena negara-negara peserta masih menganggap
Belanda berdaulat di Indonesia. Karena San-FranciscoCon.ference
pada tahun 1944 masih menganggap Belanda mewakili Indonesia.
105
Mereka tidak tahu seperti dibentangkan Mr. A.A. Maramis dalam
bukunya ”No More Legal Power of the Netherlands in Indonesia’
bahwa berdasar konstitusi Kerajaan Belanda sendiri, artikel 21
”Tidak suatu keadaanpun membolehkan pemindahan kedudukan
pemerintah ke luar Kerajaan” (In no case the seat of government
can be moved outside the Kingdom). Ditegaskan pula bahwa
yang dimaksud dengan ”Kingdom” di sini ialah Kerajaannya di
Eropa. Juga Sri Ratu ketika dinobatkan sesuai artikel 53 telah
bersumpah akan berpegang teguh dengan Konstitusi itu. Maka
dengan pindahnya Sri Ratu Wilhelmina ke London beserta men¬
terinya pada bulan Mei 1940, ia telah melanggar artikel 21 dan
53 Konstitusi itu. Sebagai akibat pelanggaran itu, Sri Ratu dan
dengan sendirinya pemangku kuasanya di Indonesia Gubernur
Jenderal terakhir telah kehilangan kekuasaan hukum di Indonesia.
Dengan perkataan lain, dari saat Sri Ratu dan Pemerintahnya
pindah ke London, Belanda tidak mempunyai kedaulatan lagi
di Indonesia dan Indonesia sendiri dari saat itu pula telah merdeka,
menurut hukum Belanda sendiri. Maka Jepang menduduki Indone¬
sia merdeka dan baik Belanda atau Inggris tidak berhak campur
tangan.
Sayangnya buku itu sampai di Kairo setelah DK PBB selesai
bersidang. Melihat pentingnya buku itu bagi dasar diplomasi revo¬
lusi, saya langsung menteijemahkannya ke dalam bahasa Arab
dan naskah Inggrisnya diperbanyak untuk disebar luaskan di
Timur Tengah, lapangan diplomasi revolusi kami. Penyebaran ini
telah banyak memberi pengertian tentang hubungan Indonesia
—Belanda. Selama ini orang hanya meninjaunya dari segi hukum
internasional semata-mata, sehingga pandangan mereka seperti pada
DK PBB itu menjadi keliru, dan tidak mengetahuinya dari segi
hukum nasional Belanda, seperti disajikan Mr. A.A. Maramis itu.
”Yang menentukan, Akhirnya, Adalah Indonesia.”
Setelah selesai sidang DK PBB itu membicarakan soal Indo¬
nesia seperti di atas itu, Panitia Pusat/pada tanggal 18/2/46
106
mengumumkan satu Pernyataan panjang, mengenai kebohongan-
kebohongan yang dilancarkan Inggris dan Belanda, baik terhadap
gerakan kebangsaan Indonesia, atau kepada kesatuan-kesatuan
bersenjatanya, dan juga terhadap pemimpin-pemimpinnya. Juga
tentang pemutar-balikan kenyataan yang berkembang di Indonesia
waktu itu dan kecurangan-kecurangan Inggris terhadap janji-janji
yang diberikannya sebelum mendarat di Indonesia dan keingkaran¬
nya terhadap persetujuan-persetujuan yang telah dibuatnya dengan
penguasa-penguasa Indonesia, dengan menonjolkan keganasan-ke-
ganasan yang dilakukannya, demi pengembalian penjajahan Belan¬
da ke Indonesia, sekalipun melanggar segala charter internasional
yang ia sendiri ikut membuatnya. Semuanya itu adalah berupa
ulangan dari semua yang telah diungkapkan oleh perdebatan di
DK PBB itu. Terhadap kebohongan Belanda, dinukilkan pengaku¬
an musuh dan pengakuan musuh adalah kesaksian utama, yaith
jawaban Jenderal van Mook kepada para wartawan di negeri Belan¬
da : ’Tuntutan-tuntutan Indonesia patut mendapat perhatian dan
penilaian. Syahrir mendapat sokongan dari selUruh cendekiawan
dan suara umum Indonesia, dan di sana sekarang bergelora gerakan
kebangsaan yang kuat yang rriengharuskan Belanda mencari per¬
setujuan dengan kaum nasionalis itu. ’ Kemudian dikatakan dalam
Pernyataan itu :
"Sesungguhnya tidak ada suatu alasan bagi tetapnya tentara
Inggris di Indonesia, setelah Mr.Bevin mengumumkan di DK PBB
itu dengan lantang bahwa : "Kami telah mengeluarkan tentara
Jepang dari Indonesia dan keamanan di sana telah kami pu -
lihkan.” Yaitu tugasnya di Indonesia telah selesai.”
Sesudah mengakui bahwa kelicikan Inggris telah berhasil
menggagalkan usul Dr.Manuilsky, tetapi ditegaskan pula bahwa
”ia itu tidak sekali-kali akan berhasil melemahkan gerakan kemer¬
dekaan Indonesia, yang sekali-kali tidak akan menerima selain
kemerdekaan penuh bagi Indonesia.” Dan setelah pula mengutip
pernyataan-pernyataan pemimpin-pemimpin Indonesia yang me¬
nunjukkan tekad itu, dan terakhir sekali pernyataan • Menteri
107
Pertahanan R.I. Mr.Syarifuddin pada 17/2/46, bertepatan dengan
enam bulan Proklamasi, yang menyerukan kepada rakyat Indone¬
sia supaya meneruskan peijoangan mempertahankan kemerdekaan
penuh Indonesia, dikatakan pada penutupnya :
”Maka yang mempunyai kata terakhir, atau yang menentukan
akhirnya bagi soal Indonesia adalah rakyat Indonesia sendiri, yang
telah bertekad akan mempertahankan kemerdekaannya dengan
keringat, air-mata dan darah.”
Hasil-Hasil Positif Sidang Dewan-Keamanan PBB di London
Sidang DK—PBB di London itu, selain telah mengungkapkan
hal-hal yang tadinya ditutup-tutup oleh kebohongan-kebohongan
Inggris dan Belanda, ia telah memberi hasil-hasil positif lainnya,
antara lain :
1 — Soal Indonesia sudah menjadi soal internasional, dan tidak
lagi ’soal dalam negeri’ seperti diteriak-teriakkan Belanda.
Dan sewaktu-waktu sudah dapat digugat lagi dalam arena
internasional itu.
2 — ’kedaulatan’ Belanda atas Indonesia telah mulai digugat dan
tidak lagi diterima penuh saja seperti pada Konferensi San-
Francisco tahun 1944.
3 — 'Kekhilafan’ Mamduh Riad wakil Mesir telah memberi kedu¬
dukan besar dan kuat bagi soal Indonesia di Timur Tengah,
sehingga tiap-tiap negara harus mempertimbangkan reaksi
rakyatnya yang telah mendemonstrasikan sokongannya.
Pencembangan soal Indonesia di DK-PBB itu dan demonstra¬
si sokongan rakyat Arab terhadap Indonesia, telah mem¬
percepat pengakuan negara-negara Arab terhadap de facto
kekuasaan R.I. dan de jure kedaulatannya beberapa bulan
kemudian.
5 — Perdebatan-perdebatan diDK —PBB yang telah mempercepat
pengakuan-pengakuan Negara-negara Arab itu, telah merata¬
kan jalan bagi :
108
a — penerimaan wakil-wakil Indonesia (Bung Syahrir dan
Pak Salim) ikut serta dalam sidang-sidang DK—PBB ke¬
mudian di New York, dan
b - pengiriman missi jasa-jasa baik (goodwill mission) PBB ke
Indonesia.
Semenjak sidang DK—PBB di London itu, melakit Liga AraD
memutuskan supaya negara-negara anggotanya mengakui R.I.,
dua kali DK-PBB itu bersidang di New York. Tetapi pada kedua
kesempatan itu Inggris menjalankan taktik dahulu itu juga, yaitu
memperbanyak berita tentang 'perundingan’ Indonesia—Belanda,
sekalipun pada sidang pertama di New York itu (Maret 1946)
perundingan itu belum juga dimulai. Pada sidang keduanya (Okto¬
ber 1946), untuk maksud yang sama Inggris telah mengirimkan
pula 'Utusan Istimewa’ baru, yaitu Lord Killeam, yang dikenal di
Mesir dengan Sir Mile Lampson. Ia ini di Timur Tengah adalah seo¬
rang Duta Besar Inggris yang paling dibenci, karena politik ’tank’-
nya yang terkenal di-Mesir semasa perang dunia kedua, ketika
ia mengepung Istana Abidin tahun 1944 dengan tank-tank Inggris
guna memaksa Raja Faruk keija-sama dengan Sekutu. Maka ke¬
datangannya ke Indonesia itu mengkhawatirkan pecinta-pecinta
Indonesia di Timur Tengah.
Sementara itu terjadi di Indonesia perkembangan yang me¬
nguntungkan, yaitu pengangkatan Bung Syahrir menjadi Perdana
Menteri R.I. Pengangkatan itu demikian memperbaiki kedudukan
R.I. sehingga disebut kalangan Barat dengan ’smartest move’
politik oleh Presiden Sukamo dalam menghadapi tekanan-tekanan
Belanda yang disokong Inggris itu. Karena Bung Syahrir bersama
Mr. Syarifuddin, dikenal, terutama di Amerika Serikat, sebagai
pemimpin gerakan anti-Jepang di bawah tanah.
Dengan kedudukan R.I. di luar negeri yang semakin kuat itu,
baik di Barat dengan pengangkatan Bung Syahrir itu ataupun di
Timur, terutama di Negara-negara Arab dan anak benua India di¬
sebabkan tindakan-tindakan Inggris yang memang menjadi musuh
mereka, Panitia-panitia di luar negeri lebih mendesak PBB dengan
109
Dewan Keamanannya supaya membicarakan lagi soal Indonesia.
Tetapi taktik Inggris masih dapat menggagalkan desakan-desakan
kami itu. Selama itu kami terus-menerus mengirimkan memoran-
dum-memorandum kepada para anggota PBB dengan DK-nya,
mengenai perkembangan di Indonesia, baik yang menyangkut
kemajuan-kemajuan yang telah diciptakan R.I. disegala bidang
sebagai bukti kemampuannya buat mengatur pemerintahannya
sendiri, ataupun tindakan-tindakan Inggris—Belanda yang ingin
menghancurkan bangunan baru R.I. itu, dan persiapan-persiapan
jahannam mereka guna mencapai maksud jahat itu, seperti pengi-
riman-pengiriman kekuatan-kekuatan bersenjata baru. Dalam tiap-
tiap memorandum yang kami kirimkan itu, disertakan buku ”No
More Legal Power of the Netherland in Indonesia,” supaya diketa¬
hui bahwa Belanda tidak lagi mempunyai kedudukan hukum di In -
donesia, dan tindakan-tindakannya sekarang sudah merupakan
agresi bersenjata yang ditentang oleh Piagam PBB.
Pada memorandum kami terakhir kepada SU—PBB sebelum
Liga Arab memutuskan mengakui kemerdekaan dan kedaulatan
R.I., kami tegaskan lagi ketidak-mungkinan terdapat penyelesaian
bagi soal Indonesia tanpa ikut serta PBB. Maka pada fasal ke VII
memorandum yang dikirim pada 10/10/46 itu dikatakan :
”From the preceding pages it is clear that the real Dutch
aims are incompatible with the Indonesian ones. On one hand the
Dutch are clinging desperately to their imperialistic colonial
policy, trying — in spite of their own promises and all intematio-
nal charters — to reqonquer ’their former colonies’ by ruse and
force, while on the other the Indonesians are defending their so
preciously gained independence with all their might,
herein by their faith in the justice and humanity of their cause.
”With this in mind, it is almost certain that the present
Dutch—Indonesian negotiations too will not have any chance of
success. We dare predict that these talks too will bring no settlemt
to the Indonesian question, for the mere reason that the Dutch
are not sincere in finding a peacefull solution. What are the Dutch
110
are doing now, is just playing for time to complete their preparati-
ons for the military reconquest of Indonesia.”
”Having confldence in the noble and human mission which
the UNO has to fulfill with regard to mankind, on behalf of the
Central Committee of the Indonesian Association for Independen-
ce in the Middle East with the view to the following facts : (14
kenyataan yang membuktikan hak dan kekuatan kedudukan R.I.
serta kecurangan, kebohongan dan kebatilan Belanda dan Sekutu-
Sekutunya) appeal to the United Nations Organization to :
t
1 — recognize the Republic of Indonesia, arld its sovereignity
over all Indonesia which comprises the former Netherlands
East Indies,
2 — to take all necessary steps for the immediate withdrawal of
all foreign troops, Dutch not excluded, from Indonesian soil,
3 — to admit Indonesia as a member of the UNO.
We trust that this tfree points’ appeal which is based upon
the principles of the United Nations’ Charter will be strongly sup-
ported by all members of this intemational organisation who
themselves have spared nothing in their struggle for this every
end.
Mengingat bahwa Faris El-Khouri, Wakil Suria ai-DK—PBB
adalah seorang anggota Arab yang terkenal dengan keahliannya
berbicara dan dalam hukum internasional, kepadanya, selain me¬
morandum dan buku ”No more Legal Power of the netherlands in
Indonesia,” dikirimkan surat khusus yang pada penutupannya
dikatakan :
” Berdasarkan semua di atas itu, Belanda dan Inggris telah
melanggar kedaulatan Indonesia dengan senjata. Maka sementara
kami yakin akan kegagalan perundingan yang dikatakan dekat
akan dimulai, kami yakin pula bahwa perdamaian dunia msih ter¬
ancam oleh agresi bersenjata yang bertentangan dengan Piagam
PBB dan masih terus-menerus dilakukan Belanda dengan bantuan
Inggris itu.”
111
Maka kami menyampaikan harapan kepada Y.M. supaya
akan dapat mendesak PBB melenyapkan pelanggaran terkutuk
terhadap kedaulatan Indonesia itu, dan mendesak anggotanya
supaya mengakui R.I. dan menerimanya menjadi anggota PBB ini.
"Harapan kami besar sekali bahwa Y.M. akan memberikan
perhatian sepenuhnya kepada soal Indonesia itu, dan tidak ragu
lagi bahwa Indonesia merdeka akan menjadi sahabat terbaik,
bahkan saudara terbaik bagi negara-negara Arab yang merdeka.”
Baik dicatat di sini bahwa Faris El—Khburi tidak mengece¬
wakan harapan kami itu, terutama setelah agresi Belanda pertama
yang kebetulan waktu itu beliau menjadi Ketua DK—PBB yang
membicarakan agresi Belanda itu. Berkat kegigihan beliau yang
mempergunakan kekuasaan pimpinan, sidang DK-PBB menerima
untuk membicarakannya, sekalipun mendapat tentangan kera,
dari Belanda dan Sekutu-Sekutunya.
Demikian pula dengan wakil Mesir. Mengingat pengalaman
dengan wakilnya yang dahulu, Mamduh Riad, kami temui wakil¬
nya yang baru, Dr» Hafiz Afifi Pasya, yang pernah mengatakan da¬
lam bukunya’Inggris di Negerinya’bahwa ’orang Inggris itu jujur di
negerinya, tetapi curang di negeri orang’ — dari pengalamannya
sebagai Duta Besar Mesir di London, mengerti akan kedatangan
kami itu. Maka kepada kami beliau menegaskan :
"Yakinlah tuan-tuan bahwa saya akan menyediakan seluruh
kemampuan saya guna kepentingan soal Indonesia dan akan mem¬
pertahankannya sejauh kemampuan saya itu. Karena Indonesia
dan Mesir-mempunyai agama, tradisi, dan cita-cita yang sama. Sa¬
ya berkepercayaan seperti tuan-tuan bahwa soal Timur adalah
satu dan jauh jarak tidaklah akan melengahkan kami dari pa¬
da mempertahankan persoalannya.”
Yang selalu menjadi pertanyaan orang selama ini, kenapa
Pemerintah Indonesia belum pernah dengan langsung mengadukan
Belanda atau Inggris kepada DK.PBB, ataupun SU—PBB. Baru
pada bulan September 1946, yaitu pada pembukaan SU—PBB itu
112
diberitakan dari Jakarta oleh kantor-kantor berita asing sebagai
berikut :
„Pemerintah Indonesia tidak keberatan jika Wakil Ukraina
pada DK—PBB memajukan soal Indonesia kesidang DK tersebut.
Sebab negerinya tidak mempunyai kepentingan langsung dengan
Indonesia. Dengan demikian tidak akan dituduh bertindak guna
kepentingan diri sendiri. Demikian pula Pemerintah Indonesia
akan bergembira dengan kedatangan suatu komisi Internasional
ke Indonesia, sehingga ia dapat menyaksikan sendiri bahwa de
facto kekuasaan di Indonesia telah di tangan rakyat Indonesia
sendiri. Sekalipun demikian, Pemerintah Indonesia tidak akan
meminta supaya soal negerinya dibicarakan dalam sidang DK-PBB
itu, karena tidak ingin akan terikat oleh keputusan-keputusan vang
ia sendiri tidak ikut memutuskannya. Tetapi ia bersedia mengirim
wakilnya ke Dewan itu bila diminta.”
Kelihatannya, sebab yang menghalangi Pemerintah Indonesia
memajukan persoalannya dengan Belanda itu ke-DK tersebut
adalah kenyataan bahwa PBB sekarang masih serupa Volken
Bond almarhum, di mana negara-negara besar penjajah masih
berkuasa dan berpengaruh besar. Apabila ia memajukan persoalan
itu, sudah tentu ia akan terikat oleh keputusan-keputusannya,
yang kemungkinan sekali tidak akan menguntungkan. Demikian¬
lah kami menjawab selama ini, bila menghadapi pertanyaan
seperti di atas itu. Oleh sebab itu pulalah maka sampai agresi
Belanda pertama (Juli, 1947) prakarsa memajukan soal Indonesia
ke PBB dan badan-badannya, masih dipegang oleh Panitia-panitia
Indonesia di luar negeri, dengan diplomasi revolusinya.
Sesudah Juli 1947 itu, Indonesia telah diakui negara-negara
Arab dan Afganistan. Dengan demikian pintu arena internasional
telah terbuka luas bagi R.I., setelah kepungan diplomasi Belanda
dan Sekutu-sekutunya dapat dipatahkan oleh diplomasi revolusi
itu.
113
PENGAKUAN DE FACTO KEDAULATAN REPUBLIK
INDONESIA
Konfrontasi
Telah saya sebutkan bahwa dalam rencana kerja, Panitia-
panitia Timur Tengah pada konfrensinya di Mekkah telah meneri¬
ma nasehat Dr. M. Salahuddin Pasya, Penasehat Hukum Panitia
Pusat. Nasehat beliau berbunyi :
"Oleh karena di - Indonesia bangsa Indonesia dengan Pro¬
klamasi telah mewujudkan d e f a c t o kedaulatan R.I. atas
wilayah Indonesia, kewajiban rakyat Indonesia di luar negeri per¬
tama sekali adalah mewujudkan pula d e f a c t o kebebasan
mereka dari 'perwalian’ Belanda. Jika kebebasan ini diakui oleh
pemerintah setempat, berarti bahwa pemerintah ini mengakui
pula d e f a c t o kedaulatan R.I. itu atas wilayahnya.”
Berdasarkan keputusan Konferensi Mekkah itu dalam Renca¬
na Kerja Panitia dicantumkan pertama sekali, menciptakan d e
facto keoebasan warga Indonesia di luar negeri dari
’perwalian’ Belanda. "Langkah pertama pelaksanaannya, adalah
pengumpulan semua paspor warga Indonesia di Timur Tengah
oleh masing-masing Panitia didaerahnya, dengan maksud :
1 - menanam pada tiap-tiap warga Indonesia itu rasa putus
hubungan dengan Belanda,
2 - menutup kemungkinan pemakaian paspor itu yang merugikan
usaha pembebasan itu, dan
3 - mencari-cari suatu kejadian yang melibatkan Panitia dengan
114
perwakilan Belanda setempat dalam suatu perebutan kekuasa¬
an atas warga Indonesia itu.
Mungkin timbul pertanyaan, kenapa tidak diputuskan saja
hubungan dengan perwakilan Belanda dan kemudian diumumkan
putusan itu kepada khalayak Timur Tengah. Sesungguhnya tin¬
dakan demikian adalah ideal. Tetapi kami harus memikirkan
resikonya yang amat berat, sedang pendapat umum di Timur
Tengah belum lagi masak untuk memberikan penilaian yang
menguntungkan bagi kami sendiri dan bagi soal Indonesia.
Pernah saya terangkan bahwa atas tekanan yang disokong
pendapat umum di Mesir — juga diwilayah-wilayah lainnya di
Timur Tengah Kedaulatan Belanda terpaksa memberi bantuan
•uang kepada warga Itfdonesia di sana. Mulanya dengan jumlah
yang disetarafkan dengan ’sebenggol sehari,’ yaitu tiga piaster
sehari, dan kemudian, dengan maksud merangkul keija-sama,
menaikkannya sampai 700 piaster sebulan. Meskipun oleh kemaha¬
lan yang melambung selama perang, jumlah itu hanya cukup
buat menutupi keperluan sehari-hari, tetapi guna membeayai pem¬
belaan Proklamasi, masing-masing warga Indonesia di Kairo
dengan sukarela telah menyerahkan kepada Panitia 100 piaster
setiap bulan. Dengan demikian secara tidak langsung, Kedutaan
Belanda di Kairo turut membeayai kegiatan itu. Maka selama
kegiatan pembelaan Proklamasi itu tidak terganggu, kami tidak
memutuskan hubungan ’hutang piutang’ dengan Belanda, guna
menghindarkan resiko kehilangan sumber pembeayaan itu, sedang
Panitia telah memutuskan tidak akan meminta bantuan keuangan
keluar. Di sini kami mulai memanfaatkan pendirian kami dahulu
itu pada permulaan perang dunia kedua mengenai ’hutang piu¬
tang’ dengan perwakilan Belanda dan soal penandatanganan
kwitansinya.
Saat konfrontasi dengan perwakilan-perwakilan Belanda telah
tiba dan tibanya itu setelah pendapat umum di Timur Tengah
mendapat penerangan cukup untuk menilai kedudukan kami
dalam konfrontasi itu. Bukankah Sidang-sidang D K—PBB baru saja
berakhir ? Bukankah selama sidang-sidang itu, bahkan ketika
wakil Mesir ’silap’ lidah menggariskan sikap negaranya, pendapat
umum di—Timur Tengah telah mendapat kesempatan menyatakan
pendiriannya yang pro-Indonesia ? Maka dari segala jurusan
Panitia menilai bahwa situasi umum di-Timur Tengah telah
matang bagi memenangkan diplomasi revolusi,
Semenjak sudah enam bulan Proklamasi, seluruh warga In¬
donesia di luar negeri telah dengan tegas dan terang-terang menyo¬
kong dan mempertahankan Proklamasi itu. Sementara itu mereka
terus pula 'berhutang’ kepada perwakilan-perwakilan Belanda
dengan menandatangani bukti penerimaan sebagai- sediakala.
Tetapi pada 24 Pebruari 1946, ketika Omar Bayasyut, mahasiswa
Arab—Indonesia, sebagaimana biasa datang untuk menerima
uang hutang itu dari perwakilan Belanda di Kairo, kepadanya
disodorkan suatu kwitansi yang lain dari yang lain. Biasanya
bukti penerimaan (kwitansi) hanya satu daftar nama berurut dan
sipenerima menandatangani daftar itu menurut urutan nama me¬
reka masing-masing. Sekali ini kepadanya disodorkan satu kwitan¬
si tersendiri oleh Duta Belanda sendiri pula, bukan konsulnya,
seperti berjalan selama ini. Cara dan suasana yang luar biasa itu,
telah menimbulkan kecurigaannya. Ia tidak terburu-buru menan¬
datanganinya, tetapi membaranya dengan hati-hati, dan untung¬
nya dapat menyalinnya. Tanpa berbicara sepatahpun, ia segera
meninggalkan Kedutaan Belanda itu dan langsung membawa
salinan kwitansi itu kepada pimpinan Panitia Pusat. Kwitansi
itu berbunyi :
"The undersigned deelares to have received this amount ....
from Her Majesty’s, Minister, W.S. Graaf van Richtren Linbouige,
as representative in this country of the lauful Government of the
Netberlands Indies.'
"Cairo, February 24th, 1946.”
116
Panitia berpendapat bahwa menandatangani kwitansi yang ber¬
bunyi demikian berarti :
1— Mengakui hitam atas putih bahwa pemerintah yang sah
di Indonesia adalah ’ Pemerintah Hindia Belanda, ’
2— Kedutaan Belanda di Kairo adalah perwakilan ’ Hindia
Belanda ’ yang sah, dan
3— Kedutaan Belanda adalah ’ wali resmi ’ warga Indonesia.
Disamping itu Panitia melihat pula dalam tindakan baru Kedu¬
taan Belanda itu bahwa :
1— Simpati internasional yang dimenangkan melalui perde¬
batan DK-PBB telah menggoncangkan kedudukan Belanda
di Indonesia di mata internasional, sehingga berusaha buat
mendapatkan ’ pengakuan ’ tertulis itu, dan
2— Belanda telah kehilangan akal, sehingga melupakan segi
kemanusiaan dari hutang-piutang itu,
3— dua kenyataan ini dapat digunakan untuk agitasi diplo¬
masi revolusi.
Meskipun Panitia berkeyakinan dapat menggunakan situasi baru
ini untuk agitasi diplomatik revolusioner, karena ia itu mengenai
soal sumber hidup ribuan warga Indonesia atau hutang yang
hendak diputuskan Belanda dengan alasan politik, dan mengenai
pula soal ’ pem-Belanda-an ’ warga Indonesia dengan tekanan
kelaparan, dan dua soal ini dapat digunakari untuk membakar
sentimen massa Arab Islam dan anti-Inggris dan Sekutu-sekutu¬
nya itu, tetapi kami harus memikirkan pula kesulitan-kesulitan
materi dan sosial bagi warga Indonesia. Karena pengalaman selama
perlawanan di bawah tanah dan enam bulan dalam memper¬
tahankan Proklamasi, dalam masyarakat Indonesia terdapat
dua golongan kecil yang tidak diragukan kesetiannya kepada
bangsa dan negara, tetapi karena mempunyai kepentingan ter¬
sendiri, kalau tidak menghalangi, sedikitnya mendatangkan ke¬
sulitan-kesulitan. Satu golongan yang beristeri asing, yang tiap
kali melangkah selalu melihat kebelak^ng memikirkan anak-
117
isterinya, sehingga kami menasehatkan kepada mereka yang belum
masuk ’ perangkap supaya menjauhi beristeri asing dengan
alasan bahwa perkawinan dengan bangsa asing jarang sekali mem¬
bawa kebahagiaan karena perlainan pembawaan; dan golongan
lain lagi yang kurang mendapat kepercayaan dalam masyarakat,
tetapi ingin mendapat kedudukan. Terhadap golongan kedua
ini, selama ini telah dapat pemecahannya dengan menempatkan
mereka pada kegiatan-kegiatan sosial dalam lingkungan warga
Indonesia saja. Tetapi sesudah Proklamasi, mereka kelihatan
tidak puas lagi dengan lingkungan terbatas itu, meskipun kemam¬
puan mereka diragukan. Maka meskipun Panitia telah mempu¬
nyai keputusan, tetapi dirasa sangat perlu mengambil suara bulat
dalam suatu rapat umum. Untuk mengamankan rapat umum
itu, ex-Panitia Enam kembali menggunakan taktik lama selama
perang kedua, yaitu mempengaruhi pendapat umum melalui
sel-sel yang enam itu.
Pada petang Rabu 27/2/46 rapat umum diadakan dan se¬
telah memberi penerangan seluas-luasnya perkembangan baru
di atas itu, dengan tidak menyembunyi-menyembunyikan akibat-
akibatnya yang mungkin pahit, pimpinan memajukan kepada
hadirin resolusi berikut :
” Merdeka !
Kami yang bertanda-tangan di bawah ini, yang tersusun
dari putra Indonesia dan Arab Indonesia di Kairo, yang berapat
pada petang Rabo tanggal 27 Pebruari 1946, setelah menim¬
bang bahwa :
1- Hubungan kami dengan Konsulat Belanda di Kairo semenjak
kami berhutang kepadanya adalah hubungan yang terikat
oleh pandangan kemanusiaan semata-mata, sebagaimana
Pemerintah Republik Indonesia menolong ratusan ribu
bangsa Belanda di Indonesia;
2— Dengan pandangan kemanusiaan itulah kami menanda¬
tangani kwitansi hutang itu;
118
3— Sekarang sesudah permakluman kemerdekaan dan berdiri¬
nya Republik Indonesia, dengan kwitansi yang dikemu-
kakan kepada kami, Wakil Belanda di Kairo mencoba me¬
maksa kami mengakui "Pemerintah Hindia Belanda” satu
pemerintah yang sah (laufull) di Indonesia;
4— Pengakuan ini sangat bertentangan dengan pendirian kami
yang hanya mengakui Pemerintah Republik Indonesia ialah
pemerintah yang sah di tanah-air kami Indonesia, dan
5— Menanda-tangani kwitansi yang mengandung pengakuan
yang serupa itu berarti berkhianat kepada tanah-air dan
keluar dari bangsa Indonesia.
Memutuskan :
1- menolak dengan suara bulat 100% menada-tangani kwi¬
tansi itu dan lebih mengutamakan menderita kelaparan dari
pada mengkhianati tanah-air dan keluar dari bangsa sendiri,
2- barang siapa yang melanggar keputusan ini, akan disam¬
paikan namanya kepada Pemerintah Republik Indonesia;
dan
3- menyampaikan putusan ini kepada pihak yang dirasa perlu.
”Kairo 27 Pebruari 1946.”
Sesudah diambil putusan bersejarah dan merupakan batu
pancang baru dalam sejarah peijoangan rakyat Indonesia di luar
negeri, Fimpinan Panitia yang langsung berapat memutuskan:
1 _ menyampaikan resolusi tersebut kepada Kedutaan Belanda,
semua pemerintah Arab dan Islam, serta semua perwakilan
asing di Kairo;
2— mengawatkannya kepada semua Panitia Indonesia di luar
negeri;
3- mengumumkan satu Pernyataan kepada rakyat Timur Tengah
dan
119
4- mempergunakan ’kwitansi affair’ itu sejauh dan seluas mung¬
kin - dengan menggerakkan juga parpol-parpol dan ormas-
ormas setempat - guna memanaskan sentimen umum ter¬
hadap Belanda yang tidak mempunyai kemanusiaan ’
itu.
Surat-surat pengantar yang disiapkan malam itu juga, ke¬
pada Kedutaan Belanda ditulis seringkas mungkin, dengan me¬
lampirkan resolusi itu. Adapun kepada yang lain-lain, dipang-
kali dengan menggambarkan perkembangan situasi sampai ter¬
jadinya pengambilan putusan di atas itu dan.letaknya hubungan
hutang-piutang dengan Kedutaan Belanda dan pada penutupnya
dikatakan :
”Dengan ini YM dapat melihat sendiri contoh politik Be¬
landa yang jauh dari kemanusiaan dan kebijaksanaan itu. Mereka
telah putus asa untuk mendapatkan di - Indonesia seorang In-
donesiapun yang bersedia mengakui ’ kedaulatan ’-nya atas negara
itu, maka sekarang mereka berusaha mendapatkannya di luar
negeri. Tetapi rakyat Indonesia di luar negeri dan bersama mereka
Arab-Indonesia telah menunjukkan dengan resolusi itu bahwa
mereka tidak kurang kebangsaannya dari bangsa mereka yang
beijoangan dengan jiwa raga mereka dalam mempertahankan
kemerdekaan negeri mereka. Mereka telah menolak menanda¬
tangani kwitansi serupa itu dan menerima lebih baik menderita
kelaparan dan kesulitan-kesulitan hidup dari pada mengkhianati
tanah-air dan keluar dari bangsa sendiri.”
Disebabkan keuangan yang sangat terbatas, Panitia Pusat
hanya mengawatkan resolusi itu kepada Panitia Bombay, de¬
ngan harapan supaya diteruskan kepada Paniti-panitia lainnya
sebagai berikut :
Indonesians Indoarabs Cairo refuse signing Dutch Con-
sulate receits containing recognition legitimacy Netherlands
Indies Government Indonesia. Please informe Committees Aus¬
tralia India America and Holland.”
120
Kawat itu dikirim segera pagi 28/2/46, mengingat kemungkinan
usaha yang sama dikerjakan Belanda pula diwilayah-wilayah
mereka dan supaya sikap Panitia-panitia Indonesia di seluruh
dunia itu satu menghadapinya.
Dengan judul "Penolakan pengakuan ’ kedaulatan ’ Be¬
landa atas Indonesia,” Panitia Pusat mengumumkan Pernya¬
taan yang telah diputuskan itu pada 1 Maret,, 1946. Pernyataan
itu benar-benar tersebar luas, sebab telah disiarkan oleh harian-
harian Al-Ahram, Al-Misri, Al-Kutlah, Al-Balagh, Al-Mukattam,
Al-Dustur, As-Siasah dan Al-Wafdul Misri di Mesir, harian Al-
Qabas di Suria, harian Al-Bilad di Irak, harian Al-Hadaf di Leba¬
non dan harian Ad-Difa’ di Palestina. Isi Pernyataan itu adalah
juga penerangan tentang situasi di Indonesia yang telah memper¬
kuat kedudukan R.I. dan telah menyebabkan Belanda demikian
’kalap,’ sehingga kehilangan rasa kemanusiaan. Kemudian menge¬
mukakan sikap warga Indonesia di luar negeri seperti digambarkan
oleh resolusi itu.
Reaksi pendapat umum Arab sangat memuaskan. Berhari-
hari harian-harian Timur Tengah menanggapinya bersama-sama
pernyataan parpol-parpol dan ormas-ormas yang mencela sikap
Belanda ’ yang tidak berkemanusiaan ’ itu, serta menghargai
pendirian warga Indonesia yang patriotik itu. Kata-kata ’ lebih ba¬
ik menderita kelaparan dari pada mengkhianati tanah-air dan
bangsa ’ menonjol dalam tanggapan-tanggapan dan pernyataan-
pernyataan itu.
Semenjak itu kedutaan Belanda berusaha dengan segala
jalan memperlihatkan bahwa Indonesia masih di bawah 'kedaula¬
tan’ Kerajaannya. Diantaranya dengan memasukkan iklan-iklan
dalam harian-harian Mesir, dengan menggambarkan 'Hindia Timur
Belanda’ termasuk dalam Kerajaan Belanda. Kejadian seperti
ini kami gunakan untuk meningkatkan konfrontasi dengan Kedu¬
taan Belanda itu, dengan memprotes secara terbuka perbuatan
Belanda. Dengan judul ”Indonesia Merdeka,” pada 7/3/46 Panitia
mengumumkan protes berikut :
121
"Kedutaan Belanda di Kairo menyebutkan dalam iklan-
iklannya bahwa 'Hindia Timur Belanda’ - yang dimaksudnya
Indonesia — termasuk Kerajaan Belanda. Seluruh dunia telah
mengetahui bahwa Indonesia telah mengumumkan kemerdekaan¬
nya pada 17 Agustus 1945, yaitu semenjak 7 bulan yang lalu.
Panitia Pusat Pembela Kemerdekaan Indonesia di Kairo mempro¬
tes dengan keras terhadap pelanggaran Belanda atas kedaulatan
Indonesia itu dan menegaskan dengan ini bahwa satu-satunya
pemerintah yang sah di Indonesia adalah Pemerintah R.I.”
Perhatian umum terhadap Pernyataan Panitia demikian
besar sehingga pada malam Rabius Sani 1365H bertepatan dengan
11 Maret 1946 oleh parpol-parpol dan ormas-ormas di Mesir
diadakan satu pertemuan guna membicarakan 'soal rakyat Indone¬
sia di Mesir.’ Panitia Pusat yang mengira bahwa pertemuan itu
akan lebih cenderung kepada memperlihatkan ’kasihan’ kepada
warga Indonesia yang diancam kelaparan, merasa perlu membelok¬
kan pertemuan itu kepada segi politiknya dan menugaskan kepada
saya membuka pertemuan itu dengan satu pidato penerangan
pendirian Panitia .mengenai bantuan keuangan itu, seperti telah
saya tulis pada bab yang lalu.
Dalam satu pidato panjang yang dimulai dengan :
"Hubungan kami dengan perwakilan Belanda tidak pernah
baik. Sebenarnya hubungan kami dengan ia itu adalah gambar
kecil dari hubungan bangsa Indonesia dengan pemerintah penja¬
jahan Belanda ....’’ saya menerangkan dengan panjang lebar segi
politis dari peijoangan Panitia-Panitia di Timur Tengah, yang
merupakan ringkasan dari ’gema’ pergerakan kebangsaan Indonesia
dalam kegiatan mahasiswa Indonesia diwilayah tersebut, yang di¬
puncaki dengan konfrontasi yang menyebabkan pertemuan itu
diadakan. Pada penutupannya saya tegaskan atas nama Panitia
sebagai berikut :
"Kami, sementara berterima kasih atas perhatian tuan-tuan,
tidak saja terhadap soal tanah-air kami, bahkan juga mengenai
122
persoalan kami sendiri, suatu perhatian yang akan mengingatkan
selama-lamanya kepada kebaikan tuan-tuan itu, kami ingin
menegaskan kepada tuan-tuan bahwa kami,
meskipun memerlukan suatu sumber bagi
penghidupan,kami hanya akan bersedia me¬
nerima, jika ia itu berupa hutang. Kami berharap
sangat supaya jangan sekali-sekali terkha-
tir dalam hati tuan-tuan mencarikan selain
hutang. Ini hanyalah satu-satunya sumber
yang kami usahakan dan yang dengan senang
hati kami menerimanya.”
Merasakan berat tekanan pendapat umum, Belanda menyatar
kan bersedia memberi warga Indonesia hutang lagi, asal saja mem¬
baharui pendaftaran nama di Kedutaannya, dalam daftar ’rakyat
Belanda.’ Meskipun diyakini bahwa cara kedua ini adalah sama
artinya dengan yang pertama, yaitu pengakuan resmi bahwa Be¬
landa masih ’berdaulat’ di Indonesia dan bahwa mereka masih
di bawah ’perwakilan Belanda,’ tetapi untuk menunjukkan kepada
umum kekompakan warga Indonesia itu, pimpinan Panitia memer¬
lukan mengadakan rapat umum lagi guna membicarakan taktik
baru Belanda ini. Rapat yang diadakan pada 21 Maret 1946 itu,
dengan pertimbangan yang sama pada rapat yang lalu, dengan
suara bulat menolak lagi pendaftaran tersebut. Reaksi pendapat
umum terhadap keputusan penolakan pendaftaran yang tersiar
luas dalam mass media Timur Tengah, tidak saja dalam bentuk
tanggapan-tanggapan simpati, bahkan telah mendapat sambutan
dari kalangan pemuda/mahasiswa dengan cara-cara mereka sendiri.
Kedutaan Belanda di Kairo terancam keamanannya disebabkan
demonstrasi-demonstrasi yang dilancarkan mereka itu, pelempar
ran-pelemparan batu, slogan-slogan dan teriakan-teriakan permusu¬
han. Petugas-petugas Kedutaan itu menjadi ketakutan, sehingga
mereka menanggalkan lambang negaranya dari serambi Kedutaan
dan menurunkan bendera merah-putih-biru yang biasanya setiap
hari berkibar dipuncak perwakilan itu, supaya tidak mudah
dikenal para demonstran.
123
s
\ ‘
Pengakuan de facto
Dalam ketakutan demikian, kelihatannya Kedutaan Belanda
itu telah menghubungi Kementerian Luar Negeri Mesir, supaya
Pemerintah Mesir menghentikan kegiatan-kegiatan mahasiswa
Indonesia yang telah mengakibatkan ancaman terhadap kesela¬
matan warga Belanda itu. Diakui bahwa tindakan-tindakan maha¬
siswa Mesir itu terpengaruh oleh agitasi-agitasi mahasiswa Indone¬
sia yang berada dalam lingkungan mereka.
Demikianlah pada 22 Maret 1946 Sekretaris Jenderal Kemen¬
terian tersebut memanggil kami yang bertanggung jawab dalam
masyarakat Indonesia di Mesir. Kamil Abdurahim Bey, Sekjen
tersebut telah mengikuti soal Indonesia semenjak kami menjalan¬
kan perlawanan di bawah tanah. Karena beliau adalah seorang
yang kami dekati pada Partai Liberal Konstitutionil dan beliau
menjabat kedudukan Sekjen itu bertepatan dengan Proklamasi
Indonesia. Jadi dari semula beliaulah yang menerima memoran-
dum-memorandum Panitia, bahkan juga yang menerima prote-
san-protesan, ketika wakil Mesir di—DK—PBB di—London ’selip
lidah.’ Maka dari itu beliau tidak lagi menanyakan soal Indonesia
dalam pertemuan itu, tetapi hanya menanyakan apakah Panitia
dalam mengambil sikap konfrontasi dengan Kedutaan Belanda
itu telah menanyakan terlebih dahulu pendapat orang-orang yang
ahli dalam ilmu hukum internasional. Ketika di jawab bahwa
Panitia mempunyai seorang ahli hukum internasional sebagai
penasehatnya, yaitu Dr. Muhammad Salahuddin Pasya, yang
juga pernah menjadi Sekjen dan Menteri Kementeriannya, beliau
dengan segala sederhana mengatakan, jika pendapat Dr. Salahuddin
Pasya yang dihormati Kementerian Luar Negeri Mesir itu memang
demikian, Pemerintah Mesir akan mengikuti pendapatnya. Beliau
langsung menelpon penasehat Panitia itu, dan kelihatannya telah
diberi keterangan seperti yang telah saya nukilkan seluruhnya
pada permulaan bab itu. Maka kegiatan-kegiatan konfrontasi
yang diadukan Kedutaan Belanda itu adalah dalam menciptakan
124
kebebasan dari 'perwakilan’ Kedutaan tersebut. Sesudah selesai
pembicaraan telepon itu, dengan segala sederhana pula Sekjen
Kemlu Mesir menyatakan kepada perutusan Panitia :
"Dari saat ini juga Pemerintah Mesir
menganggap warga Indonesia di Mesir tidak
ada hubungan lagi dengan Perwakilan Be¬
landa. Semua urusan yang menyangkut war¬
ga I n d o n e s i a i t u , P e m e r in t ah Mesirakan
menghubungi Paniti a.”
•» I
Satu kemenangan peijoangan Panitia di Timur T ngah yang
gemilang. Karena dengan pernyataan itu, Pemerintah Mesir semen¬
jak 22 Maret 1946 telah mengakui :
1 — de facto kebebasan warga Indonesia di luar negeri dari 'per¬
walian' Belanda,
2 — Panitia Pusat Pembela Kemerdekaan Indonesia de facto
Perwakilan R.I. sementara, dan
3 — de facto kedaulatan R.I. atas Indonesia.
De facto Perwakilan R.I.
Pengakuan Mesir atas de facto kebebasan warga Indonesia
dari perwalian’ Belanda, de facto Panitia Pusat penanggung-jawab
warga tersebut dan sesuai dengan pendapat Dr. Salahuddin Pasya,
berarti pula pengakuan de facto R.I., telah menjadikan Panitia
Pusat ini de facto Perwakilan R.I. di Negara tersebut, semenjak
22 Maret 1946. Setelah keputusan Mesir itu diikuti pula oleh
negara-negara anggota Liga Arab, Panitia-panitia di Saudi Arabia
dan Irak juga menjadi de facto Perwakilan R.I. di kedua negara ini.
Sebagai konsekwensi dari pengakuan itu :
1 — mereka mengakui kartu-pengenal yang dikeluarkan Panitia-
panitia itu bagi warga Indonesia di Timur Tengah,
2 — mengakui surat-surat perjalanan yang dikeluarkan Panitia
125
bagi warga Indonesia yang bepergian di-antar-negara-negara
Arab, dan demikian pula surat-surat-rekomendasi yang keluar
dari Panitia-Panitia itu, sebagai teijadi pada pemulangan
mereka pada akhir tahun 1946,
3 - Pemerintah Mesir mencabut izin export beras ke Saudi Arabia
bagi ribuan warga Indonesia di sana dari Kedutaan Belanda
dan menyerahkannya kepada Panitia Pusat,
4 - memperlakukan Panitia Pusat sebagai perwakilan diplomatik
penuh, dengan membebaskan pengiriman beras itu dari bea-
cukai. Demikian juga Saudi Arabia meniperlakukan Panitia
cabang di sana dengan perlakuan yang serupa, bahkan mengi¬
zinkan menjual separo dari 30 ton beras yang dikirim Panitia
Pusat ke sana setiap bulan supaya uangnya dapat dibagi-
bagikan kepada warga Indonesia yang memerlukan bantuan
di sana.
Semuanya ini, selain suatu kemenangan konfrontasi yang
gemilang, ia juga merupakan suatu langkah panjang ke arah penga¬
kuan de jure yang diberikan negara-negara Arab delapan bulan
kemudian.
Sikap simpatik Mesir ini, mendorong Panitia Pusat untuk
'menempa besi selagi ia hangat.’ Sebagai akibat dari pengakuan
Mesir di atas itu, yang sudah tersiar diharian-harian Kairo, Kedu¬
taan Belanda memutuskan bantuannya kepada warga Indone¬
sia di Mesir. Pada 23 Maret Panitia Pusat langsung memajukan
permintaan resmi kepada Pemerintah Mesir supaya menghutangi
warga Indonesia itu tiap-tiap bulan, sebagai ganti hutang yang
diputuskan Belanda itu. Hanya lima hari kemudian, Panitia Pusat
telah menerima balasan resmi bahwa permintaan itu dikabulkan.
Meskipun tidak sepenuhnya, yaitu separo dari jumlah yang biasa¬
nya diterima dari Kedutaan Belanda, tetapi cukup memuaskan.
Karena telah banyak meringankan tanggung-jawab yang mula
dipikul oleh Panitia Pusat sebagai de facto Perwakilan R.I. Demi¬
kian pula pemindahan izin export 30 ton beras dari Kedutaan
Belanda kepada Panitia Pusat dan perlakuan istimewa yang diberi-
126
kan pula oleh Saudi Arabia kepada Panitia di sana, selain mem¬
perkuat kedudukan Panitia Saudi Arabia itu berhadapan dengan
Kedutaan Belanda di Jeddah, juga telah meringankan pikulan
Kopindo (Kooperasi Indonesia) D menghadapi 4000 lebih warga
Indonesia yang harus ditolong diwilayah itu.
Maka dalam waktu kurang satu minggu, Pemerintah Mesir telah
mengambil dua keputusan penting dalam menyokong peijoangan
Indonesia, yaitu :
1 — pengakuan de facto R.I., dan
2 - pemberian hutang, pengganti hutang yang diputuskan Belan¬
da itu.
Maka dengan demikian pula terhapuslah ’kekhilafan’ wakil¬
nya di Sidang DK-PBB di London yang telah menghebohkan
Timur Tengah itu.-
Apa yang teijadi di Mesir dengan kedutaan Belanda dan
Pemerintah Mesir itu, segera kami kawatkan kepada Panitia-
Panitia Indonesia lainnya melalui Panitia Bombay. Juga diberi¬
tahukan bahwa Panitia Kairo telah mengawat pula kepada Jawa-
harlal Nehru, Ketua Ali Indian Congress dan Muhammad Ali
Jinnah, Ketua Moslem League, supaya mereka menolong warga
Indonesia di India yang menghadapi tekanan-tekanan Belanda
dalam penghidupan mereka. Kawat kepada Panitia Bombay itu
berbunyi :
„Recipts dropped but Dutch Consulate asked renewal pas-
ports otherwise no allowance. We again refused, considering
ourselves no longer Dutch subjects. Egyptian Government main-
tains our levelihood. Jinnah Nehru cabled. Approach them.
1). Kopindo adalah badan sosial yang dibentuk Panitia dan bertanggung-jawab bagi
kesejahteraan warga Indonesia di sana. Badan ini yang tersusun dari para kepala
masyarakat yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, banyak berjasa
dalam menanggulangi kesulitan hidup 4000 lebih warga yang telah memutuskan
hubungan dengan Kedutaan Belanda. Mereka diberi beras tiap-tiap bulan dan
uang saku cukup guna pembeli lauk-pauk sederhana. Untuk inilah Panitia Pusat
127
Y\ /$ / Hk Ui IHf
128
M. Zein Hassan menyampaikan kata sambutan Panitia Pusat
Indonesian Association for Independence Central Committee
Middleeast”.
Adapun kawat kepada Nehru dan Jinnah adalah sebagai berikut :
,,Dutch Consulate Bombay tries compel Indonesians recog-
nize Dutch Sovereiginity by suspending monthly allowance.
Similar trick made Cairo but refused. Egyptian Government
maintains Indonesians livelihood. Hope your full support for
Indonesians India. Indonesian Association for Independence
Central Committee Middeleast”.
Demikianlah konfrontasi di Timur Tengah antara Panitia-
Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia dan Kedutaan-Kedutaan
Belanda telah dimenangkan oleh Panitia-Panitia itu, dengan meng¬
hasilkan semenjak 22 Maret 1946 pengakuan negara-negara Liga
Arab
1 — de facto kedaulatan R.I. atas Indonesia, dan
2 - Panitia-Panitia Timur Tengah de facto Perwakilan R.I.
mengirimkan 30 ton beras tiap-tiap bulan dan separonya dijual buat lauk-pauk
itu. Uang guna menebus beras ini dikumpulkan dari warga Indonesia yang ber-
pencarian. Pimpinan Kopindo tersusun dari :
1 .
Abdulkadir Talib Mandiling,
Ketua,
2.
Bakur Abdulgafar Palembang,
Kedua Muda,
3.
Abdulhamid Araby,
Sekretaris Umum,
4.
Kurni Barak Banjarmasin,
Sekretaris Kedua,
S.
Moh. Tai.b Saman Palembang, <».
Pembantu Sekretaris I,
6 .
M. Jamhir Jalai Medan,
Pembantu Sekretaris II,
7 .
Sidik Saleh Banjar,
Bendahara,
8.
Syeikh Ahmad Al wan,
Pemeriksa Umum,
9 .
Abdullah Mahdar,
Pemeriksa Kedua, dan
10 .
Saleh Ibrahim Padang,
Penasehat.
129
DELEGASI R.I. PERTAMA KE LUAR
NEGERI DI KAIRO
Buat pertama kali Republik Indonesia pada 7 April 1946
mengirim Delegasi resmi keluar negeri, Mesir adalah negara pertama
disinggahi Delegasi itu, guna beristirahat semalam. Delegasi itu
adalah hasil usaha Sir Archibald Clerk Kerr, Utusan Istimewa
Inggris. Ia ini adalah sahabat Abdulrahman Azzam Pasya, Sekjen
Liga Arab. Sebelum berangkat ke Jakarta, A. Azzam Pasya telah
mengirimkan kawat kepadanya, menerangkan simpati atas sokong¬
an dunia Arab dan Islam kepada perjoangan Indonesia dan meng¬
harap supaya ia berdiri di pihak keadilan dan kemerdekaan dalam
soal Indonesia, yang merupakan batu ujian bagi orde baru dalam
hubungan-hubungan internasional. Kawat yang dikirimnya sebagai
Sekjen Liga Arab pada 6-2-46 itu dalam bahasa Inggris berbunyi :
”My dear
”Please accept my sincere congratulation for promotion
and succes in your endevour.”
’T am looking with interest to your new mission m Indonesia.
Arab and Moslem world view the situation there with deep
sympaty to the Indonesians. It is to them a test for the new
order in intemational relations and for the rule of equity and
justice. As a personal friend, who for more than twenty years
amired you, I appeal to you to stand for justice, liberty and
independence to the Indonesians.”
130
”The Indonesians are liked and admired by all their Moslem
’orothers. They had always through eenturies of their pilgrimage
to Mecca impressed their co-religionists by always honest, polite
and dignified, and by this contact in Mecca and Medina they won
the love of the Moslem world and now they are unanimously
supported in ther claim for national independence and self-
determination.”
”As your personal friend I am praying for your success
and that will pass into hirtory as Byron in Greece. You shall
then be remembered by millions as an English man stood for
justice and freedom and who has done by this an everlasting
Service to his own country.’'
Delegasi itu adalah "campuran” dari 3 orang republikein,
yaitu Mr. Suwandi, Menteri Kehakiman (Ketua), Mr. Abdulkarim
Pringgodigdo, Sekretaris Negara (Sekretaris) dan Dr. Sudarsono,
Menteri Dalam Negeri, dan 3 serdadu Nica (KNIL), yaitu, Kolo¬
nel Sultan Hamid Kadri, Pengawal Pribadi Ratu Wilhelmina,
Kolonel Suria Santoso dan Kapten Tahia. Karena kedatangannya
mendadak dan untuk semalam saja, kami belum mendapat kesem¬
patan untuk menghubungkan mereka yang republikein dengan
pembesar-pembesar Mesir dan Arab. Atas permintaan kami, mere¬
ka beijanji akan singgah lagi waktu kembali ke tanah-air.
Waktu yang sempit itu digunakan untuk isi-mengisi informasi
baik dalam pertemuan dengan masyarakat Indonesia atau yang
terbatas dengan pimpinan Panitia. Suatu kejadian yang menarik
malam itu ialah undangan Kedutaan Belanda kepada mereka
untuk makan malam (dinner). Semua anggota Delegasi telah
menerima, selain Dr. Sudarsono. Maka terjadilah dialog berikut
antara Ketua Delegasi Mr. Suwandi dan Dr. Sudarsono.
Mr. Suwandi :”Ingatlah pesan Saudara Syahrir. Sekiranya saudara
tidak ikut, mungkin beliau akan marah.”
Dr. Sudarsono : "Saudara Syahrir tidak akan marah. Saya percaya
bahwa beliau dapat menyelami perasaan saya.”
131
Hasilnya Dr. Sudarsono tetap tidak hadir dan malam itu kami
pergunakan untuk berjalan kaki di dalam kota Kairo, sambil
menambah pertukaran pikiran dan informasi mengenai perkem¬
bangan peijoangan R.I. di dalam dan di luar negeri.
Dalam waktu yang sempit itu kami coba juga menghubungi
golongan Nica. Kolonel Hamid Kadri memperlihatkan keramah-
tamahan. Tetapi secara diplomatis menolak membicarakan soal-
soal dalam negeri dengan meminta supaya ditanyakan saja kepada
Mr. Suwandi Ketua Delegasi. Kolonel Santoso lebih Belanda dari
Belanda. Dari wajah mukanya terbayang kebenciannya kepada
pencinta Republik. Ketika kami coba mendekatinya, ia serta-merta
berdiri, memalingkan mukanya dan tergesa-gesa menjauhkan diri.
Meskipun kami tetap memandang Kapten Tahia pengkhianat bang¬
sa, tetapi diakui bahwa sikapnya sangat simpatik. Lama kami
berbicara dengan dia dan ia menjawab semua pertanyaan kami
dengan dada terbuka. Dengan tegas ia mengatakan bahwa kekua¬
tan R.I. yang berjumlah 300.000 itu akan sanggup menghadapi ke¬
kuatan Sekutu. Lebih dari itu ia berkeyakinan bahwa Indonesia
akan menang. Bahan-bahan yang kami dapat dari padanya di te-
rasse Hotel Heliopolis Palace itu, banyak gunanya bagi penerangan
membela Proklamasi.
Setelah Delegasi berangkat ke Den Haag, berita dari ’Batavia’
mulai berdatangan yang mengatakan bahwa Pemerintah Ril.
mungkin akan memberi konsesi-konsesi yang ’zakkelijk.’ Maka
dipikirkan untuk mengirim beberapa anggota Panitia ke Indoneisa
guna menyampaikan kepada Pemerintah R.I. supaya jangan mem¬
berikan konsesi-konsesi apapun, karena kedudukan R.I. sema¬
kin kuat di luar negeri terutama sesudah pengangkatan Bung
Syahrir menjadi Perdana Menteri. Sebenarnya ketika beliau
mulai menjabat kedudukan itu Panitia Pusat telah mengirimkan
kawat berikut pada 13/3/46 :
"Perdana Menteri Syahrir Batavia.
"Merdeka! Mengucapkan bahagia raya kepada R.I. dan Ka-
132
binet baru. Musti merdeka penuh. 26 Komite Indonesia merdeka
di luar negeri di belakang Republik dan menunggu perintah.
Alam Islam menunjang Indonesia. Komite Pusat Timur Tengah.”
Bagi pelaksanaan pemikiran di atas itu Panitia mengawatkan-kepa¬
da Delegasi melalui Taher Ibrahim, 6 Leiden sebagai berikut :
”Diharap sampaikan kepada Menteri Suwandi berikut:
"Selamat sampai selamat berunding. Tiga Indonesiawan perlu
kembali beserta Menteri. Berharap diusahakan tempat.” Semen¬
tara itu kepada Panitia-panitia di luar negeri pada 13/4/46 Pani¬
tia Pusat mengawatkan sebagai berikut :
”PKBI 20 Bagdadstreet Singapore
”Keris 281 Dematagodaroad Madarana Colombo
’Tndonesian League 18 Allenstreet New York
”Cenkim Tradeshall Brisbane
”Kim 242 Myrtlesreet San-Francisco
”PPII 36 Noorman Zil Karolbagh New Delhi.
’Tndonesian Delegate passing Cairo. 17 April cable your view.”
Maksud kami dengan meminta pendapat itu adalah supaya
Delegasi kembali ke Indonesia nanti telah mempunyai "gambargn
lengkap dan jelas mengenai pendapat umum dunia terhadap
perjoangan bangsa Indonesia. Sehingga dengan demikian pula da¬
pat kiranya Pemerintah mempertimbangkan apakah pada tempat¬
nya memberikan konsesi-konsesi yang ”zakkelijk” itu kepada
Belanda.”
Delegasi R.I. Memberi Penerangan dan Berterima-kasih
Pada 26 April Delegasi R.I. pimpinan Mr. Suwandi kembali
ke Kairo. Acara pertemuan dengan pembesar-pembesar Mesir
dan Arab telah diatur, tetapi tidak dapat dilaksanakan semua¬
nya, kerana singgahnya di ibukota Mesir bertepatan dengan hari
besar dan hanya buat satu hari saja. Sungguhpun demikian
telah dapat ditemui pelaksana-pelaksana dalam politik luar negeri
133
Mesir dan Arab, di rumah mereka masing-masing seperti Menteri
Luar Negeri Mesir, Sekjen Liga Arab, dan pemimpin-pemimpin
rakyat yang dapat di andalkan sokongan mereka dikalangan
rakyat umum, seperti Mustafa Nahas Pasya, Pemimpin Utama
Partai Al Wafd yang berpengaruh yang waktu itu sudah bero¬
posisi dan lain-lain pemimpin-pemimpin parpol dan ormas.
Sesampai di Kairo, Delegasi pertama sekali mengunjungi
Istana Abidin guna mencatatkan nama pada Daftar Penghormatan
kepada Raja Faruk. Kunjungan ini mendapat penghargaan luar bi¬
asa oleh Raja dengan mengutus Kepala Protokol Istana (Grand
Chamberlain) ke Hotel Heliopolis Palace guna menyampaikan
terima kasih Baginda Raja. Suatu penghormatan yang jarang
terjadi, apalagi kepada suatu delegasi yang negaranya belum diakui
penuh, de facto dan de jure. Dari Istana mereka pergi ke
”Rumah Johor” yang dipimpin Abduljalil Hasan, Wakil Ketua
Panitia Pusat, dan yang telah menyerahkan rumah itu guna
menerima tamu-tamu besar, karena kantor Panitia di Sikket
Syaburi 12, Hekmia, tidak begitu representative dan untuk Sek¬
si Arab Panitia berkantor. Ketika mereka masih di sana, dengan
tidak disangka-sangka, Abdulrahman Azzam Pasya, yang memang
akan di kunjungi mereka, telah mendahului mengunjungi Delegasi,
serta menyampaikan undangan makan siang. Delegasi sangat terha¬
ru oleh penghormatan yang diberikan Sekjen Liga Arab itu.
Sebelum makan siang itu, Delegasi menemui (alm) Luthfi
Sayid Pasya, Menlu Mesir, di rumahnya. Dalam pertemuan yang
berlangsung satu jam itu, Delegasi berterima kasih atas sokongan
Mesir dan menerangkan situasi politik dan militer di Indonesia
berterus teyang. Beliau meminta maaf karena banyak sekali mema¬
jukan pertanyaan, tetapi menambahkan bahwa ia bertanya itu
supaya dalam menyokong Indonesia akan lebih baik dengan me¬
ngetahui seluk-beluk persoalannya.
Pembicaraan-pembicaraan pada jamuan makan siang dengan
Sekjen Liga Arab selama dua jam sangat mengesan. Jika pembica-
raan dengan Menlu Mesir, seorang Profesor bekas Rektor Univer¬
sitas Fouad I (sekarang Universitas Cairo) banyak mengenai
segi ”hukum”nya persoalan, pembicaraan dengan Azzam Pasya,
seorang pejoang yang pernah meninggalkan fakultas kedokteran
di London untuk menggabungkan diri dalam tentara Turki yang
mempertahankan Libia dari serangan-serangan Itali pada tahun
1912 bersama-sama Mustafa Kemal (Ataturk), Anwar Pasya dari
Turki dan Saleh Harab dari Mesir, benar-benar berkisar sekitar
perjoangan revolusi yang harus dimenangkan. Beliau berjanji akan
mempergunakan kedudukannya sebagai Sekjen Liga Arab untuk
mendorong negara-negara Liga tersebut supaya sepenuhnya me¬
nyokong perjoangan bangsa Indonesia Muslim. Dalam hal ini
beliau selalu mengatakan bahwa ”Liga Arab” bagi beliau adalah
”Liga Muslim,” yang berarti bukan hanya buat kepentingan bang¬
sa Arab, tetapi untuk kepentingan Ummat Islam seluruhnya. ^
Pada kesempatan ini Delegasi menyampaikan terima kasih In¬
donesia atas keputusan Liga Arab pada 8/4/46 yang menyo¬
kong kemerdekaan Indonesia dan tuntutan-tuntutan nasionalnya.
Mr. Suwandi juga menyampaikan harapan R.I. supaya Liga ini
meningkatkan sokongannya, sehingga tercapai kemenangan penuh
dengan pengakuan terhadap Indonesia sebagai negara yang merde¬
ka dan berdaulat penuh. Suatu soal yang berat di Timur Tengah
adalah masalah penghidupan 4.000 warga Indonesia di Saudi
Arabia. Karena meskipun izin pengiriman beras telah- pindah
ke tangan kita, tetapi pelaksanannya memerlukan uang yang
tidak sedikit. Maka dalam pembicaraan dengan Sekjen Liga itu
1). Abdulrahman Azzam Pasya diganti sebagai Sekjen Liga Arab pada tahun 1952, se¬
sudah Raja Faruk digulingkan, sebagai kompromi antara Mesir dan Irak; Nuri
Said yang banyak sekali mengeritik Azzam Pasya, bahkan diparlemennya, karena
banyak bertindak dalam soal Indonesia tanpa musyawarah dengan negara-negara
Arab anggaota. Hal ini terang-terang diumumkan Nuri Said Pasya (terbunuh
dalam revolusi Irak tahun 1958) dalam parlemen Irak. Mesir Muhammad Najib
yang ingin nenciptakan persatuan Arab, telah mengorbankan Azzam Pasya
dan menggantinya dengan seorang diplomat,- Hassouna Pasya. Alangkah jauh
bedanya antara Liga Arab revolusioner dan Liga Arab diplomatis . . . Lumpuh
tidak bergerak.
135
juga diminta bantuan beliau supaya Pemerintah Saudi Arabia
segera melaksanakan janjinya akan membantu mereka yang telah
membebaskan dirinya dari ’perwalian’ Belanda itu, Kopindojuga
telah mengutus Saleh Ibrahim Padang dan Muhammad Sidik
Banjar guna membicarakan soal tersebut dengan Delegasi dan juga
soal Serikat Dagang mereka (Intraco) yang mendapat restu dari
Delegasi.
• ' ;
Pertemuan Delegasi dengan Duta Saudi Arabia di Kairo kami
atur juga dalam rangka kesulitan-kesulitan hidup yang dihadapi
warga Indonesia itu dan tekanan-tekanan yafig dihadapi Panitia
di sana dari petugas-petugas Saudi Arabia yang dapat dipengaruhi
oleh Perwakilan Belanda. Duta Saudi itu berjanji akan menyam¬
paikan permintaan Delegasi mengenai kedua soal itu kepada
pemerintahnya. Pada pertemuan itu Delegasi menjamin bahwa
Pemerintah Indonesia nanti akan membayar kembali hutang yang
akan diberikan kepada warga Indonesia di Tanah Suci itu.
Dalam pertemuan dengan Mustafa Nahas Pasya yang didam¬
pingi Dr. M. Salahuddin Pasya, Delegasi tidak banyak menjawab
pertanyaan-pertanyaan, karena beliau telah mengetahui soal Indo¬
nesia dengan jelas dari Dr. Salahuddin Pasya, penasehat hukum
Panitia Pusat. Maka pembicaraan berkisar tentang kesatuan perjo-
angan Timur dalam menghadapi penjajah Barat. Delegasi juga
berterima kasih atas sokongan beliau baik ketika masih Perdana
Menteri ataupun dalam kedudukan opposisi, dan mass-media
Partai Al-Wafd yang banyak itu serta kerelaan beliau memberi
tangan kanannya, yang dengan nesehatnya yang jitu itu kon¬
frontasi dengan Kedutaan Belanda telah dapat dimenangkan.
Meskipun singgah hanya satu hari, tetapi kunjungan Delegasi
itu sangat berfaedah. Karena ia itu merupakan Delegasi R.I.
resmi yang pertama ke luar negeri yang berkesempatan memberi¬
kan penerangan-penerangan langsung kepada pembasar-pembesar
bertanggungjawab di Timur Tengah. Oleh karena Panitia-panitia
136
mempergunakan sentimen Agama Islam menjadi senjata pendekat¬
an di Timur Tengah, kepada Delegasi kami pesankan supaya dalam
pembicaraan-pembicaraan Delegasi dengan pembesar-pembesar
Mesir dan Arab itu thema persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiah)
agak ditekankan.
Hotel Heliopolis Palace sangat ramai pada hari itu dengan
pengunjung yang ingin menyampaikan penghargaan dan simpati
kepada Delegasi R.I. Di samping wakil Raja dan penjabat-
penjabat resmi Mesir dan Arab yang datang menemui mereka
juga datang pemimpin-pemimpin Partai-partai politik dan organisa¬
si-organisasi masa yang kadang-kadang diiringi oleh puluhan
pengikutnya.
Suatu "kebetulan” yang patut dicatat, sementara suasana
simpati dan persahabatan yang meliputi pertemuan diplomasi
revolusi itu, tiba-tiba agen Nica utama Mr. Musa (di Timur Tengah
dibaca orang ’Musang’ ) menyelinap seperti ”nama”nya itu ke
tengah-tengah khalayak yang beremosi perjoangan itu, seorang
mahasiswa Indonesia yang mengenalnya segera mengadangnya
dengan pekik ”Merdeka.” Ia tidak menjawab, tetapi mempercepat
langkahnya serta menundukkan kepala yang bermuka pucat.
Idris Hasyim, pemuda itu, memekikkan "Merdeka” lagi dan Mr.
Musa tertegun, tetapi tetap membisu. Kali ketiga Idris Hasyim
memekikkan "Merdeka,” tetapi sekali ini tidak lagi dengan menga¬
yunkan tangan ke atas, tetapi dengan mengumpulkan buku-buku
jarinya dan menunjukkannya kemuka agen Nica itu. Dengan pe¬
nuh ketakutan dan rasa yang kelihatannya masih bermalu serta
suara yang hampir tidak kedengaran, agen Nica utama yang telah
banyak mengkhianati tanah-airnya di arena internasional itu men¬
jawab : "Merdeka Juga” sambil menghilang.Apakah me¬
mang "kebetulan,” ataukah dalam rangka tugasnya. 1 )
1). Dengan berkat kartu satu partai politik nasional, Mr. Musa ini diangkat Sukarno
menjadi ’Duta Luar Biasa dan Berkuasa Penuh’ Republik Indonesia — yang per¬
nah dikhianatinya itu - di Ceylon dan Portugal.
137
Sebelum pulang, Delegasi meminta kepada Panitia supaya
menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bangsa
Mesir khususnya dan bangsa Arab dan Islam umumnya atas
sokongan yang diberikan terhadap peijoangan Indonesia. Pesan i-
ni disampaikan melalui pers setempat. Adapun surat khusus
yang ditujukan kepada Ismail Sidki Pasya, Perdana Menteri Mesir
yang baru, telah disampaikan, beserta terjemahannya dalam bahasa
Arab. Yang masih dalam dokumen-dokumen saya ada terjemah¬
an itu. Karena ini adalah surat resmi pertama dari suatu Delegasi
resmi R.I. kepada seorang Perdana Menteri, akan saya nukilkan
sepenuhnya di sini, menurut terjemahan bahasa Arab itu, dan
sebagainya :
"Kairo 26 April 1946.”
”Yang mulia.
” Ismail Sidki Pasya, Perdana Menteri Mesir.
” Dengan hormat.
” Kami Delegasi Indonesia yang singgah hari ini di tanah
Arab dan Islam, dalam perjalanan kami pulang dari Eropa, me¬
nyampaikan penjelasan yang sebenar-benarnya oleh karena sempit
waktu, tidak mendapat kesempatan buat menemui Y.M. Meskipun
demikian, kami sangat merasa beruntung dapat menyampaikan
surat persaudaraan ini kepada Y.M., dengan harapan mendapat
penerimaan yang baik dari Y.M.”
"Kesempatan yang baik ini kami pergunakan untuk me¬
nyampaikan hormat persaudaraan kepada Y.M. dari 70 juta Umat
Islam Indonesia yang masih mempertaruhkan jiwa raganya dalam
mempertahankan cita-cita bangsanya. Bangsa Indonesia sedang
berjoang itu menoleh kepada dunia Arab dan Islam dan Y.M.
selamanya hidup dalam perjoangan dengan penuh harapan bahwa
dunia Arab dan Islam ini akan terus menyokong dan membantu¬
nya mempertahankan kemerdekaan dengan darah warganya yang
138
setia. Bangsa Indonesia ketika memasuki gelanggang peijoangan,
penuh dengan keyakinan bahwa kemerdekaan Indonesia berarti
kebebasan 70 juta Kaum Muslimin, yang akan berarti pula suatu
dukungan bagi perdamaian dunia.”
”Mengingat sokongan yang telah diberikan kepada peijoang¬
an bangsa Indonesia dan perhatian serta bantuan yang diperoleh
rakyat Indonesia yang bermukim di negeri ini, kami merasa
wajib menyampaikan kepada Y.M. dan Pemerintah Mesir terima-
kasih yang sebanyak-banyaknya, dengan harapan supaya sokongan
dan bantuan itu akan dapat diteruskan, selama peijoangan Indone¬
sia belum selesai dan perhubungan antara Indonesia dan Mesir
masih terputus. Tidak syak lagi bahwa semua kebaikan itu akan
meninggalkan kesan yang dalam dan abadi dalam kalbu bangsa
Indonesia.”
Akhirnya kami berdoa semoga Tuhan akan memberi Y.M.
dan semua pemimpin dunia Islam taufik dan hidayat-Nya dalam
berbakti kepada Islam, dan negara-negara Arab dan Islam.
”Yang Mulia terimalah hormat kami yang setinggi-tingginya.
Ketua Delegasi Indonesia,
ttd.
( Suwandi)
Surat serupa juga dikirimkan Delegasi kepada Jenderal Saleh
Harb Pasya, Ketua Panitia Pembela Indonesia, untuk berterima-
kasih kepada beliau dan para pembesar Arab dan Islam anggota-
anggota Panitia khusus itu.
Penghargaan
Sesampai di Karachi, dalam perjalanan pulang, Ketua. Dele-
139
140
Misi Suwandi di Kairo :
A. Rahman Azzam Pasya (bertaibusy) dan di kirinya Mr. Suwandi dan di ka¬
nannya Dr. Sudarsono dan Mr. A. Karim Pringgodigdo beserta anggota-anggo¬
ta Panitia.
141
Mr. Suwandi (tengah-tengah beris pertama) di kirinya Prof. Lutfi Sayid Pasya,
dan Mr. A. Karim Pringgodigdo dan di kanannya Dr. Sudarsono dan M. Zein
Hassan. Di belakang: di kanannya H alim Rasyidi dan Fuad Fakhruddin.
gasi mengirimkkan kawat kepada Panitia Pusat guna berterima-
kasih atas penyambutan, dan menyatakan penghargaan - atas
nama Pemerintah R.I. - terhadap usaha-usaha yang telah dijalan¬
kan Panitia-Panitia di Timur Tengah untuk memperkenalkan
Indonesia dan mempertahankan Proklamasi, sebagai telah mereka
rasakan hasil-hasilnya dalam hubungan-hubungan singkat Delegasi
dengan pemimpin-pemimpin Mesir dan Arab itu. Delegasi juga
menyatakan turut berbangga dengan kemenangan yang telah di¬
hasilkan Panitia dalam merebut kekuasaan atas warga Indonesia
di Timur Tengah dari tangan perwakilan-perwakilan Belanda serta
pengakuan-pengakuan negara-negara Arab atas de facto perwalian
Panitia-Panitia Timur Tengah atas warga Indonesia yang bermukim
di sana, dalam masa hanya enam bulan sesudah Proklamasi.
Bendera Pusaka Luar Negeri
Selama kunjungan-kunjungan Delegasi R.I. itu di Kairo,
pada mobil yang dipergunakannya selama itu, dipasang satu ben¬
dera merah-putih berukuran kecil. Oleh karena Delegasi itu tidak
pernah mendarat selama perjalanan ke Den Haag selain di Kairo
dan oleh karena Delegasi itu adalah delegasi R.I. resmi pertama
ke luar negeri sesudah Proklamasi, maka bendera yang dikibarkan
pada mobil Delegasi di Kairo itu adalah bendera pertama di per¬
gunakan oleh suatu misi atau perutusan resmi R.I. Dari itu, ben¬
dera tersebut yang masih saya simpan sampai sekarang, berhak
kiranya memakai nama Bendera Pusaka luar negeri.
Panitia Pusat mewakili Vietnam di Liga Arab
Beberapa hari sesudah Delegasi Indonesia meninggalkan
Kairo, satu delegasi Vietnam dalam perjalanan ke Paris singgah
pula di ibukota Mesir ini. Dalam satu jamuan yang kami adakan
142
143
Di tengah-tengah (bertarbusy) Mustafa Nahas Pasya dan di kanannya bai
muka Mr. Suwandi, Dr. M. Salahuddin Pasya dan M. Zein Hassan dan di
nya Dr. Sudarsono dan Saleh Padang (utusan cabang Saudi Arab ia)
144
•73 ea ,2
J3 *d
^ 3 +3
C 0- S
j 11
1 JS (2
*».* 2
a» M O
O - B
fl ^ C
'M 0) «
O »H —
|i i
M e g
8> J «
S S •“
0 J.9
^ Q 3
; S ^ |
JS| g
Sa^
S H .S
2*^
^ < g
‘fin <
■s »3
■9 II
= s- a
■su 3
guna menghormati mereka, delegasi itu meminta kepada Panitia
Pusat supaya bersedia mewakili negara mereka di Liga Arab.
Permintaan itu kami kabulkan. Semenjak itu hubungan-hubungan
Vietnam dengan Timur Tengah berlangsung melalui kami. Pada
5/5/46 Panitia menerima message dari Pemuda Vietnam menyam¬
paikan : ’Atas nama Pemuda Vietnam kepada Pemuda Indonesia
rasa solidaritas dan kekaguman.dan keyakinan bahwa In¬
donesia dan Vietnam akan menduduki kedudukan yang layak
di antara bangsa.’
TAfY.SYAKUK
«EUMJM. R«i HAS$AN ATAS PM&MVM
t*M&* W HOAWATAHAWTAlit JAS* UI AM*
t*£***ES.*0. mt 0** HUT €*#*S
*Eat*M*M» AOWAWW**** HtMtS*
17 - 8 - 1946
ULANG TAHUN PERTAMA KEMERDEKAAN INDONESIA
Ulang tahun pertama kemerdekaan Indonesia pada 17-8-
1946 adalah suatu kesempatan bersejarah dan penting, tidak saja
guna meluapkan kegembiraan dengan kesanggupan R.I. memper¬
tahankan kemerdekaannya selama setahun tepat ini, tetapi juga
guna menggiatkan penerangan bahwa kemerdekaan itu terbukti
benar-benar berurat-tunggang dalam kalbu rakyat Indonesia. Un¬
tuk maksud ini Panitia-panitia di Timur Tengah telah membuat
rencana masing-masing.
Di Kairo, Panitia Pusat telah merencanakan :
\
1 — Menyusun laporan tahunan kepada Pemerintah R.I. di Yog¬
yakarta mengenai kegiatan Panitia-panitia Timur Tengah se¬
lama setahun itu, dalam turut mempertahankan Proklamasi
dan mendesak dunia internasional mengakuinya. Juga kegia¬
tan warga Indonesia diwilayah itu selama perang dalam
melawan kegiatan Belanda untuk kembali menjajah Indonesia.
2 — Menulis sejarah Indonesia dalam bahasa Arab yang diberi
nama "Indonesia Assairah” (Indonesia Berevolusi) yang me¬
ngandung sejarah Indonesia semenjak zaman keemasan Sri¬
wijaya dan Majapahit sampai Proklamasi dan setahun Indo¬
nesia merdeka. Karena belum ada pembacaan dalam bahasa
Arab mengenai sejarah tersebut. Sehingga dengan buku itu
dunia Arab mengetahui bahwa Indonesia telah menikmati
147
zaman keemasan, sebelum menderita malapetaka penjajahan,
dan ^tid^^^Fia^- menyerah kepada penjajahan pendatang,
__ t ,fe*^cait®sep i @Etkidieanangk-an Belanda ’ made in lapan.’
M*»A:*SS*e tm*^™**4*Q+ >«*»#**
3 -S>^ent^f^r@il ^jt yang baru diterima dari Indo¬
nesia yang dapat memberi pengertian tentang Revolusi
Indonesia dan agresi Belanda seperti ’ Perjoangan Kita ’ oleh
Sutan Syahrir, ’ Masa Depan Ekonomi Indonesia ’ oleh Dr.
Muhammad Hatta ’ dan ’ No More Legal Power of the
Netherlands ' in Indonesia ’ oleh Mr. A<A. Maramis. Ketiga
buku ini saya terjemahkan sendiri.
4 Mengadakan resepsi semeriah mungkin, sekuat keuangan
Panitia.
5 - Menyiapkan suatu sandiwara politik yang dikutip dari buku
"Audatul Firdausi” ( Kembalinya Sorga ) gubahan sastrawan
Arab-Indonesia terkenal ( alm ) Ahmad Ali Bakatir. Satu
roman politik yang dikhayalkannya terjadi antara seorang
pejoang di bawah tanah dengan seorang dara pengikut
Sukarno di ibukota yang berakhir dengan pertemuan di
lapangan Gambir dalam suasana Proklamasi yang menggem¬
birakan.
6 - Mengumumkan satu Pernyataan Politik bertepatan genap
setahun Proklamasi, mengirimkan memorandum-memoran-
dum kepada negara-negara Liga Arab dan Islam serta per¬
wakilan-perwakilan asing setempat.
Semua rencana itu Alhamdulillah berjalan dengan baik.
Laporan tahunan dapat disiapkan sebelum resepsi 17/8/46 itu
dan dikirimkan ke Yogya pada bulan Agustus itu juga. Ia mungkin
merupakan laporan pertama lengkap dari suatu badan di luar
negeri, meskipun belum resmi ( de jure ) menjadi perwakilan R.I.,
tetapi de facto telah diakui negara-negara Arab suatu badan yang
melindungi kepentingan warga Indonesia dan bertanggung jawab
dalam urusan-urusan mereka dengan penguasa-penguasa setempat.
Buku "Indonesia Assairah,” kesulitan mencetaknya dapat
diatasi dengan kedermawan Abdul Manan Ilyas, asal Minang, dari
simpanan dagang kecil-kecilannya selama perang dunia kedua.
Buku yang berhalaman 220 itu, kulitnya dihiasi oleh lukisan
Mansur Abu Makarim, Pembantu Sekretariat Barat Panitia, yang
menggambarkan suatu gunung merapi meletus dan memuntahkan
api yang menyinari cakrawala dan di tengah-tengah kupalan
cahaya yang kemerah-merahan itu tertulis ”A1 Hurriah”(Merdeka)
suatu lukisan dari Revolusi Indonesia yang telah mengumumkan
kemerdekaan Indonesia, yang ditamsilkan dengan lukisan Boro¬
budur dan Mesjid yang bermenara tinggi menjulang ke udara
dengan bebasnya.
Terjemahan tiga buku di atas dapat saya selesaikan sebelum
perayaan itu. Dicetak oleh dermawan Mesir, Haji Muhammad
Salim Salim, yang ingin meneterapkan idee Bung Hatta pada
para karyawan perusahaannya. Hanya buku Bung Hatta dan
Bung Syahrir yang dapat ditolongnya. Adapun buku Mr. A.A.
Maramis terpaksa dicetak stensilan. Penerbitan "Audatul Firdausi”
tidak mengalami kesulitan. Nama Ahmad Ali Bakatir telah dikenal
dalam sastra Arab dan karya-karyanya selalu diterbitkan oleh
penerbit.’ Khanji.’
Dalam kata pengantar "Indonesia Assairah” dikatakan an¬
tara lain :
"Pada 17 Agustus 1945 Indonesia menentukan nasibnya
sendiri dengan mengumumkan kemerdekaannya. Dengan demikian
genaplah setahun panji-panji kemerdekaan berkibar di bawah
langit negeri Timur yang Islam itu. Panitia Pembela Kemerdekaan
Indonesia di Kairo mengambil kesempatan baik yang diberkahi
ini untuk menerbitkan buku ini, guna memperingati hari berseja¬
rah yang menentukan itu, dan sebagai persembahan kepada arwah
para syuhada yang telah bermurah hati mengorbankan hidupnya
yang fana ini bagi kehidupan tanah-air mereka yang abadi. Dan
juga sebagai penghormatan kepada para pahlawan pandu kemer¬
dekaan tanah-air yang telah mempesona dunia dengan keikhlasan
149
dan keberanian mereka dalam mempertahankan kemerdekaan
tanah-aimya. Persembahan dan penghormatan dari mereka yang
mencintai tanah-airnya, tetapi tidak berkesempatan ikut-serta
mempertahankannya dengan darah dan jiwa raganya. ...”
Kata pengantar ”Perjoangan Kita” (Jihadu Na) antara lain
berbunyi :
”Revolusi Indonesia termasuk revolusi terbesar yang akan
menjadi pembahasan ahli-ahli sejarah gerakan kebangsaan. Revo¬
lusi Indonesia berbeda dari revolusi Perancis - seperti dikatakan
Syahrir dengan kenyataan bahwa Revolusi Indonesia ikut serta
menutup lembar-lembar terakhir sejarah penjajahan, sedang revo¬
lusi Perancis adalah mukaddimah dari sejarah penjajahan itu. Re¬
volusi Indonesia adalah revolusi demokrasi kerakyatan, sedang
revolusi Perancis adalah revolusi demokrasi buijuis. ”
”Suatu revolusi yang demikian ciri-cirinya, sesungguhnya p
tut diketahui oleh mereka yang mempelajari gerakan-gerakan,
akan dasar-dasar, kecenderungan-kecenderungan dan tujuan-tu-
juannya. Dan semuanya itulah yang diutarakan Dr. Syahrir dalam
”Peijoangan Kita” ini .... . Harapan kami supaya buku ini akan
menolong memfahami pandangan Republik Indonesia yang masih
muda belia itu.”
Buku ”Masa Depan Perekonomian Indonesia” diantar dengan
kata-kata antara lain sebagai berikut :
"Indonesia sesudah Proklamasi memasuki zaman baru. Maka
kewajibannya adalah membina kembali bangunan perekonomian¬
nya yang telah dihancurkan penjajahan Belanda selama ratusan
tahun, dan membuat suatu rencana (blue print) yang akan menjadi
pedoman pembinaan bangunan yang baru itu.”
”Dr. Muhammad Hatta dengan ceramahnya yang berharga
itu, meletakan di hadapan hadirin kerangka bangunan baru eko¬
nomi Indonesia yang telah dimulai Pemerintah Indonesia mem¬
binanya. Dunia Arab dan Islam yang mempunyai hubungan-
150
hubungan ekonomi dengan Indonesia, sudah tentu merasa perlu
mengetahui bangunan baru perekonomian Republik Indonesia
yang muda itu ... .”
Ali Ahmad Bakatir dalam mempersembahkan roman politik¬
nya yang berjudul ”Audatul Firdausi au Istiklalu Indonesia” itu
mengantarkannya dengan kata :
”Kepada mereka yang masih menderita ikatan belenggu
di antara Ummat Islam dan bangsa Arab.”
”Saya persembahkan roman-sandiwara ini, agar mereka men¬
dengar gemuruh tujuh-puluh-lima juta belenggu berjatuhan di
Indonesia. Saudara-saudara mereka rakyat Indonesia yang gagah
berani itu adalah contoh yang sebaik-baiknya bagi mereka.”
Di lembaran berikutnya dikumandangkannya :
” Peringatan
”dari
”Mereka yang mempercayai Piagam Atlantik, tetapi tidak
ikut menulisnya,
"Kepada
Mereka yang menulis Ragam Atlantik, tetapi tidak mem¬
percayainya.
Baik Dalam Pernyataan yang disiarkan pers atau memoran-
dum-memorandum yang disampaikan kepada negara-negara Arab
dan Islam serta perwakilan-perwakilan asing setempat, Panitia
melukiskan pembentukan satu pemerintah demokrasi sesudah
Proklamasi Indonesia, yang telah berhasil sesudah satu tahun
pembentukannya itu dalam bidang ekonomi, seperti dibuktikan
oleh bantuan 500.000 ton beras ke India, dan dalam bidang
pendidikan dengan pembangunan tiga universitas, sedang selama
penjajahan, satupun tidak berdiri. Ini disamping berhasilnya
dibidang militer, dengan membendung tentara Inggris dipelabu-
han-pelabuhan tempat mereka mendarat, sesudah mereka melang¬
gar tugas kedatangan mereka, yaitu hanya untuk melucuti tentara
151
Jepang, tetapi merobahnya menjadi berusaha melucuti tentara
Indonesia, dalam usaha mereka mengembalikan penjajahan Belan¬
da ke Indonesia. Motive-motive campur-tangan Inggris ditelan¬
jangi, yang berpangkal pada kepentingan Inggris sendiri. Diterang¬
kan bahwa Indonesia terpaksa menghadapi campur-tangan Inggris,
tidak saja di medan pertempuran senjata, tetapi juga di medan
pertarungan diplomasi, setelah mereka juga campur-tangan di
medan ini dengan pengiriman Sir Clerk Kerr ke Jakarta, Di¬
katakan bahwa ’perundingan’ yang disponsori Inggris itu sebenar¬
nya adalah guna mengulur waktu bagi persiapan militer mereka,
setelah serang-serangan mereka pertama gagal. Dari itu pada
satu Juni 1946 PM Syahrir menyerukan kepada rakyat Indonesia
supaya siap siaga menghadapi segala kemungkinart. Pada 7 Juni
diumumkan lagi pemerintahan darurat dan pembentukan Dewan
Pertahanan. Perkembangan situasi demikian gawatnya, sehingga
pada 27 Juni diadakan pembagian tugas pada pimpinan tertinggi,
dengan Sukamo sebagai Presiden memegang pimpinan tertinggi
militer dan pimpinan diplomasi di tangan PM Syahrir.
Menghadapi perkembangan yang demikian membahayakan
perdamaian dunia, disebabkan agresi yang bermotif kolonial
semata-mata terhadap suatu negara yang telah menunjukan ke¬
matangan politik dan kesediaan buat mengorbankan segala sesuatu
guna mempertahankan hak, kemerdekaan dan kedaulatannya,
diserukan kepada negara-negara sedunia umumnya, kepada negara-
negara Arab dan Islam khususnya, supaya menyokong Indonesia
yang berjoang hidup atau mati itu dan mengakuinya sebagai
negara yang merdeka dan berdaulat penuh.
Disebabkan situasi dalam negeri Mesir yang tidak stabil,
karena sikap keras yang dijalankan terutama Ikhwanul Muslimin
terhadap Inggris dan partai-partai yang masih percaya bahwa
Inggris dapat dikeluarkan dari bumi Mesir dengan perundingan,
sehingga terjadi pembunuhan-pembunuhan politik, untuk menga¬
dakan resepsi, saya harus menandatangani perjanjian tidak akan
terjadi demonstrasi-demonstrasi dan pidato-pidato tidak boleh
152
menyangkut soal-soal politik. Maklumlah serangan-serangan kami
selama ini lebih ditujukan kepada Inggris yang telah menjadi
musuh bersama.
Mengenai resepsi dan sandiwara sesudahnya, yang ceritanya di¬
ambil dari "Kembalinya Sorga” dan dimainkan oleh para pemuda
Jam’iah Syubban Muslimin, saya nukilkan di sini catatan harian
saya yang ditulis setelah selesai malam itu juga sebagai berikut :
”Tadi kami merayakan ulang tahun pertama kemerdekaan
Indonesia, dalam suatu upacara yang besar sekali yang tidak per¬
nah diadakan sepertinya oleh warga asing yang bukan resmi di
Mesir. Bahkan jarang terjadi seperti perayaan itu pada perayaan-
perayaan kebangsaan mereka. Resepsi diadakan di lapangan olah¬
raga Pusat Jam’iah Syubban Muslimin yang luas itu dan dihadiri
oleh lebih dua-ratus pembesar-pembesar Mesir, Arab dan Timur
dan beberapa anggota corps diplomatik Arab serta pemimpin-
pemimpin surat-surat kabar dan wartawan-wartawan lainnya.”
”Adapun sandiwara yang diadakan guna memperingati hari
yang berbahagia ini, dan diadakan di Theater perhimpunan itu
juga, meskipun cukup besar, penuh sesak dengan hadirin yang
jumlahnya lebih seribu undangan pilihan.”
”Di antara pembicara terdapat Jenderal Saleh Harb Pasya,
Ketua Lajnah Pembela Indonesia dan Ketua Umum Syubban
Muslimin, Dr. Muhammad Salahuddin Pasya, bekas Wakil. Menteri
Luar Negeri Mesir dan Penasehat Hukum Panitia Pusat, Abdulrah-
man Azzam Pasya Sekjen Liga Arab yang pidatonya dibacakan
oleh Sekretarisnya, karena beliau berada di luar kota, Ahmad
Hussain, pemimpin Mesir Muda, penyair Ali Ahmad Bakatir,
dan penyair Syubban Muslimin dengan syair-syair mereka yang
penuh semangat, kekaguman dan simpati kepada Republik In¬
donesia. Terakhir sekali saya berbicara atas nama Panitia Pusat.
Dari pidato2 itu terdengar apa yang selama ini kami desakkan,
yaitu perlu segera diakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia
yang telah menunjukan kematangan dan kecakapanya. ”
153
Adalah suatu pilihan yang tepat mementaskan satu fa-
sal dari buku ”Kembalinya Sorga atau Kemerdekaan. Indone¬
sia’* gubahan sastrawan Arab-Indonesia Ali Ahmad Bakatir, me¬
ngiringi resepsi itu. Karena teijadinya sekitar rapat-uinum di-
lapangan Gambir guna mengumumkan kelahiran Republik Indo¬
nesia. Adalah sangat mengesankan sandiwara yang di sela-sela
oleh teriakan riuh mengelu-elukan Sukamo, Hatta dan Syahrir,
Indonesia Merdeka dan Republik Indonesia.”
”Perayaan ini berlangsung sampai liwat tengah malam dan
ditutup dengan lagu ’ Indonesia Raya ’ yang dinyanyikan oleh
semua hadirin yang mengikuti pementasan itu. Karena lagu
kebangsaan Indonesia ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Arab menurut iramanya yang asli dan telah dihafal oleh pemuda
Jam’iah Syubban Muslimin yang juga memenuhi gedung Theater
itu sampai ke jendela-jendelanya. ”
”Upacara ini dimeriahkan oleh band ’ Sukaria Indonesia ’
dari mahasiswa Indonesia yang telah mempesona hadirin dengan
lagu-lagu Indonesia yang merayu dan bersemangat, dan mendapat
pujian dari mereka. ”
”Dengan pedih hati saya mencatat tidak hadir 5 orang warga
Indonesia yang menganggap diri mereka pemimpin Perpindom.
Mereka itu 1) B.A., ketuanya, 2) A.D., sekretaris, dan dicurigai
mata-mata Belanda selama perang dunia kedua, 3) S.A., bendaha¬
ra, 4). A.K. dan 5) A.A.”
”Setelah selesai perayaan itu, Kepala Polisi Rahasia yang
ditugaskan mengamat-amati, mengatakan kepada saya bahwa
pidato-pidato yang diucapkan sudah melebihi batas yang disepa¬
kati semula, yaitu melulu berbau politik. Saya jawab bahwa
suasana yang penuh semangat itu telah mendorong para pembicara
berbuat demikian. Kelihatannya ia memahami suasana itu, sebab
dikatakannya : ’ Saya juga menghargai perasaan kebangsaan ,’
dan kami berjabat-tangan.”
Pemerintah Mesir bermurah hati memberi kesempatan ke-
pada kami merayakan hari nasional yang bersejarah itu dan buat
pertama kali dari corong Radio Kairo, yang mengumandangkan
lagu ’ Indonesia Raya ’ dan lagu-lagu Indonesia lainnya menyela
sandiwara-radio yang mementaskan lagi "Kembalinya Sorga” me-
liwati udara oleh karyawan-karyawan Radio Kairo sendiri.
Adalah sangat menggelikan jika saya ingat sekarang bahwa pidato
yang saya ucapkan melalui radio malam itu (18/8/46) dimulai
dengan ’ Indonesia Raya * bahasa Indonesia dan ditutup dengan
’ Indonesia Raya ’ bahasa Arab, suatu kebiasaan yang hanya
berlaku bagi seorang kepala negara..... Mereka memenuhi
semua keinginan kami dan kami lupa akan protokolnya. Acara
melalui radio itu dimulai oleh penyiarnya (Ny.) Safiah Al-Muhan-
dis, dengan ucapan berikut :
"Setahun yang lalu, pada hari seperti sekarang, bangsa
Indonesia telah merebut kembali kemerdekaannya dari tangan
musuh yang merampasnya. Maka berdirilah satu Republik Islam
dengan Presidennya Dr. Sukamo, seorang pemimpin nasional yang
disayangi. Dengan pengumuman kemerdekaan itu bebaslah 80
juta manusia setiawan dari belenggu penjajahan dan rantai per¬
budakan. Hidup merdeka di tanah kelahiran mereka, bebas di
bumi yang menampung mereka, sebagaimana diciptakan alam
dan dikehendaki oleh keadilan insaniah.”
Perayaan melalui Radio-Kairo itu juga dimeriahkan oleh
band ’ Sukaria Indonesia ’ yang seluruh anggotanya dari warga
Indonesia. Dari studio Radio-Kairo itu mereka langsung pergi
ke Pusat Syubban Muslimin. Di sana mereka dinanti oleh ke¬
satuan-kesatuan pandu Mesir yang bersukaria semalam itu mera¬
yakan hari nasional Indonesia. Pestaan malam itu merupakan
perayaan ketiga yang sangat riuh dengan teriakan-teriakan ratusan
pemuda mengelu-elukan "Indonesia Merdeka” dan pemimpinnya
Sukamo.
i
Ulasan-ulasan pers setempat dalam menanggapi hari Prokla¬
masi itu, dengan mengutip pidato-pidato yang diucapkan, sama
155
Pemandangan umum perayaan ulang tahun pertama Proklamasi di Baghdad
Irak yang diselenggarakan oleh Cabang Panitia di sana.
157
Pada resepsi pengakuan Mesir atas kemerdekaan dan kedaulatan R.I. pada
petang Senin 9/6/47, kelihatan H. Agus Salim Ketua Delegasi RJ. dan Pange¬
ran Faisal, Menhi Saudi Arabia (tengah) bercakap-cakap, sedang H.M. Amm
Husafen, Mufti Besar Palestina menunggu gilirannya.
(f (t/4
158
landangan bagian tengah dari resepsi Ulang Tahun Proklamasi Pertama
z meriah itu.
(.UJUe'lS
Oii jU' Je tilt* £>t
y^V' 4» jlJl ^ (T^l jy ^ 0
oO. jjt
/ iSji (J-
ii jLW 4>^l»
<5^1 ilyLfl J* ( Jj/ ) *C.j^A
UU <!jly <iJ|
j!
4f^=Af 4 }—
mv «j> *
Menu makanan yang dihidangkan pada respsi menyukuri pengakuan Kerajaan
Mesir terhadap RJ. sebagai negara yang merdeka dan berdaulat di Semiram»
Hotel di tepi Sungai Nil, Kairo, pada 9 Juni 1947, seperti tercantum di sudut
bawah menu tersebut.
159
mendesak negara-negara Arab supaya mengakui kemerdekaan
dan kedaulatan Indonesia.
Bertepatan dengan ulang tahun itu, Jenderal Saleh Harb
mengirim ucapan selamat kepada Presiden Sukarno dan mendapat
balasan sebagai berikut :
”Batavia — Centrum 88 — 14 - 1435.
”To General Saleh Harb Pasya President World Moslem
Association Cairo.”
”On behaff of Goverment and People of Indonesia I beg
you to pass our feeling of gratitude to the Moslem in general
and those of y our Association inparticular foryour congratulation
on occasion of first anniversary of the Republic.”
”The Indonesian People are very much obliged for the moral
support you give to their cause and the material help their
stranded compatriots receive from the Arab World.”
"Presiden of the Republic of Indonesia,
"Sukamo”
Pada 31 Oktober 1946 kami menerima balasan laporan yang
kami kirimkan bertepatan dengan ulang tahun pertama Proklamasi.
Balasan itu atas nama Presiden melalui Kementerian Luar Negeri
R.I. Ini adalah pertama kali kami menerima balasan dari surat-
surat yang kami kirimkan kepada Pemerintah R.I.
160
LIGA ARAB DAN SOAL INDONESIA
Hubungan-hubungan kami dengan Liga Arab telah mulai
semenjak ia masih bernama ’Kongres Pan Arab,’ ketika Ismail
Banda dan saya diutus pada 6 September 1944 menyampaikan
tuntutan-tuntutan :
1 — pengakuan atas kemerdekaan Indonesia,
2 — jaminan kesatuan Indonesia seperti sebelum pendudukan
asing dengan tidak dibagi-bagi, dan
3 — ikut-serta Indonesia dalam menentukan soal-soal perdamaian
sesudah perang.
Seperti telah saya ceritakan, kejadian ini adalah disebabkan
berita Radio-Berlin yang diumumkan Mufti Besar Palestina, M.
Amin Al-Huseini, bahwa Jepang telah mengakui kemerdekaan
Indonesia. Meskipun berita itu akhirnya ternyata tidak benar,
tetapi telah banyak menguntungkan, baik dengan dikenal tuntu¬
tan-tuntutan nasional oleh kalangan-kalangan resmi dan umum
Arab, atau dalam mendatarkan jalan bagi hubungan-hubungan
kami mendatang — sesudah Proklamasi — dengan pihak-pihak ter¬
sebut, terutama Liga Arab. Dalam hubungan-hubungan dengan
Liga ini ada dua faktor penolong lagi, yaitu kenyataan bahwa
Sekjennya Abdulrahman Azzam Pasya adalah seorang pan-Islamis
dan anti-Inggris. Dengan Indonesia yang berpenduduk mayoritas
Islam dan sedang menghadapi campur-tangan Inggris bersenjata,
kedua faktor diatas dapat dipergunakan. Demikian juga dengan
Mesir, anggota Liga Arab terbesar dan berpengurus di Timur
161
Tengah, kedua faktor itu sangat berfaedah. Mesir diduduki Inggris
semenjak tahun 1884 dan sampai saat itu, ibukotanya sendiri,
Kairo, masih diduduki, bahkan antara Kementerian Luar Negeri
Mesir dan tangsi tentara Inggris hanya dibatasi oleh jalan besar.
Raja Faruk baru setahun sebelumnya istananya dikepung Inggris
dengan tank-tank guna memaksanya keijasama dengan kekuasaan
Sekutu yang pimpinannya di Timur Tengah di tangan Inggris.
Demikian juga negara-negara Arab lainnya telah mengalami pahit¬
nya penjajahan dan tekanan-tekanan Sekutu selama perang kedua
itu, dan rakyatnya yang mayoritasnya beragama Islam dan yang
sedang dipengaruhi oleh Ikhwanul Muslimin' yang militant anti-
Inggris dan Sekutu pada umumnya. Maka itulah sebabnya maka
dalam usaha membela proklamasi yang hendak dihancurkan
Inggris yang diboncengi Belanda dan mendesak negara-negara liga
Arab supaya mengakui kemerdekaan dan kedaulatan R.I. Panitia-
Panitia Di Timur Tengah menggosok sentimen mereka yang anti —
Inggris dan penjajahan yang bersemangat Islam itu.
Sidang Liga Arab pertama semenjak Proklamasi terjadi ke¬
tika Pimpinan Tentara Tertinggi akan berkonferensi di Singapura
guna membicarakan soal Indonesia. Dalam hubungan pertama
Panitia Pusat menyerahkan tandamata sederhana kepada (alm)
Jamil Mardam Bey Perdana Menteri Suria dan Ketua masa sidang
tersebut. Dalam surat penyerahannya antara lain dikatakan :
” ,.fCami belum mengetahui apakah ada kesempatan guna
membicarakan soal Indonesia pada sidang-sidahg Liga Arab seka¬
rang, sekalipun tidak secara resmi. Tetapi yang terang ialah bahwa
situasi di Indonesia semakin genting disebabkan campur-tangan
bersenjata Inggris. Maka 70 juta rakyat Indonesia menoleh kepada
Liga Arab supaya :
1 — menuntut Inggris agar menghentikan campur-tangan mereka,
2 — menuntut Amerika Serikat supaya melarang Sekutu-Sekutu¬
nya mempergunakan senjatanya terhadap rakyat Indonesia,
dan i
3 — berusaha di PBB supaya kemerdekaan dan kedaulatan Indo¬
nesia diakui.”
162
Dengan memorandum tanggal 5/12/45 Panitia Pusat mengi¬
ngatkan para delegasi Arab kemasa sidang itu antara lain bahwa :
"Kegawatan situasi di Indonesia telah mencapai puncaknya.
Pimpinan Militer Negara-Negara Sekutu (Inggris, Perancis dan
Belanda) akan bersidang besok Kamis di Singapura guna mem¬
bicarakan situasi itu dan menentukan tindakan-tindakan yang akan
diambil.”
” Pada saat-saat genting di mana bangsa Indonesia menghadapi
musuhnya dengan tekad yang membaja, kami mendatangi Majlis
Liga Arab dengan harapan supaya :
1 — mengumumkan simpatinya terhadap soal Indonesia yang adil
itu;
2 - mengawatkan kepada Lord Louis Mounbatten, Koipandan
Angkatan Bersenjata Sekutu di Asia Tenggara, guna mengi¬
ngatkan para peserta supaya mengambil keputusan yang se¬
suai dengan Piagam-Ragam Kemerdekaan, yang oleh karena¬
nya Negara-Negara Sekutu memasuki perang yang baru lalu
itu.”
Sokongan pertama i
Pada 18/12/45 ”Reuter” menyiarkan jawaban Sekjen Liga
Arab terhadap surat kami dengan judul ”The Arab League and In¬
donesia ” sebagai berikut :
”The following letter was sent by the Arab League to the In-
donesian Association for Iridependence in answer of its letter to
the League :
”To the President and the Secretary,
Indonesian Association for Independence.
’T have the honnour to acknowledge receipt of your letter
of Desember 5th and very thankfull for the kindest expression
addressed to the ArabLeague.I would like to express onbehalf of
163
the Arabs their sincerest sympathy with Indonesia and its couse
of independence.”
May God be with you and may He crown your endevours
for the independence of Indonesia with success.
Meskipun redaksi jawaban itu masih sangat hati-hati, yaitu
”on behalf of the Arabs,” dan bukan ”on behalf of the Arab
League,” ia itu sudah merupakan pertanyaan pertama yang menya¬
takan simpati terhadap Indonesia dan peijoangannya. Doa penu¬
tup sudah» mengandung (implicitly) sokongan Liga tersebut.
Langkah sokongan lebih positif
Ketika wakil Mesir "keseleo” lidah di DK — PBB di London,
perutusan Panitia Pusat juga menjumpai Sekjen Liga Arab Azam
Pasya (12/1/46), guna menyampaikan protes. Terhadap ini beliau
mengatakan tidak mengetahui apa sebenarnya yang diucapkan
wakil Mesir. "Tetapi ” — katanya — : saya tidak merasa ragu
bahwa ia bermaksud baik terhadap Indonesia dan soal kemerdeka¬
annya. Karena ia mengetahui bahwa Dunia Arab semuanya,
bahkan Dunia Islam seluruhnya, bersatu padu menyokong bangsa
Indonesia dalam menentukan nasibnya sendiri, dan dalam perjo-
angan mereka buat kebebasan dan kemerdekaan penuh. Saya
sendiri mengetahui bahwa saudara-saudara kami bangsa Indonesia
adalah salah satu bangsa tersayang dan terdekat dalam kalbu
bangsa-bangsa Timur. Bangsa Indonesia dalam perjoangan mereka
membela kemerdekaannya, mendapat simpati sepenuhnya oleh
bangsa-bangsa Timur itu, tanpa kecuali, Islam atau bukan Islam.
Oleh karena itu saya telah mengambil kesempatan beradanya saha¬
bat saya Sir Archibald Clerk Kerr di Indonesia sebagai Utusan
Istimewa Inggris, guna menolong mencari penyelesaian persoalan
sekarang, untuk mengirim kawat kepadanya kira-kira seminggu
yang lalu. Beliau kemudian — seperti telah saya ceritakan — me¬
nyerahkan kepada kami copy surat itu dalam bahasa Arab dan
164
Inggris. Telah saya nukilkan teks bahasa Inggrisnya yang isinya
antara lain :
1 - Dunia Arab dan Islam bersimpati dan menyokong peijoangan
Indonesia,
2 - Soal Indonesia adalah batu ujian bagi orde baru dalam hu¬
bungan Internasional yang berdasarkan keadilan dan ke¬
benaran, dan
3 - Menyerukan supaya ia berdiri dipihak keadilan dan kemer¬
dekaan bangsa Indonesia.
Beliau mengizinkan kepada kami menyiarkan pernyataannya
di atas serta suratnya kepada Utusan Istimewa Inggris itu. Hal ini
merupakan suatu langkah yang lebih positif lagi dari Liga Arab
dalam sokongannya terhadap Indonesia. Karena surat yang diki¬
rimkannya itu ditandatangani dengan ”Abdul Rahman Azzam,
Secretary General of the Arab League,” dan disiarkan kepada
umum, meskipun pada mulanya berupa pribadi.
Beliau sampai berbuat demikian, karena protes Panitia
yang agak keras, dan pada penutupnya kami katakan :
”Dalam memajukan nota ini, kami mengharap supaya YM :
1 - menyampaikan kepada Mamduh Riad dan Pemerintah Mesir
rasa tidak puas kami terhadap sikap ganjil, dicurigai dan me¬
nentang Indonesia Muslim dan Timur yang sedang beijoang
mempertahankan kemerdekaan dan wujudnya sendiri dari
wakil Mesir itu, dan
2 - memperbaiki sikap satu negara anggota Liga Arab yang me¬
ngecewakan dan menentang cita-cita bahkan membahayakan
hidup 70 juta bangsa Timur dan Muslim itu.”
Juga baik diingat bahwa beliau sendiri adalah anggota Panitia
Pembela Indonesia yang terbentuk dekat sesudah Proklamasi
dari pembesar-pembesar Mesir, Arab dan Islam dan diketuai oleh
Jenderal Saleh Harb Pasya, temannya dalam tahanan Inggris sela¬
ma perang dunia kedua.
165
Sokongan resmi pertama
Bertepatan dengan sidang Dewan Keamanan PBB di New
York, Liga Arab mengadakan sidang pula di Kairo. Panitia Pusat
mengajukan lagi tuntutan-tuntutan supaya mengakui R.L dan
menyokongnya di-DK-PBB. Dalam memorandum yang kami
sampaikan kepada Sekjen Liga Arab dan delegasi-delegasi negara-
negara Arab beserta kami lampirkan surat kami kepada Wakil
Mesir yang baru Dr. Hafiz Afifi Pasya, supaya jangan 'keseleo’ lagi
seperti yang digantikannya itu, bahkan menuntut supaya DK-PBB
itu membicarakan lagi soal Indonesia dalam sidangnya itu.
Pada kesempatan sidang Liga Arab ini, Front pembebasan
Afrika Utara mengadakan jamuan makan malam guna menghor¬
mati delegasi-delegasi Arab itu dan juga membentangkan soal
daerah mereka masing-masing yang masih dijajah Perancis. Saya
yang diminta juga berbicara, mengambil kesempatan ini untuk
membentangkan soal Indonesia, dengan menitik beratkan pada
kesatuan perjoangan Timur melawan penjajahan. Seperti disiarkan
oleh harian ”A1—Ikhwanul Muslimin” 5/4/46, antara lain saya
katakan :
”.Saudara-saudara kami dari Afrika Utara telah men¬
ceritakan kesengsaraan rakyat Arab di Afrika Utara di bawah
penjajahan Perancis. Kiranya saya tidak perlu lagi menggambar¬
kan kepada t.t. kesengsaraan yang diderita bangsa Indonesia di
bawah penjajahan Belanda. Kalau rakyat Indonesia sekarang
dengan sukarela mempertaruhkan jiwa-raganya guna menentang
pengembalian penjajahan Belanda ke bumi Indonesia, adalah
karena kekejaman dan kezaliman yang telah dialami mereka dari
penjajahan Belanda itu.
"Yang ingin saya tegaskan ialah bahwa bangsa Indonesia
sementara menderita kekejaman dan kezaliman itu, tidak pernah
melupakan saudara-saudara mereka se-Agama dan se-Timur yang
sama-sama menderita itu. Mereka turut mengeluh oleh kesengsa-
166
raan yang diderita saudara-saudaranya itu dan juga turut ber¬
gembira bila mereka menikmati kebahagiaan.
” Tidak ada bukti yang lebih mengesankan dari pada simpati
mereka yang sangat terhadap pemberontakan Emir Abdul-
karim di Marokko (1925), protes mereka yang keras sekali terha¬
dap ’Nasranisasi Berber’ (al-Tansirul Barbari) oleh Perancis di
Afrika Utara (1930) dan pemboikotan mereka terhadap barang-
barang Itali, ketika penguasa-penguasa Itali di Libia menggantung
pimpinan Libia Omar Mukhtar (1931). Dapatlah tuan-tuan kira-
kirakan kemarahan Kaum Muslimin kepada Itali, dengan demon¬
strasi-demonstrasi pembakaran tarbusy - yang tadinya dihormati
sebagai pakaian orang Islam - pembuangan mobil Fiat kesungai
Musi dan sebagainya, karena semuanya itu buatan Itali.”
"Apabila kesengsaraan bersama telah mengikat persatuan
kita, maka cita-cita hidup mulia dan terhormat, hidup bebas dan
merdeka, telah menjadikan persatuan kita itu lebih erat dan kuat.
Dari sehari kesehari kepercayaan kita bertambah kuat bahwa
kemenangan suatu peijoangan di mana saja di Timur ini adalah
kemenangan bagi peijoangan Timur seluruhnya. Maka tidak ragu
lagi bahwa menangnya perjoangan 70 juta rakyat Indonesia
mengikis penjajahan Belanda adalah pula kemenangan rakyat
Islam dan Timur seluruhnya pula
”Kita berkumpul malam ini untuk menghormati Delegasi-
Delegasi Negara-Negara Arab di Liga Arab. -Sesungguhnya kita
tidak sabar lagi menanti-nanti suatu hari di mana kita tidak saja
berkumpul untuk memuliakan delegasi-delegasi Arab diLiga Arab,
tetapi untuk memuliakan delegasi-delegasi Islam di Liga Musli¬
min. Indonesia Muslim yang merdeka sudah tentu akan merupakan
suatu kekuatan yang akan giat dalam Liga Muslimin yang di¬
nanti-nanti itu”
Suatu langkah yang menggembirakan lagi dari pihak Liga
Arab bahwa pada sidangnya tanggal 8/4/1946 dengan suara bulat
memutuskan dengan resmi buat pertama kali sebagai berikut :
167
Majlis Liga Arab pada sidangnya hari Senen tanggal 8 April
1946 telah memutuskan menyatakan simpatinya terhadap per-
io angan rakyat Indonesia dan sokongannya pada tuntutan-tuntu¬
tan nasionalnya. Mejlis telah menugaskan kepada Sekretaris
Jendralnya supaya menyampaikan' putusan tersebut kepada
Pemerintah Indonesia.
Selain surat terima kasify resmi oleh Panitia Pusat, pada satu
resepsi dua hari kemudian yang dihadiri juga oleh para delegasi
negara-negara Arab itu, saya berkesempatan lagi ikut berbicara.
Setelah mengumandangkan lagi kesatuan peijoangan Timur yang
dilahirkan oleh persamaan penderitaan, dengan mengutip kata-
kata Sukamo dalam pesannya kepada rakyat Indip dengan judul
’Timur Dalam Revolusi’ dan juga pernyataan Jauharlal Nehru,
serta pesan Menteri Agama R.I. kepada Sekjen Liga Arab dan
kemudian berterima kasih atas putusan di atas itu, pada akhir¬
nya saya katakan : ” Sesungguhnya keputusan itu sangat ber¬
bekas dalam hati kami, dan bekasnya itu tambah terasa menda¬
lam sementara berkeyakinan bahwa putusan ini tidak lain me¬
lainkan satu langkah lagi kepada suatu keputusan lainnya, yaitu
putusan mengakui kemerdekaan Indonesia ..
Sebelum ulang tahun pertama Proklamasi, Liga Arab ber¬
sidang lagi membicarakan soal Palestina. Sebagaimana biasa,
setiap kesempatan tidak pernah dilewatkan. Pada kesempatan
ini Panitia Pusat pada 12 Agustus 1946 dengan surat no. 135/A/46
mendesak lagi supaya negara-negara Liga Arab mengakui R.I.
Setelah mengingatkan langkah yang telah diambilnya dengan
keputusan di atas itu, dikatakan Tidak syak lagi bah¬
wa pengakuan ini akan merupakan sebaik-baiknya ’ Ucapan
Selamat ’ yang akan dikirimkan negara-negara Arab kepada bang¬
sa Indonesia, sementara mereka merayakan satu tahun penuh
kebebasan mereka dari perbudakan penjajahan . 1. . ”
Kegelisahan Belanda menghadapi pendirian liga Arab
Pendirian Liga Arab yang semakin kentara memihak R.I.,
telah menggelisahkan Belanda. Untuk membendung simpati Arab
itu, Belanda menempatkan seorang Arab-Indonesia bernama
Salim Alatas sebagai atase pada Kedutaannya di Kairo dan ber¬
maksud hendak mengirim missi-missi politik dan haji kenegara-
negara Arab. Kedua hal ini kami ketahui dari sumber Liga Arab
sendiri.
Persona non-grata
Pada suatu hari kami menerima telepon dari Liga Arab
mengatakan bahwa seorang yang mengaku ’Indonesia’ telah
datang ke Sekretariat Jenderal Liga tersebut. Tetapi dari pembi-
caraan-pembicaraannya - katanya - mencurigakan. Karena kepada
petugas-petugas Liga itu ia mencela Indonesia sebagai anti-Arab
dan anti-Islam. Ketika kami tanyakan namanya, dijawab : ’Sa-
lim Alatas.’ Kami membenarkan kecurigaannya itu dan lang¬
sung mengatakan bahwa ia itu tidak ragu lagi adalah agen Belanda.
Kemudian kami menghubungi Sekjen Liga Arab, Azzam Pasya
dan meminta supaya ia itu di keluarkan saja dari Mesir. Panitia
sementara itu, menyuruh warga Arab-Indonesia di Mesir menelan¬
janginya sebagai pengkhianat yang harus dijauhkan dari Mesir
dan negara-negara Arab lainnya. Kelihatannya Azzam Pasya
telah berhubungan dengan Kementerian Luar Negeri Mesir, karena
tidak beberapa lama kemudian, ia itu (Salim Alatas) telah diusir
dari Mesir, sebagai seorang yang tidak diingini (persona non-grata).
Haji Nica Tidak Syah
Untuk menghadapi kedatangan haji Nica ke Timur Tengah itu,
pertama Panitia Pusat berhasil mendapatkan fatwa dari Dewan
Fatwa di Al-Azhar. Pada 3/10/46 Panitia mengirimkan surat
pertanyaan kepada Dewan tersebut. Sebelum mengirimkan per¬
tanyaan itu, kami telah menghubungi terlebih dahulu (alm)
Syeikh Mahmud Syaltut (Rektor Al-Azhar), seorang anggota De¬
wan itu yang sangat simpati kepada Indonesia, guna mengatur
pertanyaan itu supaya mendapat jawaban yang padat dan tegas.
169
Setelah menceritakan bahwa satu negara kafir yang memerangi
negeri Islam membujuk penduduknya Kaum Muslimin supaya
naik haji, supaya dengan demikian Dunia Islam akan mengira Um-
mat Islam di negeri itu setia kepada negara kafir itu, Panitia
memajukan pertanyaan sebagai berikut :
”Apakah hukumnya orang Islam yang mengikut propaganda-
propaganda qrang kafir yang memerangi negerinya, dan pergi naik
haji ke Mekkah menumpang' kapal-kapal orang kafir itu dan me¬
ninggalkan perang fi sabilillah yang sedang berkecamuk di negeri¬
nya untuk menentang orang kafir itu; padahal menumpang kapal
musuh dan berpihak kepada orang kafir itu mendatangkan benca¬
na besar kepada negerinya dan berkhianat kepada bangsanya
Kaum Muslimin yang memerangi musuh yang kafir itu ? Sementa¬
ra menaiki kapal-kapal musuh itu,diwajibkan kepadanya mempu¬
nyai paspor yang mengandung pengakuan bahwa ia adalah rakyat
negara kafir itu ?”
Pada 16/10/46 dan bertepatan dengan 24 Zulkaidah 1365,
Panitia telah menerima jawaban pertanyaan itu yang ditanda¬
tangani oleh Ketua Dewan Fatwa itu Abdilmajid Salim bekas
Mufti Mesir.
Fatwa yang panjang lebar cukup dengan alasan-alasan Al-
Qur’an dan Hadits itu dengan tegas dan jelas mengatakan :
1 — ”Jika. diketahui bahwa kepergian segolongan Kaum Musli¬
min naik haji dengan nafkah musuh mereka dan dengan
kapal-kapal yang disediakan oleh musuh-musuh itu akan
dapat dipergunakan oleh musuh itu untuk menimbulkan
fitnah dan perpecahan dibarisan Ummat Islam, serta akan
melemahkan kekuatan mereka, kepergian naik haji seperti itu
haram hukumnya. Naik haji cara demikian tidak saja karena
kerusakan lebih besar dari faedahnya, malah juga berarti
tunduk kepada musuh Allah, atau melahirkan tanda-tanda
tunduk kepada mereka, tanpa faedah yang diharap atau ke¬
rusakan yang dielakkan.”
170
2 — ”Kemudian, menerima uang untuk naik haji dari musuh yang
bermaksud dengan pemberiannya itu memecah persatuan
Kaum Muslimin dan merusak kehidupan, mereka, adalah
dosa yang berat hukumnya dan kesalahan yang sa¬
ngat besar. Maka naik haji dengan uang itu lebih be¬
sar dosa dan kejahatannya dari pada naik haji
dengan harta suapan, curian dan rampasan. Tidak syak lagi
bahwa naik haji dengan uang serupa ini tidak diteri¬
ma Allah sama sekali.”
3 — ”Barang siapa yang mengetahui hukum Agama dalam soal
ini, tetapi masih juga menghalalkannya dan pergi juga naik
haji, orang itu keluar dari Agama Islam.”
Demikian inti fatwa yang berwibawa itu, dan telah disiarkan
oleh majallah Al-Azhar pada bulan Muharram 1366. Fatwa ini se¬
sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan distensil,
dikirimkan bersama 500 buah buku "Indonesia Assairah” ke
Mekkah dengan bantuan seorang haji Mesir.
Saudi Arabia Diprotes
Melihat fatwa yang demikian tegas dan keras, Belanda keliha¬
tannya merasa sia-sia untuk mengirim juga tahun haji 1946 itu
missi haji Nica itu dan demikian juga missi diplomatiknya. Apalagi
baik ketua missi haji atau missi diplomatik Nica itu adalah orang-
orang keturunan Arab, yaitu Ahmad Bahamid dari Indonesia
Timur dan sultan Hamid Alkadri dari Pontianak. Maka dengan
penelanjangan dari warga Arab-Indonesia di Timur-Tengah, nama
mereka sudah sebusuk-busuknya dikalangan Liga Arab dan Negara-
Negara Arab anggotanya. Selain itu pihak-pihak resmi ini semua¬
nya telah dikirimi nota supaya jangan memberi izin masuk kepada
mereka. Missi-missi Nica itu baru masuk Saudi Arabia, satu-satu¬
nya negara Arab yang mengizinkan masuk—pada tahun berikutnya,
sesudah negara-negara Arab itu mengakui de facto dan de jure
kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia. Panitia cabang Saudi
171
Arabia telah memprotes pemberian izin masuk missi-missi Nica
itu dan demikian pula Panitia Pusat melalui Sekretariat Liga Arab.
Protesan-protesan itu dijawab bahwa izin masuk itu diberikan
hanya untuk mengerjakan haji. Apabila mereka melakukan kegiat¬
an politik, Pemerintah Saudi Arabia berjanji akan mengusir mere¬
ka dari Tanah Suci itu.
Panitia-panitia di Timur Tengah sangat berterima kasih kepa¬
da Liga Arab. Karena sebagai pelaksanaan pengakuan de facto
Panitia-panitia itu sebagai Perwakilan-perwakilan R.I., segala
sesuatu yang menyangkut Indonesia selalu disampaikannya kepada
kami. Maka dengan demikian kami dapat menghadapinya pada
waktu yang tepat dan menghasilkan.
Fatwa yang dicetak baik baru disebarkan dengan luas di-
kalangan haji pada musim haji 1947, — sesudah Negara-Negara
Arab mengakui de facto dan de jure R.I. — ketika missi haji Nica
itu dan missi diplomatiknya sampai juga ke Mekkah. Pengiriman
niissi-missi itu sebenarnya satu kegagalan besar bagi Kedaulatan
Belanda di Jeddah yang tidak dapat sama sekali memanfaatkan¬
nya. Ketika Raja Ibnu Saud menerima tamu-tamu besar jemaah
haji, Kedutaan itu mencoba juga memasukkan ’orang-orang’-
nya, tetapi oleh protokol didudukkan saja di baris belakang
sedang Haji Rasyidi, (Prof. Dr.) Wakil R.I. yang sudah berada di -
sana, duduk di dekat Baginda Raja dan beramah-tamah dengan
beliau.
Bagi jemaah haji Indonesia yang tertipu oleh Bahamid D
dan kawan-kawannya yang semuanya Arab-Indonesia itu, fatwa
yang keluar dari Al-Azhar itu adalah laksana petir yang meledak
di ubun-ubun mereka. Betapa tidak. Seorang Muslim Indonesia
yang terkenal taat beragama dan bersedia menderita segala kesuli-
1) Berkat kartu satu partai politik islam, Ahmad Bahhmid mendapat balas jasa
yang'sebaik-baiknya oleh Soekarno, dengan mengangkatnya jadi Kepala Negara
R.I. yang pernah di khianatinya.
172
tan untuk mencapai yang menjadi cita-citanya semenjak menge¬
nal Tuhan, yaitu mengeijakan rukun Islam kelima ke — Mekkah,
sesampai di Tanah Suci impian itu, tiba-tiba satu fatwa yang ter¬
bit dari pihak yang dianggapnya berwibawa dalam soal-soal Islam,
yaitu Ulama-Ulama Al-Azhar di Mesir,mengatakan bahwa hajinya
tidak saja tidak syah, tetapi juga haram. Bahkan ke Islamannya
tidak diakui lagi, jika ia mengetahui dari semula bahwa naik haji
menurut caranya itu adalah haram, tetapi dikerjakannya juga.
Akibatnya, ratusan para haji yang tertipu itu berbondong-bondong
kekantor Panitia di Mekkah untuk menyampaikan penyesalan
dan bertaubat serta bersumpah akan menggabuhgkan diri kepada
kaum republikein sekembali nanti ke-Indonesia. Kepada mereka
oleh Panitia dibagi-bagikan buku penuntun haji yang disusun
dan dicetak di Kairo yang dihiasi dengan gambar-gambar dan
penerangan-penerangan ringkas mengenai kemajuan-kemajuan
yang telah diperoleh Indonesia semenjak merdeka. Juga kepada
masing-masing diberikan gambar berwarna di atas kertas mengki¬
lat dari Presiden Sukamo yang dibubuhi tandatangan beliau
serta kata-kata ’Sekali Merdeka Tetap Merdeka’ dengan perjanjian
bahwa gambar itu akan digantungkan di rumah mereka masing-
masing sekembali ke Indonesia.
Penyebaran fatwa itu telah membawa akibat. Satunya jalan
bagi Kedutaan Belanda di Jeddah ialah memfitnah bahwa Panitia
di Mekkah anti-haji, suatu tuduhan yang sangat berbahaya di Saudi
Arabia waktu itu, karena negara ini belum lagi mempunyai sumber
hidup selain haji dan minyak belum lagi diketemukan. Jaafar
Zainuddin, Ketua Panitia, ditangkap dan ditahan dalam bui Saudi
Arabia yang terkenal itu beberapa hari serta dipukuli dengan
rotan supaya mengaku. Ia diselamatkan oleh warga-warga Saudi
Arabia berasal Indonesia yang berkedudukan tinggi dan juga
oleh orang-orang Saudi Arabia yang simpatisan, yang telah mena¬
han tuduhan itu supaya tidak sampai kepada Raja, dan menasehat-
kan kepada Panitia supaya - kalau masih ada - jangan menebar¬
kan lagi fatwa-fatwa itu. Kejadian ini juga telah diprotes oleh Pa¬
nitia Pusat melalui Sekretariat Jenderal Liga Arab.
173
174
Misi Haji Revolusi R.I. pertama ke Saudi Arabia, ketika sampai di lapangan
terbang Kairo kelihatan K.H. Adnan (Ketua, bermantel), di kanannya H.M.
Saleh Suaidi (anggota), A. Hasyim Amak (Sekretaris Panitia Pusat) dan di kiri¬
nya, Ismail Banda, Haji Sjamsir (anggota), M. Zein Hassan, (Penulis) dan H.
Mastur J ah r i, anggota Panitia.
Misi Haji Revolusi R.I. kedua, duduk dari kiri: H. Abdulkahar Muzakkhir,
H.M. Rasjidi (kuai Delegasi R I.) Haji Abdulhamid (Ketua), H. Awad Syah-
bal, H. Syamsir dan berdiri ked ua dari kiri A. Hasyimi (anggota).
175
Pengakuan de jure R.I. Masuk Acara Liga Arab
Pada 31 Oktober 1946, Sekretaris Jenderal Liga Arab,
A.R. Azzam Pasya, memajukan satu nota kepada Dewan Menteri
Luar Negeri Liga tersebut supaya pada sidangnya bulan Nopember
berikutnya ’Soal pengakuan negara Arab terhadap R.I. sebagai
negara merdeka dan berdaulat penuh, dimasukkan dalam acara
Kemungkinan sekali Belanda dan Sekutu-Sekutunya telah
mengetahui sebelumnya maksud Sekjen Liga Arab itu,, karena
maklumlah agen-agen Inggris berkeliyaran. di Timur Tengah.
Maka rencana pengiriman missi-missiyang dapat digagalkan itu dan
'atase' -nya yang telah diusir, adalah dalam rangka usaha Belanda
menggagalkan maksud Sekjen itu. Setelah usaha langsung di Timur
Tengah itu menderita kegagalan, Belanda mengerahkan kantor-
kantor berita Barat di - 'Batavia’ untuk menghujani Timur Tengah
dengan berita-berita bohong mengenai 'perundingan’ Indonesia
Belanda, dengan maksud memberikan gambar yang salah tentang
kemerdekaan dan kedaulatan yang akan dibicarakan Liga Arab itu.
Kegembiraan' Panitia-Panitia Timur Tengah yang telah beijo-
ang terus-menerus mendesak supaya negara-negara Arab dan Islam
mengakui kemerdekaan dan kedaulatan R.I., hendak dikacaukan
oleh berita-berita ’Batavia’ mengenai 'perundingan Indonesia - Be¬
landa yang berhasil’ yang ditekankan pada 'persetujuan Pemerin¬
tah Indonesia meletakkan Republik Indonesia di bawah Mahkota
Ratu Belanda.’ Berita-berita itu sudah tentu dengan maksud
mempengaruhi delegasi-delegasi Arab yang akan memperbincang¬
kan usul Sekjen Liga Arab itu, dengan menanam keragu-raguan
tentang kemerdekaan dan kedaulatan R.I. Hal ini memerlukan
lagi kerja keras oleh Panitia-panitia di seluruh dunia Arab, guna
mematahkan propaganda berita-berita terarah itu. Alhamdulil¬
lah, dalam saat yang menggelisahkan itu, kami menangkap Seruan
yang disiarkan Radio R.I. dari Yogya, yang dihadapkan kepada
negara-negara Liga Arab. Seruan itu mengharap supaya negara-
negara Arab mengakui kemerdekaan Indonesia dan menegaskan
176
bahwa R.I. berpegang teguh dengan kemerdekaan dan kedaulatan¬
nya yang jsenuh atas seluruh wilayahnya. Dengan seruan itu Pani¬
tia-panitia Timur Tengah mendapat senjata yang tajam sekali un¬
tuk m ematahkan usaha-usaha Belanda itu. Pada saat itu juga Pani¬
tia Pusat mengumumkan Pernyataan yang dikirimkan kepada hari¬
an-harian Timur Tengah, sebagai berikut :
”Baru saja kalangan kolonial mengetahui bahwa soal penga¬
kuan terhadap R.I sebagai negara merdeka dan berdaulat penuh
akan menjadi acara Sidang Dewan Liga Arab yang akan datang,
dengan segera mereka memerintahkan kepada kantor-kantor
berita yang mereka kuasai supaya menyiarkan berita-berita yang
menggambarkan seolah-olah Pemerintah Indonesia telah menerima
syarat-syarat Pemerintah Belanda yang merombak sama sekali
kemerdekaan Indonesia. Semuanya itu dengan maksud mengham¬
bat-hambat langkah Dewan Liga Arab dalam sidang-sidangnya
yang akan datang itu kearah pengakuan atas kemerdekaan Indo¬
nesia.”
”Tidak ada jawaban yang lebih tegas terhadap maneuvre
kolonial, seperti disiarkan pleh kantor-kantor berita itu, dari pada
seruan yang disiarkan Radio R.I. dalam siaran bahasa Arab
kemarin, yang dihadapkan kepada negara-negara Liga Arab, su¬
paya mereka mengakui kemerdekaan Indonesia, serta penegasan
bahwa Indonesia berpegang teguh pada kemerdekaannya yang pe¬
nuh. Seruan R.I. itu juga berterima-kasih kepada Sekjen Liga Arab,
berkenaan dengan pencantuman pengakuan ke'merdekaan Indone¬
sia dalam acara Sidang Dewannya sekarang. Seruan tersebut di¬
akhiri dengan mengatakan : Bilamana negara-negara Arab dan
Islam tidak juga mengakui kemerdekaan Indonesia, negara-negara
manakah lagi yang akan mengakuinya, karena merekalah seharus¬
nya yang tercepat menyatakan pengakuan itu.”
Dalam usaha menghilangkan kesamkesan buruk atau negatif
dari berita-berita ’Batavia’ itu, semua Panitia di Timur Tengah
melipat gandakan penerangan masing-masing, dengan mengikut¬
sertakan parpol-parpol dan ormas-ormas supaya jangan terpenga-
177
ruh oleh berita-berita terarah itu, dan mendesak negara mereka
masing-masing supaya segera mengakui kemerdekaan dan kedau¬
latan R.I. Kepada para anggota Panitia Pembela Indonesia, teruta¬
ma yang selalu giat, seperti Jenderal Saleh Harb Pasya, Dr. Sala-
huddin Pasya, Muhammad Ali Taher, dan juga Mufti Besar Pales¬
tina, supaya mempergunakan kedudukan mereka dikalangan resmi
Arab guna memperingatkan ,negara-negara Arab supaya jangan
terpengaruh oleh berita-berita bohong Belanda itu dan segera
mengakui R.I, Malah juga mendesakkan bahwa saat-saat perang
diplomatik antara Indonesia dan Belanda inilah yang lebih tepat
untuk mengumumkan pengakuan itu, guna memperkuat kedudu¬
kan R.I. diarena internasional. Semua nama-nama yang saya can¬
tumkan di atas itu benar-benar giat menghubungi pejabat-pejabat
Kementerian Luar Negeri Mesir, Sekretariat Liga Arab, Ketua-
Ketua Delegasi Arab yang berdatangan, guna memberikan penjela¬
san tentang situasi politik, militer dan ekonomi Indonesia semen¬
jak Proklamasi sebagaimana telah kami bentangkan kepada mereka
— , sebagai bukti bahwa R.I. benar-benar memegang ae facto
kekuasaan dan bagaimana besar arti pengakuan de jure yang di¬
perlukan Pemerintah Indonesia dalam taraf peijoangannya seka¬
rang menghadapi Belanda dilapangan diplomasi.
Mepjelang Sidang Liga Arab itu membicarakan soal Indone¬
sia, penerangan kami tingkatkan dari sehari kesehari. Sesudah
memorandum yang kami berikan kepada pembesar-pembesar di
atas, dengan surat pengantar tanggal 7/11/46 No. 133/A/46 kami
kirimkan pula memorandum-memorandum lainnya, termasuk
kepada Mufti' Besar Palestina yang waktu itu namanya disegani
oleh karena keberaniannya dan kemahirannya meloloskan diri
dari perangkap Sekutu, baik pada permulaan perang ketika ia
lari ke Jerman, atau sesudah perang, ketika ia meloloskan diri lagi
dari jaringan Sekutu di-Eropa dan dapat kembali ke bawah
perlindungan Raja Faruk.
"Dalam surat kepada beliau dikatakan antara lain :
”Pada 18 b.l. Dewan Liga Arab memutuskan akan mem-
178
bicarakan soal pengakuan negara-negara Arab terhadap Indo¬
nesia. Maka harapan kami, setelah mengetahui perhatian Y.M.
yang sungguh-sungguh terhadap soal Indonesia, agar YM memper¬
gunakan pengaruh YM dipihak Raja-Raja, Kepala-Kepala Negara
dan Kepala-Kepala Pemerintahannya, dan dipihak Liga Arab sendi¬
ri, supaya negara-negara Arab segera mengakui R.I. Karena kami
berkeyakinan bahwa Inggris akan mempergunakan segala macam
tekanan supaya Dewan Liga itu jangan memutuskan pengakuan
itu.”
Memorandum kepada para Ketua delegasi-delegasi Arab di¬
serahkan dengan surat tanggal 11/11/46 No.l47/A/46. Dalam
memorandum itu antara lain dikatakan :
'’Sebenarnya pengakuan kemerdekaan Indonesia bukan saja
suatu keharusan, tetapi pula suatu hal yang tidak dapat dielakkan
oleh negara-negara Timur umumnya dan negara-negara Arab
khususnya. Hal ini bukan saja karena hubungan-hubungan rohani,
duniawi dan persamaan cita-cita dan perjoangan, lebih dari itu di¬
sebabkan kenyataan-kenyataan hidup yang terdapat di-Indonesia
sendiri sekarang.” Setelah membentangkan perkembangan semen¬
jak Proklamasi dalam segala bidang, dikatakan :
”Demikianlah kenyataan-kenyataan politik, militer dan eko¬
nomi yang hidup sekarang di-Indonesia. Kami sebutkan semuanya
itu supaya YM mendapat ketegasan bahwa Indonesia benar-benar
telah memegang de facto kedaulatan atas dirinya dan bahwa mu¬
suh-musuhnya, meskipun demikian kuat, telah mengakui de facto
itu.”
”Maka pengakuan de jure kedaulatan itu, tidak saja, seperti
kami katakan di atas, suatu keharusan, tetapi pula suatu hal yang
tidak dapat dielakkan oleh negara-negara Timur umumnya dan
negara-negara Arab khususnya, yang mempunyai aspirasi dan cita-
cita yang sama dengan Indonesia dan sama-sama berjoang guna ter¬
capainya.”
”Baik juga kami sebutkan di sini bahwa lebih dari 50.000
179
Arab - Indonesia ikut berkorban dengan harta darah dan nyawa
mereka dalam membela wujud Indonesia dalam mempertahankan
kemerdekaannya. Mereka mempunyai hak dan kewajiban-kewaji¬
ban yang sama dengan rakyat Indonesia lainnya dan benar-benar
telah ikut menjalankan pemerintahan.”
”Maka tidak ada suatu kekurangan lagi bagi kemerdekaan
Indonesia selama pengakuan negara-negara di dunia terhadap
kemerdekaan itu ....
Memorandum kepada partai-partai politik dan organisasi
massa disampaikan pada 13/11/46 no. 188/A/46, sedang kepada
pemimpin-pemimpin harian-harian dan majallah-majallah pada
14/11/46 No. 189/A/46. Isinya pada umumnya adalah sama de¬
ngan memorandum-memorandum sebelumnya, tetapi redaksinya
lebih ditekankan kepada sentimen persatuan perjoangan dan ikatan
ikatan rohani, serta lebih banyak memberi mereka bahan-bahan
yang menggambarkan de facto kekuasaan yang telah diwujudkan
peijoangan bangsa Indonesia, sehingga mereka lebih gigih mendo¬
rong negara-negara mereka supaya mengakui de jure kemerdekaan
itu.
Kepada pembesar-pembesar, seperti Saleh Harb Pasya dan Dr.
Salahuddin Pasya dan lain-lainnya itu dengan surat tanggal 15/11/
46 No. 195/A/46, kami dorong lagi supaya mereka menemui
Para Ketua Delegasi dan Sekjen Liga Arab dekat sebelum Liga
Arab bersidang. Masih hidup dalam ingatan saya ketika bertemu
dengan Jenderal Saleh Pasya diberanda gedung Liga Arab, pada
tanggal 18/11/46, - hari soal Indonesia akan dibicarakan-ketika
beliau akan keluar, sedang kami masuk, dengan senyum beliau
mengatakan : ”Ini kali ketiga saya menemui Azzam Pasya dalam
waktu seminggu ini, dan mudah-mudahan kali ini yang penghabi¬
san, dengan berhasilnya usaha kita bersama.” Kamipun mengha¬
rapkan yang sama, karena kedatangan kami itupun hanya beberapa
jam sebelum Liga Arab bersidang pada sorenya. Dengan surat ta¬
nggal 17/11/46 kami masih memajukan memorandum baru kepa¬
da Sekjen Liga Arab itu.
Sekalipun segala pihak telah kami hubungi, tetapi kami me¬
rasa perlu pengiriman surat lagi kepada para kepala negara-negara
Arab itu, pada tanggal 16/11/46 No. 215/A/46, dengan melampir¬
kan memorandum serupa dengan yang telah diserahkan kepada
para ketua delegasi, beserta buku "Indonesia as-Sairah” yang di¬
terbitkan oleh Panitia Pusat itu. Dalam surat yang kami tujukan
kepada Presiden Suria, umpamanya, antara lain kami katakan :
”.Suatu kebetulan yang baik, ketika Dewan Liga Arab
memutuskan akan membicarakan soal pengakuan negara-negara
Arab terhadap Republik Indonesia, Radio R.I. di Yogyakarta
menyiarkan Seruan Pemerintah R.I. kepada para Raja dan Presi¬
den negara-negara Arab dan Islam supaya negara-negara mereka
mengakui kemerdekaan Indonesia, yang dengan pengorbanan da¬
rah dan jiwa rakyatnya telah dapat menciptakan de facto kekuasa¬
an atas dirinya. Maka dengan demikian tidak ada kekurangannya
lagi selain pengakuan de jurenya. Dan memenuhi kekurangan ini
adalah dengan pengakuan negara-negara yang sudah merdeka
atas kemerdekaan Indonesia itu.”
”Maka ketika kami menyampaikan Seruan itu kepada YM,
kami ikut mengharapkan supaya YM memenuhi Seruan tersebut,
yaitu dengan pengakuan Pemerintah Negara YM terhadap kemer¬
dekaan Indonesia
Semakin hari semakin dekat sidang pembicaraan pengakuan
itu, semakin cepat denyut jantung kami. Harap akan mendapat,
cemas akan kehilangan. Demikian situasi jiwa kami. Semua Panitia
di Timur Tengah bergembira bahwa diplomasi revolusinya sudah
dekat akan menghasilkan buahnya. Tetapi juga khawatir kalau-
kalau propaganda Belanda dan Sekutu-Sekutunya yang semakin
gencar itu pula mempengaruhi delegasi Arab yang akan bersidang
itu. Meskipun segala usaha telah dikeijakan oleh semua Panitia
itu, masih dikhawatirkan pengaruh Inggris yang masih berlaku,
termasuk di Mesir yang masih diduduki itu.
Dekat sebelum saat zero, kami seperti saya katakan di atas
mendatangi lagi Sekjen Liga Arab itu, dengan sebuah memorandum
181
bertanggal 17/11/46. Sebab disaat terakhir itu, Belanda dan Seku¬
tu-Sekutunya memperbanyak lagi berita ’di bawah kedaulatan
Persatuan Belanda — Indonesia yang dikepalai Ratu Belanda’ yang
meragu-ragukan itu. Usaha kami terakhir ialah menghilangkan
keragu-raguan yang mungkin timbul dari berita-berita itu. Kami
sangat optimis, melihat sikap persaudaraan dan keijasama Azzam
Pasya yang tidak pernah memperlihatkan kejemuannya kepada ka¬
mi yapg tiap sebentar minta'bertemu itu. Tepat apa yang dilukis¬
kannya dalam kata-kata pengantar hadiahnya kepada saya, yaitu
buku ” Ar-Risalatul Khalidati” (Risalah Abadi) karangan beliau
sendiri yang terbit tahun 1946, yan^ berbunyi : ”Untuk saudara
Ustaz Muhammad Zein Hassan; pengingat persahabatan dan ker-
jasama kita.” Pada penutup memorandum itu kami katakan se¬
bagai berikut:
” Semua harapan kami ialah supaya Dewan Liga Arab menye¬
tujui usul YM itu. Janganlah hendaknya berita-berita yang disiar¬
kan kantor-kantor berita kolonial pada akhir-akhir ini, yang
sama sekali tidak bersumber pada pihak-pihak resmi itu, menge¬
nai perundingan-perundingan Indonesia-Belanda, akan melambat¬
kan persetujuan itu. Berita-berita itu adalah terarah guna mengha¬
langi pengakuan negara-negara Liga Arab.”
"Sesungguhnya Seruan yang disiarkan RRI yang ditujukan
kepada negara-negara Arab kemarin itu, dan ucapan terima kasih
yang dihadapkan kepada YM, serta kalimat penutupnya yang ber¬
bunyi: Jika bukan negara-negara Arab dan Islam yang mengakui
Republik Indonesia, siapakah lagi gerangan yang akan mengakui¬
nya ? "Semuanya itu menegaskan lagi bahwa Indonesia tidak
akan menerima selain pengakuan terhadap kemerdekaan dan ke¬
daulatannya yang penuh ” Sesudah membaca memorandum ter¬
akhir itu, beliau dengan penuh persaudaraan berkata kepada kami:
”Pandanglah saya ini sebagai wakil saudara-saudara sendiri dalam
sidang-sidang itu.” Suatu pernyataan yang meredakan hati
Senja hari 18 Nopember 1946, sesudah sidang pertama De¬
wan Liga Arab pada sorenya membicarakan soal pengakuan itu,
182
Sekjen Liga Arab itu memanggil kami. Dengan hati harap-harap
cemas, kami menemuinya. Beliau menceritakan bahwa dari pembi¬
caraan Menteri-menteri Luar Negeri Arab yang sudah berbicara,
kelihatan kecenderungan untuk mengakui R.I. hanya setelah
negafca ini memenuhi syarat-syarat wujud internasionalnya. Sung-
guhpan demikian, ditambahkannya, beliau akan terus mempeijo-
angkannya. Berita ini sungguh-sungguh laksana petir meledak di
pundak kami. Kekhawatiran kami sudah menjadi kenyataan.
Terlebih lagi setelah beliau menceritakan bahwa Menteri Luar
Negeri Mesir sendiri, Dr. Muhammad Hussein Haikal Pasya, ter¬
masuk mereka yang meragukan wujud internasional R.I. itu.
Dapat digambarkan kekecewaan kami yang akhirnya menjadi
amarah itu, jika diketahui bahwa suara Mesir sangat menentukan
dan kami sangat menggantungkan harapan kepada pribadi Dr.
Haikal Pasya, mengingat beliau adalah seorang menteri yang ber¬
semangat Islam, seperti terbukti dari buku-bukunya yang ter¬
kenal itu, seperti ’Hayatu Muhammad,’ ’Fi-Manzilil wahyi’ dan
lain-lain. Dalam suasana kecewa yang memuncak dan membangkit¬
kan amarah itu, kami lupa akan sopan-santun diplomasi biasa.
Yang berbicara adalah emosi revolusioner pemuda. Dengan suara
tegas kami' tegaskan kepada beliau yang sebenarnya berdiri disisi
kita itu bahwa :
”Yang kami minta adalah bantuan dan sokongan. Kami
meminta supaya negara-negara Arab membantu Indonesia men¬
cukupkan syarat wujud internasionalnya yang belum cukup.
Yaitu pengakuan negara-negara yang sudah merdeka dan kemer¬
dekaan mereka telah diakui oleh badan internasional, seperti,
PBB. Dengan pengakuan itu, negara-negara Arab tersebut berarti
memperkokoh kedudukan Indonesia dan menyokongnya dalam
mempertahankan kemerdekaannya dilapangan internasional. Teta¬
pi jika negara-negara Arab baru akan mengakuinya setelah syarat-
syarat itu dicukupkannya, kami rasa pada saat itu Indonesia tidak
memerlukan bantuan dan sokongan negara-negara Arab lagi. Ban¬
tuan dan sokongan negara-negara Arab baru akan berharga dan
183
berarti jika diberikan pada saat diperlukan, bukan disaat kami ti¬
dak memerlukannya lagi.”
Azzam Pasya yang merasakan kekecewaan hati kami dan
memahami kesulitan yang dihadapi tanah-air kami, berusaha
menenangkan dengan menjanjikan akan mempertahankan lagi
usulnya itu dengan tema yang kami kemukakan itu, dalam sidang
yang akan dilanjutkan pada malam itu juga.
Pagi hari berikutnya, tanggal 19 Nopember 1946, dengan
huruf-huruf besar semua harian diseluruh ibukota Timur Tengah
menyiarkan keputusan Dewan Menteri Luar Negeri Liga Arab
yang mewasiatkan :
"mewasiatkan negara-negara Arab supaya
mengakui Republik Indonesia seba¬
gai negara y a.n g merdeka dan berdaula-
1 a t . ”
Usul Supaya Liga Arab menyampaikan putusannya ke Indonesia
Pada siang hari itu juga Pimpinan Panitia Pusat menemui
Abdulrahman Azzam Pasya guna menyampaikan surat terima-
kasih kami telah dianggap oleh mereka yang mewakili bangsa
Indonesia kepada Liga Arab dan kepada beliau sendiri yang ba¬
nyak memainkan peranan guna terciptanya keputusan itu. Beliau
menceritakan bahwa ia terpaksa berbicara dua jam lamanya guna
mengertikan para peserta, sesuai dengan tema yang kami sampai¬
kan kepadanya dengan penuh emosi itu.
Pada pertemuan itu kami memajukan pertanyaan dan usul.
Pertama, kami menanyakan kenapa dalam putusan itu dikatakan
’mewasiatkan’ dan tidak langsung mengatakan ’mengakui.’Beliau
menjawab bahwa Liga Arab sebagai organisasi regional, bukan
’super power,’ hanya berhak "mewasiatkan” dan tidak langsung
"mengakui.” Tetapi oleh karena yang mengambil putusan itu
184
adalah Dewan Menteri Luar Negerinya, keputusan itu dengan
sendirinya (implicitly) mengandung pengakuan negara-negara
Arab itu. Tinggal lagi penyempurnaan formalitasnya — jika diper¬
lukan —, seperti pengumuman negara-negara itu masing-masing.
Kedua, kami mengusulkan supaya suatu perutusan Liga Arab
menyampaikan sendiri dengan resmi keputusan itu kepada Peme¬
rintah Indonesia di Yogyakarta. Hal yang demikian tidak saja akan
lebih memperkuat kedudukan R.I. di dunia internasional, sebagai
negara yang diakui, tetapi juga akan lebih merangsang semangat
bangsa Indonesia untuk mempertanankan kemerdekaan dan ke¬
daulatan negaranya yang telah diakui luar negeri itu. Beliau
berjanji akan mempelajarinya. Dalam surat Panitia Pusat itu
antara lain dikatakan :
”Hari ini adalah permulaan zaman baru bagi hubungan-
hubungan persahabatan yang erat antara negara-negara Arab
dan Indonesia yang merdeka. Sesungguhnya Liga Arab telah
memahkotai perjoangan Indonesia dengan mahkota cahaya. Insya
Allah, Indonesia yang merdeka akan menjadi penggerak yang
kuat bagi kemajuan negara-negara Islam dan Timur dan pener-
jang perkasa bagi penjajahan yang masih berusaha bertahan di
wilayah ini ...
”Seluruh rakyat Indonesia akan menyambut dengan gembira
kedatangan perutusan Liga Arab nanti di Indonesia dan akan
menyambutnya dengan kebesaran yang sesuai dengan kedudukan
bangsa Arab yang mulia.”
Kata-kata terakhir ini sengaja kami cantumkan, supaya beliau
mengingat usul yang telah kami sampaikan dengan lisan itu.
Usul kami itu kelihatannya benar-benar mendapat perhatian
dari Sekjen Liga Arab itu. Karena dua hari kemudian diberitakan
bahwa Liga tersebut telah memutuskan akan mengirim satu
perutusan resmi ke Inaonesia guna "mempelajari dari dekat
situasi yang sebenarnya di Indonesia.” Perkataan terakhir ini
seolah-olah menggambaman keragu-raguan lagi. Hal ini mungkin
185
datang dari pihak Transyordania, yang masih sangat tergantung
kepada Inggris, atau dari tekanan negara-negara Sekutu yang
telah menghubungi negara-negara Arab sesudah keputusan itu.
Maka dengan surat tanggal 22/11/46 No. 232/A/46 Panitia
Pusat menghubungi semua Perdana Menteri Arab supaya segera
mengumumkan pengakuan mereka, sebagai penyempurnaan
formalitasnya. Ketika kami menjumpai lagi Sekjen Liga Arab
untuk mendesakkan hal di atas, beliau memperlihatkan surat
Liga tersebut kepada Bung Syahrir, Perdana Menteri R.I. ber¬
tanggal 4 Muharram 1366 dan bertepatan dengan 28 Nopember
1946 No. 3128 sebagai berikut :
”Yang Mulia,
Sutan Syahrir, Perdana Menteri Republik Indonesia.
”Dengan gembira saya menyampaikan kepada YM bahwa
dalam suasana gembira dan perasaan simpati yang meluap,Dewan
Liga Arab dalam sidangnya tanggal 18 Nopember 1947 telah
mengambil suatu putusan yang menentukan, yaitu supaya (tausi-
yah) negara-negara anggota Liga Arab mengakui Indonesia se¬
bagai negara yang merdeka dan berdaulat. Demikian, mengingat,
ikatan-ikatan persaudaraan hubungan-hubungan dekat antara ne¬
gara-negara Arab dan Indonesia.”
"Sementara saya merasa beruntung dapat menyampaikan
putusan ini kepada YM, saya berdoa kepada Tuhan semoga
Dia akan melindungi Indonesia dengan ’inayat-Nya, sehingga ia
mencapai apa yang kita ingini bersama, yaitu kedudukan tinggi
pada kemajuan Timur yang besar ini.”
"Kami mengharap supaya YM bermurah hati memberi kami
petunjuk cara bagaimana kami akan dapat menghubungi YM
dan tindakan praktis yang YM inginkan dari pihak kami, dalam
mewujudkan putusan tersebut.”
Lebih lanjut, dalam menenteramkan hati kami, beliau me-
nunjuk kepada alamat surat resmi itu yang telah terang-terang
mengakui YM Sutan Syahrir 'Perdana Menteri Republik Indo¬
nesia.’
Kelihatannya Belanda dan Sekutu-Sekutunya belum putus
asa sama sekali, sekurang-kurangnya dalam menghalangi keper-
gian perutusan Liga Arab ke Indonesia. Maka disewanyalah
seorang wartawan nasrani, Sami Hakim, untuk menulis dalam
majallah ”Akhbarul Y aum” dengan judul "Liga Arab dan Indo¬
nesia.” Ia menuduh Liga itu tergesa-gesa mengakui R.I. dan
menganggap putusannya itu suatu "skandal.” Karena mengetahui
benar watak wartawan itu dan juga mengetahui pendirian pe¬
mimpin majallah itu, Mustafa Amin, yang menyokong perjo-
angan Indonesia semenjak Proklamasi, kami lantas menjumpai
wartawan nasrani itu terlebih dahulu. Setelah berbicara, ia
menyatakan bersedia 'meralat' pandangannya itu, sekiranya kami
bersedia pula membayar 'jerih' nya. Maka benarlah yang kami
kirakan semula. Dan dengan pandangan sebelah mata yang mengu¬
tuk, saya katakan kepadanya bahwa kami tidak perlu membeli
seorang yang telah menjual dirinya. Saya berani mengatakan
demikian karena saya yakin ia tidak akan berani meneruskan
’missi’-nya itu di hadapan pendapat umum Arab yang menyokong
Indonesia. Itulah maka ia tidak menulis dalam harian nasraninya
”A1-Mukattam.” Kemudian kami hubungi Mustafa Amin yang
menyatakan penyesalannya, karena tidak membaca sendiri tulisan
itu sebelum menyiarkannya dalam majallahnya. Dan dengan
meminta maaf ia menyatakan bahwa halaman majallahnya ter¬
buka luas bagi penyanggahan tulisan beracun itu. Maka dengan
surat pengantar tanggal 11 Desember 1946 No.243/A/46 kami
serahkan tulisan yang berjudul "Sekitar Liga Arab dan Indonesia”
dan disiarkan pada No. 110 majalah tersebut. Setelah mene¬
rangkan dengan panjang kedudukan yang sebenarnya hubungan
Indonesia—Belanda berdalilkan Pernyataan Pemerintah R.I. tang¬
gal 18/11/46 dan tanggal 20/11/46 kami tutup tulisan itu dengan
mengatakan :
"Dengan demikian jelaslah bahwa penulis itulah yang ter-
' - 187
gesa-gesa memberi komentar, dan tidak jujur dalam mengemu¬
kakan bentuk hubungan Indonesia—Belanda, yang masing-masing
mempunyai kedaulatan sendiri-sendiri. Dengan demikian pula
tidaklah Liga Arab tergesa-gesa mengambil keputusan mengakui
itu, malahan cepatnya mengambil keputusan itu adalah tindakan
yang setepat-tepatnya.Maka bukanlah keputusan
itu suatu 'skandal’ — seperti dikirakan penulis itu — akan tetapi
adalah suatu keputusan yang bijaksana dan tepat, karena R.I.
benar-benar berdaulat dan mempunyai kekuasaan de facto atas
wilayahnya. Pemerintah Indonesia bukanlah seperti beberapa
pemerintah yang berkedudukan di London di waktu perang ke
dua, dan diakui oleh negara-negara Sekutu, tetapi sesudah perang
tidak diketahui lagi pusaranya, atau seperti pemerintah Republik
Spanyol yang tidak diketahui tempatnya, tetapi diakui oleh
sementara negara .. .”
Inggris menghalangi dan Sekjen Liga Arab nekat
Sekjen Liga Arab tertarik oleh usul mengirim perutusan
istimewa ke Indonesia, yang oleh beliau sendiri dianggap de¬
monstrasi sokongan negara-negara Arab terhadap Indonesia. Oleh
sebab itu kami mengusulkan lagi dengan surat tanggal 14/1/47
No. 2/A/47 supaya dalam perutusan itu disertakan para war¬
tawan Arab dan seorang dari pimpinan Pusat Panitia yang akan
bertugas sebagai penghubung (liaison officer). Usul ini juga men¬
dapat persetujuan. Akan tetapi Inggris yang waktu itu masih
berkuasa di sepanjang jalan yang menghubungkan negara-negara
Arab dengan Timur Jauh, menentang kepergian perutusan yang
akan merugikan sekutunya Belanda itu, dengan menolak mem¬
berikan visa kepada para anggota perutusan yang tadinya akan
dipimpin oleh Sekjen Liga Arab itu sendiri.
Sementara itu berita-berita yang menyesatkan masih menga¬
lir dari 'Batavia,’ dan kelihatannya sudah ada negara Arab yang
bertanya kepada Sekretariat Liga Arab sampai ke mana benar
berita-berita itu yang masih saja memutar piring lamanya yang
188
melagukan bahwa Indonesia di bawah mahkota Ratu Belanda.
Hal ini kami ketahui setelah Sekjen Liga tersebut memperlihat¬
kan kepada kami salinan surat yang dikirimkannya kepada
PM Sutan Syahrir tanggal 23/1/47 sebagai berikut :
”Yang Mulia,
Sutan Syahrir, Perdana Menteri Republik Indonesia.
”Dengan surat tanggal 28 Nopember 1946, saya pernah
menyampaikan kepada YM keputusan Dewan Liga Arab pada
sidangnya tanggal 18 Nopember 1946, yang mewasiatkan kepada
negara-negara anggota Liga ini mengakui Indonesia sebagai negara
yang merdeka dan berdaulat. Demikian, mengingat ikatan-ikatan
persaudaraan dan kekerabatan yang menghubungkan negara-
negara Arab dengan Indonesia.”
”Dengan hormat saya sampaikan pula kepada YM bahwa
saya pada waktu itu telah menyampaikan juga keputusan itu
kepada pemerintah Beland^.”
"Sekretariat Liga Arab sekarang sedang bersungguh-sungguh
mencari kemungkinan jalan pengiriman satu perutusan ke Indo¬
nesia guna mendapat kehormatan menemui YM dan kemudian
mengumpulkan keterangan-keterangan yang akan memungkin¬
kan negara-negara Arab mengetahui situasi di Indonesia dan sam¬
pai ke mana Pemerintah Indonesia telah dapat mencapai aspirasi-
aspirasi nasionalnya, sehingga dengan demikian memungkinkan
negara-negara Arab itu mengambil langkah-langkah resmi bagi
mewujudkan wasiat Dewan Liganya mengenai pengakuan ke¬
merdekaan Indonesia yang telah diputuskan itu.”
”Dalam menunggu hasil usaha pengiriman perutusan itu,
kami ingin kiranya YM akan bermurah hati memberi kami pe¬
nerangan mengenai situasi di Indonesia dan sampai ke mana hasil
perundingan YM dengan Pemerintah Belanda. Ringkasnya semua
yang akan menyirnakan kabut yang sekarang meliputi soal-soal
189
Dalam suasana gembira, Bung Syahrii menyampaikan terima kasih RJ. kepada
Kerajaan Afghanistan atas pengakuannya terhadap RJ. Kelihatan Bung Syahrir
bercengkarama di kebun Kedutaan Afghanistan, dengan Duta Besarnya Sadik
El-Mujaddidi, sedang Mr. Nazir Pamoncak ikut tertawa dan juga penulis se¬
bagai penteijemah.
190
di atas itu, disebabkan berita-berita tidak resmi yang berda¬
tangan dari berbagai pihak.”
.Sekjen Liga Arab Nekat
Setelah Inggris menutup segala jalan dari Teluk Persi
sampai ke Singapura bagi perutusan resmi Liga Arab itu, Abdul-
rahman Azzam Pasya, seorang revolusioner, tidak hendak menye¬
rah. Hanya dikeahui oleh Kementerian Luar Negeri Mesir atau
persetujuannya, dan Pimpinan Panitia Pusat, beliau memerin¬
tahkan kepada alm. Muhammad Abdulmun’irft, Konsul Jenderal
Mesir di Bombay, supaya berangkat ke Singapura dengan menya¬
mar sebagai turis, dan dari sana usahakan sedapat mungkin me¬
nerobos kepungan Belanda dan Sekutunya untuk sampai ke
Yogyakarta, ibukota R.I., sebagai Utusan Istimewa Liga Arab,
guna menyampaikan keputusan Liga tersebut mengakui R.I.
sebagai negara merdeka dan berdaulat. Kepada Pimpinan P.P.
dipesankannya dengan sungguh-sungguh supaya seorangpun jangan
mengetahui perintah tersebut, sekalipun dari petugas Liga Arab
sendiri ataupun dari negara-negara Arab lainnya. Karena agen-
agen Inggris berkeliaran di Timuf Tengah dan bahkan dari
penanggung-jawab di negara-negara Arab sendiri ada yang dicurigai
hubungan-hubungannya dengan Inggris. Kami mengetahui berat
tugas itu, selalu berdoa semoga Tuhan memudahkannya dan kami
terus mengikuti siaran RRI dari Yogyakarta.
Utusan Istimewa Luar Negeri Pertama sampai di ibukota R.I
Berita yang dinanti-nanti dengan hati berdebar-debar akhir¬
nya datang. Alangkah senangnya hati dan enaknya pendengaran,
ketika penyiar RRI Yogyakarta pada petang Kamis malam Jum’at
tanggal 13 Maret 1947 jam 18.30 memberitakan dengan suara
nyaring berirama kegembiraan :
”Telah sampai di Yogyakarta dengan kereta-api khusus tuan
Muhammad Abdulmun’im, Konsul Jenderal Mesir di Bombay
191
daa Utusan Istimewa Liga Negara-negara Arab, dengan didampingi
oleh Bung Syahrir Perdana Menteri R.I.Di Stasion beliau disambut
oleh khalayak ramai dengan penyambutan yang meriah dan ber¬
semangat. Kepada para wartawan yang mengerubungi beliau
menyatakan bahwa kedatangannya adalah guna menyampaikan
keputusan Liga Arab mengenai pengakuan terhadap kemerdekaan
Indonesia. Beliau menambahkan bahwa Mesir ingin membuka
hubungan perdagangan dehgan Indonesia, dan pemerintahnya
akan membatalkan perjanjian udaranya dengan Belanda.” Seterus¬
nya dikatakan :
"Kekuasaan Belanda berusaha menghalangi kedatangannya
ke Yogyakarta, dengan mempersulit formalitas-formalitas dan
tidak diizinkan menumpang pesawat Belanda. Meskipun demi¬
kian, dengan mempertaruhkan jiwa-raganya dalam menjalankan
tugas yang diberikan Liga Arab, beliau telah selamat sampai di
Ibukota R.I.”
Maka dengan kedatangan Utusan Istimewa Liga Arab ke
Yogyakarta itu, buat pertama kali dalam sejarah :
1— Per utusan suatu negara datang sendiri menyampaikan pe¬
ngakuan negaranya kepada negara lain yang terkepung,
dengan mempertaruhkan jiwa-raganya.
2— Negara atau beberapa negara kecil mengakui negara lainnya,
dengan menentang keinginan negara-negara Besar.
3— Buat pertama kali dalam sejarah Indonesia merdeka, satu
Utusan Istimewa resmi luar negeri mengunjungi ibukota
R.I.
Semuanya itu hanya didorong oleh solidaritas perjoangan
dan solidaritas Islam.
Pada 14/3/47 RRI-Yogya memberitakan lagi bahwa Utusan
Istimewa Liga Arab bersembahyang Jum’at bersama para menteri
dan ribuan rakyat yang mendapat kesempatan untuk menyatakan
192
terima-kasih kepada Utusan itu. Besoknya 15/3/47 Utusan Isti¬
mewa Liga Arab itu diterima Presiden Sukamo dan Wakil Pre¬
siden Muhammad Hatta di Istana Negara. Dalam pidatonya pada
upacara resmi itu Muhammad Abdulmun’im mengatakan :
”Adalah suatu kehormatan besar bagi saya dapat berhasil
menghadap PYM, guna menyampaikan setinggi hormat dan se-
baik-baik harapan Raja saya, Raja Faruk I, Raja Mesir ; saya
juga merasa sangat berbahagia dapat melakukan satu tugas yang
sangat saya sukai, yaitu menyampaikan putusan yang telah diam¬
bil Liga Arab pada 18 Nopember 1946, yang mewasiatkan kepada
negara-negara Arab supaya mengakui Indonesia sebagai negara
yang merdeka dan berdaulat. Demikian, mengingat hubungan
persaudaraan dan ikatan-ikatan keakraban yang menghubungkan
negara-negara Arab itu dengan Indonesia.”
"Sesungguhnya akan menggembirakan Liga Arab apabila
dalam waktu yang singkat sekali dapat disempurnakan tindakan-
tindakan resmi yang akan menjelmakan wasiat/amanat pengakuan
itu selekas mungkin. Sehingga dengan demikian, negara-negara
Arab itu menjadi pelopor hegara-negara yang mengakui kemerde¬
kaan Indonesia. Saya merasa sangat berbahagia bahwa saya adalah
wakil negara asing pertama yang dapat menghadap PYM. Saya
telah dapat mengatasi kesukaran-kesukaran untuk sampai ke
Indonesia ini; maka saya berharap semoga kesampaian saya dengan
perlindungan Tuhan kehadapan PYM ini akan menjadi pertanda
baik bagi pencapaian apa yang diidam-idamkan Indonesia, yaitu:
hidup merdeka, makmur dan jaya. Demikian juga saya mengharap
pengakuan tujuh negara Arab itu, yaitu Mesir, Irak. Suria. Saudi
Arabia, Lebanon, Yaman dan Transyordania, akan menjadi pem¬
bukaan yang baik bagi pengakuan negara-negara di dunia ini
terhadap kemerdekaan Indonesia.”
Pidato ringkas yang penuh rasa persaudaraan dan keakraban
itu dibalas oleh Presiden Sukarno dengan kata-kata persaudaraan
dan terima-kasih berikut ini :
193
Saya merasa gembira mengucapkan selamat sampai kepada
Tuan pada saat kunjungan Tuan yang bersejarah ini. Juga saya
merasa gembira menerima hormat dan harapan-harapan baik Sri
Baginda Raja Faruk, Raja Mesir, yang di-Muliakan. Maka saya
berharap supaya Tuan menyampaikan kepada Sri Baginda setinggi-
tinggi hormat dan penghargaan kami, dan kami berdoa kepada
Tuhan Yang Maha Tinggi agar Dia meliputi Mesir dengan lindu-
ngan-Nya, dan mudah-mudahan Mesir akan mencapai semua cita-
cita nasionalnya.”
”Kami telah mendengar bahwa Liga Arab telah mengamanat¬
kan kepada negara-negara Arab anggotanya supaya mengakui
Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Maka
dapatlah digambarkan bagaimana besar kegembiraan kami me¬
nyambut kedatangan Tuan untuk menyampaikan kepada kami
keputusan itu. Atas nama bangsa Indonesia kami menjgucapkan
terima-kasih kepada Liga Arab atas keputusan besar yang didasar¬
kan atas persahabatan dan keikhlasan itu ”
”Kami tinggal di-Kepulauan Indonesia. Sejak zaman bahala
Kepulauan ini menjadi pertemuan bangsa-bangsa. Maka tidaklah
ganjil apabila telah menjadi kebiasaannya suka mengadakan
hubungan-hubungan dengan segala bangsa, yang didasarkan atas
persahabatan dan hormat-menghormati. Yaitu suatu dasar yang
memang harus menjadi dasar bagi pembangunan suatu perdamaian
yang abadi. Maka sudah tentu hubungan-hubungan dengan negara-
negara Arab mudah terikat kuat, disebabkan hubungan Agama
yang mengikat antara kita.”
”Saya berdoa kepada Tuhan semoga Dia menjadikan kun¬
jungan Tuan yang bersejarah ini suatu pembukaan bagi hubungan-
hubungan baik antara bangsa.”
Kantor-kantor berita ’ Batavia ’ mem ’ black oui berita
kedatangan Utusan Istimewa Liga Arab keibukota R.I. itu. Oleh
sebab itu,iberita-berita yang kami tangkap dari RRl-Yogyalah yang
menjadi sumber beritanya di mass-media seluruh Timur Tengah.
194
i
Berita-berita itu telah menyebabkan sedikit ’ krisis ’ dikalangan
Liga Arab. Karena beberapa negara Arab, terutama Irak, merasa
dilangkahi, sebab kepergian Utusan Istimewa yang membawa
nama ’ Arab ’ itu tidak setahu mereka. Seperti telah saya katakan,
kejadian ini besar akibatnya bagi kedudukan Abdulrahman Az-
zam Pasya sebagai Sekjen Liga itu enam tahun kemudian.
Setiap kali kami menyampaikan berita-berita RRI-Yogya me¬
ngenai missi Muhammad Abdulmun’in itu, kami selalu mengingat¬
kan Sekjen Liga Arab akan pernyataan Utusan Istimewa itu
mengenai pembatalan perjanjian lalu-lintas udara antara Mesir dan
Belanda. Dertgan Nota tanggal. 16/3/47 No. 16/A/47 Panitia
Pusat mendesak melalui Liga Arab, supaya semua negara-negara
Arab menutup udaranya bagi lalu-lintas pesawat udara Belanda.
Dalam nota itu antara lain kami katakan :
”. Kami mengetahui bahwa tindakan seperti itu ada
bahayanya. Tetapi kami melihat pula bahwa negara-negara Arab
mempunyai alasan guna mengambil tindakan demikian. Di sam¬
ping tindakan-tindakan serupa yang telah diambil beberapa negara
lain dalam menyokong Indonesia, yaitu berita yang tersiar luas
(sumbernya kami juga, pen.) bahwa Belanda telah tidak memberi
izin kepada Utusan Istimewa Liga Arab untuk menumpang pesa¬
watnya menuju Indonesia, sehingga beliau terpaksa menumpang
pesawat,pengangkut barang bukan Belanda. Padahal pesawat
Belandalah seharusnya membawanya karena perjalanan itu melalui
routenya sehari-hari, dan pesawatnya lebih aman, karena mem¬
pergunakan ’ Sky Master. Tidak ragu lagi bahwa sikap
Belanda terhadap Wakil Liga Arab itu adalah tindakan tidak
bersahabat,.-....”
Kenang-kenangan dan Tanda Berterima kasih
RRI-Yogya memberitakan bahwa sebagai kenang-kenangan
bagi kedatangan Utusan Istimewa Liga Arab-yang kebetulan war -
ga Kerajaan Mesir yang telah mempertaruhkan jiwa-raganya—dan
tanda berterimakasih serta penghargaan dan lambang persahabat-
195
an. antara Indonesia dan negara-negara Arab umumnya dan
Kerajaan Mesir khususnya, Presiden Sukarno, melalui Utusan
Istimewa itu, telah menghadiahkan kepada Baginda Raja Faruk
dan Ratu Farida Permaisurinya, satu set tea-service yang terbuat
dari perak oleh ahli-ahli Indonesia di ibukota R.I. sendiri (Kota
Gede)* dalam satu upacara di-Istana Negara.
RRI-Yogya juga memberitakan bahwa bertepatan dengan ke¬
datangan Utusan Istimewa Liga Arab ke ibukota R.I. itu, Bung
Hatta Wakil Presiden, dianugerahi Tuhan Seorang putri. Juga
guna mengenang hari yang bersejarah itu dan memperingati jasa
Mesir dan Rajanya, beliau telah memberi nama putrinya Farida,
yaitu nama Ratu Mesir. Berita RRI itu yang mengatakan juga
bahwa Bung Hatta telah bersumpah, semenjak ia dibuang pemerin¬
tah kolonial Belanda pada permulaan tahun tiga-puluhan, telah
bersumpah tidak akan kawin melainkan sesudah Indonesia mer¬
deka turut tersiar luas di Timur Tengah bersama-sama berita lain¬
nya itu, dan sekaligus telah membantah tuduhan-tuduhan usang
Belanda dan Sekutu-sekutunya bahwa kemerdekaan Indonesia
adalah ’ made in,Japan.
DELEGASI R.I. DI TIMUR TENGAH
Delegasi Republik Indonesia tiba di Kairo
Semenjak Liga Arab mewasiatkan kepada negara-negara Arab
anggotanya supaya mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indo¬
nesia, mengirim dua kali surat kepada PM Sutan Syahrir dan
terakhir sekali mengirim Utusan Istimewa ke ibukota R.I. guna
menyampaikan keputusan itu, Panitia-panitia di Timur Tengah
menanti-nanti kedatangan suatu missi resmi dari Indonesia yang
akan menghubungi langsung pihak resmi Arab, guna memudahkan
penyempurnaan formalitas pengakuan itu, sebelum propaganda
Belanda dan Sekutu-'sekutuHya dan tekanan-tekanan Inggris yang
masih menduduki Mesir itu meninggalkan kesan-kesan negatif.
Maka alangkah gembiranya kami ketika Sekjen liga Arab mem¬
perlihatkan kepada kami kawat bertanggal 2/4/47 yang baru
diterimanya dari Muhammad Abdulmun’im, Utusan Istimewanya
itu, memberi tahukan bahwa ia akan kembali ke Kairo bersama
satu perutusan resmi R.I. dan meminta tolong diusahakan fasilitas
penerbangan bagi mereka dari pelabuhan udara Lydda, Palestina,
dengan Mesir Airlines. Delegasi R.I. itu, yang dipimpin oleh (alm)
H. Agus Salim, Menteri Muda Kementerian Luar Negeri, baru
sampai di Mesir pada 19/4/47, bersama-sama Abdulrahman Base-
wedan, Menteri Muda Penerangan, (alm) Mr. Nazir Pamoncak,
Pegawai Tinggi Kemlu, sedang (Prof. Dr.) H. Muhammad Rasyidi,
Sekjen Kementerian Agama (ex-Menteri Agama pertama) dan
Mayor Jenderal Abdulkadir, Perwira Tinggi Kementerian Per¬
tahanan, telah samnai terlebih dahulu pada 5/4/47. Mereka
197
98
Delegasi RJ. ke Timur Tengah. Di tengah kelihatan Haji Agus Salim (Ketua)
dengan pakaian seragam yang dipakai anaknya yang mati syahid, di kirinya Mr.
M. Nazir Pamoncak, dan di kanannya Abdulralunan Baswedan dan H.M. Rasji-
di. Berdiri di belakangnya penulis buku ini.
ditempatkan pada hotel terbesar waktu itu, Continental Savoy
Hotel, sebagai tamu Liga Arab, selama empat bulan.
Pertemuan Dengan Panitia Pusat
Kegiatan Delegasi R.I. pertama adalah mengadakan perte¬
muan dengan Pimpinan Panitia Pusat. Sebelum Delegasi itu datang,
Panitia Pusat telah menyiapkan bahan-bahan informasi yang perlu
mereka ketahui dalam hubungan-hubungan dengan pihak-pihak
resmi Arab, seperti situasi politik ditiap-tiap negara Arab, peni¬
laian-penilaian sikap masing-masingnya terhadap soal Indonesia
dan kesulitan-kesulitan dalam negeri dan ketergantungannya ke¬
pada bantuan negara-negara besar yang mungkin akan mempe¬
ngaruhi sikap masing-masingnya dalam memenuhi formalitas
pengakuan terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.
Demikian pula mengenai soal Indonesia di Dewan Keamanan
PBB dan usaha-usaha Panitia-panitia Indonesia di luar negeri
memengertikan dunia terhadap soal tersebut. Juga bagi kemung¬
kinan-kemungkinan seterusnya dalam arena internasional, disiap¬
kan laporan mengenai soal Suria dan Lebanon di-DK-PBB tahum
1946 yang dimenangkan kedua negara Arab itu menghadapi
Perancis. Meskipun demikian, pada pertemuan itu Panitia Pusat
membentangkan semua persoalan di atas secara ringkas sampai
keberangkatan Utusan Istimewa Liga Arab ke Indonesia dan yang
telah kembali ke-Kairo bersama-sama membawa mereka, dan
harapan semoga dengan kedatangan Delegasi itu akan dapat lekas
tercipta pelaksanaan penyempurnaan formalitas keputusan Liga
Arab itu. «
Haji Agus Salim, Ketua Delegasi, menyatakan bahwa Pe¬
merintah Indonesia mengikuti kegiatan-kegiatan Panitia-panitia
luar negeri, pada umumnya, dan Panitia-panitia di Timur Tengah
pada khususnya, yang telah banyak berhasil dalam mempertahan¬
kan Proklamasi. Atas nama Pemerintah R.I. beliau menyampaikan
terima kasih banyak atas jasa-jasa mereka kepada tanah-air dan
bangsa itu. Ditambahkannya bahwa perjoangan dalam negeri
199
E
b.
’S
E
1
S
§
•o
S -i o «
!3 pi -o Z
«J m
o.
•S .g' S g
i i e 1
£ S g rt
§ A
2iHpi
"O g
£ ’S
eS ^
€ p
* « O 5 ^
*
«1
- .2
6 S
•2 °*
A jj
S2 eP O .§
„ .g*®
5 S CQ
6 .
:=, S §. «
s £ :
a a
etf M
^ i ®
& f i
§“<2
||l
£ S£ J
ili?
§ H
.|£ g
f f f * £
-liari
S § .a 'S 'a
xt M N a Oh
200
201
Haji Agus Salim bersama pimpinan cabang Panitia di Baghdad Irak. Di bela¬
kangnya Mr. Nazir Pamoncak, yang di kirinya Imron Rosyadi (Ketua), Rasyid
Bayumi (Sekretaris) dan yang mencangkung sebelah kiri Zaidan Abdulsamad
(Bendahara). •
merasa berbahagia dengan adanya gerakan warga Indonesia di
luar negeri yang telah banyak menunjang perjoangan dalam negeri
itu, baik memperkuat kedudukan R.I., terutama dilapangan in¬
ternasional, malahanpun meringankan penderitaan rakyat dan
mengurangi penderitaan yang jatuh menghadapi agresi Belanda
dan Sekutu-sekutunya. Terhadap perjoangan Panitia-panitia di
Timur Tengah beliau mengatakan :
”Panitia-panitia saudara-saudara telah memungkinkan R.I.
dengan resmi keluar memulai peijoangan diplomasi di gelanggang
internasional. Sokongan negara-negara Arab telah berhasil saudara-
saudara dapatkan sepenuhnya. Kami mendapati segala sesuatu
yang telah selesai. Kedatangan kami seolah-olah, hanya untuk
menanda-tangani dokumen-dokumen yang telah saudara-saudara
siapkan.”
Kemudian beliau memberi briefing tentang situasi dalam negeri
pada umumnya, dan terutama pula mengenai Perjanjian Linggar-
jati dan sampai kemana perjanjian ini telah menjamin kemerde¬
kaan dan kedaulatan R.I. Pada malam berikutnya, Delegasi R.I.
beramah-tamah dengan para mahasiswa Indonesia di Mesir di
kantor Panitia Pusat, 12 Sikkat Syaburi, Helmia Jedida.
Kunjungan-kunjungan Kehormatan
Sebagai yang telah diatur semula oleh Panitia, Delegasi R.I.
memulai kunjungan-kunjungan kehormatan dengan mengunjungi
Istana Abidin guna mencatatkan nama dalam Daftar Penghor¬
matan Kerajaan, sebagai penghormatan kepada Raja Faruk.
Pendaftaran ini bukanlah segi protokulernya yang penting, mes¬
kipun wajib, tetapi bagi perjoangan Indonesia, adalah segi peng¬
hargaan kepada Raja Faruk yang didorong terutama oleh rasa
anti-Inggrisnya, telah mendorong Pemerintah Mesir, dan diikuti
oleh negara-negara Arab lainnya, lebih tegas menyokong Indonesia
mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya, bahkan mem¬
berikan pengakuan de facto kepada Panitia Pusat sebagai p e r -
202
w a k i 1 a n R.I., sementara, menanti perwakilan R.I. resmi
berdiri.
Abdulrahman Azzam Pasya, Sekjen Liga Arab, yang bertin¬
dak sebagai tuan rumah dalam kunjungan Delegasi R.I. waktu
itu, adalah pembesar Arab pertama yang dikunjungi. Saya bersama
Salim Rasyidi, ikut serta dalam kunjungan itu. Setelah memper-r
kenalkan anggota Delegasi satu-persatu kepada Sekjen itu, dengan
secara bergurau, tetapi sungguh-sungguh, saya katakan kepada
beliau :
”Dengan kedatangan Delegasi Republik Indonesia ini, selesai¬
lah tugas kami dikalangan resmi di sini, Kami percaya bahwa
maksud kedatangannya ini akan terlaksana dengan lancar.”
Setelah itu kami terus meminta diri dan segera mengundurkan
diri, tanpa menunggu jawabannya. Sesaat kemudian, petugas
protokol mendatangi kami di kamar tunggu dan menyampaikan
permintaan Azzam Pasya sendiri supaya kami kembali masuk.
Kelihatannya beliau ingin menyambungkan masa yang lampau
dengan masa mendatang. Maka Ketika mereka hendak mengabadi¬
kan pertemuan pertama itu, Azzam Pasya ingin menyertakan
kami - yang dianggapnya mewakili Panitia-panitia Timur Tengah -
dalam pengabadian itu. Demikianlah kami mendapat kehormatan
bergambar bersama-sama dengan Delegasi dan Sekjen Liga Arab
itu. Dalam menyusun-nyusun ’pose’ terbaik bagi pengabadian
pertemuan bersejarah itu, beliau mengatakan Kepada para anggota
Delegasi R.I. itu : "Indonesia dapat berbangga dengan anak-anak¬
nya yang militant. Mereka - katanya sambil tersenyum - telah
’ mendiktekan ’ kepada negara-negara Arab supaya ’ takluk ’
kepada tuntutan-tuntutan mereka.”
Kunjungan kehormatan kedua pada hari itu juga adalah
kepada Mahmud Fahmi Nokrasyi Pasya, Perdana Menteri merang¬
kap Menteri Luar Negeri Mesir, di Kementerian Luar Negeri
Mesir. Pertemuan berlangsung selama hampir satu jam. Dalam
berita pers besoknya dikatakan : "Diketahui bahwa kedatangan
203
Delegasi R.I. ke Timur Tengah adalah untuk mengadakan hubu¬
ngan diplomatik antara R.I. dan negara-negara Arab. "Ditambah¬
kannya bahwa : "Pertemuan berlangsung dalam suasana ramah-
tamah dan persahabatan yang akrab sekali.”
Kedatangan Delegasi R.I. itu bertepatan dengan perun¬
dingan-perundingan Mesir-Inggris yang semakin tegang mengenai
soal Sudan' apakah akan bergabung dengan Mesir di bawah
mahkota Mesir, ataukah akan berdiri sendiri dan soal Palestina
yang akan dibicarakan di PBB. Ketika itu partai terbesar di Sudan
’ Partai Persatuan ’ yang dipimpin (alm) Ismail Azhari mengingi¬
ni persatuan, sedang Partai Ummah di bawah Al-Mahdi yang
disokong Inggris menghendaki pemisahan. Maka Sudan yang
masih di bawah co-dominion Inggris-Mesir menjadi rebutan kedua
negeri ini, sehingga terjadi keributan-keributan di Sudan dan
kegentingan hubungan Mesir-Inggris yang menjurus kepada penye¬
rahan soal itu ke DK—PBB. Kesibukan Mesir ini yang diikuti
kesibukan Liga Arab dengan pertemuan-pertemuan menjelang
sidang DK-PBB jika diperlukan itu, dan ditambah pula oleh
laporan Utusan Istimewa yang harus dipelajari Sekretariat Liga
Arab dan kemudian membagi-bagikannya kepada negara-negara
anggotanya, telah menyebabkan tertunda penyempurnaan forma¬
litas pengakuan Mesir sampai permulaan bulan Juni 1947.
"Pak Salim” di Kairo
"Pak Salim” di Kairo saya jadikan judul bagi kegiatan Haji
Agus Salim sebagai seorang pemimpin Indonesia dalam masyarakat
Mesir dan pergaulannya dengan elite ibukota, Kairo yang men¬
jadikan Continental Savoy Hotel waktu itu tempat pertemuan
sehari-hari selama lebih kurang empat bulan.
Menanti kelanjutan hubungan-hubungan resmi, selain kun¬
jungan-kunjungan persahabatan dan penyampaian ucapan-ucapan
terima-kasih kepada golongan-golongan masyarakat yang menyo¬
kong Indonesia, Pak Salim telah mengadakan ceramah tiga kali
204
di hadapan para cendekiawan Mesir. Pada tiap-tiap ceramah beliau
mempergunakan bahasa yang berlain-lainan, yaitu bahasa Perancis
di Institute Geografi Kerajaan, bahasa Inggris di Aula Universitas
Fouad I (Universitas Kairo sekarang) dan bahasa Arab di Gedung
Persatuan Wartawan Mesir. Ditempat terakhir ini beliau telah
membuat suatu ’ surprise ’ yang mengagumkan. Pada mulanya
seorangpun tidak mengira bahwa beliau akan berpidato dalam
bahasa Arab, karena dari permulaan pertemuannya dengan para
wartawan Mesir dan Arab itu, beliau memberi penerangan menge¬
nai Indonesia ataupun menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam
bahasa Indonesia dan saya sendiri ditugaskan menterjemahkan
langsung. Yang terjadi ialah bahwa setelah habis memberi pene¬
rangan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, beliau beserta
semua hadirin pindah keruangan besar untuk menikmati jamuan
besar yang disediakan Persatuan Wartawan Mesir itu guna meng¬
hormati beliau. Sebelum jamuan dimulai, Ketua Persatuan itu, Ha¬
fiz Mahmud, mengucapkan kata-kata ’welcome,’ persahabatan dan
persaudaraan Islam yang ikhlas dan akrab, dan dijawab oleh Pak Sa-
lim dengan irama yang serupa, serta berterima kasih atas sokongan
mass-media Mesir khususnya dan negara-negara Timur Tengah u-
mumnya. Dalam hal ini saya seperti sebelumnya—telah bersiap-siap
untuk menterjemahkannya. Tetapi diiringi ngangaan hadirin yang
terpesona, - termasuk saya sendiri yang tidak diberitahu terlebih
dahulu - beliau langsung berbicara dalam bahasa Arab yang fasih,
dengan kata-kata halus yang terpilih dan susunan (style) yang
bermutu tinggi. Dapat kiranya di kira-kira kan bagaimana
gemuruh tepuk-tangan hadirin, sehabis beliau mengucapkan se-
patah-katanya itu, sebagai penghargaan dan pernyataan kekagu¬
man (I’jaab). Masih segar dalam ingatan saya pemandangan Hafiz
Mahmud, Ketua Persatuan itu, buru-buru menjabat tangan Pak
Salim dengan semesra-mesranya.
Selama menginap lebih kurang empat bulan di hotel tempat
pertemuan golongan bunga dan cendekiawan Mesir itu, Pak Salim,
yang benar-benar ’ encyclopaedia \ hidup, lincah dan penuh
humor itu telah dapat memikat semua kelompok yang rtienghu-
205
bunginya, sehingga dari tiap-tiap kelompok itu beliau mendapat
’ gelar ’ pengaguman. Kelompok politikus menamakannya ’ siasi
mumtaz ’ (politikus istimewa), golongan cendekiawan menyebut¬
nya ’ failasuf ’ (filosof), dan kalangan wartawan memanggilnya
’ sahafi labiq ’ (wartawan gelir, licik) dan kadang-kadang menamai¬
nya juga ’ ifrit ’ (syaitan), dengan arti mewalahkan, tetapi tetap
disukai, karena humornya yang penuh sindiran. Seorang pemimpin
partai politik pernah mengatakan bahwa Indonesia sangat berun¬
tung mempunyai seorang diplomat yang demikian lincah dan
cepat membaca apa yang tersembunyi dalam kepala orang lain,
disaat menghadap perkembangan sejarahnya yang menentukan
itu. Duta Besar Lebanon, Abu Ezzeddin, mengatakan bahwa
seorang seperti Pak Salim itu, sekiranya terdapat di tengah-tengah
masyarakat Barat, tidak akan kalah kekesohorannya dari pada
filosof Inggris terkenal itu, Bernard Shaw. Karena tajam, cepat
dan tepat reaksinya terhadap setiap ucapan atau pertanyaan yang
dihadapkan kepadanya. Wartawan yang berwawancara dengan
beliau selalu kewalahan, karena jawabannya yang terlalu pendek
atau terlalu panjang. Kedua-duanya itu dipergunakannya supaya
jangan berbanyak tanya. Pernah wartawan majallah Mesir terbesar
”Akhbarul Yaum” menanyakan kepada beliau pendapatnya ten¬
tang kota metropolitan Kairo. Beliau menjawab dengan dua patah
kata saja, yaitu ”An-Nur wan-Nar” (Cahaya dan Api), atau Surga
dan Neraka, Kemudian beliau berdiam dan wartawan itu terdiam
pula, karena tepat dan cepatnya jawaban itu... .
Sebagai seorang yang luar biasa, Pak Salim mempunyai
hal-hal yang ’ luar biasa ’ pula. Beliau yang sudah berumur
enam-puluhan itu suka berjalan cepat, sekalipun di jalan ”Fouad
Awal” yang sesak-ramai itu. Saya yang waktu itu masih muda
belia, kewalahan mengikutinya, bukan saja karena kecepatannya,
tetapi pula karena sering pula beliau 'menghardik’ anak-anak
muda yang suka ’ menghampang-menghampang ' jalan besar dan
ramai itu. Suatu malam, sebelum beliau berkeliling ke negara-
negara Arab menjalankan tugas Delegasi R.I., beliau diundang
makan malam oleh Muhammad Ali Taher, pemimpin Palestina
206
yang sangat simpati kepadanya dan Indonesia. Pada malam itu
turut diundang beberapa pemimpin Mesir, Arab dan Islam yang
berada di Kairo, guna menghormati beliau. Baru saja selesai makan
dan orang-orang masih saja siap-siap akan ’ ngobrol ’ sambil
minum kopi, serta-merta beliau berdiri dan terus berjalan menu¬
ju pintu ’ lift ’, tanpa mengucapkan sepatahpun ’ kalam ’ atau ’
’ salam, ’ kepada hadirin, yang kelihatannya ternganga-nganga,
tercengang-cengang, Saya dan H.M. Rasyidi segera mengejar beliau
yang telah hendak melangkahkan kakinya kedalam lift itu dan
menanyakan apa yang terjadi. Sambil merengut beliau menjawab
”Gila orang-orang itu, sudah tahu saya akan berangkat besok,
masih juga diundang makan ! ” Sungguh sangat berat bagi
kami menghadapi orang-orang besar itu, yang mungkin merasa
diremehkan, sekalipun mereka tetap senyum memberi maaf yang
kami minta. Adapun Pak Salim, beliau terus saja turun, tanpa
menolehpun kebelakang ....
Suatu malam lagi, selagi kami duduk diberanda atas Conti¬
nental Hotel menikmati cahaya bulan yang keperak-perakan itu,
sambil bergurau sekadarnya, tiba-tiba Pak Salim menyanyikan
lagu perjuangan dengan suara lantang yang memecaH.(kehening¬
an itu. Kami yang hadir semuanya berdiam seperti terpukau.
Lebih sunyinya lagi ketika melihat Pak Salim berdiam, dan
kemudian menangis tersedu-sedu, seperti hendak melepaskan
segala sesak dada yang menekan dirinya . . . Seorangpun tidak
berani bertanya ataupun memulai bersuara. Kesunyian itu di¬
pecahkan lagi oleh Pak Salim sendiri, yang berkata : ” Lagu
itulah yang dinyanyikan anak saya, ketika pelor Belanda me¬
nembus dadanya, "Kemudian beliau berhenti sejurus, dan kami-
pun tidak ada yang berkutik. Beliau menghalau lagi keheningan
itu dengan menunjuk baju seragam yang selalu dipakainya
sehari-hari, sambil bercerita : ”Baju inilah yang dipakainya ketika
ia jatuh menjadi syahid. "Kelihatannya kalimat ’ syahid ’ menjadi
penawar yang ampuh bagi hatinya yang luka dan duka itu. Awan
hitam yang tadinya melintas, mulai memberikan tempat kepada
cahaya cerah yang sedikit demi sedikit rnenyelimat dari celah-
207
celah perasaannya yang mulai terobat. Demikianlah Pak Salim
yang luar biasa itu. Sekali kelihatan seperti ’ super man ’ dan
di lain kali melahir sebagai ’. man ’ dan dalam kedua hal
itu beliau tetap ’ luar biasa. ’
Mesir mengakui de facto dan de jure R.I. . . .
Perundingan mengenai formalitas pengakuan Kerajaan Mesir
atas d e jure kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia
tidak mengalami kesulitan apa-apa, setelah laporan Utusan Isti¬
mewa Liga Arab ke Indonesia telah memperkuat kebenaran-kebe¬
naran bahan-bahan yang diberikan Panitia-panitia Indonesia Timur
Tengah dan yang menjadi dasar keputusan Liga Arab untuk
mewasiatkan kepada anggotanya supaya mengakui R.I. pada 18
Nopember 1946 itu. Dengan demikian pada 2 Juni 1947 lengkap¬
lah keresmian pengakuan Mesir itu, setelah sebelumnya ia telah
mengakui de facto - nya dan menganggap Panitia Pusat
sebagai perwakilan R.I. sementara.
. Dan Mengadakan Perjanjian Persahabatan dan Hubungan
Diplomatik
Perundingan yang sedikit mengambil waktu adalah mengenai
hubungan-hubungan Mesir-Indonesia lainnya. Karena Mesir dalam
menyokong R.I. tidak mencukupkan dengan pengakuan de facto
dan jure itu saja, tetapi melangkah lebih jauh dengan mengadakan
Perjanjian "Persahabatan, Hubungan Diplomatik dan Perdagangan
dengan Indonesia. Maka pada 10 Juni 1947 selesailah upacara
penandatanganan Perjanjian tersebut, di Kementerian Luar Negeri
Mesir. Dari pihak Mesir, yang menandatangani adalah Perdana
Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Mahmud Fahmi Nokrasyi
Pasya dan dari pihak Indonesia Menteri Muda Luar Negeri Haji
Agus Salim.
Kegembiraan Panitia-panitia Timur Tengah - dan sudah tentu
juga seluruh rakyat Indonesia - dengan pengakuan resmi itu saja,
behim lagi dengan Perjanjian-perjanjian yang mengikutinya - tidak
208
dapat digambarkan dengan lisan atau tulisan. Karena dengan
pengakuan itu saja, Indonesia telah memenuhi syarat internasional
sebagai satu negara yang sudah dapat duduk sama rendah dan
tegak sama tinggi dengan negara apapun di dunia ini. Kami tidak
mendapat kesempatan untuk memikul senjata seperti saudara-
saudara kami di tanah-air. Kalau usaha saudara-saudara kami di
dalam negeri adalah menghancurkan kekuatan fisik musuh R.I.,
kewajiban kami di luar negeri adalah pula menghancurkan ke¬
kuatan diplomasi musuh yang sama dan mematahkan kepungan
diplomatiknya terhadap Pemerintah R.I. Kemenangan diplomasi
di lapangan internasional bagi suatu bangsa yang masih berjoang
hidup atau mati, tidaklah kurang pentingnya dari kemenangannya
di medan pertempuran. Kemenangan di kedua lapangan dan
medan itu adalah isi-mengisi. Kemenangan diplomasi revoiusi
di Timur Tengah telah memberikan kepada R.I. kunci untuk
membuka pintu Perserikatan Bangsa-Bangsa seluas-luasnya.
Audensi dan Pakaian Revolusi
Setelah pengakuan Mesir itu, Delegasi R.I. merasa berke¬
wajiban menyampaikan terima-kasih Indonesia kepada Raja Faruk
yang banyak mendorong kearah pengakuan ini. Istana Abidin
telah menyetujui, tinggal lagi prosedurnya. Menurut protokol yang
berlaku, seorang yang ingin menghadap Raja disiang hari harus
berpakaian yang disebut ’morning coat’ dengan pantalon ’gray-
striped trousers’ dan lain-lain pelengkapnya. Tetapi cara ini
tidak dapat dipenuhi. Maka atas dasar ’orang musafir’, Istana
dapat menerima dengan pakaian lengkap kehitaman (dark colour).
Dan inioun tidak dipenuhi. Akhirnya dengan izin Raja sendiri,
mereka diizinkan menghadap dengan pakaian yang ada saja.
Maka berangkatlah dari Kontinental Hotel Delegasi R.I., dengan
Haji Agus Salim berteluk belanga, Mayor Jendral Abdulkadir de¬
ngan pakaian seragam tanpa tanda pangkat dan bintang. Haji
Muhammad Rasyidi dengan belangkon, kain dan keris di belakang,
Mr. Muhammad Nazir Pamuncak berpakaian lengkap hitam (pe¬
ninggalan dari Holland) dan Abdulrahman Basewedan berpakaian
209
lengkap kebiruan muda. Seorang penghuni hotel yang kebetulan
berada di beranda hotel ketika para anggota Delegasi turun tangga
berbisik dengan suara yang dapat didengar : ’ carnaval.’ Terhadap
suara itu, seorang Indonesia yang sama-sama berdiri di beranda
itu menjawab dengan spontan : 'pakaian revolusi' (malabisul sau-
rah).
Suatu ’anecdote’ diceritakan terjadi pada audensi itu. Pak
Salim ingin mendapatkan tanda-tangan Raja Faruk. Beliau melu¬
cu yang diikuti oleh Raja Faruk dengan ladenan yang simpatik.
Ketika Pak Salim merasa bahwa suasana sudah memungkinkan,
beliau mengeluarkan notes dan vulpennya. Sesudah membubuh¬
kan tanda tangan, Raja Faruk terus memasukkan vulpen itu ke sa¬
ku bajunya. Pak Salim yang ingin mengingatkan Raja berkata :
"Vulpen saya” ?, dijawab Raja : 'Ini buat saya dan akan saya
pergunakan untuk pengesahan naskah perjanjian persahabatan an¬
tara Mesir dan Indonesia’. Jawaban yang menggembirakan semua
hadirin itu menyebabkan Pak Salim yang pantang kalah itu me¬
ngaku : "Saya menyerah.”
Resepsi Pengakuan Mesir
Sebagai bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada
pemimpin-pemimpin Mesir dan Arab, Delegasi R.I. pada 9 Juni
1947, sehari sebelum penanda-tanganan Perjanjian Persahabatan,
Hubungan Diplomatik dan Perdagangan Mesir-Indonesia, menga¬
dakan resepsi di Semiramis Hotel, satu hotel kias satu lainnya di te¬
pi Sungai Nil. Resepsi yang diadakan ketika Liga Arab mengada¬
kan sidang, dihadiri oleh para Perdana Menteri dan Menteri Luar
Negeri Arab dan pembesar-pembesar Mesir, Arab dan Islam yang
berada di Kairo. Pada resepsi itu diputar pula ’Film Proklamasi’
yang telah kami robah menjadi berbicara bahasa Arab. Resep¬
si ini telah memberi kesempatan bagi Delegasi R.I. untuk ber¬
kenalan dengan pemimpin-pemimpin Arab itu sebelum mereka
mengunjungi negara-negara Arab lainnya. Pemutaran ’Film Pro¬
klamasi’ itu telah banyak pula memberi pengertian kepada pe-
210
mimpin-pemimpin Arab itu akan kenyataan yang hidup di Indo¬
nesia, sehingga pemimpin Palestina M. Ali Taher mengatakan ke¬
pada hadirin sekelilingnya : ”Sungguh-sungguh kita telah menyak¬
sikan kelahiran satu bangsa.”
Raja Faruk hadir in cognito
Adalah suatu ’surprise’ yang mengagumkan bahwa ketika
saya yang berdiri di pintu gerbang menuju ke ruangan penerimaan
tamu, dengan tugas memperkenalkan para tamu kepada tuan
rumah (H. A. Salim), tiba-tiba kelihatan seorang bertubuh besar
dan tinggi, berkumis pirang dan berpakaian sport, menaiki tangga
dengan diiringi oleh beberapa pemuda tegap dan ’ganteng.’ Pada
pandangan pertama telah terlintas wajah Faruk, tetapi saya masih
belum percaya kepada mata saya bahwa yang melintas di depan
saya itu sambil tersenyum itu benar-benar Raja Faruk. Tanpa
meliwatkan kesempatan, kepada pemuda terakhir saya tanyakan :
"Jalalatul Malik ?” (Baginda Raja ?), dan dijawabnya dengan
mengangguk. Seperti aliran listrik, berita kehadiran Raja di tempat
resepsi Delegasi R.I. segera menjalar ke semua pengujung. De¬
ngan segera pula saya mendekati H.A. Salim dan membisikkan
kepadanya kehadiran Raja Faruk in cognito (menyamar) di ruang
hotel yang besar itu. Kepada beliau saya sarankan supaya pada
pembukaan pidato nanti supaya penghormatan dan terima-kasih
sebesar-besarnya ditujukan pertama kali kepada Baginda Raja,
tanpa menunjukan kehadirannya.
Resepsi yang merupakan perayaan bagi pengakuan de facto
dan de jure pertama bagi R.I., mendapat perhatian penuh oleh
harian-harian Kairo yang terbit besoknya, dan demikian pula
’ Film Proklamasi ’ yang dikatakan sungguh mencerminkan tekad
bangsa Indonesia buat mempertahankan kemerdekaannya. Keha¬
diran Rajapun mendapat komentar pertanda persahabatan Mesir-
Indonesia, karena nama Faruk waktu itu masih populer di kala¬
ngan rakyat sebagai lambang tentangan kepada Inggris. Kecelakaan
211
mobilnya di Ismailia yang hampir membawa mautnya dianggap
rakyat sebagai usaha Inggris hendak membunuhnya, sebagai
mereka telah membunuh sebelumnya, Ahmad Hasanein Pasya,
Kepala Kabinet Istana, dengan menubruk mobilnya di atas jemba¬
tan Kasrun Nil, di tengah kota Kairo.
Kemudian Mahmud Fahmi Nokrasyi Pasya, Perdana Menteri
merangkap Menteri Luar Negeri Mesir, mengadakan jamuan
makan di ’ Muhammad Ali Club,’ guna menghormati Delegasi
R.I., dengan dihadiri juga oleh para PM dan Menlu Arab yang
masih berada dipusat Liga Arab itu.
Naskah Perjanjian Persahabatan Indonesia - Mesir.
Perjanjian Persahabatan antara Indonesia dan Mesir yang
ditanda tangani pada 21 Rajab 1366 H dan bersamaan dengan
10 Juni 1947 M itu telah diratifikasi (disyahkan) oleh Komite
Kerja pusat Parlemen Indonesia Sementara pada 17 Januari 194 8
dan disiarkan naskah bahasa Indonesianya oleh 'Lembaga Negara,’
sebagai lampiran bagi Undang-undang Nomor 2 tahun 1948.
Naskah Perjanjian tersebut adalah sebagai berikut :
PERJANJIAN PERSAHABATAN ANTARA REPUBLIK
INDONESIA dan KERAJAAN MESIR
"Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia
dan
”Sri Baginda Raja Mesir.
(1) Saya nukilkan seluruh naskah perjanjian ini, karena ia itu merupakan yang
pertama dalam sejarah Indonesia merdeka. Maka Mesir tidak saja pertama
negara yang mengakui kemerdekaan dan kedaulatan R.I., tetapi juga pertama yang
mengadakan perjanjian persahabatan, hubungan diplomatik dan perdagangan.
Akan diketahui bahwa Mesir adalah juga negara pertama yang mengadakan
Perjanjian Kebudayaan dengan R.I. Perjanjian pertama itu adalah yang pertama
sekali diratifikasi (disyahkan) oleh Komite Pekerja Pusat (Parlemen RI)sesu¬
dah Proklamasi dan Perjanjian Kebudayaan pula perjanjian pertama disyahkan
oleh Dewan Perwakilan Rakyat, hasil Pemilihan Umum pertama di wilayah RI.
212
Oleh karena mengandung keinginan yang ikhlas untuk
mengokohkan pertalian Persahabatan antara kedua belah pihak
dan antara kedua negerinya, telah memutuskan menetapkan
sebuah Perjanjian Negara bagi menentukan peraturan-peratman
untuk mempererat perhubungan bersetuju antara mereka, maka
bagi maksud itu masing-masing telah mengangkat seorang wakil
yang dikuasakan yaitu:
Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia mengua¬
sakan Paduka Yang Mulia Haji Agus Salim, Menteri Muda Luar
Negeri dan Ketua Utusan dari Republik Indonesia;
Sri Baginda Raja Mesir menguasakan Paduka Yang Mulia
Mahmud Fahmi Nokrasyi Pasya, Perdana Menteri dan Menteri
Luar Negeri, yang kedua tuan-tuan kuasa itu setelah menunjukan
surat kuasanya yang sah dan lengkap, telah semupakat atas
ketentuan-ketentuan yang berikut :
Pasal 1.
Kedua belah pihak dalam Peijanjian ini masing-masing
menyanggupi akan memeliharakan baiknya perhubungan ter¬
hadap kepada pihak yang lain, serta mempererat pertalian per¬
sahabatan yang menghubungkan antara rakyat pihaknya dengan
rakyat pihak yang lain dan mengadakan peraturan yang perlu-
perlu, masing-masing di dalam daerah negaranya, bagi mencegah
perlakuan tiap-tiap perbuatan yang melanggar hukum terhadap
kepada keamanan damai atau ketenteraman pada pihak yang lain.
Pasal 2.
Kedua belah pihak dalam Peijanjian ini semupakat akan
mengadakan perhubungan diplomasi dan konsulat antara kedua
negaranya. Utusan-utusan diplomasi, demikian juga penjabat-
penjabat konsulat dari pada tiap-tiap antara dua belah pihak
itu beroleh perlakuan istimewa yang terpakai menurut umumnya
azas-azas Hukum Internasional Umum, yaitu dengan memakai
asas persamaan perlakuan antara kedua belah pihak.
213
Pasal 3.
Kedua belah pihak dalam Perjanjian ini memutuskan akan
mengadakan pula sebuah perjanjian perniagaan sementara, berse-
tujuan dengan dua pucuk surat yang diiringkan kepada Perjanjian—
Negara ini.
Pasal 4.
Kedua belah pihak akan mengesahkan Perjanjian-Negara
ini selekas dapat dilakukannya. Dan mulai berlakunya dari tanggal
serah-menyerahkan surat-menyurat pengesahan itu di Kairo, dan
berlakunya untuk masa lima tahun dengan berlangsung terus
dengan sendirinya, pada hal masing-masing dari pada ke dua belah
pihak boleh membatalkan itu asal dengan memberi tahu kepada
pihak yang lain waktu tiga bulan sebelumnya. Untuk bukti mana
yang berkuasa penuh tersebut di atas telah menanda tangani
Perjanjian ini dan membubuhinya dengan materainya masing-ma¬
sing.
Pasal 5.
Surat Perjanjian Negara ini diperbuat dengan naskah yang
sama bunyinya dan sama kekuatannya dengan bahasa Arab, baha¬
sa Indonesia dan bahasa Perancis.
Tertulis di Kairo padahari tanggal 21 bulan Rajab tahun
1366, bersama dengan hari tanggal 10 bulan Tuni tahun 1947.
ttd.
ttd.
H.A. Salim M.F. Nokrasyi
10/IV/47
Bersamaan dokumen di atas terdapat dokumen lain ber-
bentuk surat dari YM Mahmud Fahmi Nokrasyi, PM dan Menlu
Mesir, kepada YM Haji Agus Salim Menteri Muda Luar Negeri dan
214
Ketua Delegasi R.I., mengenai perjanjian perniagaan yang telah
disebutkan dalam Perjanjian Persahabatan di atas itu. Dokumen
yang ada pada saya dalam bahasa Perancis dan terjemahannya
adalah sebagai berikut :
Kairo, 10 Juni 1947.
”Kementerian
Luar Negeri.
” Yang Mulia,
Menunjuk pasal 3 dari Perjanjian Persahabatan yang ditanda
tangani hari ini, dan yang mengenai persetujuan perniagaan se¬
mentara antara Mesir dan Indonesia, dengan hormat saya memberi
tahukan kepada YM bahwa Pemerintah Mesir menyetujui mene¬
rapkan perlakuan negara sangat diutamakan terhadap semua hasil
bumi dan industri biasa Indonesia yang diimport oleh Mesir,
baik untuk konsumsi dalam negeri atau untuk diexport lagi atau
sebagai transit. Buat sementara perlakuan itu akan diterapkan
pada hasil-hasil yang akan diimport oleh Mesir melalui negara
yang belum mempunyai persetujuan perniagaan dengan Mesir.
Perlakuan ini akan diterapkan atas dasar perlakuan timbal
balik penuh.
Persetujuan ini akan dapat dilaksanakan di kala YM telah
memberikan konformasi kepada saya persetujuan Pemerintah YM
dan buat selama satu tahun yang dapat diperbaharui menurut
isinya sekarang. Persetujuan ini dapat dibatalkan oleh masing-
masing Pihak-Kuasa asal memberitahukan tiga bulan sebelumnya.
Saya mengambil kesempatan ini guna memperbaharui ucapan
hormat saya yang setinggi-tingginya kepada YM.”
Yang Mulia,
Haji Agus Salim,
Ketua Delegasi Indonesia
Menteri Luar Negeri,
ttd
(Mahmud Fahmi Nokrasyi)
215
TRAITR D'AKTrS B N T H B LA REPUBLI^JB D'IHDOWSIE
E T
XX ROYAJJIE D'EGFYPTE.
3on Bzoallenoa la Pr6sldant da la R6publlqua d*Indonesia
at *
3a MaJeatA la Kol d'Bgypta
anlnes du desir da renforoer las llans d'an&tie entra oux at antre
laora dauz paya, ont r6solu da oonclure un tralta dastlnA a oonsa"
orar las raglas pour la davaloppemsnt da laurs ralatlons eardlalea
•t ont d oat effet dfisignA coana laurs P16nlpotentlalrea, k savoir t
San Bzoallanoa la Prasldent da la Rapubllqua d 8 Indonesia
3on Bzoallenoa Hadjl Agua Salin, VIo® Ittnlatra daa Af f air a a Etran-
giras at Chef da la D414gation da la R6publiqua d'Indonesia,
Sa Majestl la Rol d'Bgypta
3on Bzoallanoa Kahnoud Pahmy Nokraohl Pacha, PrAsldent du Consall
daa HLniatrea at MLnlatra das Affairea Etrang4res,
laaquala «pres s'dtra ooanunique laurs plalna pouvoirs, trouvAs an
bon» a t dua fon», sont o on venus daa dlsposltlona sulvantaa t
Artlola 1.
Chaou» daa Htfttea Partlas Contraotantas a'angaga i entretanlr
avao l'autra la palz oonatanta at das ralatlons asdoalaa) da resaer-
rar los llans d'avltlts hlstorlquas at affinltts naturallas qui
unlssant sss sujats avao oauz da l'autra partla at a prenlre toutas
■i sura s pour prevanlr, sur son tsrritolra, la parpitratlon d'aotas
1111 oltas # dlrlgAs oontra la palz ou la tranqulllite da l'autra
partla•
•A
216
Artiole 2<
Les Hautes Partlea Contraotantes se trouvent d'aooord pour
Atablir les relatlons dlplomatlques e t oonsulalres entre Isa dstuc
Btats. Les reprAsentants diplomatlqu®a, de msne que les agents
oonsulalres de chacune d*elles, Jouiront I tltre de rAolprooltA,
dana le terrltolre de l'autre du traiteraent oonaaerA par les prln-
olpes gAnArau* du Droit International Pub lio.
Artiole S.
Les Hautes Partlea Contraotantes ont oonrann de oonolure un
aooord comneroial provieoire.
Artiole 4.
Le prAsent traitA sera ratlflA et ses ratiPioations seront
AohangAes m Caire aussltOt que faire se pourraf 11 entrera en
rlgueur dAs l'Aohange des Instruments de ratlfloatlon et sara ts-
lable pour une pArlode de oinq ans» renouvelable par taoite reeon-
duotion, sauf dAnonolatlon slgniTiAe trois aols arant 1'AohAanos•
Bn Pol de quoi les PlAnipotentlalrea eua-mentionnAs ont slgnA
le prAsent traitA e t y ont apposA leurs soeacuc.
Artiole 5.
Le prAsent traitA est falt au Caire, d'un aeul terte at d*un
seul effet sn langues Arabe, IndonAslenna et Franqaiss.
Le Cairs, le 21 Ragab 1366 ( 10 JUln 1047 )
APPAtmm* ImimtM*
0_ JUIS ,«43
Mi rifiraat I l'artlola S da trmlti d'«nltl6 slgnS «u
Cair» an data d'tfijourd'inl conoernant 1« ooncluaion d'un
aooerd a n — ralal proriaoira antr» l'Kgypte «t 1‘Indonesia
J'al l*honnanp d'lnfap—p VotPa UmUiui qu. la UouTsrn»-
■•n» IdPPtlan eoa—nt t appllipap 1 » tr.lt.— nt de 1 , natlon
la pin. fa—rlada l tana laa prodult. da aol at da l'Iirluatrt.
oridlnalra da l'Indondala l*>ortd. an Bgppta at daatinda aolt
i la oon><—tlon aolt t la Pdaapddltlon oa aa tranalt. Pro-
al.0lP.-at, 1. dlt tralt—nt -p. appll^l atus prodalt» qul
«.Pont l-poptd. an Sgppt. p„ l. adi. d . p,j. n ,„ ant p „
l'Bgypta das arraogaaanta o<wnaroi*ux.
0. '*gl— «at aooopdi 1 oondltlon da papf.lt. rdolprooltd.
1. PPdaant app.ne.-nt «ntp.P. , n riguau,
™“ “** bI * n "- 1 ” » «onflp—p l'aeoopd do Votr. SauTaPna-
« - p»p o- dnPd. d-o- annd. panou—lajbla p„ t.UU
P.oondootlon. II poopp. dtP. ddnon* P.P ohaonn. d..
ContPaotantaa «op.nnrt «n prd.vi. 4 . tPol. «o!.,
1« aalal. 1-000..1» d. P.no.,1., , Votp .
*• « hanta oon.lddP.tlon.
“ ““S™* «a APPdlBS STRiBKSKS
UL- }■ .
8oi isBLotaai
a 8 WI 4003 8 AUM
d. 1 . Ddldd.tlon Indondalan—,
219
H.A. Salim, Ketua Delegasi R.I., bersama H.
Rasjidi menyampaikan terima kasih Indone¬
sia kepada (alm) Syeikh Hassan Banna, Ketua
Umum oiganisas Ikhwanul Muslimin yang ku¬
at sekali menyokong perjoangan Indonesia.
Demikian naskah Perjanjian Persahabatan, Hubungan Diplo¬
matik dan Konsuler serta Perniagaan antara R.I. dan Mesir,
Perjanjian itu selain telah mematahkan kepungan diplomasi Belan¬
da terhadap Indonesia, juga telah menutup pintu bagi kegiatan
permusuhan negara kolonial ini terhadap R.I. di Mesir khususnya
dan di Timur Tengah umumnya, mengingat semua tindakan Me¬
sir dalam menyokong Indonesia selalu diikuti oleh negara-negara
Arab lainnya.
Delegasi R.I. mengunjungi Negara Arab lainnya :
Suria Mengakui dan Menanda-tangani Perjanjian Persahabatan
liga Arab telah menghubungi negara-negara Arab anggota¬
nya supaya menerima Delegasi R.I. sebagai tamu negara. Mu¬
hammad Abdulmun’im yang selalu mendampingi Delegasi selama
di Mesir itu, ditugaskan Liga Arab lagi menemani Delegasi R.I.
dalam kunjungannya ke negara-negara Arab itu.
Negara pertama yang dikunjungi adalah Suria. Di Damaskus
Delegasi R.I. mendapat sambutan hangat dari pihak resmi dan
rakyat. Soal pengakuan tidak menjadi pembicaraan lagi. Segala
sesuatu beijalan lancar, sehingga pada tanggal 3 Sya’ban 1366,
bersamaan dengan 2 Juli 1947 telah ditandatangani pula Perjan¬
jian Persahabatan, Hubungan Diplomatik dan Konsuler antara R.I.
dan Republik Suria. Republik Indonesia tetap diwakili oleh
H.A. Salim, sedang Republik Suria oleh Jamil Mardam Bey,
Menteri Luar Negerinya.
Naskah Perjanjian Negara itu serupa isinya dengan Perjanjian
Negara R.I.-Mesir. Hanya dalam Perjanjian Suria R.I. tidak
termasuk perjanjian perniagaan pasal 3. Dari itu tidak akan saya
nukilkan lagi naskah Perjanjian itu di sini.
Naskah Perjanjian ini juga telah diratifikasi oleh Komi¬
te Kerja Pusat Parlemen Sementara R.I. dan disiarkan dalam
”Lembaga Negara” pada tahun 1948.
221
Transyordania Menangguhkan.
Dari Damaskus Delegasi Indonesia ke Amman, ibukota Trans¬
yordania (Yordania sekarang) yang baru berpenduduk 300.000 dan
masih hampir seluruh anggaran belanjanya dibantu Inggris, bahkan
tentaranya masih di bawah pimpinan perwira-perwira Inggris..
Amir Abdullah, penguasa -daerah itu yang kemudian dibunuh
seorang pemuda Palestina, sebagai penanggung jawab jatuhnya
wilayah itu ke tangan Yahudi, meminta kepada Delegasi R.I.
supaya penyempurnaan formalitas pengakuan kemerdekaan dan
kedaulatan R.I. ditangguhkan, meskipun menyatakan bahwa nega¬
ranya menyokong keputusan Liga Arab pada 18 Nopember
1946 itu.
Irak Mengakui, dan Menangguhkan Perjanjian.
Sesudah Amman, Delegasi meneruskan kunjungannya ke
Baghdad, Irak. Sebelum ke sana Panitia Indonesia di sini telah
mempersiapkan penyambutan, baik di pihak rasmi ataupun di ka¬
langan rakyat. Penyambutan di ibukota Harunarrasyid ini ada¬
lah bersemangat dan meriah pula. Harus diakui bahwa meskipun
rakyatnya seratus persen menyokong, kalangan rasmi dalam tin¬
dakan-tindakannya masih memperhitungkan dalam soal Indonesia
ini, kehadiran Inggris -yang menyokong Belanda- di wilayahnya.
Di samping itu, permusuhan (rivalty) yang dihidup-hidupkan
Inggris antara Dinasti Muhammad Ali (Mesir) dan Dinasti Ha-
syimiah(Irak dan Yordania) -kedua-dua wilayahnya masih di du¬
duki Inggris itu , kadang-kadang menyebabkan salah satu negara
itu tidak mengikuti jejak yang lain. Maka Irak telah mengumum¬
kan pengakuannya atas kemerdekaan dan kedaulatan R.I. sebagai
diwasiatkan Dewan Liga Arab itu, tetapi masih menangguhkan pe¬
nanda tanganan suatu perjanjian persahabatan dan lain-lain seperti
yang diperbuat Mesir. Ini tidak berarti bahwa Irak kurang ber¬
semangat menyokong Indonesia, karena dalam penutupan pela¬
buhan udaranya terhadap pesawat-pesawat udara Belanda -sesudah
222
aksi militer Belanda pertama- Irak lebih dahulu mengambil tin¬
dakan itu dari Mesir. Bahkan waktu kami di Timur Tengah
mengadakan perlawanan di bawah tanah terhadap Belanda dan
Sekutu-sekutunya, Pemerintah Irak dengan diam-diam banyak
memberi pertolongannya, seperti telah saya ceritakan di atas.
Selain itu pertentangan antara Nuri Said Pasya (terbunuh ketika
coup d‘etat di Irak tahun 1958) yang pro Inggris dan Azzam
Pasya yang anti Inggris itu, seperti telah saya ceritakan, juga mem
pengaruhi sikap Irak yang waktu itu masih dipengaruhi klik Nuri
Said Pasya itu.
Lebanon Mengakui.
Dalam Perjalanan kembali dari Irak melalui Suria, Belanda
melancarkan Aksi Militernya yang pertama. Sementara itu Delega¬
si R.I. meneruskan perjalanan ke Beirut, Lebanon. Di sini terjadi
yang menakjubkan. Dalam penilaian semula, negara yang sangat»
dekat Barat ini, tidak akan mengumumkan pengakuannya. Tetapi
Riadh Solh Bey, seorang pejoang veteran Muslim, kebetulan me¬
megang pimpinan pemerintahan sebagai Perdana Menteri. Dan
ia hadir pada resepsi Delegasi R.I. di Kairo dan menyaksikan
’Film Proklamasi’ yang mengesankan itu. Maka dengan segala
keterharuan, Delegasi R.I. menerima pengumuman resmi Lehanon
mengenai pengakuannya terhadap R.I. sebagai negara yang merde¬
ka dan berdaulat.
Saudi Arabia Mengakui.
Haji Agus Salim Ketua Delegasi R.I. meminta maaf kepada
Raja Ibnu Saud, karena tidak dapat meneruskan perjalanannya ke-
Jeddah, setelah Belanda melancarkan agresinya dan beliau diangkat
menjadi Menteri Luar Negeri dan harus berangkat ke New York
bersama Sutan Syahrir untuk menghadiri perdebatan soal Indo¬
nesia di Dewan Keamanan PBB. Maka yang berangkat ke sana
adalah H.M. Rasyidi, sebagai Kuasa Delegasi, setelah Delegasi ini
berobah menjadi Misi Diplomatik R.I. Tetap di Timur Tengah.
223
Pada 8 Muharram 1367 dan bersamaan dengan 21 Nopember
1947 Kerajaan Saudi Arabia telah mengakui kemerdekaan dan
kedaulatan R.I. dan juga menyetujui mengadakan hubungan
diplomatik antara ke dua negara.
Kerajaan Yaman Mengakui.
Kerajaan Yaman (Republik Arab Yaman utara sekarang)
waktu itu masih tertutup dan belum mempunyi perwakilan di lu -
ar. negeri selain di Liga Arab. Pada 20/4/48 Ali Al-Muayyad,
Wakil Yaman pada Liga tersebut telah mendatangi Kuasa Usaha
R.I. di Mesir H.M. Rasyidi untuk menyampaikan pengakuan
Kerajaan Yaman terhadap R.I. sebagai negara yang merdeka dan
berdaulat.
Maka dengan pengakuan Yaman itu, semua negara Arab
yang telah merdeka waktu itu selain Transyordania, -telah menga¬
kui de facto dan dejure Republik Indonesia sebagai
negara yang merdeka dan berdaulat penuh.
Kerajaan Afghanistan mengakui.
Harian ’Al-Ahram’ tanggal 19 September 1947 menyiarkan
"Pemerintah Afghanistan telah mengakui Republik Indonesia dan
telah mengawatkan kepada Dutanya di Washington supaya me¬
nyampaikan kepada Dr. Syahrir Perdana Menteri Indonesia”.
Dalam buku ’lllustration of the Revolution’ yang diterbitkan
oleh Kementerian Penerangan R.I. bulan Desember 1949 bagian
’Important Events’ halaman XI tercatat : ”23 (September 1947)
The Government of Afghan recognized the Republic.” Maka
kemungkinan sekali catatan Kementerian Penelitian itu menurut
sampainya berita itu ke Yogyakarta. Pada 30 September 1947
saya menemui Bung Syahrir mengunjungi Duta Afghanistan di
Kairo guna menyampaikan terimakasih Pemerintah R.I. terhadap
pengakuan itu.
224
Dengan demikian, Kerajaan Afghanistan adalah satu-satunya
negara di luar negara-negara Liga Arab yang mengakui de facto dan
de jure kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia sampai
Belanda mengakuinya pada bulan Desember 1949.
Sampai Desember 1949 hanya negara-negara Islam yang mengakui
Dan dengan demikian pula, sampai Kerajaan Belanda menga¬
kui kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia, de facto
dan de jure, pada bulan Desember 1949. Hanya negara-negara
Islamlah yang telah mengakui de facto dan de jure kemerdekaan
dan kedaulatan R.I. Kalau ada negara-negara lain yang mengakui,
hanyalah dalam batas de facto-nya saja, seperti, India, Pakistan,
dan lain-lain.
TIMUR TENGAH DAN AKSI MILITER BELANDA
Aksi Militer Belanda Pertama
Tepat pada bulan suci Ramadhan, ketika Kaum Muslimin
sedang menunaikan wajib puasa, dan setelah Republik Indonesia
memenuhi syarat wujud internasionalnya, dengan pengakuan
negara-negara Arab akan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia,
Belanda pada 21 Juli 1947 melancarkan aksi militer pertama ter¬
hadap Republik Indonesia, dengan maksud menghancurkan negara
yang telah mendapat pengakuan internasional itu.
Bagi mereka yang mengikuti perkembangan situasi di Indone¬
sia, kejadian ini tidak begitu mengejutkan, meskipun terjadinya
pada bulan suci itu bagi penduduk Timur Tengah yang ber¬
agama Islam itu dan yang selalu mengingat praktek-praktek kaum
salibiyah di daerah itu, telah menimbulkan kemarahan. Karena dua
hari saja sebelum kejahatan itu, Pemerintah Belanda telah mengu¬
mumkan diparlemennya bahwa : "Belanda tidak dapat menang¬
guhkan lagi keputusan yang harus diambilnya mengenai Indone¬
sia .dan pengakuan Belanda terhadap kedaulatan Indonesia
tidak mungkin lagi dalam keadaan sekarang.” Sementara itu, da¬
lam satu pertemuan yang dihadiri oleh Konsul-konsul Perancis,
Cina dan Australia, Konsul Jenderal Inggris telah ’menasehatkan’
kepada pemimpin-pemimpin Indonesia yang menghadiri pertemu¬
an itu supaya ’melaksanakan tuntutan-tuntutan Belanda,’ yang
berarti dalam kamus politik Inggris di Timur Tengah suatu 'ultima¬
tum,’ yang wajib ditaati.
226
Bung Syahrir lolos
Bersamaan dengan berita serangan bersenjata itu, diberitakan
pula bahwa Sutan Syahrir telah sampai di Singapura, setelah ber¬
hasil meloloskan diri dari kepungan Belanda. Ditengah-tengah
berita suram itu, berita kelolosan Bung Syahrir itu banyak membe¬
ri harapan bagi peijoangan yang harus lebih digiatkan lagi di lapa¬
ngan intemational. Karena nama beliau dikenal dilapangan
tersebut, terutama di Amerika Serikat sebagai pemimpin anti-
facist yang berwibawa menentang pendudukan Jepang di Indo¬
nesia. •
Usaha-Usaha Pertama
Ketika Belanda memulai kejahatannya itu, Delegasi R.I. ma¬
sih dalam perjalanan kembali dari Irak menuju Lebanon, melalui
Suria. Yang berada di Kairo hanya Mr. Nazir Pamoncak yang sege¬
ra kembali dari Irak karena tidak tahan panas udara Bagdad di-
bulan Juli. Usaha-usaha kami pertama dalam menyelamatkan ke¬
merdekaan dan kedaulatan R.I. yang terancam itu, adalah meng¬
hubungi Pemerintah Mesir, 1 Perwakilan-perwakilan Arab dan Islam
di Kairo dan Sekjen Liga Arab, A.R. Azzam Pasya yang sedgng
berada di New York menghadapi soal-soal konflik Mesir-Inggris
dan soal Palestina. Bersama-sama dengan penerangan mengenai
perkembangan situasi terakhir di Indonesia, juga kami teruskan
kepada mereka pernyataan Pemerintah R.I. yang antara lain me¬
ngatakan :
”Perang yang dilancarkan Belanda hari ini tidak lain adalah sebagi¬
an dari penderitaan yang dihadapi 70 juta Ummat Islam Indonesia.
.Inggris dengan segala kekuatan yang dimilikinya menyo¬
kong Belanda dalam menghadapi Ummat Islam Indonesia.”
Dan Seruan Indonesia kepada para Kepala Negara Arab dan Islam
yang antara lain mengatakan : ”.Kami telah menanda-tangar
ni perjanjian dengan Belanda, di mana mereka telah mengakui
kemerdekaan dan kedaulatan negeri kami. Tetapi mereka telah
227
228
Gambar Bung Syahrir, lolos dari kepungan Belanda, ketika sampai di Kairo ha¬
nya dengan selembar kemeja dan pentalon saja, sedang melalui duane. Di kanan¬
nya H.A. Salim dan di ujung kanan M.A. Mun’im Beg.
kecanduan penjajahan, tidak dapat meninggalkan kerakusannya.
Oleh karena itu, kami menghadapkan Seruan ini kepada para
Kepala Negara Arab supaya menyokong peijoangan kami. Kami
akan terpaksa sekarang menghancurkan apa yang telah kami bina
selama ini, guna mempertahankan diri kami, dan akan terpaksa
menjalankan politik ’bumi hangus.’ Tidaklah mungkin bagi suatu
bangsa hidup bersenang-senang, sedang kehormatan tanah-aimya
diinjak-injak oleh kaki penjajahan. Kami akan merasa lebih baik
negeri kami hancur-lebur, menjadi gundul dan gersang, daripada
hidup tenteram, sedang kemerdekaan dan kehormatan kami di¬
injak-injak.”
Pernyataan-pernyataan Ketua Delegasi R.I
Haji Agus Salim, Ketua Delegasi, R.I. yang sedang meliwati
Suria ketika Belanda menyerang itu, menyatakan kepada para war¬
tawan di Damaskus : ”Kami memang memperkirakan bahwa
Belanda akan melancarkan peperangan. Karena ia telah menyiap¬
kan 70.000 kekuatan untuk menyerang Jawa dan Sumatera
Kami akan menghadapi perang itu di darat, laut dan udara. Kami
mempunyai 250.000 kekuatan bersenjata ringan .... Kamijuga-
mempunyai rimba untuk perang gerilya. Tentara Indonesia akan
membumi hanguskan segala sesuatu, sekiranya terpaksa mundur,
sehingga Belanda tidak akan dapat memanfaatkan apapun jua.” Pa¬
da pernyataan lain dikatakannya: ’Tnggris bertanggung jawab akan
perkembangan situasi di Indonesia sebagai sekarang ini, yang telah
membawa kepada pecahnya perang antara Indonesia dan Belanda.”
Delegasi R.I. sampai di Beriut, Lebanon, pada 24/9/47.
Berita-berita dari sini telah menyebut beliau ’Menteri Luar Negeri,’
karena memang telah ditunjuk oleh Pemerintah R.I. Kepada war¬
tawan beliau menyatakan : ”.Negara kami beijoang memper¬
tahankan haknya, Ia adalah korban agresi yang curang .. . . Saya
akan kembali ke Kairo dan dari sana saya akan menghubunginya
(Indonesia), bersama Sutan Syahrir, ex-PM yang telah sampai di
India. Kami akan keijasama dengan negara-negara Liga Arab untuk
229
kepentingan bersama.” Kemudian beliau mengulang lagi tentang
perang gerilya dan politik ’bumi hangus.’ Kepada wartawan New
York Times di Beirut beliau mengatakan : "Belanda menunda-
nunda keputusannya mengenai Indonesia, sehingga mereka mem¬
punyai waktu cukup guna memperkuat tentaranya. Kemudian
baru mereka melancarkan agresinya. Mungkin mereka akan mene¬
ruskan agresinya, selama tindakannya itu mencapai sebagian
maksudnya. Republik Indonesia sedang berusaha mengatur keija-
sama sedapat mungkin dengan negara-negara Arab dan juga dengan
India, Pakistan dan Turki.”
Reaksi-reaksi Dunia Arab dan Islam
Mesir. Seluruh lapisan rakyat Mesir telah dengan spontan
menunjukkan simpatinya kepada peijoangan bersenjata bangsa
Indonesia. Raja Faruk selesai mendengar kuliah Agama di-
mesjid Rifa’i pada 24/7/47 meminta kepada ribuan rakyat dan
pembesar-pembesar sipil dan militer yang hadir supaya membaca¬
kan A l f a t i h a h dan berdoa’ semoga Tuhan menjauhkan
malapetaka dari saudara kita bangsa Indonesia. ’Menurut’ Al-
Ahram’ ' ’ Semua hadirin dengan khusuk mengikuti Baginda Raja
membaca Alfatihah. Perhatian Raja itu kepada satu bangsa yang
teraniaya sangat mengesan pada semua hadirin.’ Atas perhatian
itu Mr. Nazir Pamoncak beserta anggota Panitia Pusat mengunju¬
ngi Istana Abidin guna mencatatkan nama dalam Daftar Penghor¬
matan Kerajaan dan menemui Wakil Kepala Protokol Istana supa¬
ya ia menyampaikan terima-kasih Indonesia. Pada 30/7/47 Raja
Faruk memanggil Duta Besar Inggris, Kuasa Usaha a.i. Amerika
Serikat dan Duta Belanda ke Istana Abidin. Menurut ’Al-Ahram’:
’Dalam audensi berturut-turut, Raja Faruk telah membicarakan
dengan para Kepala Perwakilan tiga negara yang terlibat di Indo¬
nesia itu soal Indonesia dan mengingatkan bahwa berlanjutnya
situasi sekarang menyakitkan hati Baginda dan hati seluruh Ummat
Islam. Sri Baginda menyampaikan harapan supaya situasi yang me¬
nyakitkan hati itu akan berakhir dengan penyelesaian yang adil.’
230
Kemudian Kabinet Mesir bersidang di bawah pimpinan Ahmad
Khasyabah Pasya. Sebelum sidang beliau telah berbicara dengan
Hassan Yusuf Bey, Wakil Kepala Kabinet Raja, mengenai Indone¬
sia. Kabinet menugaskan kepada Menteri Luar Negeri a.i. Dasuki
Ibazah Pasya supaya memanggil Duta Belanda. Setelah pertemuan
pada 31/7/47, Kementerian Luar Negeri Mesir mengeluarkan
pengumuman berikut :
”Hari ini YM Menteri Luar Negeri a.i. telah memanggil YM
Duta Belanda. Kepadanya, beliau menyatakan kecemasan yang
semakin memuncak yang dirasakan Mesir, pemerintah dan rakyat¬
nya, disebabkan aksi militer Belanda di Indonesia. Kepadanya,
beliau telah menegaskan pula perhatian Mesir yang sungguh-
sungguh terhadap penyelesaian soal Indonesia secara adil. Mengi¬
ngat hubungan-hubungan baik dan bersahabat yang mengikat Me¬
sir dengan kedua negara yang bersengketa itu, Pemerintah Keraja¬
an Mesir telah menyatakan kesediaannya untuk memberikan jasa-
jasa baiknya dalam mencari suatu penyelesaian yang adil bagi
persengketaan itu. YM Menlu a.i. telah menyampaikan kepada YM
Duta Belanda itu satu nota berisi sebagai di atas itu.”
Pada 3/8/47, Menlu a.i. itu menyatakan kepada wartawan di
Iskandariah : ”Duta Belanda telah menyampaikan jawaban Peme¬
rintahnya terhadap nota Mesir mengenai Indonesia. Dalam jawaban
itu Pemerintah Belanda sangat memperhatikan usaha Mesir untuk
menyelesaikan persengketaan Indonesia - Belanda. Sementara itu
saya gembira mengetahui bahwa Belanda telah menerima jasa-jasa
baik Amerika Serikat guna mencari penyelesaianTernyata ke¬
mudian bahwa nota Mesir kepada Belanda itu disampaikan juga ke¬
pada Duta Besar Amerika Serikat. Karena pada 5/8/47 Kuasa Usa¬
ha a.i. nya menjumpai Menlu a.i. Mesir guna menyampaikan jawab¬
an Pemerintahnya. Pemerintah Amerika Serikat yang telah disetu¬
jui Belanda melakukan ’jasa-jasa baik’-nya itu, mengucapkan ba¬
nyak terima kasih atas usaha Mesir itu.
Suara pers Mesir mencerminkan kenyataan yang hidup
dalam masyarakat yang menyokong Indonesia dan mengutuk
231
Belanda. ’Al-Ahram pada 23/3/47 mengatakan : "Kelihatannya
Belanda tidak mempedulikan lagi piagam PBB dan berusaha hen¬
dak membuktikan bahwa Dewan Keamanan tidak berdaya me¬
nahan tindak-tanduk kolonialisme. Kalau tidak demikian tentu
ia tidak mengambil jalan kekuatan dan kekerasan.Apakah
DK—PBB membiarkan Belanda melaksanakan komplotannya
terhadap R.L. yang muda itu, hanya karena kerakusan kolonial
yang masih bercengkeram dalam diri sebagian anggotanya, ataukah
ia akan segera mengambil tindakan-tindakan yang akan meng¬
hentikan tragedi itu ? ”
Harian Partai Al-Wafd terbesar ’ Al-Misri ’ mengatakan :
”.Tindakan Belanda itu sungguh ganjil dan tidak mungkin
terjadi jika tidak didorong oleh serakah kolonial yang tidak me¬
ngingini berdirinya satu republik merdeka.yang kelahiran¬
nya disambut dengan gembira oleh dunia Islam.Mesir yang
ikut bergembira, bahkan telah mengakuinya sebagai negara yang
merdeka dan berdaulat, turut merasa disakiti oleh tindakan
Belanda yang melanggar janji itu dan melancarkan peperangan
yang tidak mengenal peri kemanusiaan terhadap satu bangsa yang
ingin damai dan ingin hidup di bawah lindungan kemerdekaan
dan keamanan.”
Harian ’ Al-Mukattam ’ pada 25/7/47 mengatakan : ” Belan¬
da yang telah diperbudak Jerman, sehingga rakyatnya berteriak-
teriak minta tolong, Belanda yang digenangi Jerman dengan air-
asin, sehingga menderita malapetaka kelaparan, Belanda ini di In¬
donesia sekarang mendorong penduduk negeri ini untuk membu-
mi-hanguskan sawah-ladang mereka. Dr. Beel PM Belanda telah
lupa akan perlawanan bangsanya terhadap kezaliman Philippe ....
Apakah mereka mau berbuat terhadap rakyat Indonesia, seperti
yang diperbuat Philippe terhadap bangsa Belanda? Apakah ingat¬
an Belanda demikian pelupa?”
Harian ’Al-Asas’ dari partai yang berkuasa memberitakan ko¬
mentar Inggris di London terhadap kawat Abdulrahman Azzas
Pasya kepada PM Pandit Jawaharlal Nehru, yang seolah-olah
232
, mengancam Mesir dengan mengatakan : ’Mungkin pengakuan
sebagian negara-negara Arab terhadap R.I. dijadikan alasan bagi
sokongan diplomasinya. Tetapi di London dikatakan bahwa
Mesir - pelopor negara-negara Arab - akan rugi dengan kehilangan
sokongan Belanda di DK—PBB dalam konfliknya dengan Inggris.’
Terhadap ancaman ini, harian itu mengatakan : ” Mesir yang me¬
nuntut kemerdekaan bagi Lembah Sungai Nil di lapangan inter¬
nasional, sungguh memandang kemerdekaan itu dengan penilaian
yang sebenarnya. Tidak peduli, apakah dalam menyokong suatu
bangsa yang tertindas, Belanda atau lainnya akan marah.”
Harian ’ Al-Kutlah ’ pada 27/7/47 dengan tajuk ’ Bagaimana
menolong Indonesia ’ antara lain mengatakan : ”Banyak tulisan-
tulisan dan resolusi-resolusi yang kami terima mengenai Indonesia
dan keharusan mengambil tindakan-tindakan positif oleh Mesir
guna menolongnya. Kami ingin menegaskan bahwa menyokong
Indonesia tidak mungkin hanya dengan pidato-pidato atau tulisan-
tulisan, tetapi harus dengan tindakan yang positif oleh Pemerintah
Mesir sendiri. Mesir harus memutuskan hubungannya dengan Be¬
landa, atau memprotes dengan tindakan-tindakan praktis yang
disertai sanksi-sanksi yang akan dapat menolong Indonesia.”
Buruh Port Said dan Suez Memboikot Kapal-kapal Belanda
Semenjak Belanda melancarkan agresinya, dan diberitakan
bahwa kapal-kapal Belanda yang membawa serdadu dan senjata
akan melalui Terusan Suez, Panitia Pusat yang telah menjadi
Kantor Penerangan R.I., menghubungi golongan-golongan buruh
di pelabuhan-pelabuhan daerah itu. Pihak resmi yang dihubungi
tentang penutupan kanal bagi kapal-kapal Belanda menyatakan
bahwa itu tidak mungkin, karena Mesir terikat oleh Perjanjian
1888 yang memberi kebebasan lalu-lintas di terusan tersebut.
Adapun pemboikotan, yaitu tidak memberi perbekalan makanan
dan air yang diperlukan tiap-tiap kapal yang datang dari Eropa,
terserah kepada kebijaksanaan setempat. Maka dianjurkan kepada
233
para buruh di sana supaya memboikot kapal-kapal itu. Kepada
mereka kami sampaikan juga seruan bersama Pimpinan-pimpinan
Pusat Pemuda Islam Indonesia, Pemuda Indonesia dan Persatuan
Mahasiswa Indonesia pada 1/8/47 yang ditujukan kepada sindi¬
kat-sindikat buruh di pelabuhan-pelabuhan Port Said, Suez, Aden,
Kolombo dan Singapura, supaya memboikot kapal Belanda ”Vo-
lendam” yang sudah berangkat dari Belanda pada 30/7/47 dan
kapal-kapal Belanda lainnya.
Sebelum kapal ”Volendam” itu sampai di Port Said, kami
telah mengirim Sdr. Fouad Fakhruddin ke sana guna menghubungi
kelompok-kelompok buruh itu. Untuk membantunya ditunjuk
K.Y. Mr. Nazir Pamoncak menyesalkan penunjukan itu, karena
tindak-tanduk yang bersangkutan selama ini yang merugikan.
Dari Port Said Fouad Fakhruddin menelepon saya meminta supa¬
ya dicarikan bom-bom, karena ada dikalangan buruh itu yang ber¬
sedia mempergunakannya. Pembicaraan dengan bahasa Arab itu
segera saya alihkan, karena dicurigai sekali bahwa telepon kami
itu disensor.
Pada 9/8/47, kapal ”Volendam” itu telah sampai di Port
Said. Ribuan penduduk dan buruh setempat telah berkumpul
di pelabuhan itu dan puluhan motor-boat berkeliaran dipermukaan
air guna menghalangi motor-motor-boat kepunyaan perusahaan-
perusahaan 'asing yang mendekati kapal-kapal tersebut guna me¬
nyampaikan makanan dan air. Motor-motor-boat yang penuh de¬
ngan buruh-buruh militant, terutama dari Ikhwanul Muslimin,
membawa bendera merah-putih dan gambar-gambar Raja Faruk.
Apa yang terjadi di Port Said itu, Saya nukilkan di sini laporan
wartawan ’ Al-Balagh ’ pada 10/8/47 sebagai berikut :
”Para demonstran telah mengejar-ngejar motor-boat motor-
boat pengangkut air yang berusaha memberikan air dan makanan
kepada kapal itu dan dipaksa kembali ke pelabuhan. Sesudah
setengah jam kapal itu berlabuh, sebuah motor-boat pengangkut
air dan makanan yang dijaga keras oleh 20 orang polisi bersenjata
mendekati kapal itu beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Be¬
landa berasal Inggris dan Direktur perusahaan yang mengurus .
234
kapal-kapal Belanda di pelabuhan tersebyt. Motor-motor boat
yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan
sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. Mereka menyerang
kamar stirman, menarik ke luar petugas-petugasnya, dan mem¬
belokkan motor-boat besar itu kejuruan lain. Mr. Blackfield
bersama-sama polisi yang tidak mempergunakan senjatanya
berusaha menguasai kembali kamar stirman, tetapi sia-sia saja,
karena terdepak kembali ke luar. Konsul itu hampir saja diper-
pukulkan, sekiranya Wakil Syahbandar dan Kepala Polisi tidak
segera sampai di motor-boat itu. Mr. Blackfield (lapangan hi¬
tam) yang benar-benar menjadi sasaran hitatm itu mengancam
akan mengadukan kepada Pemerintah Belanda supaya memprotes
penghinaan yang dialaminya dan teriakan-teriakan permusuhan
yang dihadapkan kepada Belanda. Ia juga mengancam akan ber¬
tindak sendiri bersama-sama dua-ribu tentara Belanda yang berada
dikapal itu, sekiranya yang berkuasa dipelabuhan tidak memulih¬
kan keamanan. Mahmud Sabit Bey, Wakil Kepala Polisi Terusan
Suez yang telah dapat naik kemotor-boat itu berusaha mene¬
nangkannya, sambil memberi pengertian kepadanya bahwa kema¬
rahan rakyat yang disaksikannya itu adalah sebenarnya manifes¬
tasi dari perasaan simpati yang meluap dari mereka terhadap
saudara-saudara mereka se-Agama. Siang-malam suratkabar-surat-
kabar dan pemancar-pemancar radio menyiarkan berita-berita
agresi Belanda terhadap bangsa Indonesia Muslim. Mereka tidak
bermaksud menghina atau menyakitinya sebagai Konsul. Di
tegaskannya pula bahwa polisi telah berhasil menyelamatkannya
dari bahaya yang seharusnya dia sendiri tidak perlu mencucukkan
diri kedalamnya. Iapun diperingatkan supaya jangan melancarkan
tuduhan-tuduhan yang bukan-bukan kepada polisi Mesir ..... ”
Kapal itu meninggalkan Port-Said tengah malam dengan pe¬
ngawalan motor-boat polisi, tanpa berhasil mendapatkan makanan
atau air. Di pelabuhan Ismailia, yang dikuasai Inggris sepenuhnya,
barulah kapal itu mendapat perbekalannya. Dipelabuhan Suez
kapal itu yang masih dikawal motorboat-motorboat polisi disam¬
but oleh ribuan buruh dan rakyat umum dengan pekikan-pekikan
'Merdeka’ beserta acungan-acungan bendera-bendera merah-putih
dan makian-makian permusuhan. Sepanjang tepi Terusan itu, dari
Port-Said sampai ke Suez, kapal itu diiringkan oleh ratusan pemu¬
da beserta Fouad Fakhrruddin dan K.Y. yang mengacung-acung¬
kan bendera merah-putih dan pekikan ’ Merdeka
Semenjak itu, setiap kapal Belanda yang melalui Terusan
Suez itu mengalami perlakuan yang sama. Mengenai K.Y, sendiri,
telah teijadi apa yang disesalkan Mr. Pamoncak kepada saya.
Ia telah menarik keuntungan sendiri dari simpati rakyat yang
mumi itu dan baru diketahui beberapa hari kemudian, ketika seo¬
rang dari pimpinan Panitia (S.M.Nur) pergi ke Suez guna mengirim
30 ton beras ke Saudi Arabia, sebagaimana biasa tiap-tiap bulan,
untuk ribuan warga Indonesia di sana yang memerlukan bantuan.
Demikian marahnya Mr. Pamoncak kepada K.Y., sehingga waktu
beliau pulang pada bulan Januari 1948, satu-satunya surat yang
tidak mau beliau membawanya, bahkan dikatakannya, haram,
adalah surat K.Y. sendiri, sedang itu adalah kesempatan pertama
bagi kami di Kairo untuk mengirimkan surat kepada keluarga
masing-masing di Indonesia.
Rap at Umum
Puncak manifestasi simpati rakyat Mesir diperlihatkan
pada rapat umum yang diadakan oleh partai-partai politik dan
organisasi-organisasi massa pada 30/7/47, di mana ikut juga ber¬
bicara wakil-wakil Arab dari Masyrik ke-Maghrib yang di antara
pembicaranya terdapat (Presiden) Habib Burguiba dari Tunisia
dan Pemimpin Maroko, Allal Al-Fassi. Rapat umum itu telah me¬
nyetujui satu resolusi yang menuntut antara lain :
1 - pemboikotan barang-barang buatan Belanda, diseluruh nega¬
ra-negara Arab;
2 - pemutusan hubungan-hubungan diplomatik antara negara-
negara Arab dan Belanda;
3 - penutupan pelabuhan-pelabuhan dan lapangan-lapangan ter-
236
bang diwilayah Arab terhadap kapal-kapal dan pesawat
udara Belanda, dan
4 - pembentukan perangkatan-perangkatan kesehatan untuk
menolong korban-korban agresi Belanda.
Reaksi Negara-Negara Arab Lainnya
Liga Arab.
Menghadapi soal conflik Mesir-Inggris dan soal Palestina
di Dewan Keamanan PBB, Abdulrahman Azzam Pasya, Sekjen
Liga Arab, sedang berada di New York ketika Belanda melancar¬
kan agresi bersenjata itu. Maka kegiatan Liga tersebut seolah-olah
pindah ke sana. Menurut wartawan ’ Al-Misri ’ diarena PBB,
Azzam Pasya telah mengadakan hubungan-hubungan dengan
diplomat-diplomat Amerika Serikat, diplomat-diplomat asing dan
wakil-wakil negara di PBB, terutama dengan Duta Besar India,
Duta Afganistan dan Wakil Pilipina, guna membicarakan agresi
Belanda'terhadap Indonesia. Azzam Pasya juga telah mengirim
kawat kepada PM India Jauharlal Nehru dan kepada Raja Afganis¬
tan, supaya menyokong Indonesia. Wartawan ’ Al-Balagh ’ di New
York melaporkan bahwa : ’Pendirian liga Arab adalah istimewa.
Karena ia adalah satu-satunya badan internasional yang telah me¬
ngakui Indonesia. Oleh sebab itu harus mempertahankan Republik
Indonesia;’ Adapun naskah kawat Azzam Pasya kepada Nehru
sebagai diberitakan oleh Arab News Agency (K. B. Inggris) pada
24/7/47 dan disiarkan oleh ’ Al-Ahram ’ adalah sebagai berikut :
”Saya sesungguhnya selalu mengikuti dengan kekaguman
dan hormat pekeijaan YM yang besar-besar. Tentu YM mengeta¬
hui bahwa simpati kami kepada India tidak berbeda dengan sim¬
pati kepada negara-negara Timur lainnya. Kami sangat bergembira
dengan sikap India di PBB yang selalu memihak kepada kebenaran
dan keadilan.”
t
” Belanda telah melancarkan perang yang tidak mengenal ke¬
manusiaan terhadap Indonesia. Maka saya mengharap supaya YM
237
menyokong Indonesia dan dengan keberanian YM yang luar biasa
itu, kiranya YM akan mengadukan soalnya itu ke Perserikatan
Bangsa-bangsa.”
'’Sebenarnya Liga Arab sanggup memegang persoalan itu,
akan tetapi karena ia terikat pula sekarang oleh soal-soal Palestina
dan Mesir dan mungkin pula dalam waktu yang dekat oleh soal-
soal Libia dan Maroko yang akan dimajukan ke PBB, maka kami
menganggap Indialah sekarang yang paling baik menghadapi soal
Indonesia itu.”
Yang Mulia terimalah hormat saya terhadap India dan semoga
Tuhan akan memberinya taufik dan kemakmuran.
Bertepatan dengan agresi Belanda itu, Dewan Liga Arab
bersidang di Sofar, satu kota pegunungan Lebanon. Dalam si¬
dangnya tanggal 27/7/47 memutuskan mengirimkan nota kepada
negara-negara Empat Besar, Amerika Serikat, Inggris, Rusia dan
Perancis, yang menuntut supaya mereka campur-tangan meng¬
hentikan agresi Belanda itu dan mengakui hak Indonesia menen¬
tukan nasibnya sendiri.
Menurut ’ Al-Ahram ’ tanggal 7/8/47, Persatuan Indonesia
yang terdiri dari Charles Tambu, Sujatmoko dan Joyo Hadikusu-
mo, telah menemui Azzam Pasya di Plaza Hotel. Kepada mereka
beliau menyatakan bahwa negara-negara Arab yang telah mengakui
Indonesia akan berusaha sekuat mungkin menyokong Indonesia.
Setelah soal Indonesia berhasil dimasukkan ke Dewan Keamanan
PBB, beliau berbicara di Cleveland, Ohio, dihadapan 20.000 warga
Amerika keturunan Arab dan mengatakan tentang Indonesia:
”Ini adalah satu kemenangan yang benar-benar bagi PBB . . . .
Keputusan DK-PBB itu yang mengandung pengakuan terhadap
Republik Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat
itu, sesungguhnya telah memperkuat lagi keputusan Liga Arab
setahun yang lalu .... Sekarang kita menunggu-nunggu dengan
penuh kepuasan bahwa negara-negara anggota PBB akan mengikuti
jejak negara-negara Arab dalam menentang penjajahan.”
238
S u r i a . Arab News Agency dari Damaskus memberitakan pada
26/7/47 bahwa : "Pemerintah Suria telah memerintahkan kepada
wakilnya di Dewan Keamanan, Faris El-Khuri Bey, supaya mem¬
protes atas nama Pemerintah Suria kepada PBB atas agresi Belanda
terhadap Indonesia.” Dikatakannya pula bahwa ”Wakil Suria itu
telah mengadakan pembicaraan-pembicaraan dengan John Andu
wakil Indonesia di Amerika Serikat.” (John Andu sebenarnya
adalah seorang anggota Panitia Pembela kemerdekaan di New York
semenjak Proklamasi). Demikian pula rakyat Suria mengutuk
agresi Belanda itu. Di mesjid-mesjid, para khatib selain mengutuk,
juga mengingatkan persaudaraan Islam yang mengingat rakyat
Suria dengan rakyat Indonesia, dan mendoakan semoga perjoa-
ngan bangsa Indonesia mendapat kemenangan. Akhir sembahyang
Jum’at, mereka mengadakan sembahyang ghaib bagi arwah syuha-
da yang gugur, sesuai dengan anjuran Jawatan Wakaf.
Lebanon. Dari Beirut diberitakan (26/7/47) bahwa Pemerin¬
tah Lebanon dihujani oleh kawat yang dikirimkan dari kota-kota
wilayahnya menuntut supaya memprotes agresi Belanda di Indone¬
sia. Di mesjid-mesjid diadakan sembahyang ghaib bagi korban yang
jatuh dan mendoakan supaya perjoangan Indonesia menang.
Irak. Wartawan ’ Al-Misri ’ di Baghdad memberitakan bahwa
Abdul Ilah Hafiz, Menlu a.i. Irak menyatakan : ”Meruncingnya
situasi di Indonesia sangat disesalkan. Pemerintah Irak bersama-
sama negara-negara Arab lainnya sedang mengadakan permusya¬
waratan mengenai tindakan bersama yang akan diambil, terutama
mengingat bahwa negara-negara Arab telah mengakui Indonesia.”
Sementara itu Dr. Fadil Jamali, Menlu Irak yang sedang berada
di Iskandariah, Mesir, mengatakan : "Pemerintah Irak telah
meminta kepada Sekretariat Liga Arab supaya menyampaikan
kepada negara-negara Arab anggotanya agar bersama-sama me¬
majukan protes kepada Belanda atas agresinya di Indonesia.”
Saudi Arabia. Dari Jeddah diberitakan : "Raja Abdul Aziz
Ibnu Saud telah memanggil para Duta Amerika Serikat, Inggris dan
Belanda. Kepada mereka beliau menyampaikan keprihatinan Ke-
239
rajaan Saudi Arabia terhadap agresi Belanda di Indonesia, dan
harapan supaya keamanan di sana lekas kembali atas dasar penga¬
kuan terhadap tuntutan-tuntutan nasional Indonesia.. Haji Agus
Salim Menlu R.I. telah diberitahu tindakan Raja Ibnu Saud itu,”
Palestina. Bangsa Arab yang waktu itu masih mayoritas di-
wilayah itu mengutuk agresi Belanda dan menyokong Indonesia.
Sami Taha Sekjen Serikat Buruh yang berpusat di Haifa menyata¬
kan kepada wartawan ’ Al-Kutlah ’ Agresi Belanda lebih kejam
dari agresi nazi dan fascis di Eropa. Belanda yang pernah mengala¬
mi pahitnya pendudukan dan menjerit-jerit minta tolong supaya
dibebaskan, sekarang menginjak-injak kemerdekaan satu bangsa.”
Ia menyerukan supaya ” Buruh seluruh dunia menyokong rakyat
Indonesia dengan jalan apapun juga, sehingga rakyat Indonesia
dapat merebut kembali kemerdekaannya.”
Negara-Negara Islam Luar Arab
Turki. Reuter memberitakan bahwa Kalangan resmi di An¬
kara dan Istanbul mengikuti perkembangan soal Indonesia dengan
penuh perhatian. Kalangan itu menganggap serangan Belanda itu
suatu pelanggaran terhadap Piagam Atlantik. Turki akan menyo¬
kong Indonesia di Perserikatan Bangsa-bangsa . Sementara itu
wartawan ’ Al-Ahram ’ di Istanbul memberitakan bahwa ” Semua
surat kabar Turki mengutuk politik berdarah Belanda di Indone¬
sia. Mereka mengecam Pemerintah Belanda dan menganggap Pe¬
merintah-Pemerintah London dan Washington dari sudut moral
bertanggung-jawab atas pertumpahan darah di sana dan meman¬
dang perang kolonial yang sedang berkecamuk itu akan memper¬
lengkapi propaganda komunis dengan senjata baru.”
Iran. Asykar Hikmat, Menteri Luar Negeri Iran, menyatakan di
Teheran pada 30/7/47 : ”Pemerintah Iran merasakan dan menya¬
takan kepiluan hatinya disebabkan agresi Belanda di Indonesia.
Adalah kewajiban negara-negara besar menghentikan pertumpahan
darah itu.”
240
Bung Syahrir di Kairo
Bung Syahrir yang telah berhasil meloloskan diri dari kepu¬
ngan Belanda pada permulaan agresi Belanda di Indonesia telah
sampai di Kairo pada jam 1.30 pagi tanggal 5/8/47, dalam per¬
jalanan ke New York. Dilapangan terbang beliau disambut selain
oleh H.A. Salinf dan warga Indonesia di Kairo, juga oleh Wakil
Kementerian Luar Negeri Mesir, para pembesar dan pemimpin-
pemimpin partai-partai dan organisasi-organisasi rakyat Mesir dan
Arab, serta puluhan wartawan setempat dan asing.
Kepada wartawan yang mengerumuninya Bung Syahrir
menyatakan antara lain : "Keberangkatan saya ke New York ada¬
lah atas tunjukan resmi Presiden Republik Indonesia.” Atas per¬
tanyaan apakah Indonesia negara yang berdaulat, dijawabnya :
"Persetujuan Dewan Keamanan memasukkan soal Indonesia da¬
lam acaranya, itu saja sudah merupakan pengakuan yang tegas
bahwa Indonesia mempunyai kedaulatan penuh.” Mengenai soal
Indonesia itu sendiri, dikatakannya : ” Soal Indonesia seluruhnya
harus dimajukan kepengadilan internasional, setelah kami melaksa¬
nakan perintah gencatan senjata yang dikeluarkan DK—PBB, dan
setelah saran-saran India dan Australia mengenai persengketaan
itu disampaikan kepada sidang. Karena gencatan senjata saja ha¬
nya akan menguntungkan Belanda, apabila mereka dibiarkan
bercokol di daerah-daerah yang mereka duduki.” Ketika ditanya
apakah Indonesia akan memasuki Liga Arab, dijawabnya dengan
tersenyum : "Tidak mungkin, karena Indonesia bukan negara
Arab. Tetapi, sebagai negara Islam, adalah penting baginya untuk
bekeijasama yang erat dengan negara-negaranya." Kemudian
Bung Syahrir mengucapkan terima kasih kepada dunia Arab dan
Islam yang telah menyokong Indonesia, terutama Mesir yang telah
mempelopori sokongan itu. Sampai di sini H. A. Salim menyelang
dengan mengatakan bahwa beliau menahan Bung Syahrir di Kairo
sehari-dua adalah untuk menemui pemimpin-peminpin Mesir dan
Arab, dan jika diberi kesempatan diharapkan akan beraudensi
dengan Raja Faruk. Mengenai pribadi Bung Syahrir, Muhammad
241
Abdulmun’im, Utusan Istimewa Liga Arab ke Indonesia mengata¬
kan : ”Sutan Syahrir adalah seorang pemimpin Indonesia terkemu¬
ka, meskipun beliau masih muda, yaitu baru berumur tiga-puluh
tujuh tahun. Beliau seorang yang cakap dan pandai memberi
pengertian, sehingga Lord Killeam, Komisaris Tinggi Inggris di
Asia Tenggara, mengakui bahwa ia belum pernah selama pengala¬
mannya di bidang diplomasi menemui seorang diplomat yang
demikian kuat argumentasinya dan pandai memberi pengertian,
seperti Dr. Syahrir.”
Selama sehari semalam 5 Agustus 1947 di Kairo, Bung Syah¬
rir telah menemui Ibrahim Abdul Hadi Pasya, Kepala Kabinet
Raja. Selain menyampaikan terima kasih Indonesia kepada Raja
Faruk, juga menerangkan perkembangan situasi politik dan militer
di Indonesia. Kemudian mengunjungi Kementerian Luar Negeri dan
menjumpai Kamil Abdulrahim Bey Sekjennya dan Ibrahim Basuki
Ibazah Menlu a.i.-nya. Pertemuan yang berlangsung satu setengah
jam itu telah memberi kesempatan bagi Bung Syahrir untuk mem¬
bentangkan persoalan konflik Indonesia-Belanda dengan seluas-
luasnya. Karena hari itu bersamaan dengan 18 Ramadhan 1366,
Bung Syahrir bersama para anggota Missi Tetap R.I. pada sorenya
berbuka di Muhammad Ali Club atas undangan Menlu a.i. Mesir
itu, beserta para Kepala Perwakilan Arab di Kairo dan pembesar-
pembesar Mesir dan Arab lainnya. Jamuan buka itu menjadi
tempat yang sebaik-baiknya bagi pihak Indonesia membentangkan
lagi persoalan Indonesia kepada pihak Arab yang lengkap diwakili
itu, serta menyampaikan terima-kasih kepada dunia Arab yang
telah menunjukkan perhatian dan persahabatannya itu.
Kesinggahan Bung Syahrir yang tidak direncanakan semula
itu telah menyebabkan kesulitan bagi beliau dan Pak Salim untuk
mendapatkan tempat pada pesawat yang ditumpangi ke New
York. Kesulitan itu diselesaikan oleh Istana Raja sendiri, dengan
memerintahkan dua penumpang lainnya supaya memberikan
kursi-kursi'mereka ke Bung Syahrir dan Pak Salim. Menurut Wakil
Raja yang ikut mengantar ke lapangan terbang itu, perintah itu
242
datang langsung dari Raja Faruk sendiri, setelah mengetahui
kesulitan itu. Sebelum meninggalkan Kairo, Bung Syahrir dan Pak
Salim mengirimkan ’message’ berikut :
”Dikala kami meninggalkan negeri yang peramah ini, dalam
peijalanan ke Amerika Serikat guna mempertahankan persoalan
negeri kami, kami menyampaikan syukur dan terima-kasih kepada
Mesir, Pemerintah dan rakyatnya, atas simpati dan sokongan yang
diperlihatkan terhadap Indonesia pejoang, dan atas penyambutan
persahabatan yang mengesan dan tidak akan hilang-hilang bekas
baiknya dalam hati kami. Kami memanjatkan doa kepada Tuhan
Yang Maha Tinggi, semoga Dia memanjangkan umur Faruk, Raja
Lembah Sungai Nil.”
Bung Syahrir sampai di New York
Kehadiran ex-PM dan Penasehat Pribadi Presiden R.I. Sutan
Syahrir dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim di New York dan
kegiatan-kegiatan mereka di arena internasional PBB sudah tidak
masuk lagi dalam batas jangkauan tulisan saya dalam buku ini.
Dari itu yang sudah atau akan saya ungkapkan di sini hanya yang
ada hubungannya dengan hasil peijoangan Panitia-panitia Timur
Tengah. Pernyataan Bung Syahrir pertama pada 9/8/47 ’ Al-
Ahram ’ melaporkan : ” Indonesia banyak menyandarkan diri ke¬
pada Mesir, Suria dan negara-negara Arab lainnya dan juga India,
Australia dan Amerika Serikat, dalam usaha menjadikan Dewan
Keamanan penjamin keselamatan Indonesia.” Dikatakannya
pula : ” Pembicaraan-pembicaraan mereka di Mesir dengan pembe-
sar-pembesamya banyak memberi rasa optimis bagi mereka.”
Dikatakannya lagi : "Hubungan-hubungan kami dengan India
baik sekali. Dari itu kami percaya bahwa India akan memainkan
peranan yang baik jika diberi kesempatan oleh Dewan Keamanan.”
United Press melaporkan dari New York bahwa sesampai di New
York, Sutan Syahrir dan H,A. Salim pada 10/8/47 telah mengada¬
kan pertemuan dengan Abdulrahman Azzam Pasya, Sekjen Liga
243
Arab, di tempat hotel penginapan Sekjen itu, bersama-sama Assif
Ali Khan, Duta India Berkuasa Penuh dan beberapa pembesar-
pembesar |Arab lainnya, guna membicarakan hal-hal yang ber¬
sangkutan dengan soal Indonesia yang akan diperbincangkan di
Dewan Keamanan PBB.
Faris El-Khuri, Wakil Suria di DK-PBB memimpin Sidang
Adalah taufik dari Tuhan Yang Maha Adil bahwa yang men¬
jadi Ketua Dewan Keamanan pada bulan Agustus itu adalah
Faris El-Khuri, Wakil Republik Suria di Dewan tersebut. Beliau
telah mempergunakan kekuasaannya sebaik-baiknya guna menyo¬
kong Indonesia. Wartawan ’ Al-Misri ’ di New York, dalam menilai
sikap negara-negara besar dan kolonial di Dewan Keamanan, me¬
laporkan pada 16/8/47 bahwa : "Setelah Dr. Syahrir menduduki
kursinya di Dewan Keamanan dan membentangkan di mimbar
pendapat umum internasional itu sejarah 350 tahun keganasan
Belanda di Indonesia, orang bertanya-tanya apakah Dewan ter¬
sebut benar-benar memperhitungkan akibat yang sebenarnya dari
seruan yang ditujukannya kepada Republik Indonesia. ’ Pertanya¬
an itu dijawabnya sendiri dengan mengatakan bahwa Wakil
Rusia Gromico hanya memikirkan kemungkinan menyebarkan
komunisme di tengah-tengah 70 juta Muslimin Indonesia, sedang
Amerika Serikat berusaha supaya ’keamanan’ pulih kembali di In¬
donesia, karena ia lebih percaya kepada kemampuan Inggris dan
Perancis menghadapi komunisme di Asia Tenggara dari pada 300
juta penduduk aslinya. Wakil A.S. sendiri, Mr. Johnson dengan
terang-terang mengatakan bahwa tidak ada tersimpul dalam kepu-
tusan negaranya suatu pengakuan terhadap kedudukan internasio¬
nal dari Republik Indonesia. Maka 'perantaraan’ A.S. itu tidak ber¬
tujuan lebih dari pada pulihnya ’keamanan’ di Indonesia, dan tidak
sekali-kali menghendaki kemerdekaan Indonesia. Dapat dikatakan
bahwa negara-negara yang sungguh-sungguh campur-tangan (di
DK-PBB) dalam persoalan Indonesia menurut tujuan dan sesuai
dengan ssmangat Piagam PBB, hanyalah Suria, Australia, Colombia
244
dan Brazil..... Kalangan neutral beranggapan bahwa Dr. Syahrir,
Wakil Indonesia, berhutang budi kepada Faris El-Khuri, mengenai
kursi yang diperolehnya di DK—PBB guna membentangkan sikap
negaranya. Karena ialah ( El-Khuri ) yang telah membendung
usaha-usaha yang dilakukan negara-negara kolonial guna mengha¬
langi ikut Indonesia membicarakan soal negaranya. Faris El-Khuri
telah berhasil berkali-kali menggagalkan usaha-usaha semacam itu.
Ketika Wakil Belgia mengusulkan supaya agen-agen Belanda juga
diundang untuk membentangkan pendapat mereka di dalam si¬
dang-sidang Dewan Keamanan, dengan senyum Faris El-Khuri
mematahkan usaha itu dengan mengatakan : ’Indonesia Timur dan
Bomeo tidak ada sangkut-pautnya dengan sengketa yang diper¬
bincangkan.’ Demikian pula ketika Wakil Belanda menentang hak
Dewan Keamanan untuk memperbincangkan soal Indoriesia,
dengan cepat Faris El-Khuri - sebagai Ketua sidang - mengata¬
kan bahwa Dewan tersebut berhak meneruskan pembicaraan
dalam soal itu, dengan alasan bahwa Dewan itu sebelumnya telah
memutuskannya. Keputusan itu tidak dapat dirobah kecuali jika
ada seorang anggota mengusulkan pembatalannya dan usul itu
disetujui oleh mayoritas anggota. Demikianlah dengan mempergu¬
nakan kekuasaannya sebagai Ketua Priodik Dewan Keamanan pada
bulan Agustus itu, Wakil Suria di DK-PBB itu telah banyak ber¬
bakti kepada soal Indonesia.”
Ketika soal Indonesia dibicarakan di DK—PBB itu, ada ke¬
inginan dikalangan Vietnam memajukan pula persoalan negerinya
ke arena arah internasional itu. Keinginan ini mendapat tanggapan
positif dari pihak Liga Arab. Menurut ’Al-Ahram’ tanggal24/2/48,
waktu soal itu diperbincangkan dalam Liga tersebut, Sekjen liga
ini, A. R. Azzam Pasya, mendapat kecaman dari seorang anggota
karena tidak Liga Arab sendiri yang memajukan soal Indonesia ke
Dewan Keamanan. Karena ia menganggap bahwa Liga Arab yang
telah mengakui Indonesia, berkewajiban berbuat demikian, bukan
negara-negara lain Arab sebagai yang terjadi pada bulan Agustus
1947 itu. Terhadap kecaman ini Azzam Pasya menjawab bahwa
memang negara-negara Arablah yang telah mengakui Indonesia dan
245
'1
memang pula merekalah yang seharusnya memajukan soal itu ke
DK—PBB. Tetapi untuk kepentingan Indonesia sedirilah bila satu
negara Timur Jauh atau India yang memajukannya, sedang semua
negara-negara Arab menyarankan kepada India dan Australia supa¬
ya memajukannya dan meminta kepada Pemerintah India — seba¬
gai negara besar di Timur — supaya bersama-sama Liga Arab men¬
dukung soal tersebut. Demikian pula Liga Arab menghubungi Pe¬
merintah Australia untuk maksud yang sama. Pada sidang liga
Arab itu diungkapkan pula bahwa ketika akan berangkat ke New
York dari Kairo, Delegasi Indonesia menghadapi kesulitan-kesuli¬
tan keuangan dan Sekretariat Liga Arab telah memberikan jasa-jasa
baiknya guna mengatasi kesulitan itu.
Aksi Militer Belanda Kedua
Semenjak Proklamasi, salah satu tugas saya sehari-hari adalah
mengikuti siaran RRI Pusat yang berpindah-pindah dari Jakarta ke
Bandung dan terakhir ke Yogyakarta, pada tiap-tiap jam 18.30,
menteijemahkannya dan kemudian meneruskannya kepada Radio-
Kairo dan harian-harian yang akan terbit besoknya. Pada senja
19/12/1948, seperti biasa saya mengikuti RRI-Yogya. Alangkah
terperanjatnya saya, ketika mendengar gelombang yang biasa saya
ikuti itu telah berobah irama. Saya mulanya tidak mempercayai
telinga saya. Tetapi setelah beberapa kali digeser-geser dan itu-itu
juga yang terdengar, yaitu makian-makian terhadap pemimpin-
pemimpin Republik yang dikatakan ’pengacau’ dan ’penipu rak¬
yat’ dan pujian-pujian terhadap pemuka-pemuka federal yang di¬
sebut berpandangan ’realistis’ dan ’benar-benar’ membawakan
aspirasi yang hidup dikalangan rakyat Indonesia, barulah saya
mencoba mendengarkan pemancar-pemancar dunia lainnya. Keti¬
ka itulah baru saya sadar bahwa Yogyakarta, ibukota Republik
Indonesia, telah diduduki tentara Belanda dan beberapa pemim¬
pin-pemimpin Indonesia terkemuka tertawan.
Pukulan pertama berita itu sungguh-sungguh melemahkan
sendi-sendi badan. Tetapi setelah teringat bahwa dalam perang
246
gerilya pendudukan kota atau ibukota sekalipun oleh musuh be¬
lum berarti kekalahan, barulah kepercayaan kembali kepada kesa¬
nggupan bangsa Indonesia yang telah tiga tahun bergerilya itu
akan memenangkan perjoangannya. Kesulitan kami ialah memin¬
dahkan kepercayaan atau keyakinan kami itu kepada simpatisan-
simpatisan Indonesia di luar negeri. Kesulitan ini dapat diatasi sa¬
ma sekali setelah terjadi dua kejadian, yaitu pendudukan ibukota
Yogyakarta oleh (Kolonel) Suharto selama enam jam dan mening¬
galnya Jenderal Spoor. Kedua kejadian ini kami gunakan sejauh-
jauhnya guna membuktikan kekuatan R.I. yang sebenarnya. Pen¬
dudukan enam jam yang kami beritakan ’ dua 'hari ’ itu dijadikan
bukti pertanyaan-pertanyaan kami bahwa tentara Indonesia me¬
ngosongkan ibukota adalah suatu ’taktik’ perang gerilya saja yang
sewaktu-waktu dapat didudukinya kembali. Sedang wafatnya Jen¬
deral Spoor Panglima tentara Belanda di Indonesia itu, kami ka¬
takan ’membunuh diri’, karena putus asa akan kemenangan meng¬
hadapi tekad bangsa Indonesia yang membaja itu.
Keyakinan kami itu telah diterima oleh para simpatisan,
sehingga Muhammad Ali Taher, pemimpin Palestina yang men¬
cintai Indonesia semenjak lama itu, suatu hari menarik saya ke
Bank Arabia dan mengeluarkan semua uangnya yang tersimpan
dalam bank itu dan kemudian memberikannya kepada saya tanpa
meminta tanda bukti penerimaan dan mengatakan : 'Terimalah
semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjoangan Indo¬
nesia ! Pembentukan Pemerintah Darurat di Sumatera di bawah
pimpinan Mr. Syafruddin Prawiranegara telah mengokohkan kem¬
bali kedudukan R.I. di luar negeri yang diwakili oleh Mr. A.A. Ma-
ramis, sebagai Menteri Luar Negeri yang berkedudukan di New
Delhi, India, dan memungkinkan berhasil baik Konferensi Asia di
New Delhi pada 24/1/1949.
Reaksi Negara-negara Arab
Diakui bahwa pengosongan ibukota Yogyakarta oleh tentara
R.I. dan tertawannya beberapa pemimpin-pemimpin terkemuka
247
R.I. itu pada mulanya membingungkan penyokong-penyokong
kita di Timur Tengah. Tetapi kebingungan itu dapat dihilangkan
sedikit demi sedikit dan menggantinya dengan keyakinan bahwa
revolusi Indonesia tetap sanggup menghadapi tentara kolonial
Belanda, apalagi setelah tersiar luas berita ’ bunuh diri ’ Jenderal
Spoor, yang memang diselubungi oleh awan tebal syak wasangka.
Sokongan negara-negara Arab tetap sebagaimana sebelumnya se¬
perti terbukti oleh nota Pemerintah Irak kepada Pemerintah Suria
pada 22/3/49 yang berbunyi : "Pemerintah Irak telah membatal¬
kan persetujuannya dengan perusahaan Belanda KLM. Karena se¬
telah dilakukan penyelidikan, terbukti bahwa pesawat-pesawat
perusahaan tersebut dipergunakan untuk membawa senjata bagi
tentara Belanda di Indonesia. Sesuai dengan keputusan Konferensi
Asia di New Delhi, Pemerintah Irak juga melarang penggunaan
lapangan terbangnya bagi penerbangan-penerbangan sipil Belanda.
Maka Pemerintah Irak mendesak Pemerintah Suria supaya me¬
ngambil tindakan yang sama.” Suria yang sebenarnya sedang mem¬
pelajari pula soal pelaksanaan keputusan Konferensi New Delhi
itu, juga mengambil putusan serupa dengan tindakan Irak itu,
yaitu melarang pesawat-pesawat KLM singgah di pelabuhan uda¬
ranya. Demikian juga negara-negara Arab lainnya.
Reaksi itu dapat juga dilihat dari sikap negara-negara Arab
itu di Dewan Keamanan, ketika membicarakan soal aksi militer
Belanda yang kedua ini. Dr. Mahmud Fauzi, Wakil Mesir pada
sidang Dewan Keamanan, seperti diberitakan oleh United Press
tanggal 22/3/49 : ”Mengecam dengan keras pembangkangan Be¬
landa terhadap wewenang Dewan Keamanan untuk campur ta¬
ngan dalam soal Indonesia.” Dikatakannya : "Ketika Dewan Ke¬
amanan mengambil keputusan-keputusan, diantaranya putusan
23 Januari 1949, membuktikan bahwa Dewan ini berhak me¬
nyelesaikan soal Indonesia itu.” Kemudian ditambahkannya :
"Konferensi yang diusulkan Belanda akan diadakan di Den Haag
telah menganggap sepi keputusan-keputusan Dewan Keamanan
itu.’ Beliau bertanya-tanya : "Bagaimana akan mungkin bagi
pemimpin-pemimpin Indonesia ikut dalam Konferensi Meja Bun¬
dar itu, jika mereka tidak diizinkan berhubungan terlebih dahulu
dengan rakyat Indonesia? ”Maka oleh sebab itu” katanya lagi :
”Mesir mendesak supaya Dewan Keamanan berpegang teguh pada
syarat-syarat di atas itu, sebelum KMB itu diadakan.” Secara sinis
beliau menutup pidatonya : ”Jika tidak demikian, Belanda akan
diwakili sepenuhnya di KMB itu, karena ia akan bebas dan tidak
ada di Den Haag orang yang akan menghancurkan ibukotanya itu.”
Berita Jenderal Spoor ’bunuh diri’ itu sungguh-sungguh lak¬
sana angin puting beliung yang menyapu bersih semua propa¬
ganda busuk Belanda terhadap R.I., sehingga negara-negara Liga
Arab tidak merasa keragu-raguan lagi akan kemampuan R.I. mem¬
pertahankan dirinya dan melanjutkan wujudnya. Dengan demiki¬
an pula penerangan kami sampai pembukaan Konferensi Meja
Bundar di Ridderzaal di Den Haag pada 23/8/49, lebih banyak
ditekankan pada keharusan pelaksanaan Resolusi Dewan Keama¬
nan pada 28/1/49, yang berdasarkan Resolusi Konferensi Asia
di New Delhi pada 24/1/49, terutama yang mengenai : (1) gence¬
tan senjata, (2) pengembalian Pemerintah Pusat R.I. ke Yogya¬
karta, (3) penarikan tentara Belanda - sumber kekacauan - dari
seluruh wilayah Indonesia dan (4) pengakuan kedaulatan R.I. oleh
Belanda sebelum akhir Desember 1949.
Para anggota Delegasi R.I. yang pulang-pergi antara Jakarta
dan Den Haag dan singgah di Kairo, selalu memberi kami infor¬
masi-informasi yang sangat berguna bagi bahan-bahan penerangan
guna mempengaruhi pendapat umum internasional dalam mendu¬
kung Delegasi R.I. yang dipimpin Dr. Muhammad Hatta Wakil
Presiden, yang menghadapi Belanda yang belum dapat dipercayai
kejujurannya itu.
Bung Hatta berterima-kasih
Selesai memimpin Delegasi R.I. ke KMB yang telah mengha¬
silkan pengakuan Belanda atas kemerdekaan dan kedaulatan Re-
249
publik Indonesia, Bung Hatta beserta Isteri singgah di Kairo. Pada
kesempatan yang berbahagia itu, telah diadakan resepsi besar di
Hotel Semiramis di tepi Sungai Nil. Pada kesempatan gembira
ini, Bung Hatta atas nama Indonesia telah mengucapkan banyak
terima kasih kepada Mesir dan negara-negara anggota Liga Arab
yang dari semenjak Proklamasi telah terus-menerus menyokong
perjoangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdeka¬
an dan kedaulatannya, yang telah diakui de facto dan de jure -
nya, sebelum satupun negara di dunia ini mengakuinya, oleh ne¬
gara-negara Arab itu.
Bung Hatta tidak mencukupkan berterima kasih pada resep¬
si yang meriah itu, tetapi juga beliau mengunjungi pembesar-
pembesar Mesir dan Arab satu persatu guna menyampaikan terima-
kasih Indonesia itu.
BULAN MERAH MESIR dan BULAN MERAH INDONESIA
Missi Kesehatan Mesir
Semenjak tentara Inggris dan Belanda yang memboncenginya
mengganas di Indonesia, Panitia-panitia di Timur Tengah telah
berusaha mengumpulkan obat-obat dan mengirimnya ke Indo¬
nesia melalui Singapura. Tetapi setelah perang kolonial itu meluas,
Panitia Pusat berusaha supaya Bulan Merah Mesir mengirimkan
missi kesehatan ke sana, guna selain meringankan penderitaan
para korban, juga dengan sendirinya meningkatkan semangat
joang, karena mengetahui mempunyai penyokong di luar negeri.
Surat Panitia tanggal 28/9/46 dan 30/9/46 mendapat jawaban
positif, tetapi Bulan Merah Pusat itu menyarankan supaya me¬
ngirim surat resmi kepada Pemerintah Mesir melalui Kementerian
Luar Negeri oleh Pemerintah Indonesia. Setelah dijawab tidak
mungkin dari Pemerintah, mereka mengusulkan dari Panitia Pusat
saja. Dengan surat No. 158/A/46 tgl. 7/10/46 Panitia menghu¬
bungi Kementerian Luar Negeri Mesir. Adalah sangat menggembi¬
rakan bahwa permohonan Panitia Pusat itu mendapat perhatian
penuh oleh Pemerintah Mesir, sehingga dalam waktu singkat
Kementerian Kesehatannya sudah memerintahkan kepada Bulan
Merahnya supaya menyiapkan satu missi kesehatan lengkap dengan
para dokter, obat-obatan dan alat-alat. Tetapi pengiriman missi
kesehatan itu terlambat Karena halangan-halangan dari pihak
Sekutu Belanda yang harus dilalui.
Baru setahun kemudian, yaitu pada tanggal 6/9/47 Missi
Kesehatan Mesir yang dipimpin oleh Mayor Dr. Muhammad
Jalaluddin dapat berangkat ke Bukit Tinggi melalui Singapura.
Penempatan mereka di Sumatera Barat adalah atas petunjuk
Palang Merah Internasional di sana (Singapura), karena di Sumatera
sedikit sekali fasilitas kesehatan waktu itu. Missi Kesehatan Mesir
itu terdiri dari 3 dokter dan semuanya dari angkatan perang
Mesir. Mereka itu adalah Mayor Dr. Muhammad Jalaluddin,
Kapten Dr. Mahmud Hamdi dan Kapten Dr. Abdulrahman Junai-
nah. Mereka berangkat dalam dua rombongan. Yang pertama
terdiri dari Dr. Jalaluddin dan Dr. Hamdi yang berangkat beserta
obat-obat dan alat-alat pada 6/9/47 itu, dan rombongan kedua
sepuluh hari kemudian dengan juga membawa obat-obat, alat-alat
dan pakaian-pakaian. Sebelum mereka berangkat, oleh M.D.T.R.I.
(Missi Diplomatik tetap R.I.) diadakan jamuan perpisahan yang
dihadiri oleh Ketua Bulan Merah Mesir, Dr. Abdulhalim Mahfudh
Bey, pembesar-pembesar simpatisan Indonesia dan pemimpin-
pemimpin organisasi-organisasi sosial. Pada 24/9/47 M.D.T.R.I.
menerima kawat dari warga Indonesia di Singapura dan Malaya,
meminta supaya disampaikan kepada Raja Faruk terima-kasih
mereka berkenaan dengan sampainya Missi Bulan Merah Mesir ke
Indonesia. ,,
Pada 18/10/47, RRI-Yogya melaporkan bahwa ’Missi Bulan
Merah Mesir itu telah sampai di Bukittinggi, ibukota Sumatera,
dengan membawa 2 ton obat-obatan. Sesudah penyambutan rak¬
yat yang meriah, mereka mengahdap Dr. Muhammad Hatta, Wakil
Presiden, mereka menyatakan bahwa’ banyak dokter-dokter Mesir
yang ingin datang kemari dan juga banyak obat-obat yang akan
sampai. ’ Ditambahkannya bahwa ’ Mesir, pemerintah dan rakyat¬
nya, bersimpati terhadap perjoangan bangsa Indonesia, dan maha¬
siswa Indonesia di Kairo mendapat perhatian pemerintah Mesir.’
Kemudian pada 20/10/47 harian-harian Mesir menyiarkan laporan
Missi Bulan Merah itu kepada Raja Faruk antara lain mengatakan:
”Kami sampai di Bukittinggi pada 15 Oktober 1947.... Sri
Baginda ! Kami telah menjumpai satu bangsa yang gagah berani,
telah membulatkan tekad untuk berjoang, tidak peduli bagaima¬
napun berat kesulitan-kesulitan dan bahaya yang dihadapinya.
252
Perang dahsyat terus-menerus, rumah-rumah hancur-lebur, luka-
luka yang tidak dapat balutan, tetapi mereka hadapi dengan
tenang dan ketabahan hati dan percaya penuh kepada hari depan
mereka. Apa yang kami lihat di rumah sakit Bukittinggi, menjadi¬
kan kami menundukkan kepala, sebagai penghormatan kepada
bangsa Indonesia ini, yang mempunyai semangat tinggi dan
kebangsaan besar, sehingga tidak memperhitungkan lagi apa yang
mesti dihadapinya, dalam mempertahankan kemerdekaan dan
kebebasannya. Tidak ada bukti yang lebih mengesan dari pada
mereka yang luka-luka berat itu, sedang senyum tidak pernah
tanggal dari mulutnya. Dengan pekik ’ Merdeka ’ mereka itu
bergemuruh, penuh dengan tekad dan kesungguhan, setiap kali
kami melintasi bansal-bansal mereka di rumah sakit itu. Sri
Baginda ! Indonesia dalam kemelut yang dihadapinya sekarang
memerlukan bantuan Mesir guna membalut luka-luka perjoang-
pejoangnya dan pengobati yang sakit-sakit. Kami yang diberi
tugas suci ini, berjanji dengan Tuhan dan dengan Sri Baginda
sendiri, akan menjalankan tugas ini sejauh kemampuan kami...
Kami beruntung telah diterima YM Wakil Presiden dan beliau
telah memberitahukan kepada kami bahwa Pemerintah Indonesia
telah memutuskan akan mengirim 200 liter obat suntikan, sebagai
usaha ikut serta dalam memberantas wabah kolera yang berjangkit
di Mesir sekarang. Sungguh ini adalah suatu usaha yang harus
kita balas dengan mengucapkan banyak terima-kasih. "Demikian
laporan Missi itu menurut ’ Al-Ahram.
Setelah empat bulan bertugas di Sumatera, pada 29/1/48,
Mayor Dr. M. Jalaluddin, Ketua Missi, kembali ke Kairo, bersama-
sama Ny. Titania Dezence dari Palang Merah Indonesia (dalam
pemberitaan kami sebut ’ Bulan Merah Indonesiauntuk kepen¬
tingan propaganda). Kembalinya itu dalam rangka usaha memper- •
besar bantuan kepada Indonesia, tidak saja dalam bidang kedok¬
teran dan obat-obatan, tetapi juga guna mendapatkan bahan-bahan
untuk pakaian yang sangat dibutuhkan rakyat umum. Dr. Muham¬
mad Hatta, Wakil Presiden, telah menyanggupi pula mengirimkan
bahan-bahan hasil Indonesia sebagai tukaran. Dalam hubungan-
253
hubungannya dengan pemerintah Mesir Ny. Dezence ikut mem¬
bicarakan hal-hal yang diperlukan Indonesia. Banyak yang telah
disanggupi Mesir, diantaranya satu juta meter textil, tetapi ke¬
sulitan adalah pengirimannya yang dihalang-halangi oleh Belanda
dan Sekutu-sekutunya yang masih mengepung perairan dan udara
Indonesia.
Dalam wawancara dengan ’ Al-Ahram ’ pada 30/1/48, Mayor
Dr. Jalaluddin setelah memuji keberanian rakyat Indonesia antara
lain mengatakan : ”Kalau rakyat Indonesia telah memperlihatkan
ketinggian mutu perang geriliyanya, patut diakui bahwa wanita
Indonesia memainkan peranan yang tidak kurang kepahlawannya
dari kaum pria. Mereka membantu tentara sejauh kemampuan
mereka, baik dalam pengangkutan orang sakit dan memberi per¬
tolongan kepada mereka, atau penyampaian bahan-bahan yang
diperlukan perajurit dan perangsangan semangat tempur mereka.
Kaum wanita merupakan garis kedua dari front pertempuran.”
Ditambahkannya : ”Sekalipun wanita Indonesia tidak mengenal
hijab, mereka sangat mempertahankan tradisi-tradisi ke-Timuran
dan hidup kekeluargaan.” Beliau juga memuji-muji toleransi
bangsa Indonesia dan jauhnya dari fanatisme.
Setelah berada di Mesir kira-kira sebulan, dengan izin khas
Raja Faruk. Dr. M. Jalaluddin kembali ke Indonesia dengan
tujuan ibukota R.I.Yogyakarta. Dan sesudah enam bulan bertugas
di Sumatera Dr. Abdulrahman Junainah juga kembali ke Kairo.
Kami tidak mengetahui apa kesulitan pribadi yang dihadapinya
di Indonesia, tetapi semenjak kembali ia tidak pernah menghubu¬
ngi kami, bahkan sebagian pernyataannya tidak seirama dengan
kawan-kawannya.
Meskipun Dewan Keamanan telah memerintahkan gencatan
senjata dan satu komisi pencegah telah dibentuk dari Amerika,
Australia dan Belgia, berita dari Jakarta memberitakan bahwa
dalam kabinet ada yang mengusulkan supaya Suria dimasukan
ke dalam komisi itu. Berita-berita kekejaman Belanda masih me¬
ngalir ke Timur Tengah, sehingga telah menimbulkan kemarahan
254
rakyat setempat. Di Kairo Kedutaan Belanda dua kali berturut-
turut mendapat ancaman bom (9/9/47 - 13/9/47), sehingga
penjagaan oleh polisi Mesir dilipat-gandakan. Maka dengan judul
”Perang Salib” harian ’ Sawtul Ummah ’ mengatakan antara lain:
”Perang yang dilancarkan Belanda di Indonesia, mempunyai
selain sifat kolonial juga warna salibiyah. Setiap kali mereka me¬
masuki kota atau desa, mereka merampas, membakar, membu¬
nuh para wanita, anak-anak dan orang tua, serta mencencangnya
lumat-lumat dan kemudian menggilasnya dengan tank-tank dan
mobil-mobil baja. Mereka memasuki mesjid-mesjid dan mengotori-
rinya, mengoyak-ngoyak Al Qur-an dan menginjak-injaknya de¬
ngan sepatu, sebagai tanda penghinaan kepada Islam dan Kaum
Muslimin.”
"Keganasan dan keonaran seperti inilah yang dilakukan
nenek-nenek mereka, Kaum Salibiyin, di Palestina tujuh abad yang
lalu Kaum Salibiyin itu menulis kepada Paus mengucapkan
selamat atas kemenangan mereka, sambil bercerita : ’ Jika Tuan
Paus ingin mengetahui, kuda kami berenang sampai kelutut
di lautan darah Kaum Muslimin. ’ Sekiranya Drang-orang Belanda
itu menulis sekarang kepada Wilhelmina tentu mereka akan me¬
nulis pemandangan yang serupa, bahkan lebih lagi. Dahulu Kaum
Salibiyin membunuh manusia dengan pedang dan panah. Tetapi
cucu-cucunya sekarang menyabit manusia dengan meriam dan
metraliur. Lebih dari itu, Belanda telah dengan sengaja melancar¬
kan agresinya pada bulan suci Ramadhan. Satu panahan lagi yang
dibidikan Belanda kepada Islam dan Kaum Muslimin.”
Perutusan ’Bulan Merah’ Indonesia
Seperti saya katakan di atas, Ny. Titania Dezence datang ke
Mesir bersama Dr. Jalaluddin, Ketua Missi Bulan Merah Mesir.
Kedatangannya itu, selain guna soal-soal bantuan yang diperlukan
Palang Merah Indonesia (kami perkenalkan ’ Bulan Merah Indo¬
nesia atau ’Hilah Ahmar Indonesia’) telah kami pergunakan bagi
menonjolkan kemajuan wanita di Indonesia. Karena ia itu merupa-
255
Misi Kesehatan Mesir ke Indonesia. Duduk dari kiri: Dr. Mahfuz, Ketua Bu¬
lan Merah Mesir, Dr. Mansur Fahmi dan Dr. Salahhuddin Pasya (Penasehat
Panitia) dari pimpinannya. Berdiri: di tengah-tengah Dr. Muhammad Jala-
luddin, Ketua Misi, di kanannya Dr. A. Rahman Junainah dan di kirinya Dr.
Mahmud Hamdi anggota. Di kiri-kanan Mr. Nazir Pamoncak dan H.M. Rasjidi.
256
kan wanita Indonesia pertama yang memperkenalkan langsung
gerakan wanita Indonesia itu. Ia sendiri mempunyai gaya penarik
dengan kelincahan dan kelancarannya mempergunakan enam ba¬
hasa asing, seperti Inagris, Perancis, Spanyol, Portogal dan Itali,.
Maka selama ia di Kairo, nama-nama seperti Nyak Din, Kartini,
Rasuna Said, Rahmah Al-Yunusiah, Mr. Maria Ulfah, Tri Murti
(kedua terakhir ini waktu itu telah menjabat menteri sosial dan
yang dua sebelumnya menjadi anggota Koihite Nasional yang
berfungsi parlemen di Indonesia) dan lain-laio, dengan .keistime¬
waan mereka masing-masing, menjadi lebih dikenal rakyat Timur
Tengah, sebab surat-surat kabar dan majallah-majallah Mesir
adalah juga menjadi bacaan bangsa Arab diseluruh Timur Tengah.
Sehingga harian terbesar seperti ’Al-Ahram’ menyiarkan wawanca¬
ranya dengan judul ”Hai Wanita Mesir, Wanita Indonesia Lebih Ma¬
ju Dari Kamu!” Untunglah dalam arsif kami memang telah tersedia
bahan-bahan mengenai emansipasi wanita Indonesia yang dengan
mudah dapat di ’ ecerkan ’ kepada setiap wartawan yang men¬
jumpainya. Harian ’ Al-Balagh ’ dalam mengemukakan Maria
Ulfah dan Tri Murti pada halaman ” Wanita Termasyhur,”
memulainya dengan ucapan (alm.) Rasuna Said ketika akan me¬
masuki bui Medan : ”Jika kaum lelaki takut disiksa atau masuk
bui, pakailah kain Kaum wanita, dan berikanlah pentalon tuan-
tuan «itu kepada kami.”
Demikian irama wawancaranya selama dua bulan di Kairo.
Tetapi lama seorang jarida muda yang berparas ayu disuatu kota
besar juga mengkhawatirkan kami. Maka, meskipun kegiatannya
di lapangan propaganda wanita dapat dipergunakan sebaik-baik¬
nya, kami merasa lebih baik mengembalikannya setelah tugasnya
selesai. Ternyata sekembalinya ke New Delhi ia kawin dengan
seorang diplomat India. Ketika saya ditempatkan di Ankara,
Turki, saya berjumpa dengan dia dalam satu resepsi, tetapi-ia
kelihatan menjauh-jauhkan diri. Mungkin karena malu menukar
kebangsaannya. Sampai akhir resepsi kami tidak bersapaan.
257
,1
SAUDI ARABIA dan PROKLAMASI
Saya sediakan halaman khusus bagi ’ Saudi Arabia, ’ karena
dalam kegiatan-kegiatan kami di Timur Tengah selama revolusi
fisik, soal mendapatkan pengakuan memang leb*ih digiatkan di
Kairo, Mesir, sebagai negara Arab terbesar dan berpengaruh serta
tempat kedudukan Liga Arab, sedang dalam mempertahankan
Proklamasi, terutama dalam lingkungan warga Indonesia sendiri,
perhatian kami lebih dipusatkan kepada Saudi Arabia, selain kare¬
na di sana terdapat jumlah terbesar warga Indonesia (lebih 4000
orang), pengaruh Tanah Suci yang terdapat di sana tidak dapat di¬
abaikan dalam akibatnya kepada rakyat Indonesia yang 90% lebih
beragama Islam. Maka Saudi Arabia telah menjadi perebutan
pengaruh antara Belanda dan Panitia-panitia di Timur Tengah.
Maka diplomasi revolusi diwilayah ini lebih terpusat pada pere¬
butan kekuasaan atas warga Indonesia yang banyak itu.
Belanda di sini telah lama menanam hubungan-hubungan
pribadi antara petugas-petugasnya, baik yang pada Kedutaannya
di Jeddah atau pada kantor cabangnya (konsulat muda) di Mekkah
yang dilengkapi pula dengan satu poliklinik yang dipimpin oleh
seorang dokter Indonesia. Pada permulaan konfrontasi di sana itu,
Belanda telah mengerahkan bekas-bekas petugas-petugasnya di
Mekkah itu, seperti Mr. Musa, Abdulkadir Joyoatmojo, Tarbidin,
Dr. Makmun, dan demikian pula petugas-petugas lainnya seperti
Abdulrahman Musawa (di Timur Tengah dibaca ’ Masawi ’ dengan
arti ’ kumpulan kejahatan ’) dan lain-lain. Untungnya kami telah
mulai menyusun barisan dengan diam-diam semenjak pertengahan
258
perang dunia kedua dalam rangka perlawanan di bawah-tanah
yang telah saya ceritakan di atas itu. Sehingga kami dapat mem¬
pertahankan keutuhan pendirian warga negara yang beribu-ribu
itu-selain kira-kira dua-ratus orang saja yang tertipu oleh uang —
sampai Proklamasi.
Kesulitan di Saudi Arabia adalah menghadapi dua soal:
pertama soal agen-agen Belanda vang banyak dalam pemerintahan,
Saudi Arabia, disebabkan kesulitan keuangan (minyak tanah belum
berperan lagi) dan kedua soal jaminan kehidupan ribuan warga
Indonesia yang setia itu. Kerjasama yang lancar antara Panitia
Pusat dan Panitia Saudi Arabia telah dapat mengatasi kesulitan-
kesulitan itu.
Mengenai soal pertama, setelah dilaporkan oleh Panitia ca¬
bang Saudi Arabia bahwa pejabat-pejabat Saudi Arabia ada yang
bertindak terhadap warga Indonesia bertentangan dengan pen¬
dirian pemerintahnya, sehingga beberapa rumah mereka digele¬
dah, beberapa orang ditahan di kantor polisi, bahkan ada yang
dipukul (dera) dan bendera Indonesia diturunkan, pimpinan Pa¬
nitia Pusat menjumpai Duta Saudi Arabia di Kairo dan menye¬
rahkan kepada beliau dua nota, yang satu ditujukan kepada beljau
sendiri dan yang lain kepada Raja Ibnu Saud. Nota kepada Duta
itu (29/9/46) setelah menceritakan apa yang terjadi dan bahwa
beribu-ribu warga Indonesia di sana tidak melakukan politik
aktif, karena mengetahui bahwa kegiatan politik terlarang di
Tanah Suci itu, tetapi hanya menunjukkan kepatuhan kepada
Pemerintah Indonesia hasil Proklamasi, setelah mendapat fatwa
dari alim-ulama mereka sendiri bahwa patuh kepada Pemerintah
Indonesia wajib hukumnya, sedang patuh kepada pemerintah
kafir, seperti Belanda, haram hukumnya, kami katakan antara
lain :
"Meskipun kami tidak percaya akan terjadinya hal-hal se¬
perti di atas itu, kami mengharap supaya YM akan bermurah
hati menyampaikan surat yang kami serahkan kepada YM ber¬
sama ini, kepada Sri Baginda Raja. Juga kami mengharap supaya
259
YM menyampaikan kegelisahan kami itu kepada Pemerintahan
Sri Baginda . . . . ”
Adapun surat kepada Raja Ibnu Saud yang juga bertanggal
29/9/46, setelah menyinggung pula hal-hal di atas itu antara lain
dikatakan :
”Kami telah mengumumkan bahwa kami adalah rakyat Re¬
publik Indbnesia dan kami telah memutuskan hubungan dengan
semua Kedutaan Belanda. Untungnya, pendirian kami itu men¬
dapat sokongan, tidak saja dari semua bangsa Arab, malahan juga
dari pemerintah-pemerintahnya dan Liga Arabnya. Tidak ada buk¬
ti yang lebih terang dari kenyataan bahwa pemerintah-pemerin¬
tah negara-negara itu telah mengizinkan kepada kami semua
tinggal diwilayah mereka masing-masing tanpa paspor, dan Sekre¬
taris Jenderal Liga Arab telah menghubungi negara-negara Arab
supaya memberi mereka fasilitas bagi kehidupan mereka sehari-
hari .. .
"Pendirian kami yang bulat itu telah menakutkan Belanda,
demikian pula simpati dan sokongan rakyat Arab terhadap ji¬
had Muslimin Indonesia telah menggoncangkan lututnya. Bahkan
mereka seakan-akan disambar petir ketika Dewan Liga Arab me¬
mutuskan pada bulan April yang lalu menyokong tuntutan-tuntu¬
tan nasional Indonesia Setelah menelanjangi kebohongan
propaganda Belanda dan agen-agennya di Saudi Arabia, dikata¬
kan :
"Perhatian dan perlindungan yang SBYM berikan itu, mem¬
beranikan kami lagi untuk menyampaikan satu permohonan,
yaitu supaya SBYM bermurah hati untuk menitahkan perintah
kepada para penguasa agar mereka memberantas fitnahan dan
komplotan Belanda terhadap saudara-saudara kami warga Indone-
nesia yang bermukim di bawah perlindungan SBYM itu. Dengan
demikian besar harapan kami bahwa fitnahan-fitnahan yang
diada-adakan agen-agen Belanda itu serta surat-surat kaleng yang
sewaktu-waktu dikirimkan mereka kepada para penguasa di Ta-
260
nah Suci itu, tidak lagi akan menyulitkan kedudukan saudara-
saudara kami itu, baik mental ataupun material.”
Berbagai usaha digunakan Belanda untuk menguasai warga
Indonesia di S.A. itu. Mereka merencanakan mengirim missi-missi,
baik diplomatik ataupun agama, yaitu missi haji, tetapi kedua-dua¬
nya itu sudah dapat digagalkan seperti telah saya ceritakan di sini.
Tetapi yang lebih berat menghadapinya ialah dalam soal materi.
Kira-kira tiga-perempat warga Indonesia di S.A, itu tidak mem¬
punyai sumber hidup sama sekali, setelah mereka melemparkan
paspor Belanda dan tidak mengakui penguasa di Indonesia selain
Republik Indonesia. Karena Belanda telah memutuskan bantuan-
bantuan yang diberikan selama perang sebagai alat penekan.
Sesuatu keuntungan bagi gerakan perlawanan kami di Timur Te¬
ngah adalah bahwa negera-negara Arab meng ’imam’ kan Mesir
dalam tiap-tiap langkahnya terhadap soal Indonesia seperti penga¬
kuan de facto dan pemberian bantuan sekalipun sangat minim
dan juga pengakuan de jure R.I.
Untuk menghadapi tekanan dan rayuan-rayuan Belanda da¬
lam bidang penghidupan ini, saudara-saudara kita di S. A. itu telah
menyusun satu organisasi bernama Kopindo (Komite Pertolongan
Indonesia) yang anggotanya terdiri dari semua suku bangsa Indo¬
nesia, Yaitu :
1 — Abdul KadirTalib Mandiling
2 - Bakar Abdul Ghafar Palembang
3 — Abdul Hamid Arabi Aceh
4 — Kumi Barak Banjarmasin
5 — Moh. Taib Saman Palembang
6 — Jamhir Jalai Medan
7 — Siddik Saleh Banjar
8 — Syekh Ahmad Alwan
9 — Abdullah Mahdar Jawa
10 Saleh Padang
Ketua,
Ketua Muda,
Sekretaris Umum,
Sekretaris kedua,
Pembantu Sekretaris I,
Pembantu SekretarisII,
Bendahara,
Pemeriksa Umum,
Pemeriksa Kedua, dan
Penasehat.
Tugas organisasi ini, selain memperkokoh kesatuan dan.persa-
261
tuan warga Indonesia di S.A. itu, juga mengumpulkan dana dari
pedagang-pedagang kecil Indonesia yang bertumbuh selama perang
itu. Dengan kegiatan Kopindo inilah Panitia di S.A. dapat menam¬
pung 30 ton beras yang dimenangkan Panitia Pusat dalam konfron¬
tasinya dengan Kedutaan Belanda di Kairo. Seperti telah saya ka¬
takan, beras itu 15 ton dijual dan 15 ton lainnya dibagi-bagikan
kepada warga Indonesia yang beribu-ribu itu. Penjualan beras itu
sebahagiannya dibagi-bagikan kepada mereka yang sangat keku¬
rangan dan lebihnya dipergunakan lagi untuk menampung 30 ton
beras berikutnya dan begitulah seterusnya. Oleh sebab kekalahan
di bidang inilah maka Belanda mempergunakan fitnah sebagai sen¬
jata menghadapi Panitia di S.A. itu. Fitnah-fitnah inipun akhirnya
dapat diatasi, sekalipun setelah Ketua Panitia sendiri (alm.) H.M.
Jaafar Zainuddin dipukul (dera) dan dimasukkan ke dalam bui S.A.
Panitia Pusat juga melalui Duta S.A. di Kairo dan Sekjen
Liga Arab juga berusaha mengurangi tekanan hidup itu di samping
30 ton beras itu. Kami mengemukakan dua alternatif bagi penye¬
lesaian kesulitan hidup warga Indonesia di Mekkah itu. Pertama de¬
ngan memberi bantuan uang seperti dilakukan Pemerintah Mesir
atau memulangkan mereka dengan men-carter sebuah kapal seba¬
gai yang dilakukan Pemerintah Australia. Usaha bersama antara
Panitia Pusat dan Panitia cabang di Saudi Arabia, baru mendapat
balasan pada 4/7/46. Tetapi keragu-raguan S.A. tentang siapa yang
bertanggung jawab atas hutang-hutang itu nanti, telah melambat¬
kan pelaksanaan bantuan itu. Kesulitan dapat di atasi, karena pada
ketika Missi Suwandi singgah di Kairo, mereka telah kami perte¬
mukan dengan Duta S.A. di Kairo dan kepadanya mereka berjanji
bahwa Pemerintah Indonesia akan membayarnya nanti.
Konfrontasi terakhir dalam perebutan kekuasaan atas ribuan
warga Indonesia.di S.A. itu berakhir ketika missi haji Nica yang
dipimpin Amad Bahamid dari Indonesia Timur dan missi diploma-
.tik yang dipimpin oleh Sultan Hamid Al-Kadri dapat digerhanakan
sama sekali, seperti telah saya ceritakan di atas. Sesudah itu
Belanda tidak berkutik lagi, apalagi Saudi Arabia telah mengikuti
262
jejak Mesir dengan melaksanakan putusan Liga Arab, yaitu me¬
ngakui R.I.
Untuk menghadapi propaganda Belanda yang meningkat
di S.A. itu, kami telah mengusulkan kepada Pemerintah Indonesia
supaya mengirim pula Missi Haji R.I. ke Tanah Suci. Usul kami
itu mendapat tanggapan baik, sehingga berturut-turut pada tahun
1948 dan 1949 R.I. mengirim Missi Haji ke-S.A. Missi Pertama
terdiri dari (alm) K.H.M. Adnan, Ketua, dan (alm) Ismail Uandg,
K.H.M. Saleh Suaidi, (alm) H. Awad Syahbal dan H. Syamsir
anggota. Sedang Missi kedua tersusun dari H. Abdul Hamid,Ketua,
H. Abdul Kahar Muzakkir, M. Nur Ibfahimi, A. Hasymi dan
H. Syamsir anggota. Kedatangan Missi-missi itu yang kebetulan
sesudah konfrontasi dimenangkan sepenuhnya, telah memberi
semarak yang baik sekali kepada Republik Indonesia Merdeka
di mata ratusan juta Kaum Muslimin. Inilah pula yang menjadi
latar belakang maka Saudi Arabia dengan Tanah Sucinya menjadi
arena konfrontasi yang terpenting di Timur Tengah bahkan di-
seluruh luar negeri itu, dan itulah pula maka kami dengan sejauh
tenaga dan kekuasaan kami berjoang mati-matian dalam usaha
mengalahkan Belanda di arena ini. Alhamdulillah, dengan taufik
dan hidayah Tuhan dan sokongan negara-negara Arab konfrontasi
itu dapat dimenangkan, sehingga kedatangan missi-missi di atas
itu dan kedatangan H.M. Rasyidi, Kuasa Usaha M.D.T.R.I. hanya
untuk memenuhi formalitasnnya saja dan untuk memuaskan
hasrat ribuan mujahidin samitin, warga Indonesia di S. A. yang
dengan sangat meriah telah menyambut kedatangan Utusan R.I.
pertama itu dipintu kota Jeddah dan Mekkah dengan pekik
’ Merdeka ’ yang telah diakui negara-negara Timur Tengah itu.
Hari 8 Muharram 1367 bersamaan dengan 21 Nopember
1947 dan hari 10 Muharaam 1367 bersamaan dengan 23 Nopem¬
ber 1947 adalah hari-hari yang bersejarah bagi warga Indonesia
di S.A. Karena pada hari 8 Muharaam 1367 itulah mereka ber¬
sorak-sorai merayakan kemenangan perjoangan mereka, yang
berarti pula kemenangan bangsa, dengan pengumuman Saudi
263
Arabia akan pengakuannya atas kemerdekaan dan kedaulatan
Republik Indonesia. Pada tanggal 10 Muharaam 1367 itu pula
mereka dalam satu jamuan besar dengan penuh khusuk dan tertip
secara resmi di hadapan petugas resmi R.I. menyatakan kesetian
dan kepatuhan mereka kepada R.I. Dalam pernyataan patuh dan
setia itu Ketua Komite Penyambutan Guru Abdul Kadir Talib
mengatakan antara lain. :
”Kami, di atas nama Badan Komite Pergabungan dan segenap
muslimin Indonesia yang berada di seluruh Saudi Arabia (Mekah,
Jaddah, Mahad Dahab, Madinah, Tait, Riadh, Wajh dan Najran)
mengucapkan ucapan selamat datang dan selamat sampai kepada
Bung dan kebesaran hati terhadap pengakuan Saudi Arabia kepada
Republik Indonesia ...
Saudara Nari Entik, Sekretaris Panitia cabang Saudi Arabia,
setelah melaporkan perkembangan gerakan perlawanan dan kon¬
frontasi dengan Belanda, berserta suka dan dukanya dan hasil-
hasil yang diperoleh dalam mempertahankan Proklamasi dan
mengusahakan pengakuan negara-negara Timur Tengah akan ke¬
merdekaan dan kedaulatan R.I., menutup pidatonya dengan
mengatakan :
"Bung telah sampai di Saudi Arabia. Sambutlah peijoangan
kami ini, kalau boleh dikatakan peijoangan, dan kepatuhan kami
kepada Ibu Pertiwi, kalau kami dikatakan orang lepas dari ikatan
kewajiban pertama, sebelum mencurahkan darah di Tanah air.
”Boleh jadi tidak lama lagi akan diadakan perwakilan di
Saudi Arabia ini. Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia Saudi
Arabia yang miskin ini ada mempunyai beberapa alat-alat sebagai
mesin tulis, duplicator, pena, tinta dan lainnya. Terimalah semua¬
nya ini akan kami serahkan untuk keperluan negara kita di Saudi
Arabia, ini. ”
Terhadap pidato-pidato pimpinan masyarakat dan politik itu
di Saudi Arabia itu, H.M. Rasyidi menjawabnya dengan panjang
lebar yang antara lain mengatakan :
264
"Ketika kemerdekaan Indonesia diumumkan, kami yang ada
di Kementerian R.I. dan rakyat umumnya, semua bekerja dengan
serentak menyelenggarakan segala sesuatu. Dalam pada itti per¬
hatian kami selalu dihadapkan kepada jaliat (masyarakat) Indone¬
sia di luar negeri. Kami di dalam negeri menunggu-nunggukan
bantuan dari saudara-saudara yang berada di luar negeri, dengan
rupa apa saja perjoangan untuk memperkuatkan perhatian dan
pembangunan negara kita. Sesungguhnya dengan senang hati kami
mendengar apa yang telah dijalankan oleh saudara-saudara yarg
di luar negeri, sebagai di Timur Tengah, Australia, India dan di
luar negeri umumnya, serta pula hal-hal yang penting yang telah
diselenggarakan itu adalah besar sekali artinya di dalam perjoa¬
ngan kita.”
Pada penutupnya ia berkata :
"Kepada segenap saudara-saudara di Saudi Arabia dan sete¬
lah selesai usaha-usaha saudara-saudara di sini, saya ucapkan
penghargaan yang tinggi dan tenmakasih. Seterusnya supaya
keinsyafan kepada kemerdekaan, keinsyafan kepada bernegara
menjadi pedoman bagi tuan-tuan dan saudara-saudara sekalian.”
PERKEMBANGAN PERWAKILAN R.I. DI TIMUR TENGAH
Panitia-Panitia di Timur Tengah d e facto Perwakilan R.I
Ketika warga Indonesia menyusun barisan .sesudah Prokla¬
masi, digariskan dua tujuan utama, atau lebih tegas satu tujuan
yang bertingkat dua. Yaitu kebebasan warga Indonesia di
luar negeri dari ’ perwalian ’ Belanda dan pengakuan
negara-negara luar terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Indo¬
nesia. Oleh sebab itulah maka Panitia Pusat-sesudah Dewan liga
Arab memutuskan supaya negara-negara anggotanya mengakui ke¬
merdekaan Indonesia dan kedaulatannya -mengusulkan kepada Se¬
kretariat Liga tersebut supaya :
1. mengirim satu perutusan resmi guna menyampaikan keputu-
san itu kepada pemerintah R.I. dan
2. berusaha membawa pembesar-pembesar resmi Indonesia ke
luar negeri guna menyuarakan R.I. di luar negeri.
Sebelum keputusan itu, sebagai hasil dari konfrontasi yang
terjadi antara Panitia Pusat dengan Kedutaan Belanda di Kairo,
Sekretaris Jendral Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan :
”Dari saat ini juga Pemerintah Mesir menganggap warga Indo¬
nesia di Mesir tidak ada hubungan lagi dengan Perwakil¬
an Belanda. Semua urusan yang menyangkut warga Indonesia
itu, Pemerintah Mesir akan menghubungi Panitia.”
Dengan pernyataan ini pada 22 Maret 1946 ini, Mesir telah me¬
ngakui Panitia Pusat sebagai d e facto perwakilan R.I. Maka
266
semenjak itu pula baik Pemerintah Mesir ataupun Liga Arab me¬
ngakui Panitia Pusat sebagai perwakilan R.I. sementara. Keputus¬
an itu diikuti oleh negara-negara Arab lainnya, sehingga pemerin¬
tah Arab mengakui pula de facto perwakilan bagi Panitia-paniti-
a setempat di Irak dan Saudi Arabia.
Dari de facto ke de jure
Keputusan Dewan Liga Arab pada 18 Nopember 1946 yang
bersejarah itu dan kepergian Utusan Istimewa Liga tersebut ke
Indonesia dan kemudian kembali dengan membawa beberapa pem¬
besar Indonesia telah dapat memastikan wujud Indonesia di luar
negeri sepenuhnya. Oleh sebab itu pengakuan sepenuhnya de fac¬
to dan de jure dari negara-negara Arab itu dapat dihasilkan,
meskipun dalam mewujudkan perwakilan R.I. masih melalui pen-
tahapan. ,
Delegasi Diplomasi tetap R.I.
Kedatangan perutusan Indonesia bersama M.A. Mun’im, Utus¬
an Istimewa Liga Arab yang pergi ke Yogyakarta, adalah dengan
nama delegasi diplomatik R.I. Nama tetap dipakai samphi
aksi militer Belanda pertama dan H.A. Salim diangkat menjadi
Meneteri Luar Negeri dan ditugaskan mempertahankan Indone-i
sia di Dewan Keamanan PBB. Diwaktu itu sudah dirasa perlu me¬
nempatkan satu missi tetap di luar negeri, terutama di Timur Te¬
ngah, dimana negara-negaranya telah mengakui R.I. Maka dengan
surat No. 155/L I tanggal 20 Ramadhan 1366 bersamaan 7 Agus¬
tus 1947, H. Agus Salim sebagai Menteri Luar Negeri R.I. me¬
nyampaikan kepada Kerajaan Mesir keterusan tugas Delegasi Di¬
plomatik R.I. untuk negara-negara Liga Arab, sebagai berikut:
”Yang Mulia,
”Menteri Luar Negeri Kerajaan Mesir.
"Assalamualaikum W.W.
"Setelah mengucapkan salam, saya permaklumkan kepada
267
YM bahwa pada 19 April 1947 saya datang ke Mesir, - bersama-
sama Paduka Tuan Mohammad Abdul Mun’im, Konsul Jenderal
Mesir di Bombay dan Utusan Istimewa Liga Arab ke Indonesia -
sebagai Menteri Muda Luar Negeri dan Ketua Delegasi Indonesia.
Tugas kedatangan Delegasi ke sini telah selesai dengan pengakuan
Mesir akan Indonesia sebagai negara yang Merdeka dan Berdaulat.
Kemudian saya berangkat ke Suria, Irak dan Lebanon dan semen¬
tara itu suasana di Indonesia berkembang sedemikian rupa sehing¬
ga dibentuk Kabinet baru pada 3 Juli 1947 oleh Mr. Amir
Syarifuddin sebagai Perdana Menteri dan saya sendiri terpilih
sebagai Menteri Luar Negeri.
"Sekarang Pemerintah R.I. mengirim saya ke Amerika,
bersama YM Sutan Syahrir bekas Perdana Menteri R.I., sebagai
Penasehat Istimewa bagi PYM Presiden Sukarno dan Utusan
Pemerintah R.I., dengan kewajiban mengadakan perhubungan
dengan Dewan Keamanan di U.N.O.
"Maka untuk melaksanakan urusan perhubungan R.I. de¬
ngan Kerajaan Mesir saya tentukan :
"Paduka Tuan Mohammad Rasyidi, Charge’ d’Affaires.
"Paduka Tuan Mr, M.Nazir Pamoncak, Penasehat.
"Tuan Mohammad Zein Hassan, Sekretaris I.
"Tuan Mansur Abu Makarim, Sekretaris II.
"Ketika saya menyampaikan nama-nama mereka kepada
YM, saya mengharap mereka akan mendapat perhatian dan per¬
tolongan dari YM yang akan memudahkan mereka mengerjakan
tugas mereka, sehingga mereka menjadi penghubung yang sebaik-
baiknya antara kedua negara kita.
( Haji Agus Salim )
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia.
Missi Diplomatik R.I. untuk Timur Tengah ini merupakan per¬
wakilan R.I. resmi penuh pertama di luar negeri, setelah negara-
268
negara Arab mengakui kemerdekaan dan kedaulatan R.I. Kalau
pengakuan itu telah memperkuat kedudukan R.I. di luar negeri,
penempatan Missi Tetap itu lebih memperkokoh lagi kedudukan
itu.
Kedutaan
Ketika Sutan Syahrir singgah lagi di Kairo dalam perjalanan
pulang dari DK-PBB, beliau telah mengadakan pembicaraan de¬
ngan Mahmud Fahmi Nokrasyi Pasya PM merangkap Menlu Mesir,
mengenai hubungan Indonesia-Mesir. Dalam pembicaraan itu telah
disepakati meningkatakan hubungan diplomasi antara kedua nega¬
ra itu pada tingkat Kedutaan. Waktu itu tingkat Kedutaan
Besar hanya dipunyai oleh negara-negara besar. Persetujuan itu
telah disiarkan Kemlu Mesir pada 19 Nopember 1947, sebagai
pelaksanaan perjanjian yang ditandatangani pada 10 Juni 1947
itu. Pada tanggal 20 Nopember 1947, harian ”A1-Ikhwanul Mus-
limun menyiarkan sebagai berikut :
”Sri Baginda Raja Faruk telah berkenan kemarin menanda¬
tangani Dekrit Kerajaan mengenai pembukaan Kedutaan-kedutaan
Mesir di Pakistan, India, Indonesia dan Australia, dan pembukaan
konsulat di Siprus.
”Dan telah terdapat persetujuan antara Dr. Syahrir, ex
Perdana Menteri Indonesia, - ketika beliau berada di Kairo dan
sebelum meninggalkan kota ini menuju Pakistan, - dan PM Nok¬
rasyi Pasya untuk mengadakan pertukaran perwakilan diplomatik
antara Mesir dan Indonesia, dengan menempatkan dahulu seorang
Chorge ’d’ Affaires .”
Kedutaan R.I. pertama
Maka dengan demikian pula, Perwakilan R.I. di Kairo meru¬
pakan Kedutaan R. I. pertama dibuka di luar nege¬
ri semenjak Proklamasi. Adapun susunan staf perwakilan R.I.
adalah tetap menurut surat yang disampaikan H.A. Salim kepada
269
Kementerian Luar Negeri Mesir itu, untuk Missi Diplomatik Tetap
R.I. untuk Negera Arab. Susunan itu diteruskan kembali sesudah
aksi militer Belanda kedua oleh Mr. A.A. Maramis Menteri Luar
Negeri ad interim., yang berkedudukan di New Delhi, mewakili
Pemerintah Darurat R.I. Di bawah ini salinan surat yang dikirim¬
kan beliau kepada Menteri Luar Negeri Suria pada tanggal 25
Pebruari 1949 :
”His Excellency
The Minister of Foreign Affaires,
Government of Syria, Damaskus.
”Since His Excellency Haji Agus Salim, the Head of the
Diplomatic Delegation of the Republic of Indonesia, which, in
April 1947, was sent to the Middle East to seek recognition
from the Arab States, left the Arab countries in August 1947,
the work of the Delegation has been performed by His Excellency
Mohammad Rasyidi in his capacity as Head ad interim of the
Delegation. This Delegation continues to maintain the relations
between the Arab couhtries and the Republic of Indonesia.
”Now, while expressing satisfaction at the existence of
cordial relations berween Your Excellency’s country and the
Republic of Indonesia and pending the exchange of the Diploma¬
tic Representatives berween our two countries, I, in my capacity
as the Minister of the Foreign Affaires of the Emergency Govern¬
ment of the Republic o f Indonesia, and motivated by sriong
desire to make our relations closer, have been pleased to appoint
His Excellency Mohamad Rasyidi as Head of the Diplomatic
Delegation of the Republic of Indonesia For the Arab countries.
”In discharge of his duties, His Excellency Mohamad Rasyidi
is assisted by Mr. Mohamad Zein Hassan as First Secretary and
Mr. Mansur Abdul Makarim as Second Sedretatary.
”May it please Your Excellency that His Excellency Muha-
mad Rasyidi and other members of the Delegation will continue
to enjoy the full assistance of Your Excellency so that they
270
can discharge fully their duties for the good of our two countries.
”Please accept, Excellency, the assurance of my hight
consideration.”
(asd) A.A. Maramis,
A. A. Maramis,
Minister of Foreign Affaires a.i.
Demikianlah Delegasi Diplomatik Tetap R.I. yang ber¬
kedudukan di Kairo, sampai Belanda mengakui kemerdekaan
dan kedaulatan Indonesia pada akhir tahun 1949, memegang
dua fungsi, yaitu sebagai Kedutaan R.I. pertama buat Mesir dan
buat seluruh dunia, dan sebagai Delegasi Diplomatik Tetap R.I.
buat seluruh negara-negara Arab anggota Liga Arab, selain Mesir.
Demikianlah pula perkembangan Perwakilan R.I. di Timur
Tengah meningkat dari Perwakilan d e f a c t o oleh Panitia-
Panitia diwilayah itu, Delegasi R.I., Delegasi Diplomatik Tetap
R.I. buat Timur Tengah, yaitu suatu perwakilan multilateral
antara R.I. dengan negara-negara Arab, dan Kedutaan sebagai
perwakilan bilateral antara R.I. dan Kerajaan Mesir.
Mukimin Indonesia di Saudi Arabia menjamin Ongkos Pembukaan
Kedutaan
Dalam hal pembukaan Perwakilan R.I. di luar negeri, ter¬
jadi sesuatu yang patut dicatat dalam perkembangan perwakilan
kita itu. Ketika Saudi Arabia mengakui R.I. pada 21 Nopember
1947, telah disepakati pula mengadakan hubungan diplomatik
antara kedua negara, tetapi pelaksanaannya masih ditangguhkan.
Mukimin Indonesia di sana mendesak supaya pembukaan perwa¬
kilan R.I. di sana dipercepat. Maka ketika Haji Rasyidi, Wakil R.I.
bagi negara-negara Arab datang ke Saudi Arabia bersama-sama
Missi Haii R.I. pertama, pada 17 Oktober 1948 telah diadakan
271
rapat segi-tiga antara H.Rasyidi sebagai Wakil R.I.,Missi Haji R.I.
dan para pemimpin masyarakat mukimin Indonesia di sana. Atas
desakan para pemimpin masyarakat itu, telah disetujui pembu¬
kaan Perwakilan R.I. tersendiri di Jeddah, dengan ketentuan :
1 — Ismail Banda menjadi Kepala Perwakilan R.I. itu,
2 — Pembelanjaan pembukaan Kedutaan dipikul oleh masyarakat
mukimin Indonesia di Saudi Arabia, dengan ongkos pertnu-
laan 10.000,- (sepuluh ribu) rial dan ongkos bulanan 2000
(dua ribu) rial, dan
3 - Melaporkan keputusan ini untuk meminta persetujuan kepa¬
da Pemerintah R.I. di Yogyakarta.
Untuk pelaksanaannya, Ismail Banda telah datang ke-Kairo
buat membeli peralatan Kedutaan itu, tetapi aksi Belanda kedua
telah melambatkan pelaksanaannya. Dan Ismail Banda sendiri
telah pergi ke-New Delhi, India.
Menilai tingginya suhu semangat kebangsaan masyarakat
Indonesia di Saudi Arabia itu, baik pula dicatat bahwa kesulitan
keuangan vang dialami Missi Haji R.I. di sana telah dapat diatasi
dengan gotong-royong masyarakat itu.
272
SERBA - SERBI DIPLOMASI REVOLUSI
’Ahmad’ Sukarno
Dalam usaha kami menarik simpati penduduk Timur Tengah
yang mayoritas besar beragama Islam, Panitia-panitia Timur Tengah
mempergunakan 'ukhuwah Islamiah’ sebagai sarananya. Pada per¬
mulaan menjalankan ’diplomasi revolusi’ dengan sarana tersebut
kami selalu terbentur pada pertanyaan-pertanyaan : ’Sukamo
muslim ?’ Untuk menghilangkan pertanyaan yang berupa keragu-
raguan itu, kami teringat bahwa sudah menjadi kebiasaan di In¬
donesia menambahkan kata-kata 'Muhammad’ atau ’Ahmad’ ke¬
pada nama kecil seseorang. Dalam Panitia Pusat saja terdapat
beberapa nama — termasuk nama penulis yang mengikuti kebia¬
saan tersebut. Dalam pembicaraan-pembicaraan, lahir pertanyaan,
kenapa tidak kita tambahkan saja ’Ahmad’ kepada nama beliau
karena 'Muhammad ’ sudah diambil Bung Hatta. Demikianlah
dalam satu wawancara pertama sesudah pembicaraan-pembicara¬
an itu, saya lontarkan jawaban "Bukankah namanya Ahmad
Sukarno ?,” ketika ditanyakan kepada saya "Apakah Sukarno
Muslim ?”
’ D r s ’ Muhammad Hatta
Titel ’ Drs ’ hanya dijumpai di Holland dan negara-negara
jajahan atau bekas jajahannya. Majallah ’Knockerbocker’ yang
Pro-Belanda itu dalam rangka sokongannya terhadap Belanda
273
mengejek-ejek pemimpin, proklamator Drs. Muhammad Hatta
dengan mengatakan bahwa karena beliau mendapat titel ilmi¬
ah 'Dr.' dalam berbagai ilmu pengetahuan, Bung Hatta menam¬
bahkan * s * diakhir titel-titel doktor yang diperolehnya itu.
Pemalsuan kenyataan ini kami gunakan untuk mencap propagan¬
da Belanda bermutu rendah dan sampai tidak malu-malu berdus¬
ta demikian terbuka.
500.000 Ton beras Indonesia penolong kelaparan di India
Berita bahwa Indonesia bersedia menolong India dengan
500.000 ton beras guna menghadapi bahaya kelaparan yang
mengancamnya, sangat berfaedah dalam menanggapi propaganda
Belanda bahwa rakyat Indonesia belum matang untuk mengurus
diri sendiri (perkataan ini juga keluar dari mulut Mr. Musa) dan
R.I. diliputi oleh kekacauan yang mengancam keamanan di Asia
Tenggara. Dalam mempergunakan bahan ini, juga kami balikkan
bahwa di zaman penjajahan Belanda Indonesia selalu mengimpor
ribuan ton beras tiap-tiap tahun. Karena tanah-tanah persawahan
dipaksakan Belanda supaya ditanami dengan tanaman yang sesuai
dengan kepentingan Belanda sendiri.
Dua jam pendudukan Yogya oleh Jenderal Sudirman
Dalam rangka menanggulangi propaganda Belanda sesudah
aksi militernya kedua bahwa kekuatan pertahanan R.I. telah
hancur-lebur dan Panglima TNI Jenderal Sudirman telah tertawan,
berita pendudukan Yogya selama enam jam itu, kami besar-besar¬
kan dan dibumbu-bumbui. Pendudukan itu kami katakan dua
hari dan yang memimpin penyerbuan adalah Jenderal Sudirman
sendiri. Berita yang telah di ’olah’ ini termakan oleh masyarakat
Timur Tengah, karena 'dasarnya,’ yaitu pendudukan Yogya,
memang diberitakan juga oleh kantor-kantor berita 'Batavia.'
Dengan demikian pula teijawablah penerangan kami bahwa 'pe¬
ngosongan' ibukota R.I. itu hanya berupa taktik perang gerilya
belaka, dan setiap kali diperlukan dapat diduduki kembali. Dalam
274
berita-berita yang kami terima memang tidak disebutkan pe¬
mimpinnya yang sebenarnya Kolonel (Jenderal) Suharto, Presiden
R.I. sekarang.
Penganiayaan dan wafatnya Mas Mansur
Penganiayaan terhadap K.H. Mas Mansur, seorang pemimpin
Islam terkemuka sampai meninggal dunia di Surabaya itu kami
jadikan bahan propaganda yang baik sekali untuk merendahkan
prikemanusiaan Belanda dan Sekutunya Inggris. Penganiayaan
sampai mati bagi seorang pemuka Islam itu, telah dipergunakan
oleh mass-media Ikhwanul Muslimin, untuk memuntahkan ma-
kian-makiannya kepada Belanda dan Sekutu-sekutUnya itu.
Syahrir dan Islam
Sarana 'ukhuwah Islamiyah’ yang kami jadikan sarana bagi
menarik simpati negara-negara Islam umumnya dan negara-negara
Arab khususnya, kelihatannya mendapat 'pengesahan' dari para
pembesar Indonesia yang berkunjung ke Kairo sebelum pengakuan
Belanda, seperti Bung Hatta, Syahrir, Ali Sastroamijoyo, Dr. A.K.
Gani semuanya memuji-muji persaudaraan Islam dan pentingnya
hubungan antara Indonesia dan negara-negara Arab. Keluarnya per*
nyataan itu dari Bung Hatta yang melahirkan bertaqwa adalah
wajar, tetapi pernyataan dari seorang seperti Bung Syahrir» pe¬
mimpin sosialis, adalah menarik perhatian apakah itu suatu
pengakuan bahwa peijoangan Indonesia di luar negeri hanya
dapat dimenangkan dengan pengakuan penuh negara-negara Islam
sebelum R.I. cukup berumur dua tahun itu. (Sekarang sudah
ada orang yang bertanya-tanya : Kenapa kita mesti menyokong
Arab melawan Israel ? Dasar 'lemah' ingatan ?) Sebagai contoh,
pernyataan Bung Syahrir kepada harian "Ikhwanul Muslimin”
pada 5/10/47 di London sebagai berikut :
"Saya percaya bahwa sokongan Dunia Arab terhadap Mesir
(Indonesia ? pen.) mengandung arti lebih dari semata-mata per-
275
276
277
saudaraan. Gerakan ini membayangkan suatu kekuatan yang akan
membawa kepada persatuan bulat antara Dunia Islam seluruh¬
nya. Adalah satu kenyataan adanya kecenderungan mengem¬
bang dalam Ummat Islam di Dunia ke arah persatuan dan pelebur¬
an dalam satu persaudaraan Islam yang bertujuan memutuskan
rantai-rantai penjajahan asing.Indonesia menyokong Pa¬
kistan sepenuhnya. Indonesia negeri Islam dan akan berjoang
dibariSan Kaum Muslimin.
Menjawab pertanyaan wartawan ”An-Nida” tanggal 18/11/47
Syahrir menyatakan antara lain :
” Tidak ragu lagi bahwa Ummat Islam dan bangsa Arab mem¬
punyai peranan besar dalam politik dunia, dengan persatuan
politik dan persamaan pengertian dalam taktik dan strategi
Yang penting adalah supaya mereka pandai memperankan ke¬
kuatan mereka ini, terutama di Timur Tengah, suatu daerah
penting yang menjadi rebutan pengaruh dan kekuasaan antara
dua blok. Apabila mereka pandai mempergunakan kekuatan itu,
mereka dapat menjadi faktor yang effektif dalam perkembangan
situasi dan dalam menciptakan perimbangan kekuatan internasio¬
nal, terutama di timur Laut Putih Tengah.”
Ketika singgah di Karaci, beliau menyatakan (’Sautul Um-
mah 22/11/47) :
” Pembentukan suatu organisasi persaudaraan yang akan me¬
liputi seluruh negara-negara Islam, akan banyak menolong me¬
ngatasi persoalan-persoalan sekarang. Tidak perlu bahwa organi¬
sasi itu bersifat pemerintahan (govemmental), tetapi ia perlu
menjadi arena umum lagi bagi diskusi bebas guna membica¬
rakan cara-cara mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi.”
Indonesia dan Palestina
Negara-negara Arab menyokong Indonesia dengan penuh
semangat. Adalah memuaskan hati kami yang berjoang di negara-
278
negara itu bahwa dari pihak Indonesia tidak terjadi bertepuk
sebelah tangan. Pengulas berita pada RRI-Yogya yang disiarkan
’Ikhwanul Muslimin’ pada 3/10/47 menyatakan :
” Indonesia menentang pembagian Palestina antara pendu¬
duk asli Arab dan pendatang Yahudi, sebagai disarankan oleh
komisi internasional PBB, serta mengecam pendirian komisi
itu yang dikatakan tidak berpedoman kepada kenyataan yang
hidup di Palestina dan tidak menghiraukan keadilan dan kebe¬
naran .Persoalan Palestina pada dasarnya adalah persoa¬
lan kebenaran, keadilan dan kemerdekaan. Maka oleh karena itu
ia menjadi persoalan Arab dan Kaum Muslimin seluruhnya. Bang¬
sa Indonesia yang sedang memerangi kelaziman dan penjajahan
menentang sekuat-kuatnya pembagian Palestina dan berdiri di
samping saudara-saudaranya negara-negara Arab dan Ummat Is¬
lam dan pednta-pecinta kebenaran dan keadilan, sampai Pales¬
tina mencapai kemerdekaan penuh dan memperoleh hak-haknya
seluruhnya.”
Pernyataan ini yang kami sendiri menangkap dan menyebar¬
luaskannya, banyak sekali faedahnya bagi memperkuat sokongan
Arab terhadap Indonesia.
Usaha Inftlterasi Komunis
Seorang komunis belum benar-benar komunis, jika ia di mana
saja berada tidak berusaha mengomuniskan orang lain. Demikian¬
lah yang dikeijakan Setiajit dalam dua kali ia singgah di Kairo.
Kesempatan terbuka baginya karena ada lima orang manusia
Indonesia di Kairo itu, yang karena tidak mendapat kedudukan
dalam kegiatan-kegiatan Panitia Pusat, berusaha mengganggu ke¬
lancaran kegiatan itu. Dalam kesinggahannya pertama-tama (1946)
Setiajit mengetahui adanya lobang yang dapat dimasukinya. Dari
hari pertama ia di sana ia sudah mulai membina ke-S orang itu,
yang sebenarnya tidak menyetujui komunisme, tetapi mengha¬
rapkan mendapat ’backing’ dikalangan yang berkuasa di Jakarta.
279
Setiajit adalah tangga - bagi mereka - kepada tujuan tersebut.
Dalam kedatangannya kedua, dan waktu itu ia telah menjabat
Wakil PM dalam Kabinet Syarifuddin, ia lebih berani dan mene¬
kan. Usahanya itu kami tentang, karena bertentangan dengan
ketentuan yang telah kami gariskan, yaitu semua mahasiswa
dianjurkan mempelajari partai-partai yang ada di Indonesia, teta¬
pi dilarang sama sekali melakukan kegiatan politik partai. Kegia¬
tan politik harus seluruhnya dibulatkan kepada pertahanan ke¬
merdekaan Indonesia dan kedaulatannya. Oleh karena-keberanian-
nya mempropagankan Partai Buruh dan malah berusaha mendi¬
rikan cabang partai itu dikalangan mahasiswa, teijadi tiga kali
bentrokan dengan Ahmad Hasyim Amak, Sekretaris Urusan Arab
Panitia Pusat, sehingga dikhawatirkan akan teijadi perkelaian.
Maka saya seretlah ia kekamar kerja, dan dalam pembicaraan
empat mata, saya peringatkan supaya ia menghentikan kegiatan¬
nya itu, karena membahayakan bagi persatuan peijoangan kami
diluar negeri. Mulanya — sebagai Wakil PM — ia marah terhadap
peringatan saya itu, tetapi setelah saya peringatkan lagi kemung¬
kinan pukul-memukul akan terjadi dan ia sendiri dipihak yang
sangat minus, dengan muka yang masih merah ia kelihatannya
membenarkan dengan angguk-angguk kecilnya. Kemudian dike¬
tahui juga bahwa ia berhasil mengadakan rapat dengan kelima
manusia itu dan kelima orang ini adalah mereka yang memboikot
Ulang Tahun Pertama Proklamasi, seperti pernah saya katakan
di atas.
Penghapusan dualisme pimpinan
Untuk usaha menanggulangi kemungkinan perpecahan dise¬
babkan kegiatan Setiajit waktu kedatangannya pertama tahun
1946 itu Panitia Pusat memutuskan menyatukan pimpinan masya¬
rakat Kairo. Sebelumnya, ada dua organisasi, satu sosial satu
Perpindom yang bertugas mengurus soal-soal sosial masyarakat.
Untuk membelokkan kegiatan lima serangkai itu dari perpecahan,
280
para mahasiswa kami juruskan kepada memilih mereka itu bagi
pimpinan organisasi sosial itu. Tetapi mereka — sesudah menda¬
pat sokongan Setiajit itu, — dengan ’Serikat Buruh’ — nya beru¬
saha menguasai Panitia Pusat yang mengurus soal-soal politik itu.
Melihat bahaya ini, dengan cara yang pernah kami lakukan se¬
masa menjalankan perlawanan di bawah tanah - kami bawa ke-
rapat umum supaya pimpinan masyarakat disatukan saja, baik
bagi soal sosial ataupun politik. Hasil pemilihan yang dilaksa¬
nakan pada Januari 1947 itu telah menghilangkan dualisme itu,
karena mereka hanya mendapat lima suara mereka sendiri. Se¬
menjak itu hanya satu pimpinan saja yang mengurus masyarakat
Indonesia di Kairo. Adapun ’Partai Buruh’ yang dikecam pedas
oleh Mr. Nazir Pamoncak dalam satu rapat umum, sesudah itu
tidak diketahui lagi di mana pusaranya.
”Suprapto” di K a i r o
Usaha infilterasi komunis itu telah dicoba pula oleh ”Su-
prapto” yang diperkenalkan Suripno dari Praha sebagai ’sekre-
taris’-nya, ketika saya menjemput mereka di lapangan udara
Faruk internasional, Kairo. Di dalam mobil ia mulai mengecam
Sukarno—Hatta dengan kecaman-kecaman yang pedas dan kadang-
kadang kasar. Saya heran melihat ’keberanian’ seorang sekretaris
berbicara demikian ’lancang’ di hadapan kepalanya, tanpa yang
akhir ini menegornya. Sampai di Kairo terjadilah perdebatan
sengit antara ’Suprapto’ dan para penantinya dan sampai terjadi
'pertarungan kasar’ antara dia dengan Mansur Abu Makarim.
Dan dikhawatirkan bahwa ia akan diperpukulkan. Semenjak itu
’Suprapto’ disembunyikan oleh kepalanya di hotel dan berdiam
di sana sampai berangkat, sekalipun ia berkesempatan untuk ber¬
bicara di hadapan warga Indonesia di Mesin Sesampainya di
Yogyakarta baru kami ketahui bahwa ’Suprapto’ itu adalah Muso,
pemimpin komunis kawakkan yang mencoba menikam R.I. dari
belakang selagi bangsa Indonesia menghadapi agresi Belanda,
pada bulan Desember 1948.
281
282
"Suprapto” alias Muso hampir diperpukulkan mahasiswa karena lancangnya
mencaci-caci Sukamo-Hatta. Kemudian terpaksa disembunyikan di hotel oleh
Suripno. Kelihatan duduk di ujung kiri barisan muka berdekatan dengan Su-
ripno, dalam satu pertemuan dengan para mahasiswa, di mana ia tidak berku-
Bendera Pusaka Luar Negeri ?
Untuk keperluan kunjungan Missi Su wan di dari kawan-kawan
pada 7 April 1946 dan 26 April 1946 di Kairo, Panitia telah me¬
nyewa sebuah mobil. Sebagai Missi R.I. resmi, pada mobil tersebut
dikibarkan sebuah bendera merah-putih berukuran- kecil. Oleh
karena Missi itu tidak pernah turun selama perjalanan ke Den Haag
selain di Kairo, dan oleh karena Missi itu adalah Missi R.I. resmi
pertama keluar negeri, maka bendera yang dikibarkan pada
mobil Missi tersebut, adalah pula bendera pertama dipergunakan
diluar negeri oleh satu missi atau seorang resmi R.I. Oleh sebab
itu, bendera tersebut yang masih saya simpan sampai sekarang
kiranya berhak memakai nama BENDERA PUSAKA
LUAR NEGERI?
’ Blessing in Disguise ’
Kegagalan Presiden Sukamo ”ke luar” negeri sebelum
agresi Belanda pertama. 1947 adalah ’ blessing in disguise ’
bagi kelanjutan kepercayaan luar negeri pada kesanggupan bang¬
sa Indonesia menghadapi agresi dan mempertahankan kemer¬
dekaannya yang telah diakui negara-negara Arab itu. Karena se¬
kiranya ”ke luar” nya itu berhasil, perlawanan didalam negeri
akan dianggap orang seperti halnya perlawanan-perlawanan bang¬
sa-bangsa selama perang dunia kedua, yang para kepala negaranya
sudah berlarian ke London, Amerika dan Timur Tengah, yaitu
suatu perlawanan yang putus asa, yang dengan sendirinya akan
mengendorkan sokongan-sokongan luar negeri yang telah kita
peroleh itu. Bung Karno memang biasa "keluar” negeri, setiap
kali situasi dalam negeri kelihatannya gawat. Sekiranya terburu,
mungkin sekali beliau akan "keluar” negeri juga, ketika G.30 S
PKI itu, karena pada bulan Oktober 1965 itu memang perjalanan
beliau ”ke luar” negeri telah diatur menuju Paris, Spayol dan
283
s
Mexico.U Ada pengamatan politik yang mengartikan ke luar ne¬
geri itu dengan lari dari tanggung jawab.
Kejatuhan pesawat udara yang membawa delapan wartawan
Amerika Serikat di dekat Bombay, sesudah mengunjungi Indonesia
atas initiatif majalah ’Knockerbocker’ yang menyokong Belanda,
adalah satu ’Blessing in disguise’ lagi. Karena sekiranya mereka
selamat kembali, kemungkinan sekali mereka akan dapat mempe¬
ngaruhi pendapat umum negara itu -yang waktu itu lebih condong
kepada aspirasi-aspirasi nasional Indonesia- bagi kepentingan Be¬
landa.
Pada kedua kejadian di atas itu kami bersujud syukur kepada
Tuhan Yang Maha Kuasa, meskipun dengan bersyukur bagi keja¬
dian ke dua ini -tanpa disadari- kami seolah-olah kehilangan ra¬
sa kemanusiaan; tetapi demikianlah yang terjadi.
Warga Indonesia di Luar Negeri dan Persetujuan Indonesia-Belanda
Berita-berita terarah dari ’Batavia’ mengenai Perjanjian-perjan¬
jian yang dicapai dengan Belanda, baik ’Linggarjati atau Ren-
ville,’ tidak saja menggoncang pandangan luar negeri kepada
kemerdekaan dan kedaulatan R.I., tetapi juga warga R.I. yang
berada di luar negeri. Hanya pengakuan de facto dalam ’Linggar-
jati’ dan ’di bawah mahkota Ratu’ dalam ’Renville ’ telah menyu¬
litkan Panitia-panitia Timur Tengah memberi penerangan, meski¬
pun sudah diterima ”Di sekitar Usul-usul Pemerintah Kita” yang
dikeluarkan oleh Kempen R.I. Dalam suatu diskusi yang lama
hangat dan kadang-kadang kasar telah dibahas naskah perjanjian
’Renville.’ Memang susah bagi pimpinan menenangkan mereka
Saya «endiri tidak membaca kawat mengenai kedatangan Sukarno itu, tetapi
Duta Besar Tamzil memesankan kepada saya supaya menyampaikannya kepada
Kementerian Luar Negeri Spanyol, ketika saya berpamitan ke Madrid, sebelum
saya dipindahkan dari Paris tepat pada 30 September 1965 ke Rabat.
284
terutama yang berasal dari daerah-daerah yang masih di duduki
Belanda. Akhirnya saya coba membuat kesimpulan perdebatan
antara yang menerima dan menolak, meskipun kesimpulan itu
sebenarnya tidak tepat, tetapi dipakai sebagai usaha penenang
sebagai berikut :
l'- Menerima, dengan syarat bahwa R.I. mengumumkan bahwa
ia tetap bertekad memasukkan pulau-pulau yang masih di
duduki Belanda ke dalam kedaulatan R.I., dan
2- Menolak, jika Pemerintah R.I. tidak mengumumkan tekadnya
dengan resmi akan memasukkan pulau yang masih di luar
R.I. itu ke dalam kedaulatannya.
Meskipun kesimpulan itu dipandang oleh sebagian hadirin tidak
tepat atau itu-itu juga, tetapi telah berhasil dijadikan putusan yang
dikirimkan kepada pemerintah R.I.
Peijajian pertama di ratifikasi R.I.
Kalau Peijanjian Persahabatan Indonesia-Mesir adalah perjanjian
pertama yang ditandatangani Indonesia Merdeka, Perjanjian itu
pulalah yang pertama kali diratifikasi Komite Kerja Pusat Parleman
Indonesia. Dalam ini baik dicatat bahwa Perjanjian Kebudayaan
Indonesia Mesir adalah pula perjanjian kebudayaan yang pertr ma
yang ditandatangani R.I. dengan negara luar.
BUNG HATTA berterima kasih
Seperti telah saya sebutkan, selesai memimpin Delegasi R.I.
ke Konfrensi Meja Bundar Bung Hatta singgah di Kairo. Dalam
satu resepsi besar yang diadakan guna menghormati beliau di
hotel Semiramis di tepi Sungai Nil, beliau mengambil kesempatan
untuk mengucapkan terima kasih kepada segala pihak yang telah
menyokong perjoangan Indonesia sampai menang itu, dan memang
diundang kepada resepsi itu. Bung Hatta tidak mencukupkan ucap¬
an terimakasih di dalam resepsi itu saja, meskipun segala pihak
285
286
Bung Hatta bersama-sama pembesar-pembesar Liga Arab. Di kirinya (baju kepu¬
tihan dan bertarbusy) Abdulrahman Azzam Pasya Sekretaris Jenderal Liga terse¬
but.
0
E * e rt
.H <u G O
<g ^ i | .f 5
i 8S 8 g
< m g s
JjSW"
g 3 'S S
w S i* -c
«M “>'h
>S> >,
2 -S
3 I
E c
4 ) 5
«5 .§
s a ’a £ as
3 ’S- O C
S ^ « c
■o 2 -£f rt
js -a
I B
w O g
« 5 •§,«£
.s i s’"
tn g e
w _1 ’d
'}w,
lili,
8Sl«1
si
G ,jQ ^ S e3
iS| 2 §-
HjJl
<|i|l
s“£l|
g 1 -s I 'l
m G &< P.‘-H
287
288
resmi dan tidak resmi, sudah tercakup dalam resepsi itu, tetapi
beliau mengunjungi pembesar-pembesar Pemerintah Mesir dan Liga
Arab di rumah atau di kantor mereka masing-masing.
289
PENUTUP
HASIHiASIL TERPENTING DIPLOMASI REVOLUSI
DI LUAR NEGERI
t
I— Timur Tengah
1 —Pada 18/12/45 pernyataan Liga Arab pertama : sincerest
sympathy with Indonesia and its caouse of Independence.
2 — Pada 22 Maret 1946, Kerajaan Mesir mengakui d e f a c t o
Republik Indonesia dan kebebasan warga Indonesia di luar
negeri dari ’ perwalian ’ Belanda, dan membantu dengan
kenangan bagi jaminan kehidupan mereka. Keputusan ini di¬
ikuti oleh seluruh negara Arab, yang semenjak itu pula
mengakui Panitia-panitia di Kairo, Mekkah dan Baghad
d e f a c t o Perwakilan R.I. (sampai berdiri Perwakilan R.L
de jure pada pertengahan bulan Juli 1947) dan memberi
mereka fasilitas-fasilitas diplomatik.
3— Pada 18 Nopember 1946 Dewan Menteri Luar Negeri Liga
Arab memutuskan supaya negara-negara anggotanya menga¬
kui kemerdekaan Indonesia dan kedaulatannya d e f a c t o
dan d e jure. Utusan Istimewa Liga Arab menyampaikan
keputusan itu ke Ibukota R.I. dan kembali dengan membawa
Delegasi R.I.
4— Pada pertengahan tahun 1947 semua negara-negara Arab
telah mengakui d e f a c t o dan d e jure kemerdekaan
dan kedaulatan Republik Indonesia.
5— Pada 10 Juni 1947 buat pertama kali R.L menandatangani
Perjanjian Persahabatan, Hubungan Diplomatik dan Konsuler,
290
serta Perniagaan dengan Kerajaan Mesir. Dan diikuti oleh
Suria pada 2 Juli 1947.
6- Penggagalan pengiriman missi-missi diplomatik dan haji Nica
ke Timur Tengah dan Mekkah.
7- Pengusiran Salim Alatas, yang ditempatkan Belanda di Kedu¬
taannya di Kairo guna memburuk-burukkan R.I., sebagai
persona non grata.
8— Pembukaan Kedutaan R.I. pertama dengan Kuasa Usaha
Penuh (Charge d’ Affaires en pied) pada Oktober 1947.
9— Pengiriman Missi Bulan Merah Mesir ke Indonesia, lengkap
dengan obat-obatan dan peralatan kesehatan, yang terdiri
dari tiga dokter.
10— Pemboikotan kapal-kapal Belanda di pelabuhan-pelabuhan
Arab, terutama di Terusan Suez.
II — India dan Ceylon (Sri-Langka)
1— Berhasil bersama mendesak Pemerintah India Sementara guna
menekan Inggris supaya menarik tentara asal India dalam
tentara Inggris yang membantu Belanda di Indonesia, dan
dengan demikian meringankan tekanan dan korban yang
diderita kekuatan R.I.
2— Berhasil mendorong pelangsungan Konferensi Antar-Asia di
New Delhi, yang keputusan-keputusannya menjadi dasar
Resolusi Dewan Keamanan guna gencatan senjata di Indone¬
sia dan penyelesaian konflik Indonesia-Belanda yang berakhir
pengakuan Belanda atas kemerdekaan dan kedaulatan Indo¬
nesia. _
3— Berhasil mendapatkan sokongan buruh pelabuhan-pelabuhan
laut dan udara untuk memboikot kapal-kapal dan pesawat-
pesawat udara Belanda yang mengangkut tentara dan per¬
senjataan ke Indonesia.
III— Australia
1— Berhasil menarik simpati Pemerintah Buruh Australia, se-
291
hingga ia menjadi penyokong Indonesia yang gigih di Dewan
Keamanan.
2- Berhasil menarik buruh pelabuhan-pelabuhan Australia guna
menyokong perjoangan Indonesia, sehingga tidak kurang
20 kapal Belanda dan Sekutu yang penuh tentara dan sen¬
jata lumpuh di pelabuhan-pelabuhan itu.
IV- Di Wilayah-wilayah Dunia Lainnya
Di lain-lain wilayah di dunia, meskipun hasilnya tidak me-
nyolok seperti di wilayah di atas itu, telah dapat menarik per¬
hatian dunia kepada kebenaran dan keadilan perjoangan rakyat
Indonesia, Panitia-panitia di New York dan SamEranscisco, demi¬
kian pula Panitia London yang telah dapat menggerakkan sayap
kiri Partai Buruh Inggris guna kepentingan Indonesia dan menarik
kekompakan rakyat Indonesia, sebagai diperlihatkan oleh demon-
trasi-demontrasi buruh kapal Indonesia yang meninggalkan kapal-
kapal Belanda ditengah-tengah kota London. Panitia London yang
dipimpin ’single fighter’ Muhammad Ali, banyak berbakti ketika
soal Indonesia buat pertama kali dibicarakan di Dewan Keamanan
PBB di London.
V — Penghargaan
Perjoangan pemuda / mahasiswa Indonesia di luar negeri
yang saya namakan ’Diplomasi Revolusi’, telah mendapat perha¬
tian dan penghargaan dari pemimpin-pemimpin Indonesia yang
waktu itu bertanggung jawab langsung pada hasil-gagalnya Pro¬
klamasi dan mengendalikan diplomasi R.I. di lapangan internasio¬
nal, dengan pernyataan-pernyataan sebagai berikut:
a— Sutan Syahrir, Perdana Menteri, di hadapan sidang Komite
Pekerja Nasional Pusat yang bersidang pada 1 Maret 1947
menyatakan : ” SUNGGUHPUN MENGALAMI BANYAK
KESUKARAN. ORGANISASI-ORGANISASI BANGSA IN¬
DONESIA DI LUAR NEGERI SANGAT BESAR JASANYA
DALAM MENARIK PERHATIAN DUNIA INTERNASIO-
292
NAL TERHADAP KEADAAN YANG SEBENARNYA DARI
PERJOANGAN BANGSA INDONESIA.”
b— Dalam pertemuan pertama dengan Panitia Pusat Pembela
Kemerdekaan Indonesia di Kairo pada 15 April 1947, Haji
Agus Salim, Wakil Menteri Luar Negeri dan Ketua Delegasi
R.I. ke Timur Tengah mengatakan :
”USAHA-USAHA PANITIA-PANITIA SAUDARA-SAUDA¬
RA TELAH MEMUNGKINKAN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN RESMI KE LUAR NEGERI GUNA MEMULAI
PERJOANGAN DIPLOMASINYA DI GELANGGANG IN¬
TERNASIONAL. KAMI DATANG KEMARI SEOLAH-
OLAH HANYA UNTUK MENANDATANGANI DOKUMEN-
DOKUMEN YANG TELAH SELESAI SAUDARA-SAUDA¬
RA SIAPKAN.” Kemudian beliau menghadiahkan uang
sebanyak seribu pound sterling, guna membelanjai kegiatan-
kegiatan seterusnya.
c- Dr. Muhammad Hatta, Wakil Presiden dan Ketua Delegasi
R.I. ke Konferensi Meja Bundar yang telah menghasilkan
pengakuan Belanda terhadap kemerdekaan dan kedaulatan
Indonesia, dalam satu wawancara dengan majallah Kairo ter¬
kemuka ’ Akhir Sa’ah ’ tanggal 23/12/1949 menyatakan an¬
tara lain :
"KEMENANGAN DIPLOMASI INDONESIA MULAI DI
KAIRO. KARENA DENGAN PENGAKUAN MESIR DAN
NEGARA-NEGARA ARAB LAINNYA TERHADAP INDO¬
NESIA SEBAGAI NEGARA YANG MERDEKA DAN BER¬
DAULAT PENUH, SEGALA JALAN TERTUTUP BAGI
BELANDA UNTUK SURUT KEMBALI ATAU MEMUNG¬
KIRI JANJI, SEBAGAI SELALU DILAKUKANNYA DI
MASA-MASA YANG LAMPAU, ” seperti telah saya nukil¬
kan pada permulaan buku ini.
d- Beberapa bekas pejoang luar negeri yang bertugas di Kemen-
terian Luar Negeri R.I. dan berada di Jakarta pada tahun
1970, telah dianugerahi oleh Presiden R.I. tanda kehormatan.
293
”Setia Lencana Kemerdekaan (S.K. Presiden R.I. No. 013/
TK/1969). Mereka itu adalah :
1) . Muhammad Zein Hassan Lc. Lt., ex-Ketua Panitia Pusat
Pembela Kemerdekaan Indonesia, berkedudukan di Kairo.
2) . Imron Rosyadi (S.H), ex-Ketua Panitia Pembela Kemerde¬
kaan cabang Baghdad, Irak.
3) . H.M. Jaafar Zainuddin, ex-Ketua Panitia Pembela Kemerde¬
kaan Indonesia cabang, Mekkah, Saudi Arabia. "'j
4) , Mansur Abu Makarim, Sekretaris Panitia Pusat. Kairo.
5) . Zaidan Abdul Samad, anggota Panitia Irak.
6) . B.A. Dbani (S.E.), ex-Ketua Panitia, New Delhi, India,
7) . H. Hanan Abbas, angota Panitia India.
8) . Muhammad Muin, anggota Panitia India.
9) . Haludin Lubis, anggota Panitia India.
10). A. B. Lubis, anggota Panitia India.
Jakarta 17 Agustus 1970
295
menterian Luar Negeri, beruntung ikut menyiapkan dan menyaksikan penan¬
datanganan Perjanjian Kebudayaan pertama antara R.I. dan luar negen, yaitu
dengan Republik Mesir pada 10/10/55. Sebelah kiri P.M. dan merangkap
Menlu, Mr. Burhanuddin, Harahap, menandatanganinya dari pihak R.I. dan
Duta Besar Fahmi El-Umrusyi, dari pihak Mesir.